<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064</id><updated>2012-01-16T08:55:28.412+07:00</updated><title type='text'>dejavuraditya</title><subtitle type='html'>menyelami yang silam</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>59</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-9089369393559509406</id><published>2009-03-27T19:54:00.004+07:00</published><updated>2009-12-11T12:49:05.217+07:00</updated><title type='text'>METRO TV: BAROMETER BERITA NIR JEDA</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SczOVEHyGLI/AAAAAAAAAp4/-joWHmVX0MM/s1600-h/1+metrotv.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317852121296672946" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SczOVEHyGLI/AAAAAAAAAp4/-joWHmVX0MM/s200/1+metrotv.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 128px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt; SURYA DARMA Paloh nyaris murka. Kala itu, lelaki kelahiran Kutaraja Aceh tanggal 16 Juli 1951 tersebut sedang mempersiapkan kelahiran Metro TV. Namun, birokrasi berkata lain. Ijin on air Metro TV dipermasalahkan pihak yang berwenang dengan alasan upeti awal yang diserahkan terlampau cekak, hanya 200 juta. Metro TV pun ditempatkan di kursi keenam, sementara penguasa hanya menyediakan lima pucuk ijin penyiaran televisi. Paloh tentu saja teramat gusar. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di musim itu, suasana pers Indonesia sejatinya cukup sejuk. Sumbat yang selama ini membikin mampet kebebasan pers telah terbuka lebar-lebar, seiring jatuhnya rezim Soeharto pada 1998. Surya Paloh tidak mau melewatkan kesempatan yang telah lama ditunggunya itu. Ia ingin mendirikan televisi yang menyiarkan berita tanpa henti, 24 jam non stop! Paloh, yang juga pemilik suratkabar Media Indonesia, berkehendak menawarkan alternatif tayangan layar kaca yang selama ini dikangkangi pertunjukan sinetron serta adegan-adegan kekerasan. Ia bersikeras: Metro TV harus mengudara, secepatnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duitlah yang jadi pangkal masalahnya. Paloh segera bertindak dengan menjanjikan penambahan modal yang dipersoalkan. Bersama karibnya, Andy F Noya, Paloh bergegas ke kediaman Sekretaris Jenderal Departemen Penerangan kala itu, IGK Manila. Kedatangan Paloh dan Andy yang tanpa janji terlebih dulu, juga karena hari sudah cukup larut, membikin Manila terhenyak. Tetapi, Paloh sudah kepalang tanggung. Ia bersitegas: nasib Metro TV sekarang ada di tangan Manila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kabar baik itu datang juga. Pada 25 November 2000, di bawah panji Media Group pimpinan Paloh, Metro TV resmi mengangkasa di tujuh kota. Surya Paloh, yang sebelumnya memimpin suratkabar Prioritas dan majalah Vista, duduk mantap sebagai President Commisioner, sedangkan Andy F Noya selaku Pemimpin Redaksi. Andi F Noya, kini mengasuh program andalan Kick Andy di Metro TV, adalah wartawan senior yang telah malang-melintang di dunia media massa, di antaranya di suratkabar Bisnis Indonesia, majalah Matra, Media Indonesia, dan radio Trijaya. Andy pernah pula membantu majalah Tempo dalam penerbitan buku Apa dan Siapa Orang Indonesia di awal karirnya sebagai jurnalis (1985). Pada 1999, Andy juga sempat membantu program berita Seputar Indonesia di RCTI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal pengalaman dan perjuangan heroiknya dalam perjalanan pers Indonesia, Surya Paloh sukses menggandeng para maestro untuk bergabung di Metro TV. Mereka ini di antaranya adalah Wisnu Hadi (Presiden Direktur), Lestary Luhur (Direktur Penjualan dan Pemasaran), Ana Widjaja (Direktur Keuangan dan Administrasi), John Balonso (Direktur Teknik). Terdapat pula nama Zsa Zsa Yusharyahya sebagai Direktur Program dan Pengembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Metro TV hadir sebagai stasiun televisi yang hanya memusatkan fokus siarannya pada program-program berita saja. Bahkan, sejak 1 April 2001, program-program berita tersebut disiarkan selama 24 jam saban harinya. Selain itu, Metro TV memantapkan diri sebagai stasiun televisi nasional pertama yang menyiarkan berita dalam bahasa Mandarin dengan tajuk Metro Xin Wen. Sedangkan program Indonesia Now, yang merupakan siaran internasional berbahasa Inggris pertama di Indonesia, dapat disaksikan dari seluruh dunia. Program-program berita Metro TV lainnya adalah antara lain: Headline News, Metro Pagi, Indonesia This Morning, Metro Siang, News Flash, World News, Metro Hari Ini, Suara Anda, Top Nine News, Top Nine News Weekend, Metro This Week, Metro Sport, dan Metro Malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metro TV hadir sebagai pionir paradigma baru dalam semesta pertelevisian nasional dan menjadi sebuah keunikan tersendiri manakala Metro TV menawarkan peningkatan kecerdasan bangsa melalui jalur informasi. Diisi oleh orang-orang cerdas serta sarat berpengalaman serta disajikan dengan gaya yang luwes, Metro TV memberikan nuansa kehidupan baru dalam industri media di Indonesia dengan menempatkan program berita sebagai sajian utamanya. Metro TV juga menawarkan hiburan yang berkualitas –yang membuatnya lekat sebagai televisi antisinetron– serta program-program lifestyle. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena garapan utamanya adalah berita, Metro TV dikenal sebagai televisi yang memiliki presenter berita terbanyak di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Surya Paloh sukses menggaet para pesohor media untuk bernaung di Metro TV, termasuk Dalton Tanonaka, mengasuh Indonesia Now, yang merupakan mantan penyiar CNN, CNBC Asia, dan NHK Jepang. Ada juga Desi Anwar, Najwa Shihab, Wianda Pusponegoro, dan Lucia Saharui (mantan penyiar RCTI); Frida Lidwina (Trans TV); Elvita Khairani dan Indra Maulana (TVRI); Eva Julianti, Tascha Liudmila, dan Kania Sutisnawinata (SCTV); Boy Noya (ANTV); Maria Kalaij (Radio PASFM); Aries Fadhilah (Dualat Rakyat); Rini Wulansari (HPPI Bandung); serta Ralph Tampubolon (JakTV, TVRI, 101FM Radio One, dan M97FM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu. Masih ada nama-nama beken seperti Richard Sambera (mantan perenang nasional dan pernah bergabung pada Arizona Republic Newspaper); Dian Krishna (mantan Puteri Indonesia dan sempat di Trans TV); Fifi Aleyda Yahya (mantan None Jakarta, juga di Telstra Nusantara dan TVRI); serta Tommy Tjokro (mantan Abang Jakarta dan sempat bergabung di Radio 4EB Australia). Terdapat pula orang-orang profesional dengan latar belakang dan seabrek pengalaman yang mengagumkan, di antaranya Alvin Adam, Amelia Ardan, Candy Natazia Jorian, Catherine Keng, Gadiza Fauzi, Fiona Yuan, Leonard Samosir, Meutya Hafid, Prita Laura, Shao Ying, Sumi Yang, Tia Yufada, Virgie Baker, Zelda Savitri, dan lain-lainnya. Selain itu, beberapa penggiat media terkemuka yang sempat bergabung di Metro TV, yakni Brenda Yu, Chantal Della Concetta, Deti Supandi, Don Bosco,  Helmi Johannes, Jason Tedjasukmana, Sandrina Malakiano, Putra Nababan, dan Yasha Chatab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, Metro TV menyisipkan sedikit aroma hiburan dalam program siarannya. Stasiun televisi swasta nasional yang berkantor di Jalan Pilar Mas Raya Kav A-D, Kedoya, Kebon Jeruk Jakarta, ini juga memiliki acara unggulan lainnya. E-Lifestyle, misalnya, merupakan program talkshow yang mengupas soal teknologi informasi dan telekomunikasi. Program ini dipandu oleh pakar multimedia Roy Suryo dan reporter tangguh Meutya Hafid. Sementara acara The Breakfast Club adalah program yang membahas pelbagai topik yang menarik serta disajikan secara ringan dan human interest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Metro TV sejatinya bertujuan untuk merangsang sekaligus memacu pertumbuhan proses demokrasi Indonesia di level internasional dengan tetap mengutamakan apresiasi moral dan etika. Bak anugerah besar bagi rakyat Indonesia, Metro TV benar-benar konsisten melakoni perannya sebagai pencerdas kehidupan bangsa dengan memberikan seabrek wawasan dan pengetahuan, yakni sajian informasi berita tanpa henti dengan sedikit jeda. Salut! (Iswara N Raditya)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-9089369393559509406?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/9089369393559509406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=9089369393559509406&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/9089369393559509406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/9089369393559509406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2009/03/metro-tv-barometer-berita-nir-jeda.html' title='METRO TV: BAROMETER BERITA NIR JEDA'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SczOVEHyGLI/AAAAAAAAAp4/-joWHmVX0MM/s72-c/1+metrotv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-5735816181233399889</id><published>2009-03-21T23:12:00.008+07:00</published><updated>2009-12-11T12:55:29.027+07:00</updated><title type='text'>MANUSIA PEMULA TIRTO ADHI SOERJO</title><content type='html'>REDAKSI Medan Prijaji, Bandung, 1907. Hari itu bertumpuk banyak surat. Tirto membaca salah satunya. Rupanya dari seorang pribumi, di Bandung, yang mengadukan kasus: anaknya tewas dengan muka membiru, lebam bekas pukulan. Sebelum menghela nafas akhir, si korban sempat pingsan, empat hari lamanya. Nyawa sang putra dipungkasi dengan baku tinju gurunya sendiri, seorang Belanda, karena ketahuan tidur pada jam pelajaran. “Kelakuan yang tiada patut, sehingga menyusahkan guru-guru Belanda yang dikirim ke Hindia Belanda,” tukas guru bertangan besi itu.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;selengkapnya &amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirto geram. Ia datangi korban, berikan pengayoman, dan  berkata, “Kita akan bikin ini menjadi perkara. Jangan takut pada pengadilan!” Esok harinya, tulisan pembelaan Tirto Adhi Soerjo atas kasus ini muncul di surat kabar Medan Prijaji sebagai berita utama, hingga menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Pengadilan pun digelar, kasus disidangkan, vonis pun diputuskan: guru itu dipecat dan dikembalikan paksa ke negeri Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ScUVhjzIvGI/AAAAAAAAApw/QwLK_m1l24M/s1600-h/Tirto+mp.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315678601470327906" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ScUVhjzIvGI/AAAAAAAAApw/QwLK_m1l24M/s400/Tirto+mp.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 197px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kasus lain, kali ini lebih rumit, goresan pena tajam Tirto Adhi Soerjo berhasil pula membikin perkara atas ketidakadilan yang dialami bangsanya. Residen Madiun, J.J Donner, berkonspirasi untuk melengserkan Brotodiningrat dari jabatannya sebagai Bupati Madiun. Donner yang bersengkokol dengan Patih dan Jaksa Kepala Madiun, Mangun Atmojo dan Adiputro, resah karena kerap berselisih paham dengan Bupati Madiun itu. Kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Donner melapor bahwa Brotodiningrat adalah gembong sejumlah kerusuhan yang terjadi di Karesidenan Madiun, bahkan di seluruh Jawa. Akibat laporan palsu tersebut, Brotodiningrat dinyatakan bersalah dan dibuang ke Padang sebagai pesakitan. Peristiwa itu terjadi pada 1902.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirto Adhi Soerjo tak tinggal diam. Ia mengumpulkan data tentang ketidakbenaran laporan Donner. Tirto berseru pada pemerintah agar segera dilakukan penyelidikan. Di surat kabar Pembrita Betawi, kepalan tulisan Tirto muncul secara kontinyu selama sekian bulan, dari April hingga Agustus 1902. Setelah melalui proses pemeriksaan ulang dan berdasarkan beragam keterangan serta data-data, termasuk apa yang diserukan Tirto di Pembrita Betawi, akhirnya pemerintah mengklarifikasi keputusannya dengan menjelaskan bahwa Brotodiningrat adalah korban salah simpul dan keliru tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Blora, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (1878-1918) adalah putra Bupati Bojonegoro, dengan nama kecil Jokomono. Sempat mengecap pendidikan di sekolah dokter pribumi, STOVIA, tapi tidak lulus. Tirto memilih mempertaruhkan jalan hidupnya di jalur jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirto Adhi Soerjo adalah pendiri Sarekat Priyayi di tahun 1904. Ia juga penggagas terbentuknya Sarekat Dagang Islamiyah yang kemudian mengganti namanya dengan Sarekat Islam, yang merupakan organisasi politik dengan anggota yang begitu banyak dari pelbagai penjuru daerah di nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirto Adhi Soerjolah orang Indonesia pertama yang menerbitkan koran pribumi sendiri. Karir jurnalistiknya begitu panjang dan berpengaruh. Tak heran jika Pramoedya Ananta Toer menjulukinya sebagai Bapak Pers Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat kabar perdana Tirto Adhi Soerjo adalah Soenda Berita (terbit tahun 1904). Inilah media massa pribumi pertama, terbit tahun 1903, yang dimodali, dikelola, serta diisi tenaga-tenaga pribumi sendiri. Media Tirto adalah media mandiri, tidak di bawah perintah siapapun. Ia tak ingin bangsanya hidup di rumah kaca, yang segala tindak-tanduknya diawasi untuk kemudian disikapi dengan kekejian oleh pemerintah kolonial. Bersama Soenda Berita, Tirto menumpahkan semua yang ada di alam pikirannya, yang menjadi tujuan dan idealismenya selama ini: memadukan perdagangan dan pers dengan tujuan untuk memajukan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak kedigdayaan jurnalistik Tirto Adhi Soerjo adalah di tahun 1907, saat ia menerbitkan Medan Prijaji. Surat kabar bulanan yang sejak 1910 menjadi harian ini merupakan media yang sangat ampuh sebagai alat propaganda massa. Medan Prijaji adalah media advokasi pembela kepentingan rakyat, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada rakyat bumiputra. Orang-orang pribumi yang merasa ditindas dan dirugikan oleh aparat pemerintah, juga pihak-pihak lain, dipersilahkan menyuarakan pengaduannya melalui redaksi Medan Prijaji. Lewat tulisannya yang tangkas dan mempesona, Tirto Adhi Soerjo melakukan pembelaan atas kasus-kasus yang dialami bangsanya, dan itu sangat mempengaruhi kebijakan pemerintah kolonial. Tanpa disadari, Tirto Adhi Soerjo telah merintis salah satu peran media yang kini dikenal dengan jurnalisme advokasi: pers sebagai media  pembela kepentingan rakyat yang tertindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirto adalah sang pemula jurnalisme advokasi arkaik, pemuasal, yang pertama-tama. Di era sekarang, jurnalisme advokasi lebih diperankan oleh media pers independen, termasuk pers mahasiswa, yang bertujuan untuk menyuarakan penderitaan dan ketertindasan rakyat melalui media jurnalistik, semisal kasus penggusuran, eksekusi tanah rakyat, hak asasi manusia, serta masalah-masalah sosial kerakyatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirto Adhi Soerjo membuat pembacanya terlibat dalam usaha memajukan bangsa, serta membuat pembaca mengerti bahwa medianya adalah juga media milik rakyat dan merupakan bagian dari masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak langkah Tirto Adhi Soerjo dalam dunia pers pribumi mempunyai program yang jelas, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsanya dengan meningkatkan pengetahuan rakyat dari pelbagai bidang, serta mempersiapkan masyarakat pembaca untuk menyongsong jaman modern yang mulai merasuk masuk. Segala penjuru kehidupan rakyat ia masuki demi menjamin tercapainya cita-citanya itu. Banyak medianya, terutama di Soenda Berita, yang ia isi dengan rubrik kesehatan, meteorologi, hukum, politik, agama, fotografi, sosial, budaya, ekonomi, sains, pendidikan, dan ranah bumi manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirto Adhi Soerjo adalah guru, suluh yang berteguh memperjuangkan nasib rakyat lewat pers. Ia adalah seorang begawan yang ajarannya sangat berpengaruh dan menjadi kitab suci bagi para santrinya, juga generasi setelahnya. Dikagumi dan diteladani, Tirto pun memiliki banyak murid dan pengikut. Salah satunya adalah Mas Marco Kartodikromo (1890-1935), yang kelak menjadi wartawan ulung dan aktivis revolusioner. Mas Marco juga membuahkan sejumlah karya yang monumental, diantaranya adalah Student Hijo yang terbit menjadi buku tahun 1919. Berikut pendapat Mas Marco tentang mahagurunya itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, bumiputra yang pertama kali menjabat jurnalis; boleh dibilang tuan T.A.S (Tirto Adhi Soerjo, pen) induk jurnalis bumiputra di ini tanah Jawa, tajam sekali beliau punya pena, banyak pembesar-pembesar yang kena kritiknya jadi muntah darah dan sebagian besar suka memerbaiki kelakuannya yang kurang senonoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...saya mesti mengaku juga bahwa lantaran pimpinannya saya bisa menjadi redaktur..., seorang jurnalis Jawa paling tua, pun beliau seorang bumiputra yang pertama kali membikin NV... mashur di seluruh Hindia lantaran keberaniannya mengusik laku sewenang-wenang..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang murid setia ini juga menambahkan, Tirto Adhi Soerjo adalah ‘penggoncang bumiputra bangun dari tidurnya.’ Tirto Adhi Soerjo merupakan jurnalis yang cerdas, akrab dan paham tentang hukum yang berlaku, juga seorang yang berselera seni dalam menghantam mesin kolonial, dari mulai lurah sampai Gubernur Jenderal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saat militansi Tirto di bidang jurnalistik mulai melemah, para pemuda bumiputera banyak yang mengikuti jejak langkah si anak semua bangsa ini. Paska 1913, terbukalah fase baru bagi pers berbahasa anak negeri di Jawa. Meneruskan jalan yang dirintis Tirto Adhi Soerjo, beberapa pemuda Indonesia lain muncul sebagai editor dan koresponden di sejumlah surat kabar di Jawa. Isi terbitan media-media pribumi itu semakin berpolitik. Tirto Adhi Soerjo adalah Sang Pemulanya, pembuka jalan untuk membangkitkan kesadaran penduduk Jawa. Hal itu dilakukan lewar jurnalisme blak-blakannya, serta melalui peran pentingnya dalam pembentukan beberapa organisasi sosial politik modern pertama pribumi di Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih teramat banyak tulisan dan peranan Tirto Adhi Soerjo dalam usaha perintisan pers pribumi yang tersebar, tak terpantau, bahkan musnah ditelan penguasa peradaban sejarah. Selain tulisan di surat kabar, Tirto juga membuahkan karya yang berupa kumpulan tulisan, serta catatan hidup dan karya fiksi, antara lain: Seitang Kuning (1906), Cerita Nyai Ratna (1909), serta Busono (1912).1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemilangan sepak terjang pers Tirto ini membuat pamornya melejit, melegenda, meski entah kenapa namanya jarang disebut dalam pembelajaran sejarah Indonesia sekarang. Ia adalah seorang jurnalis muda yang berani, cerdas, dan jujur. Perjuangan Tirto di dunia jurnalistik, khususnya semenjak tahun 1902, membuka jalan dalam babak awal sejarah pers Indonesia: pers sebagai pembentuk opini publik, pers sebagai alat memperjuangkan hak dan keadilan (jurnalisme advokasi), serta pers sebagai media perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Hal-hal semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam ranah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Tirto Adhi Soerjolah yang pertama-tama memulainya, ialah Sang Pemula, Bapak Pers Nasional. (Iswara N Raditya)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-5735816181233399889?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/5735816181233399889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=5735816181233399889&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5735816181233399889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5735816181233399889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2009/03/manusia-pemula-tirto-adhi-soerjo.html' title='MANUSIA PEMULA TIRTO ADHI SOERJO'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ScUVhjzIvGI/AAAAAAAAApw/QwLK_m1l24M/s72-c/Tirto+mp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-1633049385842511416</id><published>2009-03-12T15:45:00.004+07:00</published><updated>2009-12-11T13:02:58.066+07:00</updated><title type='text'>PAMAN SAM DARI MINAHASA</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SbjQIcbbgdI/AAAAAAAAApg/w1CVHHdlkK0/s1600-h/samrat-nama2-ttd.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312224603972272594" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SbjQIcbbgdI/AAAAAAAAApg/w1CVHHdlkK0/s200/samrat-nama2-ttd.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 133px;" /&gt;&lt;/a&gt; INDONESIA ternyata juga punya Paman Sam yang tak kalah unggul, bahkan lebih peka naluri kemanusiaannya ketimbang Paman Sam Amerika. Paman Sam Indonesia bersemboyan: “si tou timou tumou tou" atawa “Manusia baru dapat disebut sebagai manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia.” Ya, Sam yang ini berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerungan Saul Samuel Yacob Ratulangi atau yang lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi ini memang seorang yang luar biasa. Sepak-terjangnya di blantika perjuangan nasional sungguh tidak tertahan, tak mampu dihadang jaman. Sedari era pergerakan nasional hingga masa kemerdekaan, kiprah Paman Sam yang satu ini sangat fenomenal. Banyak orang menjuluki lelaki Sulawesi ini dengan sebutan pejuang multidimensional, tak lelah berjuang melintasi batas, menerabas ruang dan waktu. Yang teristimewa, Sam Ratulangi adalah orang Indonesia pertama, atau bahkan satu-satunya, yang berhasil memeroleh gelar Doktor dalam bidang Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (Doktor der Natur-Philosophie) dari Universitas Zurich, Swiss. Harap dicatat, universitas ini adalah perguruan tinggi ternama yang menghasilkan para maestro dunia seperti Albert Einstein, Max Plank, dan suami-istri Curie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam Ratulangi lahir pada 5 Nopember 1890 di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Karir pendidikannya yang cukup panjang dimulai dari Sekolah Dasar Belanda atau Europeesche Lagere School (ELS) di daerah asalnya. Kemudian dilanjutkan ke Sekolah Menengah atau Hoofdenschool, masih di Tondano. Setelah lulus, Sam Ratulangi merantau jauh ke Batavia dan masuk menjadi siswa di Sekolah Teknik atau Koningin Wilhelmina School (KWS) pada 1904. Dalam empat tahun, Sam sukses menyelesaikan studinya di KWS dan mendapat Ijazah Guru pada 1908. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan ini membuatnya berkesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke negeri Belanda. Pada 1913, Ratulangi berhasil memeroleh ijazah Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek di Amsterdam untuk jenjang diploma. Ia lanjutkan kuliahnya di Universitas Amsterdam yang diselesaikannya pada 1915 dengan mendapat ijazah Middelbare Acte Opvoedkunde. Setelah wisuda, Ratulangi langsung terbang ke Swiss untuk memantapkan pendidikannya di Universitas Zurich yang terkenal itu. Dan akhirnya, pada 1919, Sam Ratulangi dengan gemilang sukses mencapai gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil.) untuk Wis-en Natuurkunde (Ilmu Pasti dan Ilmu Alam) di Universitas Zurich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Sam Ratulangi di dunia pergerakan tidak diragukan kendati ia lebih banyak menghabiskan masa mudanya di negeri orang. Namun, ketidakberadaannya di tanah air itu tidak menghalangi tekadnya untuk ikut berjuang menggoyang kemapanan kaum kolonial Hindia Belanda. Sewaktu kuliah di Amsterdam, Sam memimpin organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda pada 1914-1915,  Indische Vereeniging, yang kemudian menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Organisasi ini memiliki asas tujuan Kemerdekaan Bangsa Indonesia, sebuah misi yang cukup bernyali bagi anak-anak muda dari negeri jajahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Swiss, Sam juga masih aktif bergerak dengan mengetuai Association d’Etudiants Asiatique pada 1915-1916 yang anggotanya terdiri dari mahasiswa-mahasiswa dari Asia seperti mahasiswa dari Korea, Jepang, Muangthai, India, dan Indonesia. Keterlibatannya dalam organisasi yang bertaraf internasional masih berlanjut bahkan ketika Sam sudah menjadi doktor dengan memimpin Vereeniging van Indonesische Academici (VIA) atau Persatuan para Akademisi Indonesia yang memersatukan sarjana-sarjana dan kaum cendekiawan dari negara-negara Asia Tenggara pada 1932. Organisasi multibangsa ini bertujuan menghimpun para sarjana Indonesia dan Asia Tenggara yang akan membimbing rasa kebangsaan kepada rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulangnya ke tanah air, Sam Ratulangi sempat mengaplikasikan ilmu yang didapatnya dengan mengajar di sebuah sekolah teknik menengah di Yogyakarta dari tahun 1919 hingga 1922. Setelah itu, Sam pergi ke Bandung dan menjadi Direktur Maskapai Asuransi (1922-1924). Keinginannya untuk tetap melakukan hal yang berguna bagi kepentingan bangsa tetap membara. Untuk itulah ia bergabung ke Vereeniging van Onder-Officieren B bij de KPM (VOOB), suatu perkumpulan buruh, organisasi untuk calon nakhoda-nakhoda berbangsa Indonesia yang bekerja pada Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) dan dipercaya sebagai ketua penasehat. Ia pun turut mendirikan Serikat Penanaman Kelapa Indonesia pada 1939.&lt;br /&gt;Sam juga sempat bekerja pada dinas kereta api pemerintah di Priangan Selatan, tetapi karena sering tidak cocok dengan atasannya yang berpendidikan lebih rendah, ia memilih keluar. Waktu bekerja di bagian pembangunan kereta api itu, ia mengalami perlakuan yang kurang adil dari Pemerintah Belanda. Ia menerima gaji lebih rendah dari pada pegawai Belanda, walaupun mereka memunyai pangkat dan pendidikan yang sama. Hal ini menyentuh rasa kebangsaan Sam Ratulangi. Ia bertekad untuk menambah ilmu pengetahuannya melebihi orang-orang Belanda. Ilmu yang kelak akan disumbangkan untuk kemajuan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam Ratulangi tidak lupa pada asal-usulnya sebagai orang Minahasa, maka ia menjadi pengurus Dewan Minahasa dan dipercaya sebagai sekretaris pada 1924 itu juga. Pada 1927, di usianya yang ke 37, Sam duduk di kursi Volksraad (Dewan Rakyat) sebagai perwakilan daerah yang masuk dalam Nationale Fractie atau Fraksi Nasional yang menuntut yang menuntut penghapusan dari segala perbedaan politik, ekonomi, dan intelektuil. Sam yang terkenal dengan pidato-pidato kerasnya itu bertahan hingga sepuluh tahun di jajaran perwakilan rakyat di Dewan Rakyat, yaitu sampai 1937.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam Ratulangi juga terlibat sebagai salah satu saksi yang ikut menandatangani Petisi Soetarjo. Pada 15 Juli 1936, Soetardjo Kartohadikoesoemo selaku wakil dari Persatuan Pegawai Bestuur Bumiputera (PPBB) di Dewan Rakyat, mengajukan usul petisi kepada pemerintah kolonial agar diselenggarakan suatu forum oleh Kerajaan Belanda di mana dibahas tentang status politik Hindia Belanda dalam sepuluh tahun mendatang, yang lebih mengarah pada pemberian otonomi. Menurut Soetardjo, diperlukan suatu kerjasama antara Belanda dan Indonesia yang mencakup bidang ekonomi, sosial, kultural, dan politik sesuai kebutuhan masing-masing pihak. Isi petisi yang ditandatangani oleh Soetardjo Kartohadikoesoemo, Sam Ratulangi, IJ Kasimo, Datoek Toemenggoeng, Ko Kwat Tiong, dan Alatas itu lebih kurang sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yang bertanda tangan di bawah ini dengan hasrat menyorongkan usul, supaya Volksraad dengan mengenakan hak yang diberikan kepada majelis itu dalam pasal 68 daripada undang-undang Indische Staatsregering, mengajukan permohonan pada Pemerintah Tinggi dan Staten General supaya sukalah menolong daya-upaya agar supaya diadakan satu sidang permusyawaratan dari wakil-wakil Nederland dan wakil-wakil Hindia Nederland. Yang sidang permusyawaratan itu dengan memakai aturan hak bersama antara anggota-anggotanya akan mengatur suatu rencana bagi memberikan kepada Hindia Nederland dengan jalan berangsur di dalam sepuluh tahun, ataupun tempo yang oleh sidang permusyawaratan itu akan dianggap dapat melakukannya, kedudukan berdiri sendiri dalam batas-batas pasal 1 dari pada Grondwet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Sam, begitu para orang terdekatnya memanggil, memang seorang yang sangat kritis dalam menyikapi praktek kolonialisme Belanda yang tak kunjung henti di Indonesia. Simak saja satu ucapan Sam Ratulangi yang ditulisnya di sebuah artikel: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nasib rakyat Indonesia bukan lagi seperti seekor domba yang dicukur bulunya, tapi sudah ibarat seekor ayam yang dikelupas bulunya. Dengan pengertian, domba yang sudah dicukur bulunya masih bisa hidup karena bulunya itu akan tumbuh kembali. Tapi kalau ayam yang dikelupaskan kulitnya, hanya tinggal menunggu matinya saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati kritis, Paman Sam bukan seorang yang radikal. Tipikal perjuangannya adalah berdaya-upaya membentuk negara Indonesia yang merdeka dengan berjuang melalui tahap-tahap konstitusional. Gaya perjuangan yang terkonsep seperti ini sudah dilakukannya dengan menjadi anggota Volksraad dan keterlibatannya dalam Petisi Soetardjo yang menginginkan otonomi Indonesia dari pemerintah Belanda. Corak keindonesiaan yang sistematis kembali dilakukannya sewaktu memimpin partai politik Persatuan Minahasa yang menggabungkan diri dengan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) pada 1939. GAPI menghendaki dibentuknya parlemen secara penuh bagi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak mengenal dunia pergerakan, Sam gemar menulis. Baik menulis kritikan kepada pemerintah lewat artikel-artikelnya di media massa, Ratulangi juga sempat menghasilkan buku-buku hingga akhir hayatnya. Pada 1938, Sam Ratulangi menerbitkan mingguan berbahasa Belanda, Nationale Commentaren, yang merupakan majalah yang paling terkemuka pada kurun 1938-1942, yang menjadi bacaan wajib kaum intelektual bumiputera, bahkan banyak juga dari kalangan pemerintah yang berlangganan Nationale Commentaren kendati media ini sarat dengan kritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pedasnya komentar-komentar yang ditulis Ratulangi tak pelak membikin pemerintah kolonial gerah juga. Alhasil, Paman Sam pun terkena jerat, ia didakwa telah merugikan pemerintah kolonial. Kasus yang sempat menjadi perdebatan di kalangan pers bumiputera ini akhirnya dipungkasi dengan vonis hukuman kurungan kepada Sam Ratulangi selama empat bulan di rumah penjara Sukamiskin. Selain itu, Ratulangi juga dinonaktifkan di keanggotaan Volksraad selama empat tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, di balik musibh pastilah terkandung hikmah. Selama dibui itulah, Paman Sam justru berhasil mencipta karya pikirnya yang kemudian dibuat buku yang cukup mendapat perhatian. Judul hasil pemikiran Ratulangi selama dipenjara itu adalah Indonesia in den Pasifik yang mengupas tentang kedudukan strategis Indonesia di tengah-tengah lalu-lintas di wilayah Asia Pasifik. Menurut Ratulangi, wilayah nusantara memunyai nilai strategis –walaupun masih dijajah– yang sangat tinggi, sebagai negara konsumsi, negara penyedia bahan baku dan negara investasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pelbagai statistik, ia memerlihatkan nilai strategis di ketiga bidang itu. Indonesia dapat memunyai arti yang sangat penting bagi ekonomi dan politik dunia, dari segi geografo-economisch, sebagai posisi kunci dalam lalu lintas dunia; geo-economisch dengan kekayaan alamnya; socio-economisch, karena penduduknya yang bersedia bekerja dengan upah rendah tetapi sekaligus sebagai konsumen hasil-hasil produksi industri; klimatologisch; finansial. Kendati memiliki keunggulan-keunggulan ini, menurut Ratulangi, Indonesia hanya merupakan unsur-unsur pasif dalam kepentingan dan kegiatan internasional:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neraca pembayaran Hindia Belanda telah memerlihatkan perlakuan yang diterima Indonesia dari penguasa kolonial. Walaupun perdagangan Hinda Belanda selalu positif, yang lebih menentukan posisi Indonesia ialah neraca pembayaran. Aliran uang yang masuk melalui perdagangan tidak seimbang dengan aliran uang yang keluar: Uang yang masuk keluar dengan sama derasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah lakon yang mesti dilakoni Paman Sam dalam membantu membentuk Indonesia, dengan menjelaskan kepada dunia lewat mahakaryanya bahwa di tengah-tengah area Pasifik, terdapat satu bangsa besar yang cukup berpengaruh terhadap kestabilan dunia, namun selama ini ia dikangkangi oleh jejaring kolonialisme yang sangat merugikan dan mematikan peran bangsa yang kelak disebut Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karir tulis-menulis Sam Ratulangi sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Sebelumnya, pada 1934, ia menerbitkan mingguan berbahasa Indonesia, Penindjauan, bersama Dr M Amir, seorang psikolog kenamaan, dan F Dahler. Di samping itu, Sam juga banyak menghasilkan karya tulis di sepanjang hidupnya, antara lain: Serikat Islam (Leiden, 1913), Kurven-Systeme in Volstaendigen Figuren (Zurich, 1917), De Meetkunde voor Euclides (Batavia, 1920), Een Methode voor het Grafisch Teekenen van 2e Graadscurven (Bandung, 1922), serta sebuah karangan terakhir yang belum sempat terselesaikan dengan judul Indonesia dalam Gelora Internasional (1949). Selain itu, Sam Ratulangi telah banyak sekali menulis artikel di Nationale Commentaren, Penindjauan, dan media massa lainnya. Tulisan tentang Minahasa juga banyak yang ia tulis meski tidak semuanya dipublikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerungan Saul Samuel Yacob Ratulangi meninggal dunia pada 30 Juni 1949 di Jakarta dan dimakamkan di Tondano, kampung halamannya. Paman Sam wafat karena serangan jantung di detik-detik pembuangannya menuju Bangka. Atas segala jasa yang diberikan Sam Ratulangi, pemerintah memberikan banyak penghargaan kepada pejuang multidimensional ini, antara lain: Tanda Jasa Pahlawan (1958), Bintang Maha Putera Tingkat I (1960), Tanda Penghormatan Satia Lencana Perintis Pergerakan Kemerdekaan, (1965), Piagam Tanda Kehormatan Dewan Pers (1973), serta Piagam untuk Para Keluarga Pahlawan (1978) (Iswara NR)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-1633049385842511416?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/1633049385842511416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=1633049385842511416&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1633049385842511416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1633049385842511416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2009/03/paman-sam-dari-minahasa.html' title='PAMAN SAM DARI MINAHASA'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SbjQIcbbgdI/AAAAAAAAApg/w1CVHHdlkK0/s72-c/samrat-nama2-ttd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-4730975773131213564</id><published>2009-03-08T00:12:00.001+07:00</published><updated>2009-03-08T00:15:28.164+07:00</updated><title type='text'>KARTINI PERNAH SEATAP DENGAN MADONNA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SbKroJVbrUI/AAAAAAAAApQ/x9Ysa5ou0Rk/s1600-h/kartini21562006.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SbKroJVbrUI/AAAAAAAAApQ/x9Ysa5ou0Rk/s200/kartini21562006.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310495616812166466" /&gt;&lt;/a&gt; AlKISAH TENTANG balada kaum hawa di belahan dunia ketiga. Di peron stasiun Virar, India, ada kereta khusus perempuan, Ladies Special, yang beroperasi saban hari dan mampu mengangkut 6700 perempuan pekerja menuju Bombay. Pakistan, negara tetangga India, tak mau kalah. Mereka menyediakan sekolah khusus perempuan, Madrasa Jamia Usmania. Karena perangkat guru ada yang berstatus pria –aturan di Palestina melarang interaksi langsung antara lelaki dan perempuan– maka metode mengajarnya pun jadi unik. Di dalam kelas, guru pria disediakan lemari khusus yang diberi celah agar suara sang guru bisa terdengar. Para siswi menyimak ajaran guru tanpa harus melihat sosoknya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi di Afghanistan. Rezim Taliban telah membikin posisi perempuan di sana menjadi terkekang. Namun tidak saat ada gadis yang akan menikah. Di pesta pernikahan itu, teman-teman perempuan sang mempelai wanita diperbolehkan berkumpul dengan dengan gaya bebas: mengenakan pakaian modern, bersolek, memakai gincu, dan sejenisnya. Ada pula taman untuk perempuan di Kabul, di mana para wanita bisa tampil tanpa kekangan. Di tanah air, tepatnya di Bali, diulas pula bagaimana ritual menyiapkan sesaji yang hanya boleh dilakukan oleh para perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sajian istimewa majalah Kartini di edisi 14-28 April 2005 untuk memeringati hari lahir Raden Ajeng Kartini. Selain catatan perjalanan tentang keunikan perempuan di negara-negara berkembang tersebut, Kartini edisi Kartini itu juga menyajikan laporan tentang lima srikandi Indonesia, antara lain: Gadis Arivia (Yayasan Jurnal Perempuan), Sulistyowati Irianto (Pusat Kajian Wanita), Khofifah Indar Parawansa (mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan), Rieke Dyah Pitaloka (artis dan aktivis perempuan), serta Angelina Sondakh (mantan Puteri Indonesia dan anggota DPR). Masing-masing perempuan tangguh itu mengemukakan pendapatnya tentang Kartini dan masalah perempuan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi. Liputan menarik napak tilas tempat-tempat bersejarah RA Kartini disajikan dalam bentuk feature. Juga profil Condoleezza Rice, wanita kulit hitam pertama yang terpilih menjadi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk masa jabatan 2005-2008, menggantikan Colin Powell, lelaki yang juga keturunan ras Afrika-Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini memang bacaan khusus perempuan. Majalah wanita ini menyajikan banyak rubrik menarik, yang paling populer adalah rubrik “Oh Mama Oh Papa” berupa muatan cerita yang diambil dari kisah nyata. Ada juga ruang kontak jodoh yang diberi nama “Gerbang Kencana”. Kolom tips ditempatkan pada rubrik “Setetes Embun Aduhai” dengan Ike Soepomo, seorang novelis, sempat menjadi pengasuhnya. Sedangkan “Lacak Ragam” adalah ruang yang memberikan info-info padat tentang dunia selebritis. Ada pula rubrik-rubrik lain seperti “Kisah Sejati” serta “Kita dan Peristiwa”, hingga ramalan astrologi dan kuis teka-teki silang. Juga terselip beberapa lembar suplemen “Konsultasi dan Informasi” yang mengulas persoalan keluarga, anak, kesehatan, dan seksologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang keluarga, psikolog Pamugari Widyastuti pernah mengemukakan petuahnya dalam majalah Kartini no 2132 edisi 3-17 Februari 2005. “Berumah tangga itu ibarat sebagai masa penggarapan seumur hidup. Tanahnya harus selalu diolah, diberi pupuk, ditanam lagi, dan diberi sentuhan kreatif agar hasilnya bagus,” kata Staf Bagian Klinis dan Konseling, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu. Pamugari Widyastuti juga bernasehat tentang sakralnya pernikahan, “Jangan memandang perbedaan sebagai sesuatu yang negatif karena dari setiap perbedaan pendapat lahirlah pembaharuan. Ingat, pernikahan adalah hal yang sangat serius dan harus dijalani dengan sungguh-sungguh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan pertamakali oleh Yayasan Pratamasari pada 10 Nopember 1974, majalah wanita Kartini awalnya memakai surat ijin terbit majalah Madonna. Cekcok terjadi ketika Lukman Umar, Pemimpin Redaksi/Pemimpin Perusahaan Kartini, dipersalahkan telah mengangkangi perusahaan sehingga dipecat. Dengan pemecatan ini, posisi Lukman Umar di majalah Kartini dinyatakan non-aktif. Saat proses pengadilan sedang berjalan, Lukman sempat mendirikan majalah Sarinah dan Asri, sedangkan Kartini dijalankan oleh Willy Risakota dan Karnel Omar Purba. Namun, putusan pengadilan justru menetapkan Lukman Umar sebagai Pemimpin Perusahaan Kartini dan Bram Tuapattinaya sebagai Pemimpin Redaksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas putusan hakim itu, kubu Willy Risakota mengajukan permohonan pengajuan kembali. Pihak Lukman Umar yang merasa menang di pengadilan segera memohon ijin kepada Direktorat Jenderal Penerbitan dan Grafika (Dirjen PPG) untuk segera menerbitkan Kartini. Dirjen PPG atas nama Menteri Penerangan menghimbau agar rencana itu ditunda dulu sembari menunggu keputusan Mahkamah Agung atas permohonan peninjauan kembali dari pihak Willy Risakota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keputusan pengadilan dirasa bersifat keputusan yang tidak perlu eksekusi, Lukman dan kawan-kawan pun nekad menerbitkan Kartini “tandingan” pada 27 Desember 1985. Namun tak lama kemudian, berdasarkan SK Menteri Penerangan RI No 07/SK/Dirjen PPG/1985, Kartini bikinan Lukman dilarang terbit hingga ada keputusan mengenai peninjauan kembali yang diajukan Willy Risakota. Sementara itu, Dirjen PPG juga membekukan penerbitan Sarinah dan Asri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Februari dan April 1986, Sarinah dan Asri kembali beredar tetapi nama Lukman Umar tidak tercantum lagi dalam susunan pengurusnya. Akhirnya, pada Mei 1986, Lukman Umar diperbolehkan kembali mengemudikan Kartini, sedangkan rivalnya, Willy Risakota, diberi ijin untuk menerbitkan majalah dengan nama Pertiwi. Kini, kursi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi/Penanggungjawab majalah Kartini ditempati oleh rekan Lukman, yakni Bram Tuapattinaya yang pernah menjabat sebagai wakil sekretaris PWI Jakarta pada masa kepemimpinan Harmoko. (Iswara N Raditya) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-4730975773131213564?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/4730975773131213564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=4730975773131213564&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/4730975773131213564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/4730975773131213564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2009/03/kartini-pernah-seatap-dengan-madonna.html' title='KARTINI PERNAH SEATAP DENGAN MADONNA'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SbKroJVbrUI/AAAAAAAAApQ/x9Ysa5ou0Rk/s72-c/kartini21562006.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-4017599972403642216</id><published>2009-03-08T00:04:00.001+07:00</published><updated>2009-03-08T00:11:07.360+07:00</updated><title type='text'>INTELEKTUALITAS JAZZ NICK MAMAHIT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SbKqZyga5vI/AAAAAAAAApI/c0-NUxf2LsU/s1600-h/Mamahit_2003.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SbKqZyga5vI/AAAAAAAAApI/c0-NUxf2LsU/s200/Mamahit_2003.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310494270654441202" /&gt;&lt;/a&gt; JAZZ BELUM memasyarakat. Populeritas musik jazz di Indonesia masih kalah dengan keroncong, langgam, atapun dangdut. Kenyataan ini yang menjadi keresahan salahseorang maestro jazz Indonesia, Nick Mamahit. Menurutnya orang-orang Indonesia belum dapat menerima lagu yang diolah secara modern. “Kita memulai musik di sini dengan keroncong... Setelah keroncong, mulailah langgam. Teorinya sama dengan keroncong, cuma lebih modern, lebih pop. Ketika Jepang datang, samasekali tidak ada apa-apa. Setelah perang Jepang, muncul musik rock. Sekarang dangdut yang dikenal sebagai musik ketiga,” kata Nick.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Nick tak hanya sekadar mengeluh, ia justru menawarkan solusi atas keresahannya itu. “Sebenarnya ada harapan untuk jazz Indonesia. Idealnya ada sekolah khusus. Apa yang harus dilakukan oleh musisi jazz kita? Mereka mesti dilihat secara keseluruhan, karena kita tidak bisa mendengar satu orang bermain,” ujar musisi yang dipandang sebagai salahseorang pianis Indonesia terbaik sekurun 1950-an ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berdarah Manado ini kemudian melanjutkan, “Kalau kita ambil buku musik klasik, di lembar pertama kita akan lihat nama para komposer. Kalau buku jazz terbalik. Di lembar pertama adalah judul lagu, di lembar berikutnya (baru) nama-nama para musisi yang memainkan lagu tersebut.” Itulah kiranya yang membuat musik jazz menjadi kurang membumi, apalagi di Indonesia. “Kita mesti belajar itu semua. Itu yang sebetulnya harus dilakukan oleh beberapa musisi kita. Tidak usah lewat festival, lewat rekaman sudah cukup. Dengan begitu kita bisa membandingkan kemampuan orang, dan dia sendiri juga bisa berkembang,” lanjut Nick seperti yang dikutip dari suratkabar Kompas edisi 26 September 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicolaas Maxmiliaan Mamahit dilahirkan di Jakarta pada 30 Maret 1923. Ia mulai berkenalan dengan tuts-tuts piano saat berusia sembilan tahun di bawah bimbingan sang ayah, Lodewijk Maurits. Nick senang mendengar alunan irama piano. Ia sering mencuri dengar ketika ayahnya sedang memainkan piano dan berlatih sendiri kendari kala itu ia belum paham membaca notasi. Pada 1948, Nick pergi ke Belanda untuk memerdalam kualitas bermusiknya. Ia belajar di Amsterdam Music Conservatory, Belanda. Inilah yang membuat Nick menjadi lebih istimewa dari para sejawatnya yang kebanyakan otodidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nick, jika ingin menghasilkan musik yang bagus dan berkualitas, musik tersebut harus dimainkan dan ditulis. Si pemusik harus piawai dan menguasai instrumennya. Yang terpenting dari semua itu adalah memelajari tone. Seorang musisi paling susah mendapatkan tone. Nick sendiri ketika masih di Belanda banyak menghabiskan waktunya untuk memencet-mencet tuts piano hingga mendapatkan tone yang tepat untuk ciri bermusiknya. “Di sekolah, berapa lama kita hanya belajar tangga nada dengan tone, bukan suara. Tone itu dibuat oleh jari, bukan tangan. Dengan tone, tanpa harus melihat, orang akan tahu siapa yang sedang main,” ungkap Nick.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki tahun 1950, Nick sedang meretas masa-masa jayanya. Di kurun itu, ia membentuk kelompok musik bersama Dick Abel dan Van der Cappellen bernama The Progressives. Band ini menghasilkan beberapa lagu andalan antaralain Rindu, Tanam Djagung, dan Tjemas. Kendati sempat rekaman namun musik mereka dianggap melintas batas peradaban, terlampau maju untuk zamannya. Akibatnya, karya mereka yang bermutu malah kurang memasyarakat di pasaran. The Progressives pun akhirnya gulung tikar, bubar jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nick tak hanya diam. Ia segera bergerak dengan membentuk trio baru bernama Irama Spesial. Grup ini terdiri dari Nick Mamahit (piano dan vokal), Jim Espehana (drum), dan Bart Risakotta (bass). Tidak ingin mengulangi kesalahan, Nick dan kawan-kawan berusaha mencipta lagu-lagu yang lebih bersahaja dan mudah diterima. Alhasil, rekaman Irama Spesial menembus pasar dan cukup laris. Kesuksesan tersebut membuatnya lebih semakin bergairah. Pada 1953, Nick kembali membentuk trio, kali ini bersama Sam Saimun dan Bing Slamet. Trio tersebut kemudian berhasil membuat beberapa rekaman, salahsatunya adalah Sarinande yang meluncur pada 1956. Album tersebut dianggap sebagai tonggak rekaman musik jazz di tanah air, dicatat sebagai rekaman jazz pertama di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi Nick masih bertahan meramaikan dunia permusikan Indonesia sampai akhir dekade 1990-an. Tercatat, selama 15 tahun Nick masih bermain secara reguler di Hotel Mandarin, Jakarta, hingga pada sekitar tahun 1996 Nick mengendurkan aktivitasnya karena mulai terserang stroke. Meski sudah sangat jarang tampil, Nick masih tetap aktif melatih jari-jarinya supaya tak terus kaku akibat stroke yang menyerangnya itu. Dari dulu Nick sangat gemar mengumpulkan referensi sebagai koleksi, baik buku-buku musik klasik ataupun jazz. Bahkan banyak bukunya yang sangat berharga dan sudah berumur tua dengan masih menggunakan bahasa Belanda. Sayang, sebagian bukunya habis dimakan rayap, hancur karena udara lembab, dan tak terurus ketika ia terserang stroke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nick sendiri sempat memberikan apresiasi terhadap beberapa penyanyi jazz generasi setelahnya, seperti Bubi Chen, Ireng Maulana, hingga Indra Lesmana. Nick berharap bahwa mereka ini adalah penerus estafet musik jazz di Indonesia setelah generasinya. Tetapi Nick tetap kritis dengan menegaskan bahwa musik yang bagus, selain harus dimainkan, juga wajib ditulis. Inilah alasan mengapa Nick sangat getol mengoleksi buku-buku tentang musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil perkawinannya dengan Louise Henriette –yang dinikahinya sebelum berangkat ke Belanda pada 1948– Nick dikaruniai empat orang anak. Salahseorang anaknya meneruskan jejak Nick Mamahit sebagai musisi, bahkan hingga sampai ke Australia, dan tercatat sebagai penyanyi sekaligus gitaris folk pertama di Indonesia sebelum jenis musik ini mewabah pada kurun 1970-an. (Iswara N Raditya)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-4017599972403642216?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/4017599972403642216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=4017599972403642216&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/4017599972403642216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/4017599972403642216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2009/03/nick-mamahit-intelektualitas-pejuang.html' title='INTELEKTUALITAS JAZZ NICK MAMAHIT'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SbKqZyga5vI/AAAAAAAAApI/c0-NUxf2LsU/s72-c/Mamahit_2003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-2300632250190346225</id><published>2009-01-21T10:00:00.002+07:00</published><updated>2009-01-21T10:05:13.182+07:00</updated><title type='text'>DIGDAYA PRAMOEDYA!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SXaQ2tBAqAI/AAAAAAAAAok/qVto9hhlrB4/s1600-h/!PRAM.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 172px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SXaQ2tBAqAI/AAAAAAAAAok/qVto9hhlrB4/s200/!PRAM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293577681491765250" /&gt;&lt;/a&gt; PADA 1963, redaksi Bintang Timur, Pramoedya Ananta Toer yang mengasuh rubrik budaya-sastra bertajuk Lentera, menggelontorkan wacana Realisme Sosialis. Terjadilah Polemik Kebudayaan yang melegenda itu. Lekra, melalui Lentera, menuntut kejelasan ideologi yang memihak rakyat. Realisme Sosialis meletakkan kenyataan dan kebenaran yang lahir dari pertentangan-pertentangan di dalam masyarakat maupun di hati manusia sebagai dasar material kesenian. Seni adalah untuk rakyat. Pram gencar menyerang penganut Manifesto Kebudayaan, yang oleh Lekra diperolok dengan sebutan Manikebu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manifesto Kebudayaan dicetuskan pada 17 Agustus 1963 oleh sekitar 20 sastrawan yang kebanyakan tergabung di majalah SASTRA, termasuk HB Jassin dan Mochtar Lubis. Kubu Manikebu menganggap kebudayaan tidak lebih penting dari sektor lain, dan karenanya harus berjuang bersama sesuai kodratnya. Humanisme universal adalah perjuangan kebudayaan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Intinya, seni untuk kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram menolak Manikebu atas dasar prinsip dan akibat yang akan timbul. “Kaum Manikebu muntjul djustru pada saat kita sedang mengarahkan sasaran tembakan pada kaum imperialis-neokolonialis sebagai titik-pusat tembak. Mereka muntjul pada garis tembak kita. Apakah mereka tidak kena tembakan?” tanya Pram di Lentera pada 12 April 1964. Lantas Pram melanjutkan, “Pasti kena sasaran tembakan kita setjara tak terhindarkan. Dengan demikian mereka mereka melemahkan daja tembak kita. Ini adalah bukan hal jang kebetulan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tulisan itu, Pram mengisyaratkan bahwa gagasan Manikebu tak jauh beda dengan isi pikiran licik kaum Nekolim. Dampaknya, Soekarno membubarkan Manikebu pada 18 Mei 1964. Inilah pukulan pamungkas Pram untuk Humanisme Universal gaya Manikebu, yang dimuat dalam Lentera tanggal 14 Juni 1964, “Ada segolongan ketjil sardjana jang mengira, bahwa revolusi kebudajaan ala Eropa Baratlah jang harus mendjadi alur bagi Revolusi Kebudajaan kita. Produk dari demokrasi liberal ini tidak akan bisa dikembangkan di alam Indonesia jang menolak liberalisme setjara mutlak!” Dengan demikian, Manikebu lebur di penghujung rezim Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925. Pram sempat belajar di Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya. Pada kurun 1942-1945, ia bekerja sebagai juru ketik dan editor Japanese-Chinese War Chronicle di kantor berita Jepang Domei di Jakarta. Ketika Indonesia merdeka, Pram berkesempatan kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta dengan studi radio dan stenografi. Pada 1950-an, ia menetap di Belanda dalam rangka program pertukaran budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah tercatat sebagai letnan dua di Resimen 6 Divisi Siliwangi sebelum akhirnya terjun ke dunia pena. Pram tercatat sebagai reporter dan editor untuk Majalah Sadar pada 1947. Selanjutnya, ia juga menjadi editor di Departemen Literatur Modern Balai Pustaka Jakarta pada 1951-1952, untuk kemudian bergabung dengan The Voice of Free Indonesia. Di rubrik budaya Lentera suratkabar Bintang Timur, Pram menjabat sebagai redaktur dan editor pada kurun1962-1965. Pada kisaran waktu yang sama, Pram juga mengajar di Fakultas Sastra Universitas Res Publica Jakarta (sekarang Trisakti) dan di Akademi Jurnalistik Dr Abdoel Rivai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwaan penganut komunis –kendati ia sering menyangkalnya– membuat Pram terpaksa menjadi tahanan politik Orde Baru selama 14 tahun tanpa proses pengadilan, pascaperistiwa 1965. Pram sempat mendekam di Nusa Kambangan dan Pulau Buru sebagai pesakitan. Pram dibebaskan pada 21 Desember 1979, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999. Sebelumnya, Pram juga pernah dipenjara pada jaman kolonial selama 3 tahun dan di era Orde Lama setahun. Semasa dibui itulah Pram justru menemukan masa emasnya dalam menghasilkan karya. Tetralogi Pulau Buru yang kesohor itu adalah buktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang rezim Soeharto berkuasa, Pram seperti orang asing di rumah sendiri. Akibat pengaruh penguasa, bangsa Indonesia enggan mengakui jasa besar seorang Pramoedya. Karya-karyanya diberangus dan dilarang beredar. Padahal, dunia internasional sangat menghargai seorang Pram. Jean Paul Sartre mengirimkan mesin ketik. Pemenang Nobel dari Jerman, Heinrich Boel, mengirim lukisan jago sedang bertarung. Presiden Chile menganugerahkan bintang Pablo Neruda. Dan seterusnya dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, para sastrawan mapan di negeri ini masih dendam padanya. Pada 1995 ketika Pram memeroleh Ramon Magsaysay Award dari Filipina, &lt;br /&gt;26 tokoh sastra Indonesia, termasuk Mochtar Lubis, HB Jassin, serta para tokoh Manikebu lainnya, menulis surat protes atas penghargaan kepada Pram tersebut. “Rasanya sangat ironis bila dengan keputusan tersebut Pramoedya duduk sebangku dengan pemenang Magsaysay, Mochtar Lubis dan HB Jassin,” demikian bunyi gugatan itu. Memang, Jassin dan Lubis pernah menerima anugerah yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika hadiah itu tetap diberikan kepada Pram, saya akan mengembalikan Hadiah Magsaysay yang pernah saya terima,” ancam Mochtar Lubis yang menerima penghargaan serupa pada 1958. Akhirnya, Lubis benar-benar mengembalikan medali bergambar almarhum Presiden Ramon Magsaysay yang sekitar 37 tahun disimpannya, juga uang hadiah sebesar US$ 5.000. Pram sendiri berkomentar dingin atas polemik tersebut, “Itu masalah individual mereka masing-masing. Kalau ada yang tidak suka, saya tidak mengganggu ketidaksukaannya itu, terserah saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Ramon Magsaysay Award, Pram banyak menerima penghargaan, terutama dari lembaga-lembaga internasional. Ia juga sempat dicalonkan sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra. Semasa hayatnya, Pram menulis lebih dari 50 buku, cerpen, serta seabrek artikel lainnya. Karya-karyanya banyak yang diterjemahkan ke pelbagai bahasa di dunia. Pram layaknya begawan di puspa-ragam jenis ilmu. Ia adalah seorang jurnalis, sastrawan, bahkan sejarawan, meski kebenaran yang diungkapnya tak semua mendapatkan apresiasi yang pantas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer wafat pada 30 April 2006 dalam usia 81 tahun. Radang paru-paru ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes, menggerogoti riwayat sang maestro. Hingga di penghujung jemputan maut, jiwa perlawanan Pram tetap membara. “Saya tak kuat. Bakar saya dalam mati saya!” erangnya menjelang ajal. “Akhiri saja saya! Bakar saya sekarang!” ulang Pram. Akhir nafas, nyanyi sunyi Darah Juang dan Internazionale menyirami bara sang pujangga, mengantarkannya kembali ke rahim bumi. (Iswara NR) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-2300632250190346225?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/2300632250190346225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=2300632250190346225&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2300632250190346225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2300632250190346225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2009/01/digdaya-pramoedya.html' title='DIGDAYA PRAMOEDYA!'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SXaQ2tBAqAI/AAAAAAAAAok/qVto9hhlrB4/s72-c/!PRAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-8796641532716850541</id><published>2009-01-21T09:53:00.001+07:00</published><updated>2009-01-21T09:59:02.219+07:00</updated><title type='text'>TOPSKOR PENCETAK REKOR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SXaPNTg5b4I/AAAAAAAAAoc/YKEnD_SUD3Q/s1600-h/1232471619cover.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 183px; height: 271px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SXaPNTg5b4I/AAAAAAAAAoc/YKEnD_SUD3Q/s320/1232471619cover.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293575870759923586" /&gt;&lt;/a&gt; BAK MENJAJAL maut, suratkabar TopSkor bertaruh untung. Mengharap nasib mujur, TopSkor ibarat David yang mencoba menantang dominasi Goliath yang selama ini diperankan oleh sebuah tabloid raksasa dwimingguan dengan bersegmen pandemen bola. Namun, TopSkor cukup tahu diri. Mustahil melawan kedigdayaan dengan perang secara terbuka, ia justru memilih beradu taktik dan strategi. TopSkor sengaja memilih kala terbit harian dengan memantik keunggulan dalam hal aktualitas, bahkan melewati sang Goliath yang hanya mampu melayani pembacanya dua kali dalam sepekan. Jadilah, TopSkor menasbihkan diri sebagai harian olahraga pertama dan utama di Indonesia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siaran langsung bola semakin sering. Jadi, penggemar bola jelas lebih suka berita yang up to date,” kilah Entong Nursanto, Pemimpin Umum TopSkor.  Satu lagi kejelian Entong, TopSkor berupaya memenuhi kebutuhan para penggila bola akan hasil pertandingan yang terkini. ”Ada kebutuhan mereka untuk cepat tahu hasil pertandingan,” ujar Entong Nursanto yang juga menjabat sebagai Direktur PT Trio Warna Gempita sebagai perusahaan penerbitan TopSkor yang beralamat di Jalan Pluit Kencana Raya No 64 Jakarta Utara. Dengan hadir saban hari, TopSkor menjadi rujukan utama untuk memanjakan penggemar sepakbola, yang nyaris separuhnya adalah sekaligus petaruh yang tentu saja sangat mendambakan hasil-hasil pertandingan terbaru secara secepat mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan Entong Nursanto terjun di dunia industri media olahraga karena menurutnya mayoritas penduduk Indonesia adalah penggemar berat olahraga, terutama sepakbola sebagai cabang krida yang paling populer, dan jumlah itu akan terus bertambah dari segala kalangan. Apalagi, lanjut Entong, hingga saat ini penggemar sepakbola di Indonesia masih dimanjakan dengan sajikan siaran langsung sepakbola secara gratis via layarkaca. Tidak seperti di luarnegeri di mana bila orang ingin menonton siaran sepakbola secara live harus berlangganan lewat TV kabel, dan itu berarti harus membayar lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi membangun TopSkor agar menjadi media olahraga yang tak dianggap picisan, Entong Nursanto, yang sebelumnya adalah seorang pengusaha percetakan dan jasa fotokopi, tak mau main-main. Ia menggandeng Ronny Pangemanan yang memang ahli dalam bidang ini. Dalam acara peluncuran perdana TopSkor, Ronny Pangemanan menyatakan bahwa latarbelakang diterbitkannya TopSkor adalah karena di Indonesia belum pernah ada suratkabar harian yang khusus mengupas (hanya) ihwal olahraga. “Padahal masyarakat di Indonesia sangat gandrung dengan olahraga, apalagi sepakbola,” lanjut Ronny Pangemanan yang didapuk untuk memimpin redaksi TopSkor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpaduan antara keuletan Entong dan wawasan Roni menghasilkan kekuatan yang cukup mengejutkan. Kemunculan TopSkor langsung mendapat respon positif dari publik pecinta olahraga, khususnya dari kalangan penggemar sepakbola di seantero tanah air. Ketika pertamakali diluncurkan pada 6 Januari 2005, TopSkor membuncahkan tiras sebanyak 53 ribu eksemplar. Kurang dari setahun, oplah TopSkor menanjak pesat, bertumbuh hingga 400%, yakni mencapai angka 150 ribu eksemplar (bandingkan dengan tabloid Bola yang kala itu bertiras 400 ribu eksemplar namun sudah terbit sejak 1984). Jalur distribusi TopSkor pun perlahan meluas, dari Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga ke Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal harga, TopSkor jelas lebih terjangkau. Hanya dengan 2000-2500 perak setiap edisinya, bahkan harga promosinya cuma seribu rupiah, para pencinta olahraga di Indonesia sudah dimanjakan dengan sajian informasi olahraga terkini, baik dari mancanegara maupun berita krida dalamnegeri. Harga yang sangat murah jika dibandingkan media-media sejenis membuat pamor TopSkor dengan cepat melejit dan hinggap di hati rakyat sebagai media olahraga yang tak lagi harus mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murah tidak harus berarti remeh, itulah TopSkor. Kualitas beritanya tak usah diragukan. Siapa yang menyangka bahwa TopSkor adalah satu-satunya suratkabar olahraga di luar Italia yang diberikan lisensi oleh La Gazetta dello Sport yang merupakan harian olahraga paling berpengaruh di Italia, juga salahsatu yang terbesar di dunia. Di negeri kiblatnya sepakbola itu, La Gazetta dello Sport sendiri memiliki oplah yang mengagumkan, yakni mencapai 1 juta eksemplar tiap terbitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengantongi lisensi resmi dari La Gazetta dello Sport, maka TopSkor berhak mengutip seluruh isi berita, juga mencantumkan nama-nama wartawan suratkabar La Gazetta dello Sport. Sebuah awal spektakuler yang berhasil diraih suratkabar yang baru seumur jagung. TopSkor dengan luarbiasa memberikan berita-berita eksklusif yang tidak didapatkan di koran manapun di negeri ini, namun tak lupa dengan sajian sepakbola Indonesia, juga ranah krida lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengusung jargon Langsung, Lugas dan Eksklusif, TopSkor menjelma menjadi sebuah pilihan baru bagi para pecinta sepakbola. Maka itu tidaklah mengherankan bila TopSkor dinobatkan sebagai koran terbesar ketiga, dinilai dari jumlah pembacanya, untuk lingkup Jakarta dan nomor keempat untuk tingkat nasional. Sebagai penegasan predikat itu, berdasarkan survei yang dilakukan AC Nielsen pada Maret 2007, jumlah pembaca TopSkor secara signifikan mencapai angka sekitar 777.000 pembaca. Luar biasa! (Iswara N Raditya/Indonesiabuku) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-8796641532716850541?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/8796641532716850541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=8796641532716850541&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8796641532716850541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8796641532716850541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2009/01/topskor-pencetak-rekor.html' title='TOPSKOR PENCETAK REKOR'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SXaPNTg5b4I/AAAAAAAAAoc/YKEnD_SUD3Q/s72-c/1232471619cover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-5450143938847774823</id><published>2009-01-16T12:53:00.002+07:00</published><updated>2009-01-16T13:08:18.818+07:00</updated><title type='text'>SENI ALAKADAR GOMBLOH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SXAj1nqm2kI/AAAAAAAAAoU/aPkg8OBiT1E/s1600-h/Gombloh+80_zaman.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 126px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SXAj1nqm2kI/AAAAAAAAAoU/aPkg8OBiT1E/s200/Gombloh+80_zaman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291768966248061506" /&gt;&lt;/a&gt; SUATU KETIKA, seorang wartawan majalah nasional terkemuka bertanya kepada Gombloh, “Apakah Mas Gombloh menyadari kedudukan Mas di peta musik Indonesia?” Yang ditanya menjawab lugu, “Di peta musik Indonesia, sebetulnya aku ini ndak ada nomer, aku juga ndak kepingin dikasih nomer. Aku kebetulan hanya seorang anak manusia yang cari duitnya dari musik.” Si kuli tinta bertanya lagi, “Apa tidak berambisi menjadi pembaharu musik, misalnya?” Lagi-lagi jawaban Gombloh bernada merendah, “Buat aku itu terlalu ngetop. Aku ndak kuat, dan aku mengaku saja, aku ini ndak ada apa-apanya, kok. Cuma aku kepingin bermain musik sebaik yang aku bisa.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sosok seorang Gombloh: lugu, kumal, nyentrik, serta alakadarnya dalam berpenampilan dan bertutur. Tapi, jangan salah. Gombloh ternyata menyimpan kekuatan bermusik yang dahsyat. Syair-syair nasionalismenya bisa membikin kuduk merinding, meresapi semangat bertanah-air. Ingat, lagu Kebyar-Kebyar ciptaan Gombloh adalah suguhan wajib pada setiap even-even kebangsaan, berdamping sejajar dengan lagu-lagu nasional karya komponis legendaris Indonesia. Selain Kebyar-Kebyar, Gombloh mencipta banyak tembang nasionalisme lainnya seperti Berita Cuaca, Kami Anak Negeri Ini, Kadar Bangsaku, Pesan Buat Negeriku, Terimakasih Indonesiaku, Dewa Ruci, Indonesia Kami,  Gugur-Gugur Bunga, Gaung Mojokerto-Surabaya, hingga lagu persembahan untuk Presiden RI Pertama, Soekarno, dengan judul BK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati tidak pernah memperoleh apresiasi yang pantas dari pemerintah pada masanya, namun publik mengakui bahwa Gombloh memang luar biasa. Dia hanya seorang seniman biasa tetapi mampu memantik rasa kebangsaan, mewujud menjadi pahlawan bagi kaum dan bangsanya.“Saya ingin Merah-Putih itu tidak hanya berkibar di tiang-tiang bendera, tapi di setiap warga negara Indonesia. Dengan begitu, ia tidak sekadar menjadi slogan,” ujar Gombloh mengenai alasannya mencipta lagu-lagu berciri nasionalisme. Dalam cara menyanyikan tembang-tembangnya, Gombloh memang bertipikal gerilyawan. Artinya, peralatan musik yang dipakai seadanya tapi dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebenarnya bukan hanya masalah teknis namun juga modal musikalnya. Musik karya Gombloh sebetulnya sangat sederhana jika dibandingkan dengan para pelantun lagu kebangsaan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si “Tolol” yang Luar Biasa&lt;br /&gt;Gombloh terlahir dengan nama Soedjarwoto Soemarsono, di Jombang, Jawa Timur, pada 14 Juli 1948. Dia adalah anak anak keempat dari enam bersaudara. Panggilan Gombloh itu diberikan ayahnya semenjak kecil. Menurut Gombloh, nama itu menjadikan hoki dalam karir bermusiknya. “Di dalam bisnis musik, nama Gombloh itu membawa keberuntungan bagi saya. Nama Gombloh itu ‘kan mudah diingat,” paparnya. Memang benar demikian adanya. Di setiap kesempatan, entah ketika pentas atau dalam keseharian, para penggemarnya, terutama gadis-gadis, pasti akan menyapanya dengan meriah, “Gombloh, Gombloh, Gombloh!” Kalau sudah begitu, yang diteriaki hanya bisa tersenyum sembari melambaikan tangannya, meski juga terkadang menggerutu, “Memanggil orangtua kok seenaknya,” gumam Gombloh mengingat para penggemarnya rata-rata berusia jauh lebih muda darinya. Namun selanjutnya dia bisa memaklumi itu, “Itulah resiko punya nama Gombloh.” Rupanya, Gombloh sendiri paham makna namanya itu. “Artinya, boleh dibilang tolol, begitulah. Jadi, kalau saya bertingkah yang ndak wajar, misalnya, orang paling-paling cuma bilang, dasar Gombloh!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gombloh berasal dari keluarga yang sangat biasa. Ayahnya adalah pedagang kecil yang biasa berjualan ayam di pasar. Selepas lulus SMAN 5 Surabaya, Gombloh sempat kuliah di jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya selama dua tahun namun tak selesai. Gombloh juga sempat hinggap di sebuah universitas yang, anehnya, dia lupa nama perguruan tinggi itu. “Maklum, sudah lama. Cuma sebentar, sekadar mampir,” elak Gombloh seenaknya. Pada 1983, Gombloh menikahi Wiwiek, seorang gadis asal Blitar. Dari perkawinannya itu Gombloh dikaruniai seorang anak lelaki yang diberinya nama Remi. Nama itu diambil dari tangga nada 2 dan 3, “re” dan “mi”. Naluri Gombloh sebagai pencipta lagu dan penyanyi rupanya terbawa pula ketika dia menemukan nama untuk anak semata wayangnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gombloh lebih memilih seni sebagai jalur hidupnya dan kabur ke Bali setelah ketahuan bahwa ia sering mangkir dari bangku kuliah. Di pulau para dewa itulah Gombloh menggembleng dirinya menjadi seniman ulung yang berjiwa bebas dan anti rutinitas seperti apa yang ditemuinya semasa menjadi mahasiswa. Di Bali, pengetahuan musik Gombloh semakin bertambah, dia belajar dari kawan-kawan sesama seniman, kursus-kursus, dan, yang terpenting, dari pengalaman. Gombloh juga sering berinteraksi dengan pemusik-pemusik luar negeri yang sedang berada di Bali. Yang paling sering diajaknya bertukar pikiran adalah Livingstone Taylor, James Taylor, dan Shirley Bassey. Beberapa kali Gombloh main musik satu panggung dengan mereka, di Bali juga. Gombloh terbukti bisa mengimbangi permainan musik para musisi internasional itu, namun Gombloh sekali lagi merendah, “Sebetulnya mereka itu jago, tapi nggak mau menunjukkan diri mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gombloh mengaku bahwa aliran musiknya berangkat dari keroncong. Semasa masih di kampung halamannya di Jombang, Gombloh sering mendengar lagu-lagu keroncong yang dilantunkan para tetangganya. “Di sekitar rumahku banyak buaya keroncong,” kenangnya. Semula Gombloh hanya mendengarkan nyanyian keroncong tersebut sambil lalu saja, namun, karena terbiasa, lama-lama dia jadi suka. Sajian musik keroncong kelas kampung itu kemudian ternyata mampu membikin Gombloh terpukau, terutama karena suara penyanyinya yang fals. “Nyanyinya seenaknya sendiri, fals, tapi kok kedengarannya enak. Mungkin karena falsnya itu yang bikin enak,” ujar Gombloh. Jadilah, semenjak itu Gombloh justru gandrung dengan suara fals, sumbang, seenaknya sendiri, dan sederhana. Pembawaan yang seperti itulah yang kemudian dilakoni, bahkan menjadi ciri khas Gombloh di sepanjang karir bermusiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan yang alakadarnya itu nyaris konsisten disandang Gombloh, baik di keseharian maupun ketika beraksi di panggung. Satu contoh, ketika Gombloh ikut meramaikan Malam Aksi Musik ’80 yang digelar di Balai Sidang Senayan Jakarta pada 24 Juli 1980. Dengan sangat santai dan acuh, Gombloh yang kala itu masih terhitung baru di ranah musik nasional meskipun dia sudah sangat dikenal di Surabaya, menaiki panggung dengan pakaian lusuh dan menenteng gitar butut kesayangannya. Dengan tampang kriminal, kumis lebat, dan rambut gondrong, Gombloh menyanyi dengan ciri khasnya yang tanpa mengenal tabu. Dia berteriak lantang, berdendang, atau berbicara seenak pusarnya sendiri. Tak pelak, para penonton yang rata-rata masih asing dengan sosok Gombloh, meneriakinya beramai-ramai. Tak jadi soal bagi Gombloh, dia tak ambil pusing dan terus saja menggila di atas pentas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gombloh juga tak peduli berapa banyak mata yang menonton aksi panggungnya. Di even yang sama, Gombloh yang malam itu tampil bersama beberapa musisi lain seperti Ebiet G Ade, Franky dan Jane Sahilatua, Ully Sigar Rusady, serta Mogi Darusman, harus menghadapi situasi jumlah penonton yang tidak sebanding dengan luas tempat pertunjukan di Balai Sidang Jakarta itu. Dari 4.350 lembar karcis, yang terjual hanya sekitar 60% meskipun publikasi acara itu sudah digaungkan sejak sebulan sebelumnya. Dalam perhelatan tersebut, Gombloh terlihat paling total dalam penampilannya kendati kebanyakan penonton yang sedikit itu belum pernah melihat sosok Gombloh, mereka hanya pernah mendengar lagu-lagunya. Walaupun pada awalnya para penonton cukup kaget melihat penampilan dan aksi Gombloh yang terkesan semrawut untuk ukuran seorang artis, perlahan pasti Gombloh bisa menguasai massa, bahkan para penonton berebut naik panggung saat Gombloh membagikan 50 keping kasetnya gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alakadarnya, Sederhana, Mencipta Segalanya&lt;br /&gt;Jiwa bermusik Gombloh begitu sederhana dan tidak neko-neko. Variasi tembang-tembang ciptaannya pun tidak begitu semarak, hanya dari itu ke itu saja. Namun, justru berangkat dengan kejujuran apa adanya, Gombloh hadir dan mampu bermusik dengan leluasa. Kelemahan teknisnya teratasi oleh nuansa yang, meskipun naif, tetapi segar dan mengena. Dalam setiap penampilan panggungnya, Gombloh terasa sekali menyanyi dengan bebas. Tidak ada kelebihan teknis yang macam-macam dan ribet, misalnya dengan menyusupi alunan musiknya dengan efek-efek buatan yang dipercaya mampu menambah kegenitan lagu. Menurut Gombloh, patriotisme berangkat dari keprihatinan, bukan kegenitan, bukan pula kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Konsep musik saya adalah rasa. Rasa itu tidak dapat ditinggalkan dari bermusik. Kalau bermusik dengan rasa yang api, jadinya tentu apik,” tutur Gombloh. Di samping itu, Gombloh tidak memerlukan perenungan yang dalam mencipta lagu-lagu dengan lantunan syairnya yang menggemparkan itu, semisal dalam lagu Hong Wilaheng, Kebyar-Kebyar, atau Kami Anak Negeri Ini. Gombloh tidak perlu susah-susah menyepi ke gunung atau ke manapun untuk memperoleh inspirasi. “Apa adanya saja. Spontan saja, kok. Sepuluh menit, jadi!” ujar Gombloh lagi-lagi dengan gaya merendah. Gombloh juga tidak memerlukan waktu khusus dalam menghasilkan suatu lagu. “Ya, seenaknya saja,” akunya, juga dengan gaya bicara seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baris-baris syair yang menggetarkan jiwa itu juga bukan dari pengalaman batin yang dialaminya. Gombloh hanya menjawab dengan kesan lugu ketika ditanya dari mana inspirasi syairnya bisa keluar, “Wah, ndak tahu, ya. Keluar dari mana saya ndak tahu. Lha wong ndak kelihatan, kok. Tahu-tahu jadi, begitu.” Menurut Gombloh, ide mencipta lagu itu berasal dari sananya, dari kodratnya sebagai manusia, selayaknya manusia biasa lainnya, humanis. Yang terpenting bagi Gombloh adalah jiwa kemanusiaan. “Saya tidak akan diliputi oleh perenungan yang enggak-enggak. Saya enggak akan berbuat sesuatu hal yang membuat saya lepas dari jalur kemanusiaan saya,” tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gombloh adalah penyanyi sekaligus pencipta lagu balada sejati. Keunggulan musisi yang identik dengan rambut dikuncir, baju kumal, topi, dan kacamata hitam, ini adalah mampu mencipta lagu balada dengan segala tema. Ranah nasionalisme, misalnya, telah dikuasainya, dan mendapat respon hangat dari publik. Gombloh pun lihai mencipta lagu kritik sosial dan keseharian rakyat kecil semisal pada lagu Doa Seorang Pelacur, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Selamat Pagi Kotaku, dan lain sebagainya. Untuk urusan tembang bertema cinta, jangan ditanya lagi. Lagu-lagu asmara, yang terkadang terkesan nakal, semacam Kugadaikan Cintaku, Apel, Hey Kamu, Arjuna Cari Cinta, Percayalah Cintaku Tetap Hangat, Karena Iseng, hingga Konsumsi Cinta,  menjadi jaminan mutu kualitas lagu-lagu ciptaan Gombloh, sang trubadur pencipta sekaligus pelantun lagu-lagu cinta. Lagu Kugadaikan Cintaku bahkan terjual hingga lebih dari sejuta keping, prestasi yang sangat spektakuler. Pendek kata, Gombloh adalah pelantun lagu balada yang mumpuni di segala tema. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada album-album awalnya, jenis musik yang diusung penyanyi berbadan ceking ini lebih cenderung bernuansa art rock yang sarat idealis. Disebut idealis karena tentunya Gombloh sadar bahwa lagu-lagu semacam itu bukanlah jenis musik yang kala itu bisa laku di pasaran pada era 1970-an itu. Namun, Gombloh tetap nekad mencipta dan membawakannya. Motivasi bermusik Gombloh sudah agak meluas setelah membentuk grup Lemon Tree’s 1969 bersama Leo Kristi dan Franky Sahilatua di mana Gombloh didaulat sebagai komandannya. Ketika kedua partnernya itu hengkang dari grup dan Gombloh mandiri, dia tetap memanggul nama grupnya itu sendirian. Lemon Tree’s sendiri oleh banyak orang dikatakan sebagai kelompok musik yang beraliran kerakyatan. Dengan gaya khas tahun 1970-an, Gombloh bersama barisan “pohon jeruk” Lemon Tree’s sudah menerapkan seni bermusik tingkat tinggi dengan mengusung genre progresif rock asli Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki dekade 1980, arah lagu-lagu Gombloh mulai menuju ke orkestral rock yang populis, bisa jadi karena tuntutan pasar industri musik dan tuntutan profesionalismenya sebagai musisi yang sudah digemari. Kendati terlanjur kondang sebagai pemusik yang nyentrik di dalam mencipta dan menggarap musiknya, Gombloh akhirnya mengindahkan juga selera masyarakat. Ukuran kompromis itu, seperti yang dimisalkan Gombloh, dalam satu kaset, ada 3-4 lagu yang dia ciptakan untuk memenuhi syarat-syarat komersial. Namun, sebagai bentuk kepribadian, Gombloh juga tidak akan pernah lupa menyelipkan lagu-lagu yang menjadi selera pribadinya, lagu Hong Wilaheng, misalnya. Lagu yang satu ini memang lain daripada yang lain. Hong Wilaheng disuarakan dengan menggunakan bahasa Jawa bercorak mistik tingkat tinggi. Lirik lagu ini dicomot dari Serat Wedhatama. Meski tetap bernada sederhana, para pengamat musik sangat kesulitan menentukan aliran musik yang dianut Hong Wilaheng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era 1980 inilah Gombloh seolah terjerembab pada karya-karya yang berorientasi ke pasar. Sebenarnya bisa saja Gombloh tetap bertahan di jalur yang sudah lama ditekuni, jalur musik menurut apa yang dikehendaki jiwanya. Tapi, Gombloh tak mau egois. Lagi pula, Gombloh sadar bahwa dia adalah bagian dari masyarakat. “Saya sih mau-mau saja bikin musik yang cuma enak buat saya sendiri. Tapi apa lagu kita itu mau kita dengar sendiri atau mau didengar masyarakat? Kalau mau bikin lagu yang cuma didengar kita sendiri, ya bikin saja satu dua,” kata Gombloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gombloh pun mulai menulis lagu-lagu bertema pop untuk penyanyi-penyanyi lain, dari Tyas Drastiana hingga Vicky Vendi. Gombloh mulai menyadari, lagu-lagu ciptaannya bernilai jual yang tidak sedikit. Namun soal harga, Gombloh menanggapi dengan luwes, tergantung dengan pesanan, dan dalam hal ini Gombloh bersikap cukup unik. Kalau yang dipesan adalah lagu yang gampang menurut Gombloh, harganya malah lebih mahal. Sebaliknya, jika yang diinginkan lagu-lagu yang menjadi selera Gombloh yang tentu saja lebih sulit dalam proses menciptanya, harganya malah bisa jauh lebih murah. “Bikin lagu yang menurut selera sendiri, sudah mendapatkan kepuasan batin. Uang bukan soal,” tukas Gombloh. Dia memang tak acuh pada uang. Gombloh sering membagi rejeki pada orang lain, pada tukang becak ataupun para pelacur yang oleh Gombloh sudah dianggap sebagai saudaranya. Tak heran jika nama Gombloh sangat terkenal di seantero Surabaya dan Jawa Timur. Dari siswi-siswi SMA hingga kaum perempuan penjaja kenikmatan, dari anak kuliahan sampai preman terminal, semua kenal seorang seniman bernama Gombloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak sedikit pihak yang menyayangkan perubahan ciri bermusik Gombloh. Mereka menilai Gombloh tidak kuat lagi mempertahankan idealisme karya-karyanya. Gombloh menanggapi itu semua dengan sewajarnya, tanpa gejolak seperti biasa. Sisi positifnya, pilihan Gombloh untuk membumi dengan tema populis membuat sosoknya semakin dikenal masyarakat luas. Dia jadi sering diundang pentas ke berbagai kota. Juga kerap hilir mudik keluar masuk studio TVRI untuk mengisi acara-acara musik seperti Aneka Ria Safari dan Selekta Pop. Penampilan dan dandanan sederhana Gombloh pun mulai melekat di benak pemirsa yang membuat kepopulerannya sebagai musisi semakin membumbung tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyandang gelar musisi terkenal tidak membuat Gombloh menjadi jumawa. Dia tidak suka menonjolkan sisi kondang dirinya, juga tak menyukai orang lain berbuat seperti itu. Dalam suatu pementasan bersama penyanyi-penyanyi lain, misalnya, Gombloh hanya bisa menelan ludah keprihatinan ketika salah seorang musisi tidak mampu menguasai acaranya sendiri. Karena tidak mendapat respon yang antusias dari penonton, si penampil itu bahkan sempat-sempatnya berteriak kepada penonton agar memberikan tepuk tangan untuk dirinya. Gombloh tidak setuju dengan sikap figur publik yang seperti itu dan hanya meringis geli sekaligus miris melihat reaksi penonton yang tidak berubah, tetap sepi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka Memuja Gombloh&lt;br /&gt;Gombloh adalah maestro pada masanya. Lagu-lagu ciptaannya yang juga dinyanyikannya sendiri merupakan rajutan unsur seni berkelas tinggi dan tidak asal enak didengar meski pada kenyataannya lagu-lagu Gombloh pada umumnya memang sangat renyah di telinga. Kualitas karya ciptaan Gombloh terbukti sahih ketika para peneliti asing merasa kesulitan dalam menggolongkan genre untuk beberapa lagu Gombloh yang terdengar nyeleneh. Inilah fakta bahwa Gombloh tidak seenaknya saja dalam mencipta lagu. Meski berbalut kesederhanaan dalam penyajiannya, lagu-lagu Gombloh nyatanya memuat kerumitan dan menggunakan teknik yang lumayan tinggi serta memberikan pengaruh yang tidak sedikit bagi para penggemarnya maupun penikmat musik pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah berjaya di level nasional, Gombloh enggan hijrah ke Jakarta. Dia stidak tergiur untuk hijrah ke ibukota seperti yang dilakukan oleh kebanyakan musisi dari daerah, kendati Gombloh terpaksa harus sering bolak-balik ke Jakarta untuk memenuhi panggilan pentas. Namun Gombloh tetap bangga dengan komunitasnya di Surabaya, dia masih cinta dengan tanah yang membesarkannya. Gombloh seperti ingin membuktikan bahwa kesuksesan dan ketenaran bukan hanya bisa didapat di Jakarta.Dia memilih tetap bertahan di Surabaya bersama semua kawan-kawann seperjuangannya. Gombloh adalah Silhouette Kuda Jantan –seperti salahsatu judul lagunya– yakni perlambang keberanian dan penggebrak sejarah seni musik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh dan fanatisme penggemar Gombloh terprasasti dalam sebuah patung seberat 200 kilogram yang terbuat dari perunggu. Pembuatan Monumen Gombloh yang ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya ini bermula dari gagasan sejumlah seniman yang bermukim di Surabaya dan sekitarnya. Pada 1996, mereka sepakat membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan misi menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan bagi kalangan seniman Surabaya. Bahkan pada 20 Juni 2003 sekelompok pemusik Surabaya tergabung dalam Kelompok Pemusik Jalanan Surabaya menobatkan Gombloh sebagai Pahlawan Pemusik Jalanan. Selanjutnya pada 2005, oleh PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia), Gombloh dianugerahi penghargaan Nugraha Bhakti Musik atas jasa-jasanya untuk dunia musik di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Gombloh sangat familiar dan meninggalkan kenangan mendalam bagi pandemen musik di era 1970 hingga akhir 1980-an. Saking berpengaruhnya, lagu-lagu Gombloh bahkan dijadikan obyek penelitian oleh Martin Hatch, peneliti dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Hatch mengangkat hasil penelitiannya ini dalam karya ilmiah berjudul “Social Criticsm in the Songs of 1980’s Indonesian Pop Country Singers” yang dibawakan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology di Toronto, Kanada, pada 2-5 November 2000. Dalam makalahnya, Hatch meneliti kekuatan dan pengaruh karya cipta Gombloh dalam perspektif kehidupan sosial seperti yang terkandung dalam lagu Berita Cuaca, Sekar Mayang, Denok-Denok Debleng, Ujung Kulon Baloran, 3600 Detik, Hitam Putih, Kami dan Alam, serta Kebyar-Kebyar yang monumental itu. Konon, lagu-lagu tersebut kini diabadikan di suatu museum musik di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kelabu, tanggal 9 Januari 1988, iring-iringan kendaraan bermotor memadati jalan raya Kota Surabaya. Di sisi kiri dan kanan jalan, masyarakat berkerumun dengan mimik sendu yang serempak. Inilah hari di mana sang maestro menghembuskan nafas penghabisan. Rombongan itu sedang mengantarkan jenazah Gombloh ke tempat peristirahatan terakhirnya. Gombloh wafat karena penyakit yang lama menggerogotinya. Raganya yang rentan sakit, ditambah lagi dengan ketidakstabilan pola hidup dan kebiasaan merokoknya, serta sering keluar malam, membuat penyakitnya kian akut. Seringkali mulut dan hidung Gombloh mengeluarkan darah. Penyakit ini sudah dirasakannya sejak lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal 1986 dia dilarikan ke rumahsakit. ”Paru-paru saya yang keserang. Ini paru-paru sudah payah... Makanya saya nggak perlu ngotot dulu bermusik. Pokoknya tunggulah,” tutur Gombloh kala itu. Dua tahun kemudian, Gombloh tak kuat lagi bertahan. Sang Ilahi menjemputnya dalam kedamaian. Namun Gombloh masih saja tetap tersenyum dengan gaya nakalnya yang membikin rindu. Tiba-tiba terngiang lantang suara khasnya di lagu Kugadaikan Cintaku, “Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu....” (Iswara N Raditya) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-5450143938847774823?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/5450143938847774823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=5450143938847774823&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5450143938847774823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5450143938847774823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2009/01/seni-alakadar-gombloh.html' title='SENI ALAKADAR GOMBLOH'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SXAj1nqm2kI/AAAAAAAAAoU/aPkg8OBiT1E/s72-c/Gombloh+80_zaman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-5551661937183188625</id><published>2009-01-10T12:03:00.001+07:00</published><updated>2009-01-15T00:26:00.063+07:00</updated><title type='text'>GM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SW4gBoh2zAI/AAAAAAAAAoM/D7R8tI758yY/s1600-h/gm.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 149px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SW4gBoh2zAI/AAAAAAAAAoM/D7R8tI758yY/s200/gm.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291201824638290946" /&gt;&lt;/a&gt; GOENAWAN MOHAMAD tetap saja seorang sastrawan besar. Sedari masih hijau, ia sudah terlibat prahara kebudayaan di kurun 1960-an. Sebagai penyair, ia telah mengumpulkan seabrek puisi terpilihnya lewat Parikesit dan Interlude. Sebagai penulis esai, termaktublah Catatan Pinggir dan sejumlah antologi esai lainnya. Partisipasinya di Jaringan Islam Liberal mencirikannya sebagai muslim moderat. Kelahiran AJI dan ISAI menjadi bukti bahwa ia seorang pejuang pers. Ia tentu saja juga seorang jurnalis, yang mengawal jatuh-bangunnya majalah Tempo serta seabrek mediamassa lainnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat orang bertanya, tindakan apa yang pertama dilakukan jika menjadi presiden, GM, begitu sapaan akrabnya, menjawab, “Saya akan bilang: astaga! Dan setelah itu, saya akan mengundurkan diri.” Tentang seks, ia berkelakar, “Saya tidak pernah memikirkan. Tapi, saya melakukan.” Mengenai wanita cantik, suami dari Widarti Djajadisastra ini berucap, “Saya hanya tahu wanita yang menyenangkan.” Soal makanan, ia tertawa, “Ya, saya suka makan. Tapi, saya nggak ngerti makanan. Saya pura-pura saja tahu.” Dan inilah komentarnya ihwal sosialisme, “Menurut saya, sosialisme itu suatu cita-cita yang memunyai kemuliaan. Tapi, saya selalu merasa bahwa dunia bukan dimaksudkan untuk menjadi surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan Susatyo Mohamad adalah putera Batang, sebuah kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah tempat di mana ia dilahirkan pada saat-saat terakhir era kekuasaan kolonialis Belanda, 29 Juli 1941. Sudah menggemari acara puisi yang disiarkan RRI sejak kecil, GM menghabiskan masa remaja di Batang dan Pekalongan, sebelum hijrah ke ibukota untuk melanjutkan kuliah. Namun, studinya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tidak menemui tuntas. GM terlampau mencintai pena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson, di usia 19 tahun dengan berbekal pengalaman menulisnya yang sudah ia lakoni sedari umur 17 tahun. Kian kesengsem sastra karena kakaknya yang dokter, Kartono Mohamad, berlangganan majalah Kisah yang diasuh HB Jassin. Nasib membawa GM untuk berguru langsung pada sang begawan. Bahkan, saat masih berumur 22 tahun, GM ikut mendeklarasikan Manifesto Kebudayaan bersama Jassin dan para sastrawan besar lainnya pada 17 Agustus 1963. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manikebu, sebutan olok-olok dari kubu lawan, bubar pada 18 Mei 1964. Para jurnalisnya tak dapat lagi leluasa menulis, apalagi dengan tema politik. GM ikut kena, misalnya, ketika ia terpaksa memakai nama samaran Sutisna Aji agar tulisannya tentang kritik sastra bisa muncul di majalah Indonesia. Saat Orde Lama menyusul tumbang, GM malah merantau ke Eropa, belajar ilmu politik ke College of Europe di Belgia. Sepulangnya ke tanah air, ia masuk Harian Kami, dan berkesempatan mengunjungi Pulau Buru tempat para tahanan politik dibui, termasuk Pramoedya Ananta Toer. Pada 1968 itu, GM sempat mewawancarai Pram secara diam-diam. Selanjutnya, GM juga terlibat sebagai redaktur majalah sastra Horison (1969-1974) dan memimpin majalah Ekspres (1970-1971).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1971, bersama Christianto Wibisono, Fikri Djufri, Putu Wijaya, serta beberapa nama lain, GM menerbitkan majalah Tempo. Karena pendirinya rata-rata seniman, Tempo sempat kesulitan dalam mengelola redaksi, juga penyusunan anggaran. “Kami sama sekali tidak mengerti bagaimana organisasi redaksi diatur. Rapat saja tidak tahu,” keluh GM. Selaku pemimpin redaksi, GM terpaksa kursus di Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen. Karena para sastrawan pula, jurnalisme ala Tempo adalah berbalut sastra. GM pun menasbihkan diri sebagai penulis terkemuka lewat Catatan Pinggir. Selain itu, GM juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun terbitan Tokyo, Jepang. Selain tetap bersama Tempo, GM juga memimpin majalah Swasembada pada 1985. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 26 Juni 1994, Majalah Tempo diberangus Orde Baru karena pemberitaannya yang kelewat nyali untuk ukuran masa itu. “Tempo sebenarnya bukan majalah yang berani. Tapi, Tempo ingin profesional dan akhirnya sering dilihat sebagai keberanian,” kenang GM seraya melanjutkan, “Tempo, di luar kehendaknya sendiri, telah dipilih oleh banyak kalangan menjadi sebuah lambang, yakni lambang dari sebuah korban, yang walaupun terinjak, tidak takluk, tidak mati-mati.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati Tempo dibredel, GM terus melaju. Bersama kawan-kawan senasib, ia menggagas AJI pada 7 Agustus 1994 dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) untuk mendokumentasikan kekerasan terhadap pers Indonesia. Tak lupa, GM terus menulis Catatan Pinggir, kendati tidak dipublikasikan luas. “Saat itu, gerakan menulis saya didasari oleh kesombongan, perasaan ingin melawan,” ucap pria yang pada 1998 dianugerahi International Press Freedom Award oleh Committee to Protect Journalists ini. Sebagai catatan, GM pernah pula menyabet gelar Professor Teeuw dari Leiden University Belanda (1992), International Editor of the Year Award dari World Press Review Amerika Serikat (1999), serta Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat (1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romantisme Tempo tak boleh punah. Maka itulah, GM merintis PT Tempo Inti Media Tbk sebagai penerbitan pers. Perusahaan ini baru memeroleh ijin usaha pada 1998, menjelang kejatuhan Orde Baru. Akhirnya, setelah Soeharto benar-benar lengser, GM kembali membangkitkan majalah Tempo pada 26 Oktober 1998. Tak lama, GM meluaskan jejaringnya dengan menerbitkan harian Koran Tempo. Pada 2004, lagi-lagi GM kena masalah. Lawannya kali ini adalah pengusaha nasional, Tomy Winata. Pernyataan GM yang dimuat di Koran Tempo tanggal 12-13 Maret 2003,  dinilai telah mencemarkan nama baik bos Arta Graha itu. Tak pelak, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum GM dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuluh-puluh tahun merasakan rimba pers nasional, GM telah menorehkan banyak karya. Andil ayah dua anak ini juga cukup besar dalam memelopori komunitas-komunitas intelektual, termasuk di Yayasan Lontar, Teater Utan Kayu, Jaringan Islam Liberal, Majelis Amanat Rakyat, dan lain-lainnya. GM sering pula diundang ke pelbagai forum sebagai pembicara ataupun peserta, salahsatunya ketika ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 di mana Bill Clinton menjadi tuan rumah. Namun, sedigdaya apapun seorang GM, ia tetap saja merendah. “Saya banyak mengucapkan kata-kata bodoh,” akunya tanpa malu. (Iswara N Raditya)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-5551661937183188625?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/5551661937183188625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=5551661937183188625&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5551661937183188625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5551661937183188625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2009/01/gm.html' title='GM'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SW4gBoh2zAI/AAAAAAAAAoM/D7R8tI758yY/s72-c/gm.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-594146770472568028</id><published>2009-01-10T11:42:00.002+07:00</published><updated>2009-01-10T11:53:46.979+07:00</updated><title type='text'>RRI MELEJIT DI ATAS LANGIT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SWgolaxxm3I/AAAAAAAAAoE/HjVb_EdJlX8/s1600-h/Logo_RRI_News_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SWgolaxxm3I/AAAAAAAAAoE/HjVb_EdJlX8/s200/Logo_RRI_News_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289522385655012210" /&gt;&lt;/a&gt; ADALAH Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) yang menjadi cikal-bakal radio milik anak negeri. Memulai siarannya pada 1920, NIROM, yang kehilangan tiga pekerjanya akibat dihukum mati tentara Jepang karena nekat menyiarkan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus, adalah Maskapai Radio Hindia Belanda. Ketika Jepang datang ke Indonesia dan diikuti menyerahnya Belanda pada 8 Maret 1942, NIROM menutup siarannya dengan salam: “Selamat berpisah, hingga waktu yang lebih baik kelak. Hidup Sang Ratu!” Kendali NIROM pun dikangkangi Jepang. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 17 Agustus 1945, Soekarno mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disiarkan via corong radio. Kurang dari sebulan kemudian, 9 September 1945, para penggiat radio yang sebelumnya aktif di stasiun radio milik Jepang di enam kota, mengadakan rapat di Jakarta. Tujuannya, merundingkan cara pengambil-alihan radio Hoso Kyoku untuk dijadikan alat perjuangan bangsa. Namun, maksud tersebut bertepuk sebelah tangan karena semua pemancar dan alat-alat penyiaran radio milik Jepang itu sudah didaftar dan di bawah penguasaan pihak Sekutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada 11 September 1945, para tokoh radio nasional itu kembali berkumpul di di kediaman Adang Kadarusman di Jalan Menteng Dalam, Jakarta. Inilah hari berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). Selain menetapkan Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin RRI yang pertama, pertemuan itu juga menghasilkan tiga butir komitmen dan fungsi RRI yang terkenal dengan Tri Prasetya RRI. Isinya menegaskan haluan RRI berdiri di atas segala aliran dan keyakinan, partai, serta golongan. Lebih mengutamakan persatuan bangsa dan keselamatan negara, serta berpegang teguh pada jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Abdulrahman Saleh, tokoh-tokoh perintis RRI dari 6 kota yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain: Adang Kadarusman, Sutoyo Surjodipuro, Jusuf Ronodipuro, Sukasmo, Syawal Mochtarudin, dan M.A. Tjatja (Jakarta); Sjakti Alamsyah, R.A. Darja dan Agus Marah Sutan (Bandung); R.M. Soemarmadi dan Sudomomarto (Yogyakarta); R. Maladi dan Sutardi Hardjolukito (Surakarta); Suhardi dan Harto (Semarang); serta Suhardjo (Purwokerto). Kemudian, pada masa selanjutnya, jumlah siaran RRI bertambah 29 buah termasuk 8 stasiun yang telah ada (Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang) dan tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa revolusi fisik, di mana Belanda –melalui NICA– ingin kembali menguasai Indonesia, RRI tetap mengudara meski terjadi pertempuran di mana-mana. Ketika ibukota RI pindah ke Yogyakarta pada 1946, semua kegiatan siaran dilangsungkan dari RRI Yogyakarta hingga kota perjuangan itu akhirnya diduduki musuh dengan Agresi Militer Belanda II pada 1948. Demi keselamatan, RRI lantas berpindah-pindah dari satu desa ke desa yang lain. Meski dengan fasilitas seadanya dan dalam keadaan sarat ancaman, para penggerak RRI –yang lazim dengan sebutan angkasawan– mampu menyiarkan aksi gerilya rakyat Indonesia ke seluruh dunia. Mata semesta pun terbuka dan menyerukan penyerahan kedaulatan penuh bagi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era pungkasan Orde Lama, RRI kembali berperan vital. Tanggal 1 Oktober 1965 Jakarta geger. Tepat jam 07.20 pagi, melalui RRI, kaum kiri nasional mewartakan adanya dugaan kudeta oleh Dewan Jenderal. Maka itu, diadakanlah “gerakan pembersihan” demi keselamatan negara dan untuk pengamanan pelaksanaan Pancasila. Pihak yang menamakan dirinya sebagai Komando Gerakan 30 September 1965 itu juga menyiarkan akan dibentuknya Dewan Revolusi sebagai sumber segala kekuasaan RI. Diumumkan pula bahwa akan dibentuk Dewan Revolusi Provinsi di daerah-daerah. Selanjutnya, pada 4 Oktober 1965, RRI menyiarkan pidato Soeharto mengenai penemuan jenasah para perwira yang diculik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Soeharto akhirnya berkuasa selama 32 tahun, RRI dengan setia berdiri sebagai juru bicara pemerintah. RRI kala itu berstatus sebagai Perusahaan Jawatan alias BUMN. Dalam status itu, RRI telah menjalankan prinsip-prinsip radio publik yang independen. Perusahaan Jawatan dapat dikatakan sebagai status transisi dari Lembaga Penyiaran Pemerintah menuju Lembaga Penyiaran Publik pada masa reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghapusan Departemen Penerangan oleh rezim Presiden Abdurrahman Wahid, dijadikan momentum oleh RRI untuk lebih mengkonsentrasikan pelayanannya kepada publik dengan mengacu pada PP No 37 tahun 2000. Posisi itu semakin mantap dengan dikeluarkannya UU No 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, yang menegaskan bahwa RRI adalah Lembaga Penyiaran Publik yang independen, tak memihak, nir laba, dan berfungsi melayani kebutuhan masyarakat. Status RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik juga ditegaskan melalui PP No 11 dan 12 tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur RRI terdiri dari Dewan Pengawas dan Dewan Direksi. Merupakan harmonisasi dari unsur publik, pemerintah, dan RRI, Dewan Pengawas adalah wujud representasi dan supervisi masyarakat Indonesia. Tim yang beranggotakan 5 orang ini bertugas memilih Dewan Direksi, yang juga berjumlah 5 anggota, untuk melaksanakan kebijakan dan bertanggungjawab atas penyelenggaraan penyiaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan didukung 52 stasiun penyiaran dan stasiun penyiaran khusus yang ditujukan ke Luar Negeri, serta disokong oleh 8500 karyawan, RRI di daerah kecuali di Jakarta, menyelenggarakan siaran dalam tiga program: Programa Daerah melayani masyarakat di lingkup pedesaan; Programa Kota atau Pro II menyambangi segmen masyarakat di perkotaan; serta Programa III menyajikan program berita dan Informasi. Sementara untuk DKI Jakarta, terdapat enam program, yakni Pro I untuk segmen usia dewasa, Pro II untuk remaja dan pemuda, Pro III menyiarkan berita dan informasi, Pro IV mencakup siaran kebudayaan, Pro V untuk program pendidikan, serta Pro VI digunakan bagi saluran musik klasik dan bahasa asing &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali di karta, RRI di daerah hampir seluruhnya menyelenggarakan siaran dalam 3 program yaitu Programa daerah yang melayani segmen masyarakat yang luas sampai pedesaan, Programa Kota (Pro II) yang melayani masyarakat di perkotaan dan Programa III (Pro III) yang menyajikan Berita dan Informasi (News Chanel) untuk masyarakat luas. Di Stasiun Cabang Utama Jakarta terdapat 6 program yaitu programa I untuk pendengar di Propinsi DKI Jakarta Usia Dewasa, Programa II untuk segment pendengar remaja dan pemuda di Jakarta, Programa III khusus berita dan Informasi, Programa IV Kebudayaan, Programa V untuk saluran Pendidikan dan Programa VI Musik Klasik dan Bahasa Asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RRI tidak hanya memberikan informasi yang aktual, tepat, dan terpercaya, namun juga memuat nilai-nilai edukatif. Porsi untuk pendidikan, baik secara instruksional seperti siaran SLTP, SMU dan Universitas Terbuka, maupun pendidikan masyarakat seperti siaran pedesaan, siaran wanita, siaran nelayan, dan sebagainya. Gelombang siaran RRI tidak saja di berkutat di level domestik, tetapi juga menembus hingga ke dunia manca yang tersaji dalam Voice Of Indonesia (Suara Indonesia, siaran luarnegeri RRI) yang disiarkan dalam sepuluh bahasa. Itulah,  semenjak proklamasi hingga reformasi, Radio Republik Indonesia tetap berteguh melayani rakyat Indonesia, sesuai jargon legendarisnya: “Sekali di Udara, Tetap di Udara!” (Iswara N Raditya/Indonesiabuku) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-594146770472568028?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/594146770472568028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=594146770472568028&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/594146770472568028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/594146770472568028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2009/01/keabadian-rri-di-udara.html' title='RRI MELEJIT DI ATAS LANGIT'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SWgolaxxm3I/AAAAAAAAAoE/HjVb_EdJlX8/s72-c/Logo_RRI_News_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-2110359577861967044</id><published>2008-12-09T00:30:00.003+07:00</published><updated>2008-12-11T03:37:28.664+07:00</updated><title type='text'>SABAM SIAGIAN, KECANDUAN JADI WARTAWAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SUAoUwz1_YI/AAAAAAAAAn8/4SChc2bO6Ew/s1600-h/Sabam_Siagian.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 87px; height: 130px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SUAoUwz1_YI/AAAAAAAAAn8/4SChc2bO6Ew/s200/Sabam_Siagian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278263100443065730" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya merasa jurnalistik itu seperti minum anggur. Sekali masuk, anda akan keterusan!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sabam Siagian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AWALNYA ADALAH ketidaksengajaan. Sepulangnya dari New York sebagai salahsatu wakil Indonesia di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Sabam Siagian ingin terjun ke dunia bisnis. Ia merasa sudah memiliki banyak koneksi di negeri Paman Sam, dan inilah kesempatan untuk memulai hidup baru lewat jalur berbisnis. Ia memang cukup lama bermukim di Amerika. Sabam adalah asisten peneliti pada Staf Penasihat Militer Perwakilan Tetap RI di PBB dari tahun 1967 hingga 1973.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, garis hidup mengatakan lain. Kepulangannya ke tanahair pada awal 1973 itu disambut kejutan. Harian Sinar Harapan mengalami reorganisasi besar-besaran setelah diberedel pada akhir Desember 1972. Koran yang sebagian sahamnya dimiliki ayahanda Sabam itu berusaha menarik orang-orang baru yang mumpuni demi kebangkitannya. Dengan segala macam rayuan, akhirnya Sabam mau bergabung. “Saya dibujuk. Janjinya hanya dua tahun. Akhirnya saya kecemplung benar-benar,” kenang Sabam. Maka bersepakatlah para jurnalis tangguh di bawah panji Sinar Harapan dengan asa baru. Termasuk Sabam, mereka itu antara lain Subagyo Pr, Max Karundeng, RH Siregar, Daud Sinjal, Samuel Pardede, serta Herald Tidar. Sabam Siagian dipercaya menduduki jabatan sebagai Wakil Pemimpin Redaksi I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sia-sia para wartawan Sinar Harapan bersusah-payah membujuk Sabam untuk bergabung. Sabam bukan orang baru di ranah jurnalistik nasional. Sedari muda, saat masih kuliah, ia sudah tertarik pesona pers. Pada 1950-an, Sabam pernah mengelola majalah milik Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Selanjutnya, bersama beberapa teman, antara lain Wicaksono dan Alwi Dahlan, Sabam ikut memprakarsai gagasan berdirinya Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabam Pandapotan Siagian lahir di Jakarta pada 4 Mei 1932. Menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat PSKD Kwitang II Jakarta (1945), kemudian ke Christelijke MULO Jakarta (1949), serta SMA Istimewa Jakarta (1952). Setelah lulus SMA, Sabam melanjutkan ke perguruan tinggi, namun beberapa kali terpaksa tidak selesai. Mula-mula ia kuliah di Fakultas Hukum dan Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia, tapi ternyata itu bukan bidang pilihannya. “Kuliah hukum tidak menarik saya,” dalihnya. Sabam kemudian diterima di Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN). Itu pun tidak berkenan di hatinya. “Kuliahnya seperti di SMA, jadi tidak menarik dan saya lalu keluar. Mungkin saya satu-satunya drop-out ADLN yang kemudian menjadi duta besar,” selorohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit drop-out rupanya tak bisa lepas begitu saja dari diri Sabam. Sempat mengikuti pendidikan ilmu politik di Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, itu pun tidak ia selesaikan. Kemudian pada 1978, ia mengikuti program Nieman Fellow for Journalism dari Harvard University, Cambridge, Amerika Serikat, juga tak rampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, karir Sabam di harian Sinar Harapan terus menanjak. Pada 1983, Sabam berhenti dari keredaksian Sinar Harapan saat menjabat sebagai redaktur senior. Namun tak hanya sampai di situ, kiprah kewartawanannya semakin menjulang dengan memimpin redaksi The Jakarta Post sejak 1983. Pada 1991, Sabam meletakkan jabatannya di kepengurusan koran berbahasa Inggris yang didirikannya itu karena ditunjuk oleh Presiden Soeharto sebagai Duta Besar Indonesia untuk Australia hingga 1995. Namun Sabam tak sepenuhnya meninggalkan jejak persnya dengan masih duduk sebagai Dewan Direktur PT Bina Media Tenggara, perusahaan yang menerbitkan The Jakarta Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan diplomatik ini merupakan anugerah besar bagi Sabam, karena ia adalah satu-satunya wartawan yang diangkat sebagai duta besar di jaman Orde Baru, apalagi untuk Australia yang kerap bikin konflik dengan Indonesia. Dubes untuk Australia selama ini dijabat oleh orang-orang militer. Pekerjaan diplomat bukan hal yang asing bagi Sabam. Ingat, ia pernah bekerja di bagian riset PBB di New York sebagai perwakilan Indonesia selama 6 tahun (1967-1973). Selama 4 tahun, Sabam juga menjadi Ketua Indonesia-Australia Business Council.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, semasa di keredaksian The Jakarta Post, Sabam sering pula mengupas permasalahan internasional. Maka tak heran jika ia memiliki pergaulan yang luas dengan kalangan diplomat. Mengenai hubungan Indonesia-Australia yang sering mengalami guncang, Sabam pernah berkomentar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengikuti pasang surutnya hubungan Indonesia-Australia, ada kalanya seperti pengantin baru yang sedang berbulan madu tapi sekali-sekali saling cakar-cakaran. Australia menarik bagi para tetangganya karena ia merupakan negara modern yang unggul di bidang sains dan teknologi, manajemen yang kompleks dan jaringan informasi. Namun, kalau orang-orang Australia masih saja tidak mampu mengembangkan sikap empati dengan kita-kita ini di Asia, maka keunggulan sementara yang mereka miliki itu dapat kita cari di negara lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa jabatannya di Australia usai, dan oleh pemerintah dianugerahi tanda kehormatan bintang jasa utama, Sabam kembali ke jajaran redaksi The Jakarta Post, kali ini selaku editor senior dan dewan tajuk rencana. Pada 1995 itu pula, Sabam turut berhimpun di suratkabar Suara Pembaruan sebagai Ketua Dewan Redaksi sekaligus Presiden Komisaris PT Media Interaksi Utama yang menerbitkan Suara Pembaruan. Di kedua media massa itu, sepakterjang Sabam di jagad pers kian menjadi-jadi. Pada 2006, Sabam Siagian menerima Piagam Penghargaan Kesetiaan Profesi 40 Tahun dari Menteri Komunikasi dan Informatika, Sofyan Djalil, juga penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam peringatan Hari Pers Nasional ke-60 di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai jurnalisme nasional, Sabam pun punya komentar. Menurutnya, pers Indonesia belum maksimal membela rakyat miskin dan melawan korupsi. Dalam peringatan Hari Kebebasan Pers Dunia yang diselenggarakan Institute of Strategic and International Studies (ISIS) Malaysia pada 3 Mei 2006, Sabam berkata bahwa kebebasan pers tidak otomatis muncul untuk melempangkan tugas peliputan. Meski demikian, pers tetap punya ruang untuk berperan soal pemberantasan kemiskinan dan melawan korupsi. “Akan tetapi, untuk menghindari kata tidak, bisa dikatakan pers di Indonesia belum maksimal menjalankan tugas soal itu,” tukas putera Batak kelahiran Jakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Suara Pembaruan, Sabam Siagian semakin rutin mengupas segala macam persoalan internasional dan juga kondisi sosial-politik dalam negeri, dari tahun-tahun terakhir Soeharto, masa kepemimpinan Habibie, Megawati, Gus Dur, hingga presiden terkini, Susilo Bambang Yudhoyono, serta yang paling baru, tentang Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta tahun 2007 yang memertarungkan Fauzie Bowo dan Adang Dorodjatun. (Iswara NR)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-2110359577861967044?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/2110359577861967044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=2110359577861967044&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2110359577861967044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2110359577861967044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/12/sabam-siagian-kecanduan-jadi-wartawan.html' title='SABAM SIAGIAN, KECANDUAN JADI WARTAWAN'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SUAoUwz1_YI/AAAAAAAAAn8/4SChc2bO6Ew/s72-c/Sabam_Siagian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-1424909815269895390</id><published>2008-12-07T03:03:00.002+07:00</published><updated>2008-12-09T23:05:24.186+07:00</updated><title type='text'>SEJARAH DAN SUBJEKTIVITAS</title><content type='html'>SEJARAH dalam arti subjektif adalah suatu konstruk, ialah bangunan yang disusun penulis sebagai uraian atau cerita. Aturan ini juga berlaku dalam konteks sejarah. “Subjektivitas penulis sejarah itu diakui, tetapi untuk dihindari,” pesan Kuntowijoyo. Sisi keakuan dari seorang sejarawan sangat berperan dalam mengurai fakta untuk menentukan jalan cerita. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang disebut sebagai interpretasi, salah satu dari tahapan penulisan historiografi sejarah, yang dapat diartikan sebagai ajang tafsir seorang penulis dalam menentukan alur cerita yang bersumber pada data dan fakta. Dalam interpretasi, ada tiga sub pokok yang tidak mungkin dinafikkan. Ketiga unsur itu ialah imajinasi, historical-mindednes, serta historical issue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan historiografi sejarah Indonesia secara garis besar terposisikan dalam tiga corak terdominan, yaitu historiografi tradisional, historiografi kolonial, dan historiografi nasional. Kebanyakan, ketiga permasalahan tersebut bukan bermuasal dari kepentingan keilmuan. Amat jarang pengkisahan sejarah Indonesia yang berproses untuk mencari kebenaran yang berdasarkan landasan metodologis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ketiganya biasanya merupakan letupan dari kepentingan legitimasi penguasa, baik secara kultural maupun politik. Ini menyebabkan pengkisahan sejarah tersebut akan bermuara pada pembenaran. Pembenaran terhadap identitas dan jati dirinya sebagai sebuah komunitas. Ketiga corak historiografi tersebut cenderung untuk menunjukkan unsur kejayaan dan kebesaran dari struktur kekuasaan yang dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi dari penyimpangan ini adalah maraknya perkembangan sejarah ideologis dalam kesejarahan Indonesia. Yakni suatu sejarah yang berupaya menanamkan suatu nilai-nilai, terutama semangat nasionalisme, heroisme, dan patriotisme. Baru pada sekitar tahun 1970-an sejarah yang bersifat kritis mulai berkembang dengan cukup baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah yang berpijak kepada hal-hal non keilmuan inilah yang dikategorikan sebagai historical-issue. Sesuai dengan namanya, isu bukan merupakan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan validitas dan kebenarannya. Bahkan tak jarang isu kerap diidentikkan dengan hal-hal yang irrasional, di luar akal sehat. Sering pula isu dikaitkan dengan mitos, folklor, dongeng, atau pun cerita rakyat. Jenis-jenis pijakan semacam ini yang menjadi senjata ampuh penguasa untuk melegalkan legitimasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, keyakinan terhadap Nyi Roro Kidul yang merupakan dogtrinasi raja-raja Mataram terhadap rakyatnya sebagai media legitimasi. Dengan penanaman idealisme mistik terhadap kawulanya itu, raja-raja Mataram dengan leluasa dapat mentasbihkan dirinya sebagai orang luar biasa, yang mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Raja adalah wali Tuhan di dunia yang dikaruniai banyak keistimewaan. Berangkat dari isu (baca: mitos) itulah, legitimasi raja sebagai penguasa akan semakin disakralkan oleh rakyatnya. (Iswara NR) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-1424909815269895390?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/1424909815269895390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=1424909815269895390&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1424909815269895390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1424909815269895390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/12/sejarah-dan-subjektivitas.html' title='SEJARAH DAN SUBJEKTIVITAS'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-1925171087042200954</id><published>2008-12-07T02:47:00.002+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.820+07:00</updated><title type='text'>SEKOLAH RUMAH AGUS SALIM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/STrYFhhVvbI/AAAAAAAAAnQ/Bp5Vg1HWPP0/s1600-h/Hadji+Agus+Salim.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/STrYFhhVvbI/AAAAAAAAAnQ/Bp5Vg1HWPP0/s200/Hadji+Agus+Salim.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276767502827109810" /&gt;&lt;/a&gt; WARTAWAN Belanda itu terheran, “Bagaimana mungkin Islam Salim dapat fasih berbahasa Inggris, sedangkan anak itu tak pernah disekolahkan?” Kekaguman Jef Last itu dijawab oleh Agus Salim, ayahanda Islam, “Apakah anda pernah mendengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris, dan Islam pun ikut meringkik, juga dalam bahasa Inggris.” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hal yang aneh jika anak-anak Salim sangat lancar berbahasa Inggris. Bahasa harian di keluarga Salim adalah bahasa-bahasa asing. Agus Salim sendiri menguasai selusin bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Jepang, Arab, juga Turki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Salim memang tak pernah tersentuh sekolah formal kolonial, ia mendidik para buah hatinya sendiri di rumah, termasuk Islam Basari Salim, anak keenam. Hanya si bungsu Abdur Rachman Ciddiq yang sempat merasakan bangku sekolah, itu pun ketika era kolonial Belanda di Indonesia telah usai. Agus Salim menganggap pendidikan kolonial Belanda sebagai “jalan berlumpur” sehingga ia tidak mau anak-anaknya ikut tercebur di dalamnya. Uniknya, jenjang pendidikan Agus Salim sendiri sangat lekat dengan sekolah-sekolah Belanda, bahkan ia adalah lulusan terbaik Hogere Buger School (HBS) se-Hindia Belanda, Salim lulus pada 1903. HBS adalah sekolah menengah yang hanya menerima siswa berkebangsaan Belanda dan Eropa, serta sedikit anak pribumi yang orang tuanya berpangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode belajar keluarga Salim sangat menyenangkan tapi tetap mendidik. Anak-anaknya, sebagai “murid”, tak harus duduk di dalam kelas seperti di sekolah formal. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung diberikan secara santai, bahkan seolah-olah seperti sedang bermain. Sedangkan budi pekerti, sejarah, dan materi ilmu sosial lainnya diberikan melalui bercerita dan obrolan sehari-hari. Salim pun memberikan ruang kepada anak-anaknya untuk bertanya serta mengkritik, bahkan membantah jika tak sependapat, tak hanya sekadar mendengarkan apa yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca adalah satu kebiasaan menyenangkan yang diterapkan di keluarga. Agus Salim menyediakan buku-buku berbobot berbahasa asing. Hasilnya, kecerdasan anak-anak Salim berkembang pesat. Di usia balita mereka sudah lancar baca-tulis. Anak tertua, Theodora Atia alias Dolly, pada umur 6 tahun bahkan sudah menggemari bacaan-bacaan anak remaja, semisal kisah-kisah detektif Nick Carter dan Lord Lister. Jusuf Tewfik Salim atau Totok, anak kedua Salim, di usia 10 tahun sudah membaca habis Mahabarata, epos kepahlawanan India, dalam buku berbahasa Belanda. Tidak sekadar membaca, Totok bahkan bisa menerangkan makna tersirat yang terkandung di dalam kitab legendaris itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Roem, tokoh nasional RI, juga pernah terbelalak takjub ketika Dolly dan Totok, di umur 13-15 tahun, sudah sanggup berdiskusi dengannya tentang pengetahuan yang diajarkan di sekolah tingkat atas. Usia Roem sendiri pada saat itu sudah menginjak 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa kini, pendidikan non formal memang menjadi solusi jitu yang tak bijak jika ditampik. Di saat kualitas dan sistem pendidikan nasional masih dalam limbung, ditambah biaya sekolah yang kian melangit, juga orientasi pembodohan para peserta didik yang hanya mengejar ijasah, gelar, serta peluang kerja, sehingga mengaburkan esensi pendidikan sebagai ajang menuntut ilmu, home scholling ala keluarga Agus Salim adalah salah satu alternatif untuk membuat anak cerdas tanpa duduk di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, di era sekarang sudah cukup banyak pihak yang menerapkan pendidikan alternatif tersebut. Sebut saja Kak Seto, pakar dan pemerhati masalah anak, yang memilih untuk mendidik kedua putrinya di rumah dengan alasan sistem pendidikan formal saat ini kurang bisa menghargai peserta didik sebagai anak. Ada pula sastrawan cilik Nurhamdi, bocah berumur 5,5 tahun yang hanya menamatkan sekolah formalnya di TK untuk kemudian enggan bersekolah lagi. Nurhamdi adalah putra bungsu dari pendongeng asli Yogyakarta, Wachidus Ibnu Say alias Kak WeEs. Dengan metode belajar di rumah serta menjadikan alam sebagai laboratorium dan kelasnya, juga peran orang tua dan lingkungan sebagai gurunya, Nurhamdi kini sudah piawai membuahkan banyak karya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jalur “semi” formal, berkunjunglah ke Salatiga. Di sana terdapat SMP Qaryah Tayyibah yang digagas oleh Bahruddin. Sekolah ini menawarkan konsep belajar yang tak biasa, eksentrik, tapi tetap berkualitas, dengan memposisikan sama antara guru dan murid alias sekolah tanpa sekat kelas. Atau tengok sistem pendidikan pembebasan yang dianut Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi UNY, yang hingga kini masih tetap eksis dalam menghasilkan produk (majalah, buletin, buku, SDM, dan lainnya) serta kader-kader yang cukup mumpuni dalam ranah jurnalistik. Bedanya dengan sekolah formal, baik SMP Qaryah  Tayyibah maupun LPM Ekspresi tidak menjanjikan  ijasah serta gelar akademis. Yang mereka tawarkan adalah proses belajar serta ilmu. Dik Doank, artis dan presenter, juga sempat membikin sekolah alam yang menyajikan sistem belajar yang unik dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah alternatif atau home scholling juga mulai diterapkan oleh para pelaku Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).  Salah satunya adalah LSM Rumpun Tjoet Nyak Dien Yogyakarta yang mendirikan Sekolah Pekerja Rumah Tangga (SPRT). Sekolah non formal bagi para pekerja rumah tangga ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan keterampilan bagi calon maupun yang sudah berstatus sebagai pekerja rumah tangga. Peran LSM juga cukup penting dalam melaksanakan pendidikan home scholling bagi anak-anak korban gempa di Yogyakarta dan sekitarnya dengan mengadakan proses belajar di tenda-tenda darurat atau di rumah-rumah warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski diragukan apakah para penggiat proses belajar non formal ini pernah memelajari, atau setidaknya mengenal konsep pendidikan home scholling yang dirintis Haji Agus Salim, namun peran mereka dalam menawarkan alternatif lain sebagai bentuk solusi terhadap “kekolotan” sekolah formal dengan tetek bengek birokrasinya cukup pantas untuk diberikan penghargaan yang layak. Agus Salim sendiri tentunya tidak pernah menyangka bahwa sikap nyeleneh yang dilakukannya dalam proses pendidikan di keluarganya ternyata telah membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk membumikan maksud bahwa untuk cerdas tak harus di sekolah. (Iswara NR) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-1925171087042200954?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/1925171087042200954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=1925171087042200954&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1925171087042200954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1925171087042200954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/12/sekolah-rumah-agus-salim.html' title='SEKOLAH RUMAH AGUS SALIM'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/STrYFhhVvbI/AAAAAAAAAnQ/Bp5Vg1HWPP0/s72-c/Hadji+Agus+Salim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-6197226525615765602</id><published>2008-12-07T02:22:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.820+07:00</updated><title type='text'>SERIOSA ABADI, PESONA KATAMSI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/STrVs4vFrXI/AAAAAAAAAnI/9dUo_edmLqo/s1600-h/KATAMSI+3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 145px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/STrVs4vFrXI/AAAAAAAAAnI/9dUo_edmLqo/s200/KATAMSI+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276764880538807666" /&gt;&lt;/a&gt; GADIS BELIA berambut panjang itu tampak sumringah. Kaki-kaki kecilnya dengan lincah menyusuri sepanjang Jalan Purwanggan, Jogjakarta, menuju rumah. Senyum kebahagiaan yang senantiasa tergurat di bibirnya yang manis itu bukannya tanpa alasan. Dara jelita itu baru saja memenangi jawara pertama Kejuaraan Bintang Pelajar se-Indonesia tahun 1961 di Jakarta untuk kategori seriosa. Kegemilangannya itu tak pelak menjadi landasan namanya untuk semakin dikenal. Itulah dia, Pranawengrum, calon bintang baru di dunia tarik suara Indonesia. Kala itu ia baru berumur 18 tahun. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempita prestasi Rum –demikian ia sering disapa– semakin tak terbendung. Di tahun yang sama, 1961, ia menyabet peringkat kedua dalam Pemilihan Bintang Radio tingkat lokal Jogjakarta. Setahun berikutnya, Rum maju ke tingkat nasional dan meraih juara harapan. Kematangannya sebagai penyanyi kian terasah di bawah asuhan sederet nama musikolog kondang seperti Suthasoma, Suwandi, Nortier Simanungkalit, Djanad, hingga Kusbini. Hasilnya sangat memuaskan. Penantiannya untuk menjadi yang terbaik dalam ajang Pemilihan Bintang Radio tingkat nasional terpenuhi dengan tampil sebagai kampiun, berturut-turut pada 1964, 1965, 1966, serta 1968. Kala itu Rum maju sebagai wakil dari Jogjakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rum menikah dengan Amoroso Katamsi, seorang dokter, perwira Angkatan Laut, juga aktor dan seniman teater, pada 27 Januari 1964. Setelah beberapa waktu bertahan di Jogjakarta dan sempat mendampingi sang suami berdinas sebagai dokter di Cilacap pada 1969-1974, Rum dan keluarga Katamsi kemudian boyongan ke ibukota. Bakat alam, ketekunan, dan hasil latihannya kembali cemerlang di bawah bimbingan Pranadjaja, FX Sutopo, Sunarto Sunaryo, Sari Indrawati, Ronald Pohan, dan Anette Frambach. Inilah yang menjadi jaminan mutu kedigdayaan Rum di bidang tarik suara, khususnya di genre musik seriosa. Kibar kejayaan Rum sebagai biduan semakin menjadi. Kali ini mewakili Jakarta, Rum kembali menyandang predikat terbaik dalam ajang Pemilihan Bintang Radio tingkat nasional pada 1974, 1975, dan 1980. Sebelumnya, Rum menerima penghargaan khusus Piala WR Soepratman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rum ikut ambil bagian dalam perjuangan ke Papua pada masa transisi politik pasca 1965. Bersama Idris Sardi dan Sudarnoto, Rum sempat pula mengisi musik di film-film layar lebar. Selain itu, Rum pernah tampil bersama rombongan La Grande Opera, Twilite Orchestra, Orkes Remaja Bina Musika, Orkes Simponi Jakarta, Orkes Mahasiswa Institut Seni Indonesia Jogjakarta pimpinan Ed van Ness, dan banyak lagi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilahirkan di Jogjakarta pada 28 Maret 1943, naluri seni Prawanengrum diperoleh dari sang ayah, RM Surachmad Padmorahardjo, seorang pemain biola berbakat. Dukungan penuh juga diberikan ibundanya, Oemi Salamah, yang selalu memersiapkan segala kebutuhan Rum tiap kali ikut perlombaan menyanyi. Talentanya kian terlihat berkat kejelian Nathanael Daldjoeni, Kepala SMA BOPKRI II Jogjakarta yang juga seorang penggubah lagu. Sang kepala sekolah melihat bakat besar dalam diri Rum. Itulah, kemudian Rum dikirim sebagai wakil sekolahnya untuk mengikuti ajang pekan kesenian pelajar dan meraih juara kedua. Sejak itu Rum mencintai seriosa sebagai panggilan hatinya dan bertekad ingin menjadi bagian dari keindahan seriosa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginannya itu terwujud dengan sederet keberhasilan yang diraihnya. Rum berada di puncak teratas dalam kancah seni olah vokal di Indonesia. Semesta tanah air pun sepakat memberinya gelar sebagai Ibu Seriosa Indonesia. Sebagai penyanyi, Rum tidak hanya  menguasai teknik tetapi juga mempunyai suara abadi yang khas dan penjiwaan mendalam ketika mengalunkan lagu. Ia tak pernah beranjak ke lain hati kendati musik yang ditekuninya bukanlah jenis yang populer di Indonesia. “Orang biasanya menganggap menyanyi seriosa tak laku jual,” keluhnya. Rum sempat membuat album seriosa pada era 1980-an namun tidak mendapat respon yang cukup bagus. “Kata produsernya tidak laku,” ucap Rum sambil tergelak. Kemudian album itu ia jual sendiri atau ia bagi-bagikan kepada orang-orang yang berminat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rum berjasa membangun komunitas pecinta seriosa di tengah gemerlap musik populer. Ia juga bercita-cita membentuk Masyarakat Seriosa Indonesia dengan tujuan melestarikan seriosa Indonesia agar tetap dikenal oleh generasi mendatang. Untuk itu Rum menempatkan dirinya sebagai sumber inspirasi bagi penyanyi muda yang ingin berkiprah di dunia seriosa. “Saya ingin mengajak generasi muda, pencipta lagu, penyanyi, dan sebagainya bisa ikut melanjutkan kelestarian seriosa Indonesia,” tekad Rum. Pelajaran itulah yang pernah dirasakan komponis Addie MS. “Bu Rum membawakan sesuatu yang ada di notasi menjadi lebih dari ’sekadar’ notasi,” salut Addie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rum tak lantas bertendensi negatif terhadap musik-musik jenis lain yang lebih membumi, bahkan ia sangat respek pada penyanyi/grup musik kekinian. Sebagai penyanyi senior, ia ternyata mudah beradaptasi dengan penyanyi muda yang aliran musiknya berbeda. Ingat, bagaimana Rum berperan sentral dalam salahsatu lagu GIGI di album Kilas-Balik (1998). Rum berduet dengan Armand Maulana pada lagu Rindukan Damai. Di lagu itu pula dua penyanyi beda generasi itu kembali tampil bersama, kali ini dalam acara konser tunggal GIGI sebagai peringatan ulang tahun band asal Bandung itu. Rum sendiri pernah mengadakan konsernya pada 20 Juni 2001 dengan tajuk “Konser Seriosa Indonesia” di Jakarta yang mendapat apresiasi bagus dari berbagai pihak. Tiket konsernya terjual laris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Katamsi memang sebuah keluarga seniman. Suami Rum, Amoroso, adalah aktor dan seniman teater. Anak pertama, Ratna Katamsi, seorang pianis dan pengajar di Yayasan Pendidikan Musik (YPM). Anak keduanya, Dodi Katamso, malah terjun ke dunia musik rock dan pernah bergabung dengan kelompok Elpamas di Surabaya. Sedangkan si bungsu Aning Katamsi melanjutkan karir sang ibu sebagai penyanyi seriosa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan orang, lagu seriosa itu berat. Rum tidak sependapat dengan itu. “Setiap musik itu punya jalurnya sendiri-sendiri. Nggak ada yang ini lebih bagus dari yang lainnya. Cuma untuk menyanyikan atau menguasainya orang harus punya keterampilan untuk itu. Harus belajar juga, jangan hanya mengandalkan bakat alam saja. Bakat alam mungkin memang bagus tapi mesti diimbangi dengan belajar,” kata soprano Indonesia ini kepada Republika Minggu edisi 24 Juni 2001. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, Rum juga tak menampik bahwa seriosa adalah musik yang serius dan tak selentur musik-musik yang lebih nge-pop. Seriosa identik dengan penampilan biduannya yang bergaun panjang dengan bros bunga mawar terselip di dada atau bersetelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu. Iringannya petikan piano, gayanya seragam, tegak mantap, dengan kedua telapak tangan tertangkup di perut dan dada. Pokoknya serius. “Memang begitulah seriosa,” ungkap Rum seperti yang dimuat dalam majalah Gatra, 14 Juli 2001. Rum lantas menambahkan, “Untuk mencerna lagu seriosa itu membutuhkan sesuatu kemampuan. Lain halnya lagu pop yang lebih mudah dicerna. Ada lagu-lagu tertentu yang bisa didengarkan semua orang, tapi ada lagu yang pada tingkatan tertentu bukan konsumsi umum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ibu Seriosa Indonesia, Pranawengrum Katamsi, meninggaldunia pada 4 September 2006, setelah hampir satu bulan menjalani perawatan di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo, Jakarta, lantaran penyakit ginjal yang dideritanya. Di masa-masa senjanya, Rum masih mengabdikan dirinya dengan mengajar vokal dan membina paduan suara anak-anak Kumara Sakti di RRI Jakarta. Nama Prawanegrum Katamasi sebagai penyanyi seriosa terbaik di negeri ini akan tetap mengabadi, seabadi suara emasnya yang tak akan lekang ditelan zaman. (Iswara N Raditya/Tetap Bergema Community)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-6197226525615765602?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/6197226525615765602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=6197226525615765602&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/6197226525615765602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/6197226525615765602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/12/serioisa-abadi-pranawengrum-katamsi.html' title='SERIOSA ABADI, PESONA KATAMSI'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/STrVs4vFrXI/AAAAAAAAAnI/9dUo_edmLqo/s72-c/KATAMSI+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-2474339322016901677</id><published>2008-11-25T14:02:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.820+07:00</updated><title type='text'>SANG EDITOR-EDUKATOR, P. SWANTORO</title><content type='html'>ENTAH MENGAPA tanpa menyertakan Soekarno, Swantoro menguraikan kesan terhadap para tokoh bangsa. Tentang Hatta dikatakan, ada tiga sikap dasar yang diperlukan guna menopang demokrasi, masing-masing adalah sportif, tanggungjawab, dan toleransi. “Tiga sikap yang bahkan sampai sekarang pun masih tetap perlu kita perjuangkan,” tulisnya. Kendati tak secara khusus mengupas Soekarno, Swantoro sengaja mengemukakan parallel lives antara Bung Karno dan Bung Hatta, “Banyak kemiripan di antara keduanya, tetapi juga mereka tidak pernah akur... Bung Hatta kepingin jadi tukang pos dan Bung Karno ingin ke negeri Belanda.” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Sultan Hamengku Buwono IX, Swantoro berujar, walaupun menjadi simbol feodalisme Jawa, Sultan adalah seorang pribadi yang rendah hati dan manusiawi. Tentang Sartono Kartodirjo, “Beliau yang mengajar saya mengenai asketisme intelektual. Dan meski usianya sudah 80 tahun lebih, dengan kesehatan mata yang mengganggu, beliau tetap saja menulis dan menghasilkan buku baru. Ini teladan yang sangat sulit dicari bandingannya,” salutnya. Ihwal WJS Poerwadarminta, Swantoro berpendapat, “Meskipun hanya lulusan Normalschool, beliau terbukti mampu membuktikan diri menjadi leksikograf terbaik di Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swantoro juga membidik tokoh-tokoh dari luar negeri, dari Napoleon, John F Kennedy, Mahatma Gandhi, hingga Saddam Hussein. Mengenai Kennedy, ia berujar, “Sulit kiranya dibenarkan, seorang wakil rakyat berkompromi hanya untuk menyelamatkan diri dan agar menguntungkan kepentingannya pribadi, tanpa memedulikan kepentingan umum, kepentingan masyarakat yang diwakilinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan tersebut merupakan buah karya Swantoro yang pernah mengisi rubrik Fokus di harian Kompas, pada kurun 1978-1989. Artikel-artikel itu kemudian disusun dengan tajuk Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, diterbitkan pada awal 2002, yang merupakan masa pensiun Swantoro. Untuk mengantar purna tugasnya, Swantoro menulis buku setebal 435 halaman itu. Melalui karyanya, Swantoro berperan sebagai pemandu kemanusiaan dalam menghadapi arus sejarah yang tak akan pernah berhenti. Mengapa sejarah? Ya, selain wartawan, Swantoro seorang sejarawan pula, ia adalah sarjana Jurusan Sastra Sejarah UGM, lulus tahun 1964. Swantoro juga merupakan pendiri Rumah Budaya Tembi di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polycarpus Swantoro dilahirkan di Yogyakarta pada 26 Januari 1932. Semenjak bocah, ia sudah senang bergumul dengan buku. Maka tidak heran, Swantoro mampu menguraikan tidak kurang dari 200 buku dengan gaya yang menarik dan seolah-olah menjadi sebuah pribadi yang hidup. Wawasan dan pengetahuannya sebagai seorang jurnalis, penulis, dan pakar sejarah teramat luas. Salahsatu faktor pendukungnya berasal dari lebih 3000 buku miliknya pribadi yang selama puluhan tahun secara tekun dikumpulkan satu demi satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swantoro terjun ke dunia pers nasional sejak 1963. Bersama Jakob Oetama, PK Ojong, dan rekan-rekan jurnalis lainnya, Swantoro ikut memelopori sepak-terjang harian Kompas di awal beredarnya pada pertengahan 1965. “Swantoro selama 15 tahun pernah menjadi kelelawar, oleh karena ia bertugas malam hari untuk menjaga keseluruhan isi Kompas,” ungkap Jakob Oetama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah panji-panji Kompas, Swantoro meniti karir jurnalistiknya sebagai reporter serta redaktur, kemudian dipercaya menjabat Wakil Pemimpin Redaksi I dan Penanggungjawab Kompas. Pada 1981, Swantoro didaulat sebagai Wakil Pemimpin Umum. Jabatan ini diembannya hingga 1992. Jakob Oetama adalah Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Redaksi Kompas. Swantoro juga menjadi orang kedua di Kelompok Kompas Gramedia (KKG) di mana lagi-lagi Jakob Oetama yang menjabat sebagai Presiden Direkturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1977, Swantoro menulis buku Lintasan Sejarah PWI bersama Soebagijo IN dan Abdurrachman Surjomihardjo. Swantoro juga tergabung dalam Tim Peneliti Sejarah Pers Indonesia 1977-1978 dan sebagai anggota Tim Penulis Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia 1978-1980. Swantoro merasa perlu urun pena dalam penulisan sejarah pers nasional yang kerap mengalami guncang dan ketidakstabilan, apalagi mengingat berubahnya konstelasi sosial-politik setelah runtuhnya Orde Baru, termasuk perubahan yang terjadi di dunia pers Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman kelam pers Indonesia di masa Orde Baru membikin Swantoro ikut larut dalam euforia kebebasan pers. Kemerdekaan pers adalah hak yang bersumber dari kedaulatan rakyat. Tidak ada lagi izin bagi penerbitan pers. Tidak ada lagi bredel dan sensor. Tidak ada lagi regulasi pengendalian oleh pemerintah. Tidak ada lagi Departemen Penerangan. “Publik dan pers-lah yang mengontrol pemerintah, bukan sebaliknya!” cetusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, lanjut Swantoro, segenap insan pers Indonesia harus terus-menerus membangun sikap dan kemampuan profesionalnya. Menurutnya, kemampuan jurnalistik setiap wartawan harus didasari pengetahuan yang tangguh, baik pengetahuan umum maupun pengetahuan mengenai bidang-bidang tertentu sesuai dengan lapangan tempat tugasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebanyakan insan pers kita sangat minim pengetahuan umumnya. Di antara mereka tidak sedikit pula yang minimalis, tidak terpacu untuk terus-menerus meningkatkan pengetahuannya, padahal masyarakat yang kita layani semakin maju,” tutur sang wartawan senior. Karena itu, tambahnya, perusahaan pers berkewajiban untuk membantu memuliakan kepribadian para wartawannya, di samping juga meningkatkan kemampuan profesional mereka. Pendidikan sangat penting bagi perusahaan media, dan, “Setiap editor mesti sekaligus berfungsi sebagai educator, sebagai pendidik,” tegas Swantoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa tuanya, Swantoro masih bertuah dan senantiasa memberikan perhatian penuh dalam urusan pers, politik, dan kesejarahan. Pada usia 74 tahun, Swantoro masih sanggup berlantang kepada kaum sejarawan di Indonesia. Katanya, “Jika para pendiri negara punya keseriusan membidani gagasan mengenai cita-cita nasional, kini para penerusnya tidak lagi peduli dengan Pancasila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swantoro mengkritik, selama ini pengajaran sejarah kebangsaan di sekolah-sekolah adalah keliru. Hal itu, selain disebabkan cara-cara indoktrinasi pengajaran di jaman Orde Baru yang tidak membuka ruang dialog, juga karena guru-guru sejarah rata-rata kurang memiliki pemahaman luas dalam mengajar. “Guru sejarah itu harus benar-benar hebat karena harus bisa menjelaskan sebuah fakta-fakta dari pelbagai segi, bukan sekadar memberikan anak didiknya sebuah hafalan terhadap peristiwa sejarah,” tukasnya.  (Iswara NR) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-2474339322016901677?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/2474339322016901677/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=2474339322016901677&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2474339322016901677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2474339322016901677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/11/sang-editor-edukator-p-swantoro.html' title='SANG EDITOR-EDUKATOR, P. SWANTORO'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-2153178173690256538</id><published>2008-11-25T13:36:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:49.610+07:00</updated><title type='text'>RELATIVITAS KEAKUAN SEJARA(H)WAN</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:lucida grande;font-size:100%;"  &gt;"&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;Jika Locke, Voltaire, atau Marx mempunyai pengaruh besar, maka hal itu mungkin dapat  disebabkan oleh kecakapan mereka dalam menyampaikan gagasannya, tetapi mungkin juga disebabkan oleh kesanggupan menerima yang lebih besar dari pembacanya."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; font-family: times new roman;font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Louis Gotschalk  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;RELATIVITAS (relatif) dapat diartikan sebagai sesuatu yang nisbi alias tidak mutlak. Dalam konteks historiografi, relativitas sejarah dapat menjadi senjata penikam bagi para penelitinya, bahwa sejarawan tidak dapat mengelak dari spekulasi-spekulasi yang berpengaruh dalam penulisan sejarah. Artinya, seorang sejarawan pasti akan terpengaruh oleh segala sesuatu yang menjadikan hasil penulisannya tidaklah bersifat mutlak. Lagi-lagi “subjektifitas” harus menjadi tumbal sebagai dampak dari interpretasi sejarah. Interpetrasi, alias penafsiran, memang tidak bisa lekang dari unsur keakuan seorang sejarawan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan tidak akan dapat menghindarkan diri dari spekulasi-spekulasi semacam itu dengan berpretensi bahwa yang menarik minatnya hanyalah apa yang sungguh-sungguh telah terjadi. Biasanya, sejarawan akan terhanyut oleh pengaruh orang-orang besar yang mungkin menjadi idola sang sejarawan, sehingga kecenderungan subyektif akan sangat mungkin terjadi dalam hasil penulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Louis Gottschalk memberikan contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang sedang mengetengahkan tentang Dr. Jenner, yang menemukan cara pertama terpercaya untuk melakukan suntikan terhadap penyakit cacar, maka Dr. Jenner harus diberikan porsi yang lebih banyak dibanding orang sejamannya, Napoleon Bonaparte, meski sang penulis adalah pengidola Napoleon. Namun, seringkali sejarawan terlalu masyuk dengan alam kenisbiannya yang kemudian menyingkirkan kemutlakan dengan berpegang teguh pada relativisme yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase interpretasi dalam suatu proses penulisan sejarah memang ibarat kawah candradimuka untuk menggojlok kadar keakuan seorang sejarawan. Seringkali relativitas sejarawan tidak bisa serta-merta dilepaskan karena arah mutlak atau tidaknya sebuah penulisan sejarah menjadi hak sepenuhnya bagi sejarawan, sepanjang itu tidak melenceng dari data dan fakta yang bermuara pada kebenaran sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak lantas kemutlakan sejarah tidak dapat diterapkan. Bisa saja kemutlakan-kemutlakan sejarah itu dapat ditemukan di dalam “ajaran-ajaran Injil”, “seratus buku yang paling baik”, “individualitas sejarah”, “piagam-piagam kebebasan yang langsung”, “kearifan dari abad ke abad”, atau dengan perkataan lain, kemutlakan sejarah dapat ditemukan di dalam sejarah agama, puisi, filsafat, seni, dan manifesto-manifesto politik yang besar. (Iswara NR) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-2153178173690256538?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/2153178173690256538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=2153178173690256538&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2153178173690256538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2153178173690256538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/11/relativitas-dan-keakuan-sejarahwan.html' title='RELATIVITAS KEAKUAN SEJARA(H)WAN'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-3261441856136588144</id><published>2008-11-10T23:52:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.821+07:00</updated><title type='text'>FARIZ RM: PEREVOLUSI MUSIK PRIBUMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SRhrxVrKrdI/AAAAAAAAAnA/cT57tSKoJII/s1600-h/fariz.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 144px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SRhrxVrKrdI/AAAAAAAAAnA/cT57tSKoJII/s200/fariz.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267078259585756626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; AWALNYA, belum ada yang kenal perkakas musik yang aneh bin unik itu. Bayangkan, bentuk kibor yang lazimnya menyerupai piano tiba-tiba mengerucut jadi mirip gitar, dicangklongkan di bahu. Bedanya, kalau gitar dipetik, alat itu bisa berbunyi dengan dipencet selayaknya piano. Alat yang dipopulerkan grup Duran-Duran itu bernama moog synthesizer yang merupakan bentuk padu antara gitar, akordion, dan kibor. Musisi Indonesia yang memerkenalkan moog synthesizer di jagat musik tanahair tiada bukan adalah Fariz RM, sang multi instrumentalis Indonesia. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naga-naganya, ketika itu Fariz mencoba memercikkan revolusi kecil di ranah musik nasional dengan menawarkan modernitas. Ia membawa gairah teknologi dengan menerobos dominasi musik “kolot” yang masih menggunakan perabotan alakadarnya. Fariz memerkenalkan teknologi Music Interface Digital Instrument alias MIDI, seperti yang kental dalam kebanyakan lagu-lagu ciptaannya. Ironisnya, praktis kala itu Fariz bertarung sendirian. Teknologi MIDI baru mulai populer pada awal tahun 2000-an atau kurang lebih 20 tahun setelah Fariz berdaya-upaya mengenalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fariz Rustam Munaf, kelahiran 5 Januari 1961, memang berasal dari keluarga musisi. Ayahnya dikenal sebagai penyanyi di RRI (Radio Republik Indonesia), sedangkan ibunya, Anna Reijnenberg, adalah seorang guru les piano. Di bawah bimbingan sang bunda inilah awal pertemuan Fariz dengan dunia nada selain belajar piano pada Sunarto Sunaryo dan juga Charlotte Sutrisno JP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 12 tahun, Fariz membentuk Young Gipsy bersama Nasution bersaudara, Debby dan Odink, dengan memainkan lagu-lagu blues dan rock. Pengalaman Fariz kecil bertambah ketika ia bekerjasama dengan Addie MS, Adjie Soetama, dan Imran RN merancang operet untuk acara perpisahan di sekolahnya. Pada 1977, Fariz dan teman-teman sekolahnya seperti Raidy Noor, Erwin Gutawa, dan Ikang Fawzi, meraih juara III dalam Lomba Cipta Lagu Remaja Radio Prambors Jakarta. Mereka bernaung dalam Vocal Group SMA Negeri 3 Jakarta. Prestasi itu membuat tawaran dari beberapa grup band mulai berdatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun kemudian, Fariz kuliah di jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), karenanya ia juga piawai melukis. Semasa mahasiswa inilah Fariz menjadi kibordis pengganti di grup band Giant Step dan memainkan drum untuk karya-karya pentas The Rollies. Pada 21 Agustus 1978,  Fariz bergabung dengan Badai Band yang sukses menghasilkan album ilustrasi untuk film Badai Pasti Berlalu. Fariz juga sempat bergabung bersama Keenan Nasution dalam band Gang Pegangsaan. Pada 1979, Fariz membantu kelompok musik dari Bandung pimpinan Harry Roesli.&lt;br /&gt;Fariz berani melesat lebih tinggi dengan memersiapkan karya pribadinya. Uniknya, ia memulai dengan album kedua, Sakura, yang dirilis tahun 1980 dan sukses besar. Setelahnya, Fariz baru merilis album solo perdananya, Melangkah ke Seberang, yang belum sempat diluncurkan meski sudah rekaman sejak 1979. Album ini melibatkan Chrisye, Keenan Nasution, Yockie Suryoprayogo, Uce F Tekol, Raidy Noor, Yanti Noor, juga Iis Sugianto. Sekira tahun 1983, bersama Iwan Madjid dan Darwin B Rachman, Fariz membentuk Wow! sebagai drummer. Setelah debut album pertama, Produk Hijau, Fariz mundur dari Wow!. Fariz juga aktif di beberapa kelompok musik, termasuk Symphony, Transs, GIF, hingga Jakarta Rhythm Section, selain tentu saja pengerjaan album solonya. Ia pun sempat ikut mengajar di Forum Musik Jack &amp;amp; Indra Lesmana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesona Farzi kian melangit. Lagu-lagu ciptaannya yang kental dengan nuansa MIDI banyak yang menjadi hits, sebut saja Barcelona, Sakura dalam Pelukan, Susie Bhelel, Menggapai Bintang, Sungguh, Selamat Datang Cinta, Lepas Kontrol, Nada Kasih, Melangkah ke Seberang, Kurnia Pesona, dan lainnya. Hingga 2003, paman dari penyanyi berbakat Sherina Munaf ini telah menghasilkan 20 album solo, 72 album kolaborasi, 18 album soundtrack, 27 album produksi, dan 13 album internasional yang dirilis di Eropa dan Asia Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama karir musiknya, Fariz kerap berhubungan dengan banyak musisi beken, terlibat dalam penggarapan album para sejawatnya, antaralain Deddy Dhukun, Dian Pramana Putra, Keenan Nasution, Harie Dea, Yockie Suryoprayogo, Jimmy Manoppo,Andi Meriem Matalatta, Benny Soebardja, Indra Lesmana, Arie Koesmiran, Neno Warisman, Renny Djajoesman, Jacob Kembar Grup, Janet Arnaiz, Emillia Contesa, Achmad Albar, Delly Rollies, Norma Yunita, Yossi den Has, Marissa Haque, hingga Yovie Widianto bersama grup Nuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1987, Fariz mulai bermain di belakang layar. Ia justru giat melukis kendati masih tetap sibuk di dunia suara dengan membikin jingle iklan dan ilustrasi musik untuk media elektronik, sinema, dan panggung teater. Pada 21 Agustus 2003, Fariz kembali muncul ke publik dengan menggelar konser akbar di Jakarta. Sebelumnya, pada 2001, Fariz sempat meluncurkan album Dua Dekade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fariz menikah dengan Oneng Diana Riyadini, mantan peragawati asal Semarang, pada 1989, dan dikaruniai tiga orang anak, dua di antaranya terlahir kembar. Pada 1996, Fariz divonis mengidap kanker liver. Fariz sempat terjegal perkara narkoba, pada 2001 dan 2007, juga kasus peledakan bom di Asrama Mahasiswa Iskandar Muda, Manggarai, Jakarta, pada Mei 2001. Polisi menemukan surat Fariz kepada Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Teungku Abdullah Syafei, di lokasi peledakan bom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun itu, Fariz merupakan sosok musisi yang tak bisa ditampik perannya. Fariz enggan dikenal sebagai artis. Ia adalah seorang seniman, pelakon seni serba bisa. Fariz adalah seorang penyanyi, pencipta lagu, penata musik, kibordis, drummer, gitaris, bassis, produser, bahkan juga pelukis. Fariz RM adalah salahsatu perevolusi musik Indonesia, melangkah ke seberang menuju pembaharuan. (Iswara N Raditya/ Tetap Bergema Community) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-3261441856136588144?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/3261441856136588144/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=3261441856136588144&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/3261441856136588144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/3261441856136588144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/11/fariz-rm-pemercik-teknologi-untuk.html' title='FARIZ RM: PEREVOLUSI MUSIK PRIBUMI'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SRhrxVrKrdI/AAAAAAAAAnA/cT57tSKoJII/s72-c/fariz.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-5024487903571881999</id><published>2008-10-18T03:14:00.009+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.821+07:00</updated><title type='text'>SEMAOEN, PENGHIMPUN KAUM BURUH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JAQUES PANGEMANANN &lt;/span&gt;sudah cukup lama mengamati tindak-tanduk anak muda bertampang Jawa itu: seorang pemuda kerempeng dengan postur tubuh yang tidak begitu tegap, mengenakan celana panjang serta kemeja pendek, semuanya serba putih. Dengan gesit, anak itu mulai menghidangkan air teh. Setelah meletakkan gelas terakhir di meja tamu, ia berdiri tegak, mulutnya berucap sambutan selamat datang dengan bahasa Belanda yang fasih. Setelah itu, ia membungkuk laiknya pengawal kerajaan di istana-istana Eropa untuk memperkenalkan diri: “Namakoe Semaoen.”&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  kesempatan lain, Pangemanann sekali lagi mencitrakan sosok belia yang cukup menarik hatinya itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang botjah beroemoer enam belas tahoen, bertoeboeh pendek, jang beberapa tahoen jang laloe masih melajani tamoe-tamoe VSTP Semarang. Dengan kelebihannja karena telah membatja beberapa boekoe berbahasa Belanda, dan berbakat pandai bitjara, ia telah memperlihatkan diri sebagai tjalon agitator jang tanggoeh. Botjah itoe bernama Semaoen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Pangemanann, Semaoen adalah seorang anak muda yang semangatnya sangat berkobar-kobar, seakan-akan dunia ini telah menjadi miliknya sendiri dan semua hati telah berpadu dengan hatinya. Dari mulut bocah itu pula untuk pertamakalinya pribumi mengenal kata-kata sihir imperialisme, kapitalisme, nasionalisme, internasionalisme. “Dan akoe jakin, botjah belasan tahoen itoe beloem mengerti sepenoehnja arti kata-kata kesajangannja itoe,” lanjut Pangemanann sambil menyunggingkan senyum. Pencitraan dan penilaian jurnalis kawakan itu tidaklah salah, meski belum sepenuhnya benar. Anak itu kelak akan mewujud menjadi badai yang menggelorakan ribuan massa pekerja untuk melawan penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kecil, Semaoen sudah mengakrabi dunia keras kaum pekerja. Semaoen adalah anak Prawiroatmodjo, seorang tukang batu yang bekerja untuk jawatan kereta api. Semaoen lahir pada 1899 di Curahmalang, sebuah kota kecil di Mojokerto, Jawa Timur. Kendati bukan anak orang kaya ataupun berasal dari golongan priyayi, Semaoen berhasil sekolah di Tweede Klas atau sekolah bumiputera angka dua dan memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda. Setelah lulus sekolah dasar, Semaoen kemudian bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1913, Semaoen masuk ke Sarekat Islam (SI) afdeling Surabaya, dan setahun berikutnya ia tampil ke muka sebagai sekretaris. Di awal 1915, Semaoen bertemu Sneevliet, perintis ide komunisme di Indonesia, dan bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) juga Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP), serikat buruh kereta api dan trem. Akhirnya, Semaoen terpilih sebagai ketua SI Semarang pada 1917 menggusur Mohammad Joesoef. Sebelumnya, Semaoen adalah propagandis dan komisaris SI Semarang. Saat itu usianya baru delapanbelas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jabatan ketua inilah, Semaoen memimpin Sinar Djawa, suratkabar SI Semarang. Organ propaganda ini sejatinya sudah dimiliki Mohammad Joesoef sejak 1914 selaku pemimpin SI Semarang saat itu. Di tangan Semaoen, Sinar Djawa bergerak kuat ke kutub progresif dan radikal. Bersama Mas Marco Kartodikromo, Semaoen mengemudikan Sinar Djawa dengan gaya berteriak, menjambak, dan memukul: Sinar Djawa mewujud sebagai suratkabar kaum progresif yang berisi kritik dan kecaman terhadap pemerintah dan sekaligus corong Sarekat Islam (SI) dalam upaya mempropagandakan kekuatan massa. Dengarlah gelegar teriakan Semaoen dalam Sinar Djawa edisi 22 April 1918:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas! Awas! Soedara-soedara, roekoen, roekoen, .... djangan seperti anak ketjil. Engatlah: Doerdjono hoera-hoera, wong tani ditaleni. Djaman edan. Koem Boeroeh Roekoenlah! Roekoen membikin koet dan koet menambah selamat. Kaoem Boeroh, koempollah djadi satoe!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radikalisme Sinar Djawa membikin Mohammad Joesoef berang. Ia mendakwa otak Semaoen sudah diracuni Sneevliet. Semaoen menyerang balik dengan mengatakan, selama ini Sinar Djawa terlalu lembek terhadap pemerintah kolonial. Jika ini dipertahankan, upaya untuk lepas dari jejaring kolonialisme-imperialisme mustahil tercapai. Semaoen berteguh membawa Sinar Djawa pada karakternya yang keras. Bersamanya, Sinar Djawa memilih lajur kiri. Gaya baru Sinar Djawa ini justru menuai puji dari pejabat pemerintah, Dr Rinkes, penasehat urusan bumiputera, yang dalam kunjungan penilaian jurnal pergerakan pada 1917, mencatat adanya perbaikan mutu Sinar Djawa setelah dipegang Semaoen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaku ngeyel Semaoen juga membuat murka pemimpin pusat SI, Tjokroaminoto, serta para pejabat SI lainnya. Dan, setelah melewati intrik rumit, Semaoen beserta rombongan SI Semarang angkat kaki dari SI pimpinan Tjokroaminoto dan mendirikan SI Merah alias Sarekat Rakjat yang merupakan cikalbakal Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Semaoen sebagai pemimpin pertamanya. Semaoen pun hengkang dari Sinar Djawa dan menerbitkan Sinar Hindia pada 1922.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepak-terjang non kooperatif Semaoen di jagad pers pribumi terus menanjak. Pada 1925, bersama Tan Malaka dan Tjempono, ia menerbitkan Njala. Media radikal ini menjadi corong kaum komunis yang senantiasa berpikir, menulis, bertindak, menyetir gelombang rakyat, serta menentang pemerintah. Seruan-seruan Njala pun menjadi sangat luas cakupannya dalam membangkitkan nasionalisme rakyat tertindas. Simak seruan pengobar semangat Njala pada edisi 26 Oktober 1925:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara! Sekarang kamoe kalah dalam pertandingan. Tetapi kami pertjaja bahwa di kemoedian kamoe akan dapat djalan djoega oentoek menoentoet kemenangan asalkan kamoe meoe menoentoet! Ra’jat Indonesia, sadarlah atas pendirian klas jang asa padamoe dan pertjajalah bahwa kemenangan klasmoe itoe hanja bergantoeng atas kekoetanmoe!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain via Sinar Djawa, Sinar Hindia, dan Njala, Semaoen juga menuangkan gagasan-gagasan lugasnya melalui suratkabar lainnya, di antaranya Otoesan Hindia, Masa Baroe, Soeara Bekelai, Persatoean Hindia, Doenia Bergerak, Soeara Kaoem Boeroeh, dan lain-lainnya. Selain itu, Semaoen juga berhasil membukukan karya-karya tulisnya. Selaras dengan ideologinya, nyaris semua hasil pikir Semaoen berciri progresif-radikal, terutama yang membahas nasib kaum buruh dan pekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat diasingkan ke Eropa karena terlibat percobaan aksi buruh massal pada 1923, naluri komunis radikal Semaoen tak pernah luruh. Jiwa kerakyatannya menyala-nyala. Akhir riwayat, sang pengobar semangat rakyat Hindia ini meninggal dunia tahun 1971 pada usia 72 tahun. Sebelum mangkat, Semaoen sempat berucap: “Hawa panas di Hindia, negeri Arab, Hindoe, Tionghoa.... penting dalam ilmoe ghaib, ataoe sering dikodratkan oleh Toehan jang Maha Koeasa mengeloarkan Nabi ataoe Begawan-begawan jang terbesar-besar.”(Iswara NR) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-5024487903571881999?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/5024487903571881999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=5024487903571881999&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5024487903571881999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5024487903571881999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/10/semaoen-penghimpun-kaum-buruh.html' title='SEMAOEN, PENGHIMPUN KAUM BURUH'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-3268479041590584679</id><published>2008-10-12T09:55:00.006+07:00</published><updated>2008-12-09T23:08:55.911+07:00</updated><title type='text'>TABLOD DeTIK, BERPIKIR MERDEKA!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;"Yang  mencoba &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbalelo&lt;/span&gt;, pasti akan dituding sebagai ‘menyalahi’ kodrat dan karenanya harus dihukum.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eros Djarot&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ADA YANG&lt;/span&gt; muram dalam tabloid DeTIK di akhir bulan Juni itu. Tiada lagi sapaan hangat serta ringkasan singkat yang biasanya mengisi kolom “Surat Redaksi” pada tabloid DeTIK no 067/Th XVII/22-28 Juni 1994 itu. Hanya warna hitam nan gelap dengan nukilan sebait lagu Bagimu Negeri karya Kusbini sebagai penggantinya, diikuti satu kalimat bernada keras yang berbunyi, “Dan kami akan tetap berpikir merdeka!” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Pul alias kolom “Gussip Pulitik” asuhan Saifullah Yusuf pun ikut-ikutan gusar, dan akhirnya berseloroh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jangan bicara apa-apa&lt;br /&gt;Jangan melihat apa-apa&lt;br /&gt;Jangan dengar apa-apa&lt;br /&gt;Jangan nulis apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho...jadi apa yang boleh, dong...?&lt;br /&gt;Hush, berisik! Kayak nggak tahu aja Lu!&lt;br /&gt;Itu kan persyaratan jadi ‘wartawan teladan’&lt;br /&gt;He..he..he...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tanpa alasan para awak tabloid DeTIK bertingkah aneh seperti itu. Rupa-rupanya, edisi tersebut adalah eksemplar pamungkas yang masih bisa diterbitkan. Suratkabar politik yang digawangi Eros Djarot itu sedang kena gebuk alias dibredel oleh pemerintah Orde Baru karena dianggap telah melanggar hukum, mengganggu stabilitas nasional, meresahkan masyarakat, serta menyebarkan pengaruh yang menyesatkan publik. Lewat SK Menpen No 125 tanggal 21 Juni 1994, bersama majalah Tempo dan Editor, tabloid DeTIK resmi dinyatakan terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Eros Djarot, DeTIK memang beringas. Laporan-laporan yang diberitakan terhitung berani pada masa itu ketika Soeharto masih berkuasa. Wacana suksesi presiden yang cukup sensitif, misalnya, dengan lugas kerap dipaparkan DeTIK. Coba simak perkataan Amien Rais, tokoh oposisi intelektual, yang dimuat DeTIK pada edisi 054/Th XVII/23-29 Maret 1994, “Saya tidak percaya sedikitpun bahwa suksesi itu akan menimbulkan huru-hara, apalagi semacam pertumpahan darah, kalau memang sudah dipersiapkan secara sungguh-sungguh. Diperlukan kepemimpinan baru yang segar dan antisipatif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, yakni dalam DeTIK no 050/Th XVII/16-22 Februari 1994, Amien Rais berlantang pula, “Kalau kita ingin melanjutkan apa yang telah dicapai Pak Harto kita harus membicarakan suksesi sedini mungkin. Supaya kita semua siap bila waktunya tiba dan ritme pembangunan ini terjaga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harold Crouch, pengamat politik dari Australia National University, turut bertutur pada edisi yang sama. “Terlepas dari sikap Pak Harto sendiri, saya kira orang harus mulai memikirkan tentang suksesi. Jadi bukan sesuatu yang tabu,” ujar Crouch yang juga telah menerbitkan buku tentang politik dan militer di Indonesia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“DeTIK tampil untuk berpihak kepada sidang pembaca yang mengharapkan kejelasan dan kejujuran informasi. Di tengah harapan semacam itulah kami hadir mengutamakan kelugasan dan menghindari basa-basi,” demikian maklumat redaksi DeTIK dalam edisi 001/Th XVII/3 Maret 1993. DeTIK memang tampil trengginas. Selain soal suksesi, media ini juga sering menyoroti kebobrokan pemerintah beserta antek-anteknya, semisal pembahasan kontinyu tentang kasus korupsi Edy Tansil sebesar 1,2 triliyun rupiah, yang melibatkan Soedomo, Ketua DPA yang dekat dengan Soeharto, pada awal 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan DeTIK edisi no 053/Th XVII/9-22 Maret 1994, menampilkan gambar muka dengan sosok Semar, yang secara tersirat dapat ditafsirkan sebagai “begawan” Soeharto, dengan cover story yang tak kalah menyentak: Bebas Korupsi dan Kolusi. Keberanian DeTIK tak pelak memantik maut, dan terjadilah pemberedelan pada 1994 itu. Setelah pingsan sejenak, pada 14 Juli 1998, Eros Djarot bangkit dengan menerbitkan tabloid DeTAK tak lama setelah Soeharto lengser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh Yayasan Pancasila Mulya, DeTIK sejatinya telah beredar sejak 1977 dari embrio suratkabar mingguan Mimbar Berita. Dengan SIUPP No 022/SK/Menpen/C.1/1986, tabloid DeTIK hadir di bawah asuhan Abdul Azis sebagai Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Redaksi. Budayawan dan politikus Eros Djarot duduk sebagai Wakil Pemimpin Umum serta Wakil Pemimpin Redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggungjawab divisi Perusahaan ada pada Syamsinar, serta tercatat nama Haryanto Taslam di bagian sirkulasi. Alamat redaksinya terletak di Gedung Prioritas, Lantai V, Jl Gondangdia Lama 40, Jakarta. Uniknya, redaksi DeTIK menempati gedung yang sama dengan suratkabar Prioritas pimpinan Surya Paloh yang juga kena bredel pada 1987 dengan tuduhan yang nyaris serupa: versus pemerintahan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Saifullah Yusuf yang mengampu ruang “Gus Pul”, terdapat pula AS Laksana pada kolom “Podium” yang berisi esai-esai DeTIK yang cerdas lagi kritis. Rubrik “Opini Plesetan” diisi bergantian oleh Emha Ainun Nadjib, Gus Dur, dan Eros Djarot. Nama-nama beken lain yang sempat ikut urun kalam adalah Mohammad Sobary, juga Christian Wibisono untuk rubrik “Opini” dengan mengambil tema besar: Sarasehan Imajiner Antargenerasi. Di kolom “budaya”, Raudal Tanjung Banua sesekali nongol dengan tajuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggeber total 32 halaman, DeTIK juga memuat ruang-ruang lain seperti rubrik “Internasional”, “Ekbis”, “Lingkungan”, “Opini”, serta “Hukum”. Ada pula rubrik “Jentera” yang memotret realitas kehidupan rakyat yang divisualisasikan lewat jepretan foto, “Sorot Tokoh” yang menampilkan profil orang-orang ternama, serta memberi ulasan singkat mengenai kabar para publik figur lewat rubrik “Potret”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rubrik utamanya bernama “Sajian Utama” menyajikan berita-berita aktual yang biasanya menyangkut kasus-kasus yang sedang mengemuka. Dalam hal ini, ciri khas DeTIK adalah menampilkan karakter tulisan dengan memuat laporan wawancara langsung. Inilah yang menjadi nilai tambah orisinalitas berita-berita yang ditampilkan DeTIK. Salah seorang pembaca pun mengamininya. “DeTIK akan bisa menjadi tabloid ‘narasumber’ dalam pers di bidang IPOLEKSOSBUDMIL,” sebut sang pandemen yang memakai nama pena Pandir Kelana itu. (Iswara N Raditya) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-3268479041590584679?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/3268479041590584679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=3268479041590584679&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/3268479041590584679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/3268479041590584679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/10/tabloid-detik-ckami-akan-tetap-berpikir.html' title='TABLOD DeTIK, BERPIKIR MERDEKA!'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-5331477614361545460</id><published>2008-09-17T21:13:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.821+07:00</updated><title type='text'>BONDAN WINARNO, JURNALIS "MAK NYUS!"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SNEXCpcnT6I/AAAAAAAAAbk/3l4t6DmuKzo/s1600-h/BONDANN+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SNEXCpcnT6I/AAAAAAAAAbk/3l4t6DmuKzo/s200/BONDANN+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247000375116386210" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;JALUR PENCERAHAN&lt;/span&gt; itu bernama Jalansutra, gang setapak yang menuntun Bondan Winarno menuntaskan karir di pintu masuk masa pensiunnya. Jalansutra, komunitas wisata boga yang hingga kini memiliki ribuan anggota, berawal dari tulisan Bondan di Suara Pembaruan edisi Minggu dan Kompas Cyber Media. Jadilah masyarakat awam mengenal Bondan sebagai ahli makanan lewat acara Wisata Kuliner yang dipandunya di televisi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bondan tahu bagaimana memilih bahan-bahan yang diperlukan, cara mengolah masakan yang baik, cara penyajiannya, serta, ini yang paling penting, bagaimana mengekspresikan citarasa makanan saat disantap. Inilah kelebihan Bondan yang membuat publik terlarut dalam setiap aksinya. Bagi Bondan, makanan adalah berkah. Keresahan mulai langkanya masakan tradisional merupakan salahsatu faktor Bondan terjun sebagai jurnalis kuliner. “Saya ingin orang mendapat pencerahan dari makanan. Masakan adalah bagian dari budaya. Tapi kita meremehkan masakan di Indonesia ini. Kita kehilangan budaya,” keluhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1987, Bondan menetap di Amerika Serikat, menemani anak bungsunya yang menempuh studi di Los Angeles. Di AS, hingga tahun 1994, Bondan aktif di perusahaan makanan laut di Los Angeles, lantas pindah ke Seattle, Washington. Pulang ke Indonesia, Bondan memilih kembali ke dunia pers, sampai kemudian kondang sebagai pakar boga lewat seabrek aktivitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kecil, Bondan ingin jadi pilot. Sempat ikut sekolah penerbang namun drop out karena memiliki tekanan darah yang terlalu tinggi untuk menjadi penerbang komersial. Bondan suka terjun payung dan bergabung dengan Jakarta Flying Club. Minat Bondan untuk mengangkasa sebenarnya buah pelarian dari ketakutannya terhadap air. Ketika kelas lima SD, tahun 1961, dalam suatu kegiatan Pramuka untuk latihan melintasi sungai, Bondan tergelincir dan terbawa arus. ”Rasanya saya akan mati,” kenangnya. Untung, di saat-saat terakhir, tangannya masih sempat meraih batu besar dan berpegangan erat sehingga selamat. Sejak itu, Bondan kapok bermain air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, Bondan justru pernah memeroleh Baden Powell Adventure Award ketika memimpin regu Indonesia dalam Boy Scouts World Jamboree di Farragut State Park, Idaho, Amerika Serikat, pada 1967. Ia terpilih pula sebagai honor guard untuk Lady Olave Baden Powell. Bondan juga mendapat penghargaan Satyalencana Pembangunan dari pemerintah pada 1988, atas jasanya sebagai Ketua Pelaksana Phinisi Nusantara yang berlayar dari Jakarta sampaiVancouver dalam rangka Expo 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bondan Winarno lahir di Surabaya pada 29 April 1950. Tamat SMA pada 1968, ia melanjutkan ke Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang, namun tidak selesai. Bondan bekerja sebagai juru kamera di Pusat Penerangan Departemen Hankam hingga 1970. Setelah itu, ia berkarir di bidang komunikasi massa, antara lain sebagai Creative Director Marklin Advertising pada 1973, Account Executive Intervista pada 1974, serta Advertising Manager PT Union Carbide pada 1975, sembari mengikuti kursus Marketing and Financial Management Jakarta. Pada 1978, ia menjabat Sekjen International Advertising Association. Sempat bertugas di Kenya sebagai wartawan, pengalaman di Afrika itu lantas dikisahkan dengan judul Gazelle, yang meraih jawara dalam lomba penulisan cerpen Femina 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1984 itu, Bondan mengasuh rubrik Kiat di majalah Tempo. Dalam majalah Tempo edisi 28 Januari 1984, yang pertamakali memerkenalkan Bondan sebagai redaktur, dijelaskan bahwa kata “kiat” mengandung arti suatu kecakapan, suatu “seni” yang diperoleh dari proses pengalaman. Pembaca akan dengan segera akan mafhum: ruangan ini membahas soal-soal manajer dan manajemen. “Maka, kami memutuskan untuk meminta Saudara Bondan Winarno guna merintis ruangan ini,” demikian maklumat redaksi Tempo. Bondan, yang tulisannya cukup digandrungi pembaca Tempo, dianggap memiliki “surat kepercayaan” yang cukup kuat untuk mengampu rubrik itu. “Ia sendiri seorang dengan pengalaman manajerial yang luas,” sebut redaksi Tempo memantapkan pilihannya kepada Bondan Winarno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun berselang, 1985, Bondan dipercaya menjabat Wakil Pemimpin Redaksi majalah bisnis SWA Sembada, kemudian naik sebagai Pemimpin Redaksi. Selain itu, ia tetap berkirim tulisan untuk media-media massa nasional. Bondan sudah ikut menulis di Kompas semenjak suratkabar itu terbit. Sejak 1971, ia mengisi rubrik di Intisari tentang pengetahuan budaya. Kebiasaan menulis ini sudah dilakoninya sejak masih sangat belia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Bondan, menulis memerlukan pemikiran yang lama, perlu pengendapan. Menulis sudah menjadi ritual. ”Sehari saja tidak menulis, rasanya ada yang mengganjal di hati,” akunya. Ia bisa menulis di mana dan kapan saja. “Begitu ada kemauan, saya menulis. Jangan heran kalau di setiap sudut rumah saya ada mesin tulis,” kata Bondan. Ia ‎ingin tetap konsisten menjadi penulis. Lebih ‎dari 20 buku sudah ia keluarkan dan sudah lebih dari 1000 ‎artikel yang dihasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Indonesia mengalami krisis moneter, Bondan diangkat sebagai konsultan untuk Bank Dunia di Jakarta pada 1998-1999. Ia juga mendirikan Komite Kemanusiaan Indonesia dan Masyarakat Transparansi Indonesia. Setelah itu, Bondan menjadi direktur eksekutif sebuah organisasi pelestarian lingkungan hingga 2000. Dua tahun kemudian, ia menjadi salahsatu pendiri Yayasan Keraton Surakarta. Bondan adalah seorang sentanadalem Keraton Surakarta Hadiningrat dengan gelar Kanjeng Pangeran Mangkudiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak karir Bondan sebagai jurnalis adalah pada kurun 2001-2003, di mana ia menjadi Pemimpin Redaksi harian Suara Pembaruan. Setelah masa tugasnya selesai, Bondan memutuskan untuk pensiun, tapi nampaknya ia masih harus disibukkan dengan aktivitasnya di jurnalisme televisi dan di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bondan juga seorang jurnalis investigasi. Pada 1996-1997, ia mengusut skandal cadangan emas di Busang-Kalimantan Timur yang melibatkan perusahaan asal Kanada, Bre-X Mineral. Bondan mencium ada kejanggalan atas kabar kematian Michael de Guzman, geolog asal Filipina. Naluri Bondan bahkan sampai ke taraf pemikiran bahwa ada rekayasa dalam kematian de Guzman itu. Proses investigasi dilakukan intensif selama 2 bulan, mulai mewawancarai narasumber, mengkaji dokumen-dokumen, observasi lapangan di rimba Borneo, hingga penelusuran dari Toronto sampai Manila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Bondan berhasil mengungkap manipulasi cadangan emas untuk mendongkrak saham perusahaan itu. Kendati berbuah ancaman dan gugatan dari mantan Menteri Pertambangan, Ida Bagus Sudjana, dan putranya, Dharma Yoga Sudjana, sebesar 2 triliun rupiah dengan tuduhan pencemaran nama baik, Bondan tetap berteguh atas kebenaran yang diyakininya. Menulislah Bondan di The Asian Wall Street Journal, dan menyusun hasil investigasinya menjadi buku berjudul Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi, terbit 1997 namun baru bisa beredar setelah Orde Baru gulung tikar. Tabloid Kontan juga memberikan penghargaan atas keberhasilannya mengungkap skandal Busang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi investigasi Bondan sebenarnya sudah ditorehkan di kurun 1980-an, ketika ia menyingkap peristiwa tenggelamnya kapal Tampomas II di Selat Makassar. Bondan kemudian menerbitkan hasil telusurannya dengan judul Neraka di Laut Jawa. Jurnalisme investigasi, sebut Bondan, bukan sekadar fashion, melainkan nyawa media masa. Bondan memeringatkan, media yang tidak memunyai kemampuan investigatif bersiap-siaplah tersingkir dari cakrawala media di tanah air. (Iswara N Raditya) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-5331477614361545460?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/5331477614361545460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=5331477614361545460&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5331477614361545460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5331477614361545460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/09/bondan-winarno-kita-kehilangan-budaya.html' title='BONDAN WINARNO, JURNALIS &quot;MAK NYUS!&quot;'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SNEXCpcnT6I/AAAAAAAAAbk/3l4t6DmuKzo/s72-c/BONDANN+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-5391310279252540517</id><published>2008-09-13T02:14:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.821+07:00</updated><title type='text'>KEBESARAN FARID HARDJA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SMrBaQDatnI/AAAAAAAAAbU/IKMBdzUHljs/s1600-h/farid_hardja_02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SMrBaQDatnI/AAAAAAAAAbU/IKMBdzUHljs/s200/farid_hardja_02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245217372756424306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MULANYA&lt;/span&gt; ia muncul berciri khas kepala botak dengan rambut lumayan tebal di sisi atas, kanan, dan kirinya. Kacamata yang dikenakannya diusahakan semirip mungkin dengan Elton John yang sedang jaya-jayanya di perjalanan dekade 1960-an itu. Beberapa tahun kemudian, penampilannya berubah, rambutnya kini menggumpal alias kribo. Metamoforsa itu terus berlanjut hingga akhirnya ia identik sebagai penyanyi tambun dengan pakaian seperti jubah besar bermotif warna-warni, persis seperti beragam jenis musik yang dijajalnya: dari rock n roll, jazz, balada, pop, disko, reggae, hingga dangdut. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musisi bertubuh besar ini memang luarbiasa. Kreativitas dan inovasinya tak pernah mati, produktivitasnya tak perlu diragukan lagi. Ia selalu bisa berkelit dari ketertinggalan zaman, senantiasa bergerak dinamis mengikuti selera penikmat musik tanah air. Si orang besar nan gesit ini nyaris selalu menghasilkan karya saban tahun, sejak album pertamanya rilis pada 1977 hingga pungkasan hidupnya. Sejalan badannya yang tambun, otaknya pun rimbun dijejali banyak ide kreatif untuk tetap bisa bertahan, bahkan meraja. Hebatnya lagi, setiap album yang ia keluarkan selalu menjadi hits dan populer di ranah permusikan Indonesia. Sekali lagi, ia adalah pemusik yang senantiasa berubah, tak canggung untuk selalu bermetamorfosa agar tetap layak jual dan layak dengar. Dialah Farid Hardja yang pernah menjadi raksasa di dalam industri musik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1966, kondisi perpolitikan dalam negeri sedang mencium aroma keguncangan. Masa pancaroba kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto lagi hangat-hangatnya berproses. Di sisi lain, terjangan musik Barat kian merangsek ke dalam rusuk ibu pertiwi. The Beatles salahsatu penyebabnya. Nyaris semua anak band di tanah air tergila-gila pada kepopuleran band asal Liverpool ini. Kedigdayaan Soekarno –yang sangat anti imperialisme, termasuk Inggris dengan The Beatles-nya– mulai meluruh pasca tragedi Gerakan 30 September 1965 dan itu membuka pintu lebar-lebar bagi para musisi pribumi untuk memamah habis arus musik global yang kian menyodok naluri kreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti itu, Farid Hardja keluar dari sarangnya, memulai karirnya sebagai pelaku musik dengan lebih profesional pada kisaran 1966 itu. Di Bandung, Farid bergabung dengan grup De Zieger yang mengusung aliran rock n roll dengan acuan The Rolling Stones. Lama memersiapkan diri untuk berkembang di kota kembang, musisi subur yang kala itu masih berambut kribo tersebut mantap hijrah ke Jakarta. Di ibukota, Farid menjajal kemampuan musikalnya bersama beberapa band rock, sebut saja Cockpit dan Brotherhood pada 1974 serta Brown Bear pada 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sebentar mengadu nasib di Jakarta, pada 1976 Farid memutuskan pulang kampung ke Sukabumi, tempat di mana ia dilahirkan pada 1950. Namun ia hanya tak diam. Farid bersiasat membentuk kelompok yang dominan memainkan musik rock and roll, R &amp;amp; B, serta country. Nama grup ini bercorak lokal, sederhana dan mudah diingat serta jauh tren band-band lokal kala itu yang getol memakai nama asing. Bani Adam, begitulah Farid memberi nama kelompok barunya itu. “Karena kita semua adalah umat Nabi Adam. Sebagai manusia, kita harus paham asal usul kita,” demikian alasan Farid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Bani Adam, karir Farid sebagai pelakon hiburan mulai menggelembung. Tahun 1977, perusahaan rekaman terkemuka Jackson Records &amp;amp; Tapes berkenan mencoba kebolehan Bani Adam dalam bermusik. Meluncurlah album perdana Bani Adam dengan lagu andalan Karmila. Lagu ini segera menjadi primadona dan melesatkan populeritas Farid. Enggan berlama-lama, di tahun yang sama Bani Adam menggelontorkan album kedua dengan judul Special Edition dengan hitsnya Ikan Laut pun Menari di Bawah Lenganmu. Setelah itu laju Farid tak terbendung lagi. Tercatat, dari tahun 1977 hingga 1998, Farid selalu mengeluarkan album –kecuali pada 1989– bahkan ada yang lebih dari satu album di setiap tahunnya. Lagu-lagu Farid banyak yang menjadi hits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada ganjalan. Di masa-masa awal peluncuran albumnya, setidaknya sampai album kedua, Farid sangat kentara mencomot karya milik musisi luar negeri. Intro lagu Karmila, misalnya, ternyata begitu mirip dengan intro lagu kepunyaan grup band Boston yang berjudul Peace of Mind. Sedangkan lagu Ikan Laut di album kedua, Farid dituding menyalin-ulang lagu Lyin’Eyes milik The Eagles. Yang tak berubah adalah corak suara  Farid yang serak-serak berat dan menggelegar. Jenis vokal Farid termasuk langka, jarang dimiliki penyanyi lokal. Menyadari kondisi yang mengancam geraknya, Farid buru-buru menklarifikasi kekeliruannya. “Saya mengakui kesalahan konyol itu, menjiplak lagu milik orang. Tapi saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” janjinya.Ternyata publik memaafkan Farid dan karirnya terus menggelinding nir tanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring penampilan panggungnya yang senantiasa berubah, dalam hal mencipta-karya pun Farid juga tak mau monoton. Ia selalu menggaet musisi berbeda di tiap-tiap albumnya, dari Eddy Manalief, Dodo Zakaria, hingga Lucky Resha. Farid teramat peka dalam membaca selera pasar sehingga musisi yang diajaknya berkolaborasi disesuaikan dengan tren musik pada tiap-tiap tahunnya. Maka tak heran jika lagu-lagu ciptaannya selalu laku di saban waktu. Lagu-lagu seperti Karmila (1977), Bercinta di Udara (1983), Ini Rindu (1992), sampai Partai Sembako (1999), adalah karya abadi Farid yang mewakili era dengan masing-masing selera musiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dilihat dari judulnya, kepekaan Farid terhadap gejala dan fenomena yang sedang dekat dengan masyarakat, teruji mumpuni. Lagu Bercinta di Udara meluncur ketika orang sedang getol berkomunikasi lewat jaringan radio di era 1980-an, atau lagu Partai Sembako sebagai semacam pernyataan sikap Farid atas kondisi perpolitikan yang carut-marut di masa transisi pasca tumbangnya Soeharto dengan menjamurnya munculnya partai-partai politik dan mahalnya harga barang-barang kebutuhan pokok. Masih banyak lagu Farid yang sesuai dengan apa yang sedang terjadi di masa itu, baik lingkup nasional maupun kejadian besar berskala global dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermusik bareng maupun solo bukan masalah bagi Farid. Namun yang paling mengagumkan adalah ketika ia membangun duet –dengan penyanyi dari genre apapun– yang dapat dipastikan terlihat perpaduan harmonis antara Farid dan tandemnya. Berpasangan dengan rocker handal seperti Ahmad Albar atau Gito Rollies, atau ketika berduet dengan biduan pop romantis semisal Euis Darliah atau Endang S Taurian, Farid mampu menempatkan dirinya dengan baik. Bahkan saat didampingi pedangdut macam Anis Marsella atau Mery Andani, juga mencoba ranah baru di aliran pop disko dengan sedikit sentuhan reggae dan rap bersama penyanyi pendatang baru Lucky Resha, lagu-lagu Farid masih tetap digemari. Di sinilah letak kelihaian Farid Hardja sebagai sang penghibur sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya seni suara, di bidang seni peran pun Farid ternyata cukup ulung. Beberapa film layar lebar sempat dicicipinya, sebut saja film Tante Sundari (1977), Bandit Pungli (1977), Sayang Sayangku Sayang (1978), dan Ini Rindu (1991). Dua judul yang disebut terakhir bisa dikatakan film biografi Farid Hardja di mana lagu-lagu ciptaannya juga menjadi salahsatu penghias utama sinema tersebut. Selain sebagai pemeran utama, Farid juga merangkap selaku penata musiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid Hardja menghembuskan nafas penghabisan pada 27 Desember 1998 dalam usia 48 tahun. Hingga di ujung maut pun ternyata sang bintang enerjik ini masih menyisakan tiga album yang belum sempat dirilis namun sudah siap edar. Ketiga album yang memang direncanakan akan diluncurkan pada 1999 tersebut adalah Live Disko (Partai Sembako), Farid &amp;amp; Barbie (Cut Cut Cut), dan Disko Dangdut (Obat Cinta). Seakan tiada kehabisan luapan gagasan, almarhum sebenarnya juga masih memiliki beberapa rencana lainnya, antaralain memproduksi sebuah acara televisi, sejumlah rekaman, dan keinginannya menampilkan karya-karya di atas panggung dalam pagelaran khusus. Memang, pesohor yang satu ini sangat layak diacungi jempol untuk kualitas, produktivitas, dan terutama kreativitasnya di ranah hiburan. (Iswara N Raditya) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-5391310279252540517?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/5391310279252540517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=5391310279252540517&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5391310279252540517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5391310279252540517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/09/kebesaran-farid-hardja.html' title='KEBESARAN FARID HARDJA'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SMrBaQDatnI/AAAAAAAAAbU/IKMBdzUHljs/s72-c/farid_hardja_02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-2035126799707777806</id><published>2008-09-13T01:50:00.002+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.822+07:00</updated><title type='text'>S.T.A</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SMq9g-3PS6I/AAAAAAAAAbM/wRndtOwNPQ0/s1600-h/Sutan_takdir_alisjahbana.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SMq9g-3PS6I/AAAAAAAAAbM/wRndtOwNPQ0/s200/Sutan_takdir_alisjahbana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245213090354514850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SANUSI PANE&lt;/span&gt; berpendapat, keindonesiaan telah ada sejak zaman pra-Indonesia dalam adat dan seni. Sutan Takdir Alisjahbana (STA) berdiri di seberang, berseru memenggal sejarah kebudayaan masa pra-Indonesia. Menurut STA, kebudayaan nasional bukan kelanjutan peninggalan nusantara purba. STA meneriakkan modernisasi ala Barat. STA menganggap budaya pra-Indonesia telah menyebabkan bangsa Indonesia menjadi nista, tidak beradab. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik budaya antara dua seniman besar tersebut terjadi di warsa-warsa terakhir dekade 1930-an. STA bersemboyan, hidup harus selalu berjuang, harus bekerja keras. Tanpa itu, orang tidak akan maju, tak akan bisa menjadi manusia modern. Sedangkan Sanusi Pane lebih mengutamakan ketenangan dan kedamaian. Justru inilah yang oleh STA dianggap melembekkan: semboyan tenang dan damai membelenggu orang menjadi tidak maju. Dalam Pudjangga Baru edisi Agustus-September 1935, STA menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…bahwa dalam kebudayaan Indonesia jang sedang terdjadi sekarang ini akan terdapat sebagian besar elementen Barat, elementen jang dynamisch. Tetapi meski bagaimana sekalipun tidak enak bunjinja semboyan, bahwa kita harus beladjar pada Barat, meski bagaimana sekalipun sedih ahti kita memikirkan hal yang demikian, dalam hal ini rasanja kita tidak dapat memilih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Natal Sumatera Utara, pada 11 Februari 1908. Sekurun 1915-1921, Takdir menyelesaikan studi di Hollandsch-Indlandsche School (HIS) di Bengkulu. Sebelum rampung HIS, tanpa sepengetahuan ayahnya, Takdir mengikuti ujian masuk sekolah guru Kweekschool di Bukittinggi dan lulus. Baru 3 bulan, Takdir pindah ke Lahat, Sumatera Selatan. Tak lama, ia dipindahkan lagi ke Kweekschool Muaraenim. Di situ, Takdir tertarik pergerakan dan membentuk Jong Sumatranen Bond (JIB) cabang Muaraenim. Pada 1925, Takdir dikirim ke Hogere Kweekschool di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir mulai menulis pada usia 13 tahun, sebagian besar dalam bahasa Belanda. Artikel Tani Brieven adalah salahsatu karya perdananya. Di Bandung, ia menggauli Algeemene Studie Club dengan Soekarno sebagai pionirnya. Takdir sempat menulis artikel tentang pendiri Sarekat Ambon, AJ Patty, di majalah Jong Sumatra. Ketika mengarang roman Tak Poetoes Diroendoeng Malang, ibundanya wafat pada 1928, dan membuatnya sangat berduka. Setelah akhirnya kelar, karyanya itu diterbitkan Balai Poestaka pada 1929. Tahun 1932, roman Dian Tak Koenjoeng Padam selesai ditulis. Lajar Terkembang rampung pada 1937 dan Anak Perawan di Sarang Penjamun pada 1940.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus dari Bandung pada 1928, Takdir menjadi guru di Palembang, tapi hanya satu setengah  tahun. Ketika Pandji Poestaka membuka lowongan redaktur, Takdir melamar tapi ditolak. Ia justru diterima di Balai Poestaka sebagai redaktur di bagian buku Melayu. Pada 1929, ia menerbitkan mingguan Semangat Moeda. Takdir pindah ke Batavia pada 1930 untuk mengikuti Hoofdacte Cursus dan menjadi redaktur Pandji Poestaka, menggantikan Adinegoro yang hijrah ke Pewarta Deli di Medan. Takdir juga menjadi koresponden dan kolumnis Pewarta Deli dan Soeara Oemoem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setamat dari Hoofdacte Cursus dan lantas sekolah di Rechts Hogeschool Jakarta, pada Juli 1933 Takdir meluncurkan Pudjangga Baru bersama Armijn Pane –kakak Sanusi Pane- dan Amir Hamzah. Lahirnya majalah ini menjadi penanda hidupnya kesusastraan dan kebudayaan Indonesia modern. Lewat Pudjangga Baru pula, Takdir mengguncangkan sastra Indonesia dengan konsep estetika puisi modern: menolak sastra lama yang usang dan membosankan. Di Pudjangga Baru, Takdir mulai terkenal dengan nama STA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir 1941, STA lulus dari Rechts Hogeschool. Setahun kemudian, Jepang menduduki Indonesia dan membentuk Komisi Bahasa Indonesia pada 20 Oktober 1942, STA duduk sebagai penulis ahli. Pada 1943, STA mendirikan kantor bahasa yang bertugas menyusun, menentukan, serta menyeragamkan istilah-istilah ilmu yang diajarkan di sekolah. Ia juga mengadakan kursus bahasa di luar pengawasan Jepang bersama Poerbatjaraka yang mengajar bahasa Jawa Kuno dan HM Rasjidi pada bahasa Arab. STA sendiri mengampu bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, karangan-karangan STA yang ditulis masa Jepang akhirnya diterbitkan oleh Percetakan Negara, Jakarta Pusat. STA juga merintis penerbitan majalah Pembangoenan. Di waktu yang sama, STA mendirikan percetakan bernama Poestaka Rakjat dan penerbit Kebangsaan Poestaka Rakjat. Pada 22 Desember 1963, Poestaka Rakjat berubah menjadi Dian Rakyat yang bertahan hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pascakemerdekaan tahun 1945, STA membentuk Perkoempoelan Memadjoekan Ilmoe dan Keboedajaan (PMIK) sebagai salahsatu pusat gerakan intelektual. Di kurun itu pula, STA berhasil menerbitkan majalah Memadjukan Ilmu, Teknik, dan Hidup, majalah Pembina Bahasa, juga menghidupkan kembali Pudjangga Baru yang sempat terhenti pada awal pendudukan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga 1949, STA adalah anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan anggota Majelis Konstituante Indonesia mewakili PSI. Ia juga menjadi anggota Parlemen dan KNIP (1945-1949), serta DPRD Jakarta Raya (1950-1960). Saat kasus PRRI/Permesta memanas, STA mengetuai Pengurus Perwakilan Revolusioner Dewan Garuda Sumatera Selatan di Jakarta dan Ketua Dewan Adat Seluruh Sumatera di Padang pada 1957. STA bertanggung jawab atas masalah pendidikan dan kebudayaan. “Semboyan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, sudah terlampau kecil. Perlu diganti dengan satu bumi, satu umat manusia, satu nasib, satu masa depan,” seru STA. “Sekarang ini, semua kebudayaan dunia adalah kebudayaan saya!” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal Orde Baru, STA aktif di lembaga-lembaga budaya, filsafat, dan seni yang dibentuknya. Ia juga menerbitkan majalah Ilmu dan Budaya selain menulis dua jilid Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia sebagai buku resmi pengajaran Bahasa Indonesia. Hingga menjelang hari tuanya, STA berperan dalam perkembangan kebudayaan Indonesia, baik sebagai penulis, seniman, jurnalis, juga akademisi. Ia adalah pendiri Universitas Nasional Jakarta, Guru Besar dan pengajar di Universitas Malaya Malaysia, Universitas Andalas Padang, serta Akademi Jurnalistik Jakarta. STA meraih gelar Mr dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), Dr Honoris Causa dari Universitas Indonesia (1979) dan Universiti Sains Penang Malaysia (1987).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STA wafat di Jakarta dalam usia 86 tahun pada 17 Juli 1994 karena sakit jantung. “Saya lahir tanpa saya minta. Jika tiba-tiba saya mati, saya pun tak menyesali atau protes. Sebelum ada saya, kehidupan ini dan abad ini sudah ada. Begitu pula setelah saya mati, kehidupan akan berjalan terus,” ucap sang pujangga suatu kali. (Iswara NR) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-2035126799707777806?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/2035126799707777806/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=2035126799707777806&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2035126799707777806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2035126799707777806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/09/sta.html' title='S.T.A'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SMq9g-3PS6I/AAAAAAAAAbM/wRndtOwNPQ0/s72-c/Sutan_takdir_alisjahbana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-858021898226987282</id><published>2008-05-21T13:20:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T23:09:12.036+07:00</updated><title type='text'>DARI KATOLIK UNTUK INDONESIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SDPDy-fhLaI/AAAAAAAAAa8/Z1Umi7gqOLU/s1600-h/HIDUP_1978.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SDPDy-fhLaI/AAAAAAAAAa8/Z1Umi7gqOLU/s200/HIDUP_1978.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202717275079126434" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAJALAH &lt;/span&gt;Hidup edisi 17 September 1978 mewartakan sukacita: Kardinal Albino Luciani dari Venezia terpilih sebagai Paus ke-263 menduduki Tahta Suci di Vatikan. Terpilih 26 Agustus 1978, beliau dilantik pada 3 September 1978 dalam Misa Penobatan di Lapangan Basilika Santo Petrus Roma. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kata sambutannya saat dinobatkan, Paus Yohanes Paulus I mengatakan, “Kami memulai jabatan ini dengan mengarahkan pikiran kami dalam doa dan bakti kepada Allah mahakuasa dan kekal.” Ucapan selamat pun mengalir deras. Tak hanya dari bangsa-bangsa Nasrani di Eropa Barat dan Amerika, melainkan juga datang dari negeri-negeri komunis di Eropa Timur bahkan dari sudut-sudut benua Afrika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai sebulan kemudian, majalah Hidup tanggal 8 Oktober 1978 memuat lelayu: Bapak Suci Paulus Yohanes I telah meninggaldunia akibat serangan jantung selagi tidur, di kediamannya di Vatikan, pada 29 September 1978. Baru pada 34 hari yang lalu, beliau terpilih sebagai Kepala Gereja Katolik Roma. Paus Yohanes Paulus I yang berusia 65 tahun itu terbilang Paus yang paling singkat masa jabatannya di dalam sejarah Gereja Katolik Roma. Ucapan turut berbelasungkawa pun datang dari seluruh penjuru semesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di edisi-edisi selanjutnya hingga menjelang Natal tahun 1978, Hidup dengan intens menurunkan info-info perkembangan seputar Vatikan sepeninggal Paus. Dari kondisi setelah ditinggalkan pemimpinnya, prosesi mencari dan memilih pengganti, hingga pelantikan Paus yang baru. Yang terpilih sebagai penerus Paus Yohanes Paulus I adalah Karol Józef Wojtyła, merupakan Paus pertama yang berasal dari luar Italia setelah Paus Adrianus VI, kelahiran Belanda, yang sempat menjabat pada 1522-1523. Wojtyla, yang berasal Polandia, bergelar Paus Yohanes Paulus II. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan media-media umat Nasrani, majalah Hidup paling menjulang namanya. Ia hidup sesaat setelah Indonesia menetas, terbit perdana pada 1946. Awalnya, nama majalah yang masih berbahasa Belanda itu De Katholieke Week, kemudian berubah menjadi Het Katholieke Leven pada 1948. Setelah Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan penuh, majalah ini pun menyambutnya dengan mengganti nama dengan bahasa anak negeri. Jadilah, sejak 1958, namanya menjadi Hidup Katolik. Seiring pergantian kekuasaan di tanah air, pada 1971, di bawah naungan Yayasan Hidup Katolik, majalah yang berkala mingguan ini berganti nama lagi, kali cukup Hidup saja. Tahun inilah yang dianut sebagai angka waktu resmi kemunculan majalah Hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jargon “Dari Katolik untuk Indonesia”, majalah Hidup kala itu terbit dengan mengantongi ijin Keputusan Penguasa Perang Daerah No. Kep. 022/P/X/1965. Hidup digawangi oleh para agamawan dengan menempatkan P. Subroto Widjojo SJ sebagai pemimpin umum dan Edm Monteiro selaku pemimpin redaksi/penanggungjawab harian. Sedangkan di jajaran staf redaksi terdapat Karl Beru dan HJ Soekarjono. Alamat kantornya adalah di Jalan Katedral 5 Jakarta, namun jika hendak berkirim surat, silahkan dialamatkan ke Kotakpos 2197, Jakarta. Dicetak oleh PT Gramedia Jakarta, harga langganannya kala itu adalah 400 rupiah/bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilan layout dan cover muka mingguan Hidup cukup sederhana namun cantik. Rubrikasinya pun menarik. Di halaman awal, termuat dua sub rubrik tetap. Pertama, Redaksi Menulis yang berisikan sikap redaksi menyikapi isu-isu penting yang diulas dalam rubrik utama. Kedua adalah Renungan, semacam editorial yang disajikan dengan gaya yang bijak berbalut religius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rubrik utama yang diangkat Hidup biasanya adalah peristiwa aktual yang berhubungan dengan kehidupan Katolik, baik dari domestik maupun internasional. Namun bisa juga hal-hal menarik lainnya yang dirasa perlu untuk dikupas. Semisal pada edisi 12 November 1978, Hidup mengangkat tema utama yang cukup menggugah dengan judul “Ateisme di Kalangan Umat Katolik”. Dalam mukadimah tulisan itu, Ign Madya Utama selaku penulisnya menanyakan, “Mungkinkah orang yang beragama sekaligus bisa menjadi seorang ateis? Mungkinkah seorang Katolik yang begitu rajin beribadat, sekaligus menolak Allah yang disembahnya?” Selanjutnya dikupas perihal ateis serta dikaitkan dengan ajaran Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap berteguh dalam ranah media kerohanian, coba simak apa kata Hidup tentang perayaan Natal, seperti termaktub pada edisi 24 Desember 1978: “Natal merupakan pesta perayaan pun pula merupakan ungkapan untuk memahami suatu misteri... Misteri Natal adalah: Tuhan mencintai dan mendatangi umat-Nya dalam Yesus.” Namun, Hidup sering  &lt;br /&gt;pula mengulas sajian utama yang berkaitan dengan situasi nasional, semisal dalamrangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia (edisi Agustus 1978), serta ulasan tentang tahanan politik yang terlibat Gerakan 30 September 1965 (edisi September 1978).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Hidup menyajikan 20 halaman, dengan 2-4 halaman untuk rubrik utama. Setelahnya, ada rubrik-rubrik lain yang hadir secara tetap atau bergantian. Rubrik Warta Berita menampilkan info-info singkat dari mancanegara, Berita Indonesia memainkan perannya sebagai rubrik informasi dari tanah air, ada juga Kronik sebagai pencatat kejadian-kejadian penting dari seluruh dunia. Selain itu, pada 1978, masih terdapat pula rubrik konsultasi: Kontak Ibu Haryanto, Kotakpos 2197, Apa Benar?, Ruang Tunas Muda, serta Tanya Jawab yang diasuh J Kiswara SJ. Ada juga opini, profil, karya Kepausan, serta ruang sastra dan terkadang menyelipkan lampiran undang-undang pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh melampaui waktu, persis ketika tumbangnya rezim Soeharto pada 1998 yang menyisakan banyak tragedi, majalah Hidup edisi 9 November 1998 mendukung perjuangan mahasiswa. Lewat pernyataan dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang ditandatangani oleh Mgr Josef Suwatan MSc, kepada para mahasiswa diserukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teruskan perjuangan demi cita-cita kejujuran dan keadilan. Kami mengucapkan belasungkawa atas kematian sahabat-sahabat Anda. Gugurnya sahabat-sahabat Anda yang membuat kita semua bersedih, semoga menjadi kekuatan untuk memperjuangkan cita-cita mereka tanpa pamrih, tanpa kekerasan, tanpa balas dendam, demi tanah air kita tercinta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SDPD_-fhLbI/AAAAAAAAAbE/QNBQpwVZsNs/s1600-h/HIDUP_2003.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SDPD_-fhLbI/AAAAAAAAAbE/QNBQpwVZsNs/s200/HIDUP_2003.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202717498417425842" /&gt;&lt;/a&gt; Majalah Hidup tetap konsisten sebagai organ kaum pastoral kendati melewati banyak jaman. Pada edisi 2 April 2000, misalnya, Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, mengajak umat Katolik untuk menghadirkan persaudaraan sejati yang terbuka, simpatik, dan membawa pelayanan kasih. Seiring masa, Majalah Hidup kemudian diterbitkan Keuskupan Agung Jakarta yang beralamat di Jalan Kebon Jeruk Raya 85 Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2005, bertepatan dengan peringatan Hari Komunikasi Sosial Se-Dunia, majalah Hidup melakukan re-launching untuk memberi warna baru serta menyegarkan kembali dan mengingatkan komitmen majalah ini sebagai “Mingguan Umat Beriman”, juga sebagai bentuk dinamis perubahan jaman modern dengan pendalaman arah redaksional yang beradaptasi dengan keinginan pembacanya. Acara yang diselenggarakan pada 8 Mei 2005 di Hotel Santika Slipi, Jakarta, itu diawali misa konselebrasi bersama Pemimpin Redaksi Hidup, Rm Greg Soetomo SJ, juga Mgr Datus Lega Pr (Ketua Kantor Komisi Komunikasi KWI) dan Rm BS Mardiatmadja SJ, Vikalis Epistolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai namanya, mingguan Hidup masih tetap hidup hingga kini. Pertengahan terakhir tahun 2007, majalah ini getol mengupas tentang sepakterjang Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM). Dalam edisi 29 Juli 2007 ditulis bahwa KTM merupakan sekelompok umat yang bersama-sama ingin mencapai tujuan hidup Kristiani dan berkembang secara maksimal. Sementara itu, memulai 2008, majalah Hidup tanggal 20 Januari 2008 menampilkan salahsatu berita menarik, yakni bahwa Tony Blair, mantan Perdana Menteri Australia, masuk menjadi penganut Katolik mengikuti iman istrinya yang adalah seorang Katolik Roma. Salut untuk Hidup dan semoga tetap selalu hidup seiring dinamisasi jaman. (Iswara N Raditya) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-858021898226987282?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/858021898226987282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=858021898226987282&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/858021898226987282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/858021898226987282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/05/dari-katolik-untuk-indonesia.html' title='DARI KATOLIK UNTUK INDONESIA'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SDPDy-fhLaI/AAAAAAAAAa8/Z1Umi7gqOLU/s72-c/HIDUP_1978.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-4795658532872060490</id><published>2008-05-15T08:11:00.012+07:00</published><updated>2008-11-19T13:30:06.473+07:00</updated><title type='text'>MENEBAK ALUR PESONA DAN BROWN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SCuQqufhLUI/AAAAAAAAAaM/qiAAnCP_KdE/s1600-h/Dan_Brown_TN.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 166px; height: 230px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SCuQqufhLUI/AAAAAAAAAaM/qiAAnCP_KdE/s320/Dan_Brown_TN.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200409258438503746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MEMUKAU&lt;/span&gt;, membikin adrenalin berdetak kencang, menjadi khas Dan Brown. Ketegangan itu, misalnya, terbaca dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Da Vinci Code&lt;/span&gt;, ketika  ahli simbologi Robert Langdon menelisik misteri Cawan Suci Maria Magdalena yang menjadi ketabuan di dalam Kristen. Atau sebelumnya, dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Malaikat dan Iblis, &lt;/span&gt;saat Langdon mesti berpacu menjinakkan bom waktu demi keselamatan Vatikan dan berhadapan dengan mitos kelompok persaudaraan yang lama dianggap mati, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Illuminati.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sementara itu, sebuah kode yang tak terpecahkan mengancam eksistensi NSA (National Security Agency) dan mengguncang lembaga intelijen yang dilindungi pemerintah Amerika Serikat tersebut menjadi inti kasus dari novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Benteng Digital&lt;/span&gt;. Sedangkan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Titik Muslihat&lt;/span&gt;, Brown mengulik-ulik ilmu pengetahuan dengan politik pemerintahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nyaris da&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ri keempat novelnya itu, Dan Brown membuat pembacanya berlari&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; dan berpikir cepat, dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ending &lt;/span&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;angat tak terduga. Br&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;own seolah mengajak para penikmat &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;bukunya bermain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;puzzle&lt;/span&gt;, d&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;engan&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; alur cerita &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;yang melompat-lompat dari satu tokoh dengan di&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;selingi tokoh lain dalam setiap jalan ceritanya. Bab-babnya, kendati dengan alur yang cenderung maju meski t&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;erkadang sedikit mundur sebagai &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;analisis sejarah u&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ntuk mengingatkan, disusun acak dengan berbagai sudut&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; pandang yang berbeda serta berdurasi singkat. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun itulah yang membuat pembaca gemas karena &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;di setiap akhir bab pasti ada sesuatu yang membikin penasaran. Masuk ke bab selanjutnya, &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;cerita berganti &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;setting –tokoh, persoalan, tempat, bahkan &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;waktu– sehingga imajinas&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;i pembaca &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dibuat pontang-panting namun tetap harus mem&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ertahankan ingatannya dari kasus ke kasus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SCuSmufhLZI/AAAAAAAAAa0/R5YAHjOOnEw/s1600-h/dan-brown+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 185px; height: 308px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SCuSmufhLZI/AAAAAAAAAa0/R5YAHjOOnEw/s200/dan-brown+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200411388742282642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain itu&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Brown, kelahiran New &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hampshire, Amerika Serikat, pada&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 22 Juni 1964, t&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;erlihat sangat menguasai ranah-ranah keilmuan yang menjadi kajian novel-novelnya. Betapa men&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;cengangkan ketika Brown dengan detail menceritakan seluk-beluk negara Vatikan dengan segala yang ada di dalamnya melalui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Malaikat dan Iblis. &lt;/span&gt;Dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Da Vinci Code, &lt;/span&gt;Brown mengisahkan sejarah pergolakan dalam Kristen, antaralain tentang Tentara Templar dan jaringan Biarawan Sion. Juga ketika lulusan Universitas Amherst dan Akademi Phillips Exeter ini dengan fasih mengulas teknologi komputer intelijen mutakhir dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Benteng Digital&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun,  ibarat pepatah “tak ada gading yang tak retak”, siasat cerdas Dan Brown bukan tanpa cela. Dengan merunut dan menekuni gaya bermain Brown dalam setiap karyanya, lambat-laun pembaca bisa jadi akan dapat dengan cepat menebak akhir ceritanya. Tatanan “yang paling tidak mencurigakan adalah pelakunya” yang kemudian menjadi latah justru menjadi titik lemah dari strategi Brown. Memang, dalam proses menuju puncak, tulisan Brown masih sangat seru dan bermutu, namun pembaca yang jeli akan dengan cepat memungkasi kisah sebelum benar-benar usai. (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JemariDewa&lt;/span&gt;) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-4795658532872060490?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/4795658532872060490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=4795658532872060490&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/4795658532872060490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/4795658532872060490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/05/menebak-alur-pesona-dan-brown.html' title='MENEBAK ALUR PESONA DAN BROWN'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/SCuQqufhLUI/AAAAAAAAAaM/qiAAnCP_KdE/s72-c/Dan_Brown_TN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-2302102034540774230</id><published>2008-03-22T22:57:00.017+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.822+07:00</updated><title type='text'>MENDOER, DINASTI  PENGABADI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; ALEX MENDOER&lt;/span&gt; mengutak-atik kamera Leica kesayangannya. Tampaknya ada sedikit masalah, namun bukan hal yang terlalu merepotkan. Di sudut lain, Frans Mendoer, adik Alex, malah sudah siaga sedari tadi, siap membidikkan lensa untuk merekam momen sakral yang lama dinanti rakyat Indonesia selama ratusan tahun. Pagi itu adalah tanggal 17 Agustus 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tugas akhirnya purna ditunaikan. Kedua Mendoer tersenyum puas. Namun bibir keduanya mendadak mengatup. Tentara Jepang datang! Saking kagetnya, Alex tiada berdaya ketika tustel beserta isi filmnya direbut paksa. Untung Frans lebih beruntung. Saat Nippon lengah, bergegas ditanamnya rol film berisi hasil jepretan tadi. Amanlah sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang tentu saja murka, tapi Frans dan Alex lolos dari hukuman. Setelah memungkinkan, diambillah film yang dikubur tadi, segera dicetak dan diperbanyak. Hasilnya, ada tiga gambar yang berhasil mengabadi: Bung Karno membacakan teks proklamasi, sebagian foto hadirin, serta pengibaran Sang Merah Putih. Semua bersyukur. Tanpa Mendoer, bangsa Indonesia tak akan punya dokumentasi terpenting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendoer bersaudara bekerja di kantor berita Domei. Setelah Indonesia merdeka, keduanya mendirikan Indonesia Press Photo Services (IPPHOS) bersama beberapa rekan lain pada 2 Oktober 1946. Tahun 1953, Piet  Mendoer, keponakan Alex dan Frans, bergabung. Anggota dinasti Mendoer lainnya, Meiti Mendoer, masuk tak lama kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tangan keluarga Mendoer, banyak peristiwa berhasil diabadikan, semisal perjuangan republik pada masa Agresi Militer Belanda II 1949 atau ketika Indonesia memperjuangkan Irian Barat pada 1962. Ada juga potret orang-orang Indo bekas tawanan Jepang yang akan dipulangkan ke Eropa. Lewat karya visual Mendoer pula, terekamlah kegiatan para founding father dan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan. Lihatlah potret santai Soekarno yang sedang asyik mengamati sopirnya mereparasi mobil. Juga mimik mantan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, di atas gerbong kereta yang mengantarnya menuju hukuman eksekusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexius Impurung Mendoer lahir pada 1907, sedangkan adiknya, Frans Soemarto Mendoer, menyusul pada 1913. Keluarga Mendoer merupakan putera daerah Kawangkoan, Manado, Sulawesi Selatan. Alex pernah bekerja di beberapa suratkabar kolonial, termasuk menjadi juru foto Java Bode. Frans belajar fotografi pada sang kakak. Pada 1935, Frans bernaung di keredaksian Wereld Nieuws en Sport in Beeld. Setelah Jepang kalah, Frans memelopori perebutan percetakan itu bersama BM Diah. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R-VJRFp0BSI/AAAAAAAAAaE/4FPrFBhLR9s/s1600-h/IPPHOS-pendiri.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 296px; height: 473px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R-VJRFp0BSI/AAAAAAAAAaE/4FPrFBhLR9s/s400/IPPHOS-pendiri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5180627504283780386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa revolusi fisik, ketika ibukota RI terpaksa beringsut ke Yogyakarta pada 1946, kedua Mendoer berbagi tugas. Alex bertahan di Jakarta, mengurusi kantor pusat IPPHOS, sedangkan Frans hijrah ke Yogyakarta mengikuti arus perpolitikan dengan memimpin kantor cabang di kota perjuangan itu. Di Jakarta, Alex merekam suasana Jakarta pada masa mencekam itu, seperti potret heroik semboyan “Merdeka atau Mati” yang tercoret di dinding-dinding kota juga di gerbong-gerbong trem listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di Yogyakarta, Frans juga beraksi. Hasil jepretan Frans, yang dikenal gesit, pemberani, dan merakyat, tentang aksi perang dan kehidupan rakyat di tengah tekanan Belanda, menjadi kartu sakti perjuangan RI di forum internasional. Salahsatu karya monumental Frans adalah ketika memotret penyambutan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Dengan setting lokasi di ujung jalan Malioboro, terekamlah foto Letkol Soeharto bersama Rosihan Anwar yang menjemput Jenderal Soedirman di Stasiun Tugu atas perintah Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau, keluarga Mendoer bisa lebih terjamin hidupnya dengan bekerja untuk media luar negeri. Hal itu sangat gampang mengingat pengalaman mereka yang sudah sangat mumpuni. Selain itu, Alex dan Frans sering pula meliput kondisi pergerakan kebangsaan di tiap negara di Asia yang disorot publik dunia, memungkinkan peran mereka sebenarnya dibutuhkan juga oleh pihak asing. Namun, atas nama bangsa, keluarga Mendoer tetap bersetia dalam pangkuan ibu pertiwi Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sakit yang dideritanya, Frans Mendoer, akhirnya menghembuskan nafas penghabisan di Jakarta pada 24 April 1971. “Tidak banyak wartawan yang mengantar jenazah Frans Mendoer ke makamnya,” tulis harian Pedoman. “Terlepas dari segala-galanya, dia berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan,” demikian suratkabar Merdeka mencatat, yang oleh Soebagijo IN ditambahkan, “Meskipun begitu besar jasanya, namun dia kebetulan dianggap tidak punya syarat untuk dimakamkan di Kalibata.” Akhir riwayat yang tragis lagi ironis. Sedangkan sang kakak, Alex Mendoer, wafat pada 1984 (Iswara NR/Indonesiabuku). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-2302102034540774230?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/2302102034540774230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=2302102034540774230&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2302102034540774230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2302102034540774230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/03/mendoer-pengabadi-negeri.html' title='MENDOER, DINASTI  PENGABADI'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R-VJRFp0BSI/AAAAAAAAAaE/4FPrFBhLR9s/s72-c/IPPHOS-pendiri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-1957583928838487422</id><published>2008-03-21T11:16:00.004+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:03.440+07:00</updated><title type='text'>KILAS KRONIK FEBRUARI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FEBRUARI &lt;/span&gt;adalah bulan kedua tahun dalam Kalender Gregorius. Kata ini diambil dari dari bahasa Latin, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Februus, &lt;/span&gt;yang berarti dewa penyucian. Februari merupakan bulan istimewa sebab panjangnya bisa 28 atau 29 hari, pada Tahun &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kabisat. &lt;/span&gt;29 Februari adalah hari ekstra yang ditambah pada akhir bulan Februari pada setiap tahun kabisat. 29 Februari adalah hari ke-60 di tahun kabisat dalam kalender Gregorian.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 Februari 1780, &lt;/span&gt;Graaf van den Bosch, Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode1830- 1834, dilahirkan; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2 Februari 1950, &lt;/span&gt;Universitas Indonesia (UI) secara resmi memulai kegiatannya; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3 Februari 1948, &lt;/span&gt;hari kelahiran Carlos Filipe Ximenes Belo, uskup Gereja Katolik di Timor Timur, pemenang Penghargaan Perdamaian Nobel; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4 Februari 1859, &lt;/span&gt;Constantin von Tischendorf menemukan Codex Sinaiticus, sebuah manuskrip Perjanjian Lama abad ke-4, di dalam sebuah biara pada kaki Gunung Sinai, Mesir; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5 Februari 1933, &lt;/span&gt;Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi (Zeven Provinciën); &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6 Februari 1819, &lt;/span&gt;Sir Thomas Stamford Raffles mendirikan Singapura; 7 Februari 1992, Uni Eropa didirikan; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8 Februari 1942, &lt;/span&gt;kota Banjarmasin dibumihanguskan oleh AVC (Algemene Vernielings Corps); &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9 Februari 1997, &lt;/span&gt;The Simpsons melewati The Flintstones sebagai serial animasi prime-time dengan masa pemutaran terlama; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10 Februari 1931, &lt;/span&gt;New Delhi menjadi ibukota India;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11 Februari 1899, &lt;/span&gt;Teuku Umar, pahlawan nasional dari Aceh, meninggaldunia; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;12 Februari 1804, &lt;/span&gt;filosof Jerman, Immanuel Kant, wafat di Königsberg; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;13 Februari 1755, &lt;/span&gt;Perjanjian Giyanti ditandatangani; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;14 Februari 1944, &lt;/span&gt;pemberontakan antiJepang di Jawa; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;15 Februari 1564, &lt;/span&gt;Galileo Galilei, astronom Italia, lahir di Pisa; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;16 Februari 1937, &lt;/span&gt;Paku Alam VII meninggal dunia dalam usia 54 tahun; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;17 Februari 1929, &lt;/span&gt;Jong Sumatranen Bond mengubah namanya menjadi Pemoeda Soematera dengan Mohammad Jamin sebagai ketuanya; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;18 Februari 2005, &lt;/span&gt;dua wartawan MetroTV, Meutya Hafid dan juru kamera Budiyanto diculik dan disandera oleh sekelompok pria bersenjata ketika sedang bertugas di Irak; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;19 Februari 1473, &lt;/span&gt;hari kelahiran Nicolaus Copernicus, astronom Polandia; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;20 Februari 1992, &lt;/span&gt;Liga Utama Inggris dibentuk dan menjadi liga sepak bola profesional di Inggris mulai musim 1992-1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;21 Februari 1848, &lt;/span&gt;Manifesto Komunis karya Karl Marx dan Friedrich Engels diterbitkan untuk pertama kalinya; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;22 Februari 1958, &lt;/span&gt;Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser dan Presiden Suriah Shukri Al-Quwatli menandatangani pakta persatuan yang membentuk Republik Arab Bersatu; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;23 Februari 1934, &lt;/span&gt;K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, meninggaldunia; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;24 Februari 1946, &lt;/span&gt;Juan Perón terpilih sebagai presiden Argentina; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;25 Februari 1926, &lt;/span&gt;Datoek Penghoeloe Adam di Padang dijatuhi hukuman 1 bulan penjara atas dakwaan sumpah palsu; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;26 Februari 1797, &lt;/span&gt;Bank of England menerbitkan uang kertas satu pound pertama; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;27 Februari 1928, &lt;/span&gt;Ariel Sharon, Perdana Menteri Israel, dilahirkan; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;28 Februari 1911, &lt;/span&gt;Syafruddin Prawiranegara, presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), dilahirkan; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;29 Februari 1936, &lt;/span&gt;hari kelahiran Nh Dini, sastrawan dan novelis Indonesia, di Semarang. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-1957583928838487422?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/1957583928838487422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=1957583928838487422&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1957583928838487422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1957583928838487422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/03/kilas-kronik-februari.html' title='KILAS KRONIK FEBRUARI'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-3902044534784794492</id><published>2008-03-16T14:25:00.013+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:03.440+07:00</updated><title type='text'>NASIONALISME MARET</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MARET BAGI&lt;/span&gt; sebagian orang tua Indonesia mungkin menjadi bulan yang monumental dan meninggalkan kenangan yang cukup heroik. 57 tahun lalu, tepat di awal bulan ini, terjadi sebuah peristiwa besar yang kelak akan menjelma menjadi salah satu babak pokok dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia: Serangan Umum Satu Maret 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R9zWmB52nMI/AAAAAAAAAZc/rHeayo1X5Ek/s1600-h/merdeka.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R9zWmB52nMI/AAAAAAAAAZc/rHeayo1X5Ek/s400/merdeka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178249620403690690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung tahun 1948, Yogyakarta terperangah. Pasukan Belanda sekonyong-konyong memasuki Maguwo.  Hujan peluru pun bermuntahan dari mulut pesawat-pesawat tempur dan meluluh-lantakkan lapangan terbang yang juga menjadi pintu gerbang timur kota itu. Pertempuran tak seimbang pun terjadi. Tentara Belanda dengan cepat memasuki jantung kota. Yogya memerah berdarah. Peristiwa inilah yang dalam sejarah tercatat sebagai Agresi Militer Belanda II atau Clash II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agresi Militer Belanda II terjadi antara Desember 1948 hingga sekitar bulan Juni 1949. Dalam kurun waktu tersebut, terjadi banyak perlawanan bersenjata yang dilakukan TNI, Tentara Pelajar, Tentara Rakyat, juga berbagai elemen perjuangan lain yang ada di Yogyakarta.  Ada satu dari sekian banyak serangan yang dilakukan republik yang kemudian menjadi simbol (masih) berdayanya TNI untuk mempertahankan kemerdekaan, yaitu Serangan Umum Satu Maret 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini bukan serangan umum ini yang akan kita perbincangkan. Selain karena sudah terlalu umum dan kerap dibahas, tetapi juga karena serangan ini masih menjadi kontroversi. Teki-teki mengenai siapa sejatinya pencetus serangan besar-besaran ini masih menjadi bagian dari wilayah abu-abu sejarah nasional Indonesia. Ihwal yang akan coba kita cermati kali ini adalah soal nasionalisme rakyat Indonesia yang “tiba-tiba” muncul dan menggurita sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya yang kemudian timbul adalah, apakah perlawanan rakyat, sebagai wujud nasionalisme, yang begitu menggelora itu benar-benar tulus, ataukah ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi? Faktor lain yang dimaksud di sini adalah hal-hal di luar rasa cinta tanah air yang kemudian ikut menjadi penentu turut sertanya masyarakat angkat senjata melawan pasukan Belanda yang jelas-jelas lebih maju. Jika dikritisi lebih jauh, ternyata faktor-faktor lain ini memang ada dan masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba simak pemikiran Emile Durkheim (1858-1917), teoritikus besar Prancis, tentang teori konsensus. Di dalamnya termuat konsep kesadaran kolektif. Menurut Durkheim, kesadaran kolektif (kebersamaan) timbul karena adanya perasaan senasib dan kepercayaan yang sama di suatu komunitas.  Ini sangat ampuh untuk mengalahkan kepentingan individual. Situasi yang terbangun akan membentuk suatu sistem sosial dan memungkinkan mereka untuk merasa satu dalam sebuah kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia, yang telah sekian lama hidup sengsara di bawah belenggu penjajahan, juga mengalami kondisi kesadaran kolektif, di mana terpupuknya semangat juang serta eratnya perasaan senasib terjalin akibat derita penjajahan. Apalagi bangsa ini sudah mengalami momen puncak dalam perjuangannya dengan maklumat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945. Maka itu, sangat wajar apabila rakyat Indonesia, termasuk TNI dan laskar-laskar perjuangan lainnya, bersepakat untuk mempertahankan kedaulatan yang telah diraih sebelumnya. Inilah yang kita sebut dengan nasionalisme akibat perasaan senasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan juga gagasan Adam Smith mengenai teori sistem sosial, yang menegaskan bahwa masyarakat, sebagaimana juga individu, ibarat sebuah mesin, yang bekerja bukan karena maksud-maksud manusianya. Manusia lebih mengarah kepada kebersamaan yang menciptakan suatu “mesin raksasa” sebagai penggerak di sebuah negara. Maksudnya, bahwa satu individu tidak akan banyak berguna dibandingkan dengan kesatuan individu yang telah terbentuk menjadi sebuah “mesin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks ini, rakyat Indonesia pun dapat dianalogikan sebagai “mesin raksasa” ala Adam Smith itu. Kesadaran rakyat Indonesia, terlebih individu-individunya, untuk bergerak melawan Belanda ternyata bukan menjadi faktor utama. Konspirasi dan rekayasa tingkat tinggi ternyata telah merangsang rakyat untuk “terpaksa” ikut berperang bersama TNI.  Padahal, rakyat sejatinya adalah kaum sipil yang semestinya harus dilindungi keselamatannya, bukannya dijadikan tentara karbitan untuk ikut berperang karena memang rakyat biasa tidak pernah mendapat ilmu kemiliteran seperti halnya tentara pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus konspirasi kelas kakap ini juga pernah terjadi di Jerman pada masa Adolf Hitler yang terkenal itu. Kala itu Jerman sedang gencar-gencarnya berselisih dengan Sekutu dan Rusia. Hitler pun sibuk membakar nasionalisme rakyatnya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan dibentuknya barisan tentara yang terdiri dari para anak muda yang sangat militan. Militansi kaum muda Jerman ini dikarenakan kefanatikan mereka pada sosok Hitler yang begitu kharismatik pada saat itu. The Young Gun’s ini sangat loyal kepada Hitler dan rela mati demi negara meski tanpa dibekali ilmu perang yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik tentara rakyat Indonesia pada masa Clash Belanda II maupun pasukan belia Jerman di era Adolf Hitler merupakan contoh nyata “korban” nasionalisme yang dibentuk oleh unsur politik. Kedua-duanya tidak sadar akan hal ini, serta kemudian dengan gagah berani ikut mengangkat senjata dan mempertaruhkan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa sekarang, nasionalisme bangsa Indonesia nyaris tak terlihat lagi. Rasa kebangsaan itu baru muncul ketika ada momen-momen tertentu, misalnya pada waktu perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus. Atau saat menonton pertandingan olah raga yang mempertandingkan tim Indonesia melawan tim dari luar negeri. Nasionalisme yang lebih heroik   -ini juga bermuatan konspirasi politik- pun akan muncul ketika ada permasalahan yang menyangkut harga diri bangsa, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu ketika Indonesia bersengketa dengan Malaysia mengenai status Pulau Ambalat. Sedangkan di dalam kesehariannya, rasa cinta tanah air itu masih terendap dan praktis tidak pernah membumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa yang sempat berperadaban gemilang, juga pernah berdarah-darah melewati tahapan sejarah hingga lahirnya negara Indonesia yang berdaulat, patutkah rasa nasionalisme kita terkikis hingga nyaris habis? Atau apakah rasa kebangsaan kita baru muncul ketika terdesak oleh kondisi-kondisi tertentu seperti yang dirumuskan Emile Durkheim dan Adam Smith? Sungguh ironis jika memang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekayaan sejarah yang cukup membanggakan itu seharusnya kita dengan bijak bisa menunjukkan rasa nasionalisme kita di setiap saat, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Alih-alih berbangga hati menjadi seorang Indonesia, sampai detik ini kita malah asyik merahapi budaya asing. Arus besar yang sebagian besar dianut bangsa ini masih mengagungkan gaya hidup dan produk-produk manca yang dianggap sebagai pusat keberadaban dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah Jepang. Kebudayaan dan harga diri mereka pernah mengalami masa-masa sulit saat jatuhnya rezim Tokugawa di tahun 1868 hingga Restorasi Meiji, yang menjadi awal masuknya modernisasi Barat ke Jepang. Tanah Sakura juga pernah hancur lebur lahir batin akibat dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II (1945).  Meski demikian, itu semua tidak lantas membuat rasa nasionalisme bangsa Jepang luntur. Pengalaman pahit itu malah menjadikan pelecut bagi orang Jepang untuk semakin bangga menjadi orang Jepang. Hasilnya, hingga kini Jepang masih tercatat sebagai negara maju yang sangat menghargai tradisi bangsanya, baik itu soal adat, budaya, bahasa, perilaku, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah juga Amerika Serikat (AS). Mula sejarahnya, wilayah AS hanyalah tempat pelarian orang-orang Inggris dan Eropa. Mereka ini migrasi ke “dunia baru” itu disebabkan oleh banyak hal: ekonomi, idealisme, politik, hingga soal kebebasan beragama. Pada akhirnya, kaum diaspora ini bersepakat mendirikan negara Amerika Serikat melalui prosesi revolusi untuk lepas dari cengkeraman Inggris sebagai negara induk. Bahkan, mereka memiliki jargon kebangsaan “America for American’s”, bahwa “Amerika hanya untuk orang-orang Amerika.” Hasilnya, AS menjelma dari negeri pelarian menjadi negeri paling adikuasa sejagad, bahkan lebih digdaya daripada Inggris dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal nasionalisme, kita boleh mencontoh Jepang atau Amerika Serikat. Bangsa Indonesia memiliki sejarah nenek moyang yang tak kalah mahsyur dan beradab dengan leluhur orang Jepang. Jika bangsa Matahari Terbit cukup jumawa karena pernah memiliki sederet era pemerintahan yang cukup solid dari rezim Kamakura, Muromachi, Momoyama, Tokugawa, sampai Meiji, Nusantara pun bisa menepuk dada karena kita juga pernah punya Sriwijaya, Kediri, Majapahit, Demak, hingga Mataram Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia lebih heroik dan melelahkan daripada revolusi kemerdekaan Amerika. Negeri Paman Sam memang bisa tersenyum lebar karena mereka pernah memiliki tokoh-tokoh revolusi ulung seperti George Washington, Thomas Jefferson, atau Nathanael Greene, kita pun mestinya tak mau kalah karena bangsa Indonesia juga pernah punya Tan Malaka, Sukarno, Mohammad Hatta, dan Soetan Sjahrir. Kalau kita memiliki kejayaan sejarah yang sedemikian hebat itu, mengapa kita masih saja terbelakang? Dengan modal sejarah yang cukup membanggakan, tak seharusnya rasa nasionalisme bangsa ini terpuruk di tengah dominasi arus global negara-negara yang lebih miskin sejarah, termasuk Jepang dan Amerika. (Iswara N Raditya) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-3902044534784794492?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/3902044534784794492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=3902044534784794492&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/3902044534784794492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/3902044534784794492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/03/permainan-itu-bernama-nasionalisme.html' title='NASIONALISME MARET'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R9zWmB52nMI/AAAAAAAAAZc/rHeayo1X5Ek/s72-c/merdeka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-1916447101984757336</id><published>2008-02-04T02:36:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:03.440+07:00</updated><title type='text'>KILAS KRONIK BULAN JANUARI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;JANUARI &lt;/span&gt;(January) merupakan bulan pertama dalam Kalender Gregorius, memiliki 31 hari. Kata Januari diambil dari bahasa Latin Janus yang bermakna dewa pintu. JANUARI bagi dominasi peradaban dunia saat ini adalah penanda dimulainya warsa yang baru, meski di jaman dahulu kala bulan pertama yang mengawali datangnya tahun baru adalah Maret.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Januari 630, Nabi Muhammad bersama balatentaranya menaklukkan kota Mekkah dengan damai; 2 Januari 1942, pada Perang Dunia II, Manila dikuasai Jepang; 3 Januari 1969, Michael Schumacher, pembalap Formula 1 asal Jerman, dilahirkan; 4 Januari 1800, tanggal kelahiran pejuang perempuan Indonesia, Christina Martha Tiahahu; 5 Januari 1896, Fisikawan Jerman, Wilhelm Conrad Rontgen, menemukan alat radiasi elektromagnetik yang kelak disebut seperti namanya; 6 Januari 1919, Theodore Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke-26, meninggal dunia; 7 Januari 1989, Akihito dinobatkan menjadi Kaisar Jepang; 8 Januari 1935, Elvis Presley dilahirkan; 9 Januari 1900, klub sepak bola SS Lazio didirikan di Roma, Italia; 10 Januari 1929, Tintin,tokoh buku komik ciptaan Hergé yang kelak akan diterbitkan sebanyak 200 juta kopi dalam 40 bahasa, memulai debutnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 Januari 1949, salju pertama turun di Los Angeles; 12 Januari 1976, penulis novel legendaris, Agatha Christie, wafat; 13 Januari 1926, Hasyim Asjarie mendirikan Nahdlatul Ulama (NU); 14 Januari 1301, Dinasti Árpád di Hongaria berakhir; 15 Januari 1974, terjadi Peristiwa Malari, kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, disambut aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta; 16 Januari 1991, rangkaian Perang Teluk I: Operasi Badai Gurun dimulai; 17 Januari 1948, Perjanjian Renville ditandatangani Belanda dan Indonesia; 18 Januari 1689, Montesquieu, filsuf Perancis, dilahirkan. 19 Januari 1937, di Jakarta terbit suratkabar Warta Harian yang dipimpin oleh Soediono Djojopranoto; 20 Januari 1965, Indonesia menarik diri dari keanggotaan PBB karena PBB menerima keanggotaan Federasi Malaysia dan hal ini berujung pada konfrontasi Indonesia-Malaysia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Januari 1924, penguasa Rusia, Vladimir Lenin meninggal dan Joseph Stalin mulai menyingkirkan rival-rivalnya untuk membuka jalan bagi kepemimpinannya; 22 Januari 1977, hari kelahiran Hidetoshi Nakata, pesepakbola asal Jepang; 23 Januari 1947, hari kelahiran Megawati Soekarnoputri, Presiden kelima RI dan putri Soekarno, Presiden pertama RI; 24 Januari 1916, Jenderal Soedirman, di Purbalingga, Jawa Tengah; 25 Januari 2006, Sudharmono, Wakil Presiden Indonesia periode 1988-1993, meninggal dunia; 26 Januari 1500, Vicente Yáñez Pinzón menjadi orang Eropa pertama yang menemukan Brasil; 27 Januari 1756, komponis kondang Wolfgang Amadeus Mozart, dilahirkan di Salzburg, Jerman; 27 JANUARI 2007, mantan Presiden RI, SOEHARTO, meninggal dunia pada usia 86 tahun. 28 Januari 1935, Islandia menjadi negara pertama yang melegalisasi aborsi; 29 Januari 1595, Romeo dan Juliet, sebuah sandiwara terkenal karya William Shakespeare dipertunjukkan untuk pertama kalinya; 30 Januari 2007, Sidney Sheldon, novelis fenomenal Amerika Serikat, wafat; 31 Januari 1599, East India Company perusahaan dagang Inggris pertama di India atas perintah Ratu Elizabeth I, didirikan. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-1916447101984757336?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/1916447101984757336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=1916447101984757336&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1916447101984757336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1916447101984757336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/02/kilas-kronik-bulan-januari.html' title='KILAS KRONIK BULAN JANUARI'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-9090849662776299167</id><published>2008-01-29T23:18:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.822+07:00</updated><title type='text'>TUAH PERKAWINAN JAWA-MELAYU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R59Uuu5LlzI/AAAAAAAAAZE/2kr4NBmOX3k/s1600-h/hang_tuah11.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 176px; height: 217px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R59Uuu5LlzI/AAAAAAAAAZE/2kr4NBmOX3k/s200/hang_tuah11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160936859828459314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HIKAYAT&lt;/span&gt; Hang Tuah adalah sebuah maha karya monumental lagi legendaris. Hikayat ini merupakan sastra Melayu klasik terpanjang yang pernah ada, dengan tebal sekitar 500 halaman. Dalam bunga rampai sastra Melayu lama, cerita dalam Hikayat Hang Tuah selalu menjadi referensi sebagai contoh cerita lama. Selain itu, tidak kurang dari 20 buah salinan naskahnya tersimpan di berbagai perpustakaan di seluruh dunia. Ini adalah sebuah pembuktian bahwa Hikayat Hang Tuah pada masanya merupakan cerita yang sangat digemari masyarakat. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Hang Tuah sudah dikenal sejak abad ke-18, dan sejak saat itu cerita rakyat Melayu ini mulai menarik perhatian pakar-pakar sastra dari seluruh penjuru bumi, terlebih lagi pada abad ke-20, di mana ahli-ahli dari Barat dan Timur mulai intensif untuk melakukan penelitian mendalam terhadap Hikayat Hang Tuah. Kendati Hikayat Hang Tuah merupakan cerita rakyat dari Melayu, namun ternyata isi ceritanya cukup meluas dan membumi. Diantaranya adalah beberapa segmen yang mengisahkan tentang Jawa. Maka tak heran jika cerita Melayu ini sedikit banyak juga dipengaruhi unsur-unsur budaya Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R59WV-5Ll1I/AAAAAAAAAZU/aHxOorbY5p0/s1600-h/HANGTUAH1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 181px; height: 233px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R59WV-5Ll1I/AAAAAAAAAZU/aHxOorbY5p0/s320/HANGTUAH1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160938633649952594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Kisaran kisah dalam Hikayat Hang Tuah sepantaran dengan masa jaya Majapahit, yakni pada era Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gadjah Mada. Oleh karena itu, banyak penggalan cerita yang mengisahkan hubungan Malaka dengan kerajaan Jawa itu. Hang Tuah terbagi dalam 6 kisah, yakni: Asal-usul Raja Malaka, asal-usul Hang Tuah, dan Permulaan Pengabdiannya di Malaka (115 halaman); Perjalanan Luar Negeri/Negeri Tetangga (127 halaman); Tanah Melayu (187 halaman); Episode Majapahit (160 halaman); Malaka Runtuh (3 halaman); Hang Tuah Tidak Mati (1 halaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tabulasi topik di atas terlihat jelas bahwa porsi Episode Majapahit menduduki peringkat kedua terbanyak yakni sebanyak 160 halaman, setelah pembahasan tentang Tanah Melayu (187 halaman). Dengan komposisi yang demikian, tak dapat dielakkan lagi adanya pengaruh budaya Jawa dalam jalan cerita Hang Tuah. Adapun beberapa praktek “Jawanisasi” dalam sastra Melayu Lama ini dapat diikuti dalam penjabaran sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Malaka dengan Jawa telah termuat dalam ramalan Melayu, bahwa seorang anak laki-laki Raja Bukit Seguntang (Malaka) akan menjadi raja Jawa. Hubungan dua kerajaan besar ini diawali dengan kedatangan Patih Kerma Wijaya dari Lasem yang bertujuan untuk mengabdi kepada Raja Melayu. Ini adalah pembuktian awal tentang pengakuan Jawa terhadap Melayu. Hubungan keduanya lantas diperkuat oleh Raden Inu dari Daha yang mengembara ke tanah Melayu untuk mencari saudaranya. Perkembangan yang terjadi selanjutnya adalah Raden Inu turut membantu Hang Tuah dalam membangun kota Malaka di Pulau Ledang. Atas perannya ini, Raden Inu kemudian diberi gelar sebagai Ratu Melayu. Hal ini pun berarti bahwa dari pihak Jawa ada dukungan terhadap pendirian kota Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Malaka pun sudah 2 kali datang ke Majapahit, namun tak sekalipun Raja Majapahit melakukan kunjungan balasan ke Malaka. Sikap seperti ini merupakan sebuah indikasi bahwa Majapahit masih mengklaim dirinya sebagai kerajaan terbesar di Nusantara, yang tidak bisa begitu saja melayani kerajaan-kerajaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R59VZ-5Ll0I/AAAAAAAAAZM/-5_mJlBc2tY/s1600-h/hang_tuah1b.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R59VZ-5Ll0I/AAAAAAAAAZM/-5_mJlBc2tY/s400/hang_tuah1b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160937602857801538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Hubungan Melayu dan Jawa, hingga pada era permusuhan keduanya, dijabarkan dalam topik “Episode Majapahit”. Hang Tuah dengan cerdiknya menjalin hubungan yang begitu intim dengan Kerajaan Majapahit, sehingga pertemuan budaya Melayu dan Jawa tidak dapat dihindari. Terjadilah akulturasi antara dua cabang budaya yang berlainan itu. Tentu saja di sini pengaruh Jawa-lah yang terkuat, karena memang pada saat itu arus Jawanisasi yang diusung Gadjah Mada lewat Sumpah Amukti Palapa-nya sedang berjalan sedemikian giatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hang Tuah memang seorang cerdik pandai. Perlahan pasti ia mulai mendapat tempat di hati Raja Majapahit. Sembari menunggu kelemahan Majapahit, ia menyusun rencana untuk meluaskan pengaruh Malaka di Jawa. Salah satunya adalah dengan mengantarkan Raden Bahar, calon raja Melayu, ke Majapahit untuk dilantik menjadi raja oleh Gadjah Mada. Saat itu, Majapahit sedang menuai keruntuhannya akibat kedatangan Islam ke Nusantara. Melalui pengabdian baktinya kepada Raja Malaka yang dilantik Gadjah Mada, Hang Tuah berhasil meluaskan sayap Malaka sampai ke Majapahit. (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iswara N Raditya&lt;/span&gt;) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-9090849662776299167?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/9090849662776299167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=9090849662776299167&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/9090849662776299167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/9090849662776299167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/01/hang-tuah-saksi-perkawinan-jawa-melayu.html' title='TUAH PERKAWINAN JAWA-MELAYU'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R59Uuu5LlzI/AAAAAAAAAZE/2kr4NBmOX3k/s72-c/hang_tuah11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-5853518677860004736</id><published>2008-01-28T23:27:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.822+07:00</updated><title type='text'>SELAMAT DATANG, JENDERAL!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R543zO5LlwI/AAAAAAAAAYs/iQfLGtdsttc/s1600-h/id04_03b.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 184px; height: 269px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R543zO5LlwI/AAAAAAAAAYs/iQfLGtdsttc/s320/id04_03b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160623576323954434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEMARIN&lt;/span&gt;, 27 Januari 2008, tepat jam 13.10, Soeharto mangkat. Hari ini, 28 Januari 2008, jenasah Presiden RI Kedua itu dikebumikan di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Surakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu masa, Soeharto berkata:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:georgia;" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“Seorang pemimpin atau perwira harus senantiasa sadar tentang apa yang dilakukannya. Ia harus pula bersikap jujur dan tidak licik. Kekuasan pemimpin tidaklah mutlak. Kekuasaan itu bersumber pada kepercayaan yang diberikan anak buah atau rakyat yang dipimpinnya. Tanpa kepercayaan ini, tak mungkin seorang pemimpin berwibawa.&lt;/span&gt;”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Inilah jalan panjang sang pemimpin itu:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8 Juni 1921&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto dilahirkan di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Kabupaten Bantul, beberapa kilometer di sebelah barat Kota Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2 Desember 1940&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto masuk Sekolah Kader KNIL di Gombong. Setelah lulus , Soeharto mendapat pangkat kopral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8 Oktober 1943&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto diangkat sebagai shodanco alias komandan peleton dan ditugaskan menuju kompi PETA di Wates, sebelah barat Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;26 Desember 1947&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto menikahi Siti Hartinah di Solo, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;19 Desember 1948&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto memimpin resimennya menyusuri desa-desa di sebelah selatan kota Yogyakarta. Siasat gerilya dimulai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya marah sekali. Kita masih belum mampu untuk membikin senjata modern apapun, dan kita masih belum mampu membelinya. Kita semua mempunyai andil dan tanggung jawab yang sama dalam revolusi ini. Kita sangat memerlukan senjata itu. Saya akan hukum siapa saja yang tidak dapat memelihara senjatanya dengan baik!” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 Maret 1949&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto bersama pasukan gerilya memasuki Yogyakarta tepat di kilometer nol. Letkol Soeharto berada dalam pasukan yang siap menyerbu dengan senapan merk Owen yang berat di tangannya. Serbuan besar-besaran itu sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kita sekarang sedang menghadapi serangan Belanda yang setiap waktu dapat terjadi. Karena itu kita harus bersatu untuk menghadapi ancaman-ancaman musuh itu. Pertumpahan darah antara sesama bangsa kita hendaklah segera dihentikan!”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dengarkan, ini bukan manuver kita. Ini serangan Belanda. Saya segera datang. Beritahu resimen. Siapkan orang-orangmu. Bakar semua surat-surat penting. Ini perintah!”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;18 Juni 1949&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto dan resimennya bergerak maju dari pedalaman ke tepian kota, kurang dari 1,5 kilometer dari pusat Yogyakarta, sedangkan tentara Belanda meninggalkan kota sesuai hasil perjanjian yang telah dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya merasa berhutang budi pada penduduk desa yang di zaman revolusi fisik telah membantu prajurit-prajurit TNI dalam perjuangannya dengan uang, telah melindungi mereka, dan selalu menyediakan apa-apa yang mereka perlukan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10 Juli 1949&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mengiringkan Panglima Besar Jenderal Soedirman meninggalkan markasnya yang tersembunyi di pedalaman dekat Wonosari-Gunungkidul, sebelah timur Yogyakarta. Sesampainya di kota, Soeharto memerintahkan pasukan garnisun berparade untuk memberikan penghormatan kepada Jenderal Soedirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 Januari 1957&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto diangkat menjadi Panglima Divisi Diponegoro dengan pangkat Kolonel (Infanteri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 September 1957&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto ditunjuk sebagai Anggota Dewan Kurator Akademi Militer Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 Januari 1960&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto naik pangkat jadi Brigadir Jenderal dengan jabatan Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat. Jenderal AH Nasution, Kepala Staf Angkatan Darat, adalah atasan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Mulanya, saya banyak mendapat banyak kesulitan dalam mengikuti pendidikan militer di SESKOAD. Saya mesti melengkapi pengetahuan militer yang diajarkan di Akademi Militer dan pada tingkatan Kursus Perwira Lanjutan Pertama dan Kedua. Di dalam kelas, saya menerima pelajaran taktik dan strategi militer. Selama ini saya mempelajari prinsip-prinsip dasar taktik dan strategi hanya melalui pengalaman-pengalaman selama revolusi fisik. Ini membikin saya bangga dan menambah kepercayaan pada diri saya sendiri untuk terus mengikuti latihan-latihan itu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;23 Januari 1962&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto diberi mandat sebagai Panglima Komando Antar Daerah Indonesia Timur merangkap Panglima Mandala untuk pembebasan Irian Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 Mei 1963&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 Januari 1965&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mengadakan perjalanan inspeksi ke titik-titik tertentu ke Kalimantan Utara, sebagai persiapan untuk melancarkan serangan ke Negeri Jiran. Ganyang Malaysia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1 Oktober 1965&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mengkondisikan angkatan perang yang sudah siap bergerak menuju bandara Halim Perdanakusuma, juga Lubang Buaya. Soeharto juga memerintahkan perebutan kembali gedung RRI dan Kantor Pusat Telekomunikasi dari pihak kiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Sebetulnya saya dapat merebut kembali kedua pos tersebut pada pagi hari itu, tapi kemudian saya pikir tidak ada gunanya pertumpahan darah yang mungkin terjadi. Saya menyukai aksi secara diam-diam. Dengan begitu, pada kira-kira jam tujuh malam, situasi ibukota  bolehlah dikatakan sudah berada kembali dalam kekuasaan saya, tanpa memancing-mancing suatu pertempuran sengit di jalan-jalan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4 Oktober 1965&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto, pimpinan Angkatan Darat yang baru, memimpin evakuasi jenasah para perwira tinggi korban Gerakan 30 September di Lubang Buaya, dekat Pangkalan Halim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya menyaksikan dengan mata saya sendiri kebiadaban dari perbuatan petualang-petualang yang menamakan dirinya Gerakan 30 September.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11 Maret 1966&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto memberikan kuasa kepada tiga jenderal yakni Basuki Rahmat, M Jusuf, serta Amir Machmud, berangkat ke Istana Bogor menghadap Presiden Soekarno, untuk menyampaikan pesan bahwa Jenderal Soeharto, dalam kedudukannya sebagai Menteri/Panglima AD serta Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, akan dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada sekiranya ia dipercaya melaksanakan itu. Inilah yang terkenal dengan Surat Perintah 11 Maret alias Supersemar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;18 Maret 1966&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto, atas nama Presiden Soekarno dan sebagai pengemban Supersemar, memecat 15 orang menteri yang berhaluan kiri dan menunjuk menteri-menteri pengganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7 Maret 1967&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto, dalam Sidang Istimewa MPRS, melaporkan fakta-fakta kehadiran Presiden Soekarno di Pangkalan Halim pada 1 Oktober 1965, serta kejadian-kejadian yang mendahului dan yang menyusul setelah Gerakan 30 September 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Begitu saya melihat adanya bahaya yang menimpa negara, saya bertekad untuk menghadapi keadaan itu dan berbuat apa saja yang dapat saya kerjakan. Saya bertindak atas keyakinan saya sendiri. Perwira-perwira saya setuju, saya mengambil-alih pimpinan, karena saya adalah satu-satunya panglima lapangan yang masih dalam keadaan dapat bertindak.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11 Maret 1967&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto, sebagai pengemban Ketetapan MPRS No IX/1966, tentang penguatan Surat Perintah 11 Maret 1966, diputuskan akan diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia sampai terbentuknya MPR hasil Pemilihan Umum (Pemilu) yang akan diadakan pada 5 Juli 1971.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Kami hanya ingin mengulangi janji kami, bahwa kami tidak akan menyiakan-nyiakan kepercayaan itu dan kami berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan janji itu.“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8 Agustus 1967&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mewakili Indonesia menandatangani deklarasi bersama empat negara lain di kawasan Asia Pasifik, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina, untuk membentuk Association of South East Asian Nations (ASEAN) di Bangkok, Thailand.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“ASEAN adalah perhimpunan untuk dengan maksud-maksud damai, untuk memajukan kesejahteraan rakyat masing-masing dan bersama-sama. Bukan perhimpunan yang membentuk kekuatan yang akan kita hadapkan kepada negara lain atau kelompok negara lain yang manapun.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;27 Maret 1968&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto, dalam sidang MPRS yang ke-V, ditetapkan sebagai presiden penuh hingga terpilihnya presiden secara konstitusional oleh MPR hasil Pemilu. Soeharto dipercaya memegang penuh kendali kekuasaan negara sebagai Presiden Kedua RI melanjutkan era pemerintahan Ir Soekarno dengan era yang baru. Rezim Orde Baru dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Prinsip yang akan selalu kami pegang teguh dalam melaksanakan tugas MPRS kepada kami adalah menegakkan hukum, menegakkan konstitusi dan menegakkan demokrasi.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;24 Maret 1973&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto dilantik kembali sebagai Presiden RI, dengan Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Demokrasi yang diterapkan di Indonesia adalah Demokrasi Pancasila. Bukan demokrasi ala Barat yang liberal, dan tentu saja tidak cocok dengan nafas kehidupan bangsa kita. Jadi, demokrasi yang kita anut harus tetap berisi elemen-elemen asasi dari inti demokrasi sebagaimana yang dijelaskan dalam Pancasila dan UUD 1945.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;22 Maret 1978&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto dipilih oleh MPR sebagai presiden untuk periode ketiga kalinya. Adam Malik wakil presiden.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Dalam kerangka kehidupan Demokrasi Pancasila ini perlu dicatat duduknya ABRI dalam lembaga perwakilan rakyat. ABRI yang lahir pada awal perang kemerdekaan sesudah proklamasi kemerdekaan yang melahirkan negara Republik Indonesia telah membentuk pula kepribadiannya telah memandang dirinya sebagai kekuatan bangsa dan pejuang cita-cita kemerdekaan, bukan semata-mata sebagai alat negara.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Maret 1983&lt;br /&gt;Soeharto dilantik sebagai Presiden RI keempat kalinya, dan Umar Wirahadikusumah sebagai Wakil Presiden RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;16 Maret 1983&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mengumumkan susunan Kabinet Pembangunan IV yang terdiri atas 21 menteri, tiga menteri koordinator, delapan menteri muda dan tiga pejabat setingkat menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10 Januari 1984&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto resmi menjadi anggota Golkar.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Dalam perkembangan politik dan kenegaraan dengan asas Demokrasi Pancasila, Golongan Karya yang potensial dan mempunyai peranan aktif dan besar untuk mengamankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah golongan karya ABRI.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11 Juli 1984&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto memberikan penghargaan kepada peserta Keluarga Berencana (KB) Lestari. Program KB sempat menuai kritik kalangan Islam. Untuk meredamnya, Soeharto merangkul Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurut Soeharto, fatwa yang dikeluarkan MUI tentang KB akan membuat berjuta-juta peserta KB dan pasangan usia subur menjadi tenteram, karena mereka merasa tidak melanggar hukum dan ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Masyarakat hendaknya dirangsang agar timbul rasa bangga jika ikut ber-KB dan merasa malu kalau tidak ikut.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;23 Juli 1984&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mencanangkan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA) yang bertujuan untuk menyantuni anak-anak keluarga miskin agar bisa tetap bersekolah. Guna memberi contoh, Pak Harto mengambil sejumlah 50 anak asuh usia tingkat sekolah dasar dari keluarga yang tidak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5 Juli 1985&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto meresmikan Bandar Udara Soekarno Hatta, untuk menggantikan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma sebagai bandara internasional di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;14 Nopember 1985&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mendapat kehormatan untuk berpidato dalam Konferensi ke-23 Food and Agriculture Organization (FAO, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia), bertepatan juga dengan peringatan 40 tahun FAO.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Jika pembangunan pangan kami dapat dikatakan mencapai keberhasilan, maka hal itu merupakan kerja raksasa dari suatu bangsa secara keseluruhan. Dan yang paling penting dan menentukan ialah kerja keras, cucuran keringat, semangat dan kegairahan berjuta-juta petani Indonesia sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;21 Juli 1986&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mendapat penghargaan dari lembaga pangan PBB, FAO, karena keberhasilannya mewujudkan swasembada pangan. Eduard Saoma, Presiden FAO, menyerahkan penghargaan medali emas FAO yang menampilkan gambar timbul Pak Harto dengan tulisan “Presiden Soeharto-Indonesia”, dan di sisi lainnya bergambar petani yang sedang menanam padi dengan tulisan “From Rice Importer for Self-Sufficiency.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10 Maret 1988&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto dipilih MPR sebagai presiden untuk kelima kalinya. Sudharmono sebagai wakil presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8 Juni 1989&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mendapat piagam penghargaan perorangan di bidang kependudukan Indonesia di Markas Besar PBB, New York, karena dinilai sukses dalam program Keluarga Berencana di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Kenaikan produksi pangan yang besar tidak akan banyak artinya jika pertambahan jumlah penduduk tidak terkendali. Karena itu, pelaksanaan KB sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6 September 1992&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto resmi terpilih menjadi Ketua Gerakan Non Blok periode 1992-1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11 Maret 1993&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto dipilih MPR sebagai presiden untuk yang keenam kalinya. Try Sutrisno wakil presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;19 Juni 1993&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto memperoleh penghargaan Medali Emas Uniesco Avicenna untuk prestasi Indonesia di bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;29 April 1996&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto kehilangan istri tercintanya untuk selama-lamanya.  Siti Hartinah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;15 Januari 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto menandatangani letter of intent dengan IMF di kediamannya di Jalan Cendana, Jakarta, disaksikan oleh Direktur Pelaksana IMF Michael Camdessus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;18 Februari 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto berencana membentuk currency board system (CBS) untuk menstabilkan rupiah. IMF mengancam akan memotong dana jika CBS diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11 Maret 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto dipilih MPR sebagai presiden untuk lima tahun lagi. Habibie wakil presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;14 Mei 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena situasi memburuk di Tanah Air, Presiden Soeharto meninggalkan pertemuan G-15 di Kairo dan pulang ke Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;16 Mei 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di kediaman Soeharto, Senat Guru Besar UI menyampaikan hasil simposium UI tentang reformasi. Isinya: meminta Presiden Soeharto mundur.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Bagi saya, soal kedudukan presiden adalah bukan hal yang mutlak. Sebelumnya saya sudah mengatakan apakah benar rakyat Indonesia masih percaya pada saya, karena saya sudah 77 tahun.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;18 Mei 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto memanggil Nurcholis Madjid menghadapnya untuk berkonsultasi mengenai keadaan dalamnegeri yang tambah gawat dan seruan-seruan yang menuntutnya mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya tidak akan membantahnya. Saya sangat bersedia (untuk mundur). Tetapi apakah ada jaminan bahwa masalah ini akan selesai? Saya sudah kapok jadi presiden.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;19 Mei 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mengumumkan rencana kompromi yang dirasa bisa menjernihkan kondisi bangsa yang sedang keruh. Soeharto akan membentuk semacam “Dewan Reformasi” yang akan merumuskan revisi UU Pemilu, UU Kepartaian, UU Susunan dan Kedudukan MPR-DPR-DPRD, UU Anti-Monopoli, serta UU Anti-Korupsi, sesuai yang diinginkan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;19 Mei 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto mengundang tokoh-tokoh intelektual dan cendekiawan yang berpengaruh, di antaranya adalah Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Nadjib, serta Nurcholis Madjid. Hadir pula Ketua MUI, KH Ali Yafie; Abdul Malik Fajar dan Sutrisno Muhdam dari Muhammadiyah; KH Cholil Baidlowi dari DDII; KH Ma’ruf Amin dan Ahmad Bagja dari NU; Yusril Ihza Mahendra, Pembantu Asisten Khusus Mensesneg; juga beberapa pejabat tinggi ABRI.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Bagi saya, mundur itu sekali lagi tidak masalah, karena saya sudah punya pendirian untuk tidak menjadi presiden dan saya bertekad ngamandito.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;20 Mei 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto menerima surat pernyataan 14 menteri dari Saadillah Mursjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;21 Mei 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Istana Merdeka, Soeharto membacakan pidato pengunduran diri sebagai presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sejak beberapa waktu terakhir saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.... Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara yang sebaik-baiknya tadi saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini, pada hari ini Kamis 21 Mei 1998.”  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5 Juli 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto menggugat majalah Time edisi Asia, karena majalah tersebut memberitakan transfer dana atas namanya sebesar US$ 9 miliar dari rekening bank di Swiss ke Austria. Pengadilan kemudian memenangkan Time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;22 November 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto menyerahkan Yayasan Supersemar, Dharmais, Dakap, Amal Bakti Muslim Pancasila, Itana Sejahtera Mandiri, Dana Gotong Royong, dan Trikora kepada pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2 Januari 1999&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto presiden terkaya di dunia! Demikian tulis The Asian Wall Street Journal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;31 Agustus 2000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto hadir dalam pengadilan perdananya. Tim dokter Soeharto mengatakan bahwa ia sakit sehingga tidak bisa memberikan kesaksian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;28 September 2000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto oleh pengadilan diputuskan secara medis tidak mungkin diajukan ke pengadilan dan menghentikan kasusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;30 Oktober 2002&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto menjenguk putera bungsunya, Hutomo Mandala Putera alias Tommy, di LP Batu Nusakambangan, Cilacap Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;30 Agustus 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto akhirnya memenangkan gugatan atas majalah Time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;27 Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soeharto meninggal dunia setelah mengalami rangkaian penyakit yang semakin akut sejak 1999. Mantan presiden RI ini wafat dalam usia 86 tahun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-5853518677860004736?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/5853518677860004736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=5853518677860004736&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5853518677860004736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5853518677860004736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/01/please-wellcome-killer-smile-general.html' title='SELAMAT DATANG, JENDERAL!'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R543zO5LlwI/AAAAAAAAAYs/iQfLGtdsttc/s72-c/id04_03b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-1708484265740570284</id><published>2008-01-28T22:56:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:09:53.412+07:00</updated><title type='text'>SEJARAH KECIL PRAJURIT AS DI PD II</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sekali lagi sumbangan dari penulis spesialisasi militer sekaligus seorang karib yang sangat gemar memanggilku dengan sebutan "Ndoro", &lt;a href="http://backpackerindie.blogspot.com/"&gt;Patrik Matanasi&lt;/a&gt;. Kali ini ia meresensi buku (juga filmnya?) yang masih perihal serikat baju loreng, Band of Brothers. Selamat mengumpat dan menikmati. (Sory, Brother, judulnya kuubah sedikit,sebab tipologi judul di  Jemaridewaku tak bisa berpanjang-panjang. Biar pendek tetapi cantik, bukan? hehehe...)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R59QC-5LlxI/AAAAAAAAAY0/HCaMxOm72kI/s1600-h/bandof01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 231px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R59QC-5LlxI/AAAAAAAAAY0/HCaMxOm72kI/s320/bandof01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160931710162671378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAND &lt;/span&gt;Of Brothers, rasanya ini memang karya Steven Spielberg, tapi itulah judul buku ini. Cerita dan setting-nya juga sama, tentang para prajurit  Amerika yang biasa di sebut G.I. dan hampir selalu jaya di setiap front, tapi tidak dalam Perang Vietnam. Mereka belum menyandang M-16, masih dengan Tommy Gun atau M-1 Garrand.  Keyakinan mereka satu: "hancurkan Hitler!". Itulah mengapa mereka menang perang, keyakinanlah kuncinya. Seperti juga dimiliki juga oleh Kompi Easy dalam buku Stephen Ambrose—calon dokter yang berbelok menjadi sejarahwan militer ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ribuan pemuda dari berbagai latar belakang direkrut menjadi prajurit Amerika untuk menghabisi riwayat Adolf Hitler yang kala itu mengganas di Eropa. Bekas petani, buruh, guru, mahasiswa dan profesi lain direkrut. Tidak heran bila kampus-kampus di Amerika kala itu sepi, di kelas hanya sepersepuluh mahasiswa saja yang tersisa. Mereka memilih menjadi Citizen Soldiers—yang diterjemahkan sebagai 'tentara sukarela' seperti judul buku Ambrose yang terbit di Indonesia beberapa tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barak militer menjadi ramai oleh para pemuda penuh keringat setelah dicekoki latihan berat seharian. Pemuda-pemuda itu lalu dimasukan ke berbagai kesatuan dalam Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Salah satu kesatuan itu adalah Kompi Easy, kompi bentukan Kapten Sobel  yang isinya adalah pasukan dengan spesialisasi para. Kompi ini bagian dari divisi 101 para yang legendaris dimasa perang dunia II. Pasukan ini terlibat dalam operasi terjun payung terbesar selama Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terobsesi untuk menghancurkan NAZI Jerman pimpinan Adolf Hitler yang merusak kedamaian dunia. Hitler menjadi common enemy para prajurit muda itu. Spertihalnya pasukan Amerika lain di Eropa, kompi Easy adalah salah satu kendaraan untuk menghancurkan pasukan Hitler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Band of Brothers bercerita banyak sosok dan kejadian yang akan membawa mereka masuk ke sarang NAZI lalu memnghancurnya. Tidak berbeda dengan karya Ambrose lainnya, Citizen Soldiers, dihadirkan lagi kisah perjuangan prajurit Amerika menembus pertahan Jerman, mulai dari Normandia sampai masuk jauh ke pertahanan Jerman yang makin mudur ke selatan. Bedanya, Citizen Soldiers menyajikan secara umum kisar para prajurit Amerika yang bertempur di Eropa secara umum. Band of Brothers lebih bercerita tentang kompi Easy. Band of Brother  adalah sejarah kompi bernama Easy, dari Resimen 506, divisi lintas udara 101 Angkatan Darat Amerika Serikat. Pasukan tempur yang masih menjadi legenda pasukan para dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citizen Soldiers maupun Band of Brothers  sangat berbeda dengan buku sejarah militer lain yang umumnya lebih banyak menulis kisah atau terlalu menonjolkan peran para Jenderal atau Jenderal, kedua karya Ambrose malah berkisah tentang para prajurit bawahan, namun disinilah kelebihan Ambrose. Bosan sekali jika kita dijejali kisah orang-orang besar, Ambrose beri kita alternatif bacaan sejarah yang egalitarian ini. Ambrose, dengan buku ini berusaha keluar dari apa yang biasa diambil sebagian besar sejarah dunia—yang terlalu membesar-besarkan kaum elit militer atau sipil dalam peristiwa sejarah berpengaruh dunia. Bagaimanapun, orang-orang kecil macam prajurit, kopral atau sersan juga punya jasa seperti halnya para jenderal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini tidak ada bedanya dengan menonton film-nya, Band of Brothers. Tidak ada beda antara kisah nyata Band of Brothers –nya Stephen Ambrose dengan Band of Brothers-nya Steven Spielberg yang dibantu Tom Hanks ini. Spielberg dan Hanks, memang terinspirasi dari  buku yang pertama kali terbit di 1992 ini. Juni 2000, Spielberg dan Hanks menghabiskan waktu di New Orleans, menghadiri pembukaan National D-Day Museum. Sang Sejarahwan lalu diajak menjadi konsultan sejarah dalam film Band of Brothers  itu. Kepada Ambrose, Spielberg dan Hanks selalu minta tanggapan atas naskah yang dibuat. Aktor film-pun, termasuk Spielberg dan Hanks juga, menemui pelaku sejarah—anggota kompi Easy—untuk memperoleh gambaran lebih jauh mengenai penjiwaan dalam film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambrose maupun Spielberg, dengan apik tampilkan sisi humanis para prajurit—yang umumnya masih muda—dalam pertempuran. Tergambar, jarak antara ketakutan dan keberanian begitu tipis. Maut selalu mengintai mereka, lewat peluru-peluru Sniper Jerman. Tidak pandang bulu, yang paling hati-hati sekalipun, bisa saja tewas mendadak diterjang peluru. Tinggal kata kill or be kill  yang tersisa disana. Kengerian PD II menanamkan Band of Brothers (ikatan Persaudaraan) diantara prajurit Amerika, mereka berpisah dari keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Band of Brothers, bukan lagi judul film Spielberg atau judul buku Ambrose yang bisa kita tonton atau baca, atau sekedar isapan jempol. Kata-kata itu bagi veteran PD II dari Kompi Easy, memiliki arti yang dalam. Band of Brothers (ikatan persaudaraan) itu masih tertanam kuat seperti Beringin dikalangan veteran itu. Mereka memang bertebaran ke penjuru dunia, namun rasa dan sikap berbagi mereka tidak pernah hilang, sama seperti di front Eropa dulu. Mereka biasa saling berkunjung, berbicara lewat telepon dan berkirim surat untuk berbagi ceria dan masalah. Lebih hebat lagi, hal semacam itu tidak hanya antar veteran tapi juga antar istri, anak sampai cucu diantara veteran itu, seperti yang ditulis Ambrose di awal buku ini. (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Patrik Matanasi&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-1708484265740570284?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/1708484265740570284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=1708484265740570284&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1708484265740570284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1708484265740570284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/01/sekali-lagi-sumbangan-dari-penulis.html' title='SEJARAH KECIL PRAJURIT AS DI PD II'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R59QC-5LlxI/AAAAAAAAAY0/HCaMxOm72kI/s72-c/bandof01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-994020722800523299</id><published>2008-01-27T11:40:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:03.441+07:00</updated><title type='text'>(TERNYATA) DANGDUT DARI INDIA!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;blockquote&gt;"Dangdut diilhami dari nama musik gendang India bernama Tabelar, sejenis drum dari India Utara yang banyak diperagakan dalam ilustrasi film dan bisa berbunyi dut."&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Edward C. van Ness&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5wMge5LlnI/AAAAAAAAAXc/1ANf5-i_FPI/s1600-h/india.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 233px; height: 175px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5wMge5LlnI/AAAAAAAAAXc/1ANf5-i_FPI/s320/india.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160013025247991410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;GEBRAKAN &lt;/span&gt;dangdut Indonesia dewasa ini terasa benar menohok sanubari. Dangdut, yang selama ini dijadikan simbol musik kelas teri, musik pinggiran, kini kastanya melesat naik dan mensejajarkan statusnya dengan aliran lain yang terlebih dulu diakui kelasnya, seperti pop, rock, bahkan aliran-aliran generasi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika menelusur perjalanan nasib musik dangdut selama ini, ia lebih dikategorikan sebagai musik kacangan, musik rendahan. Selain itu, musik ini sudah diklaim sebagai musik 'cengeng', yang hanya berisi tentang keluh-kesah dan ratapan belaka. Musik yang didominasi oleh kaum hawa ini juga dianggap tidak 'menjual' untuk dijadikan bisnis entertaiment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tahun 2002, terjadilah gerakan revolusioner di segenap penjuru bumi dangdut Indonesia. Proses perubahan diawali oleh aksi kontroversial Inul Daratista, biduan asal Pasuruan-Jawa Timur, yang menawarkan sensasi baru yang terkenal dengan sebutan "goyang-ngebor". Kontroversi goyangan Inul ini sangat dahsyat, sampai-sampai sang raja dangdut, Rhoma Irama, dibikin geram oleh aksi sang Ratu Ngebor. Ulah Inul dianggap telah melanggar norma-norma dangdut yang ada. Bukannya surut, kasus ini malah semakin meluas, yang lantas meroketkan nama Inul sebagai diva dangdut Indonesia. Kepopuleran Inul kian melambung ke seantero jagad, bahkan ia sempat diulas habis di majalah TIME yang berlevel dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5wOqu5LloI/AAAAAAAAAXk/LHkltvOmx7k/s1600-h/dangdut+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5wOqu5LloI/AAAAAAAAAXk/LHkltvOmx7k/s320/dangdut+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160015400364906114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sejak itulah, dangdut menjelma menjadi musik multi kalangan. Dari tukang becak hingga pejabat, dari penjual nasi bungkus sampai politikus, dari radio pinggiran hingga stasiun televisi swasta dan nasional semua menempatkan dangdut sebagai komoditas utama untuk meraih rating tinggi. Pagelaran dangdut di televisi digelar besar-besaran, tidak kalah dengan pertunjukan musik rock. Di arena politik pun tak berbeda. Para calon pemimpin berlomba-lomba menarik artis dangdut sebagai perangsang meraup massa, menebar pengaruh. Dan bendera dangdut pun terus berkibar hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebar pesona dangdut semakin menarik untuk diulas. Sebenarnya, dangdut itu musik apa dan berasal dari mana? Menurut Edward C. van Ness, dosen Akademi Musik Indonesia (AMI) asal Amerika Serikat, musik dangdut merupakan musik hasil perpaduan antara musik Melayu dengan musik klasik India. Dangdut diilhami dari nama musik gendang India bernama Tabelar, sejenis drum dari India Utara yang banyak diperagakan dalam ilustrasi film dan bisa berbunyi 'dut'. Budaya dari negeri India memang banyak yang ikut menyulam pengaruh ke dalam budaya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak abad ke-13, musik klasik India terdiri dari dua gaya: Hindustani dari India Utara dan Karnatik dari India Selatan. Kedua gaya klasik itu pada mulanya bersumber dari dokumen-dokumen mengenai teori musik dari 5 kitab: Silappadiggaram (abad ke-2), Natta Natyas Sastra (abad ke-5), Brhaddesi (abad ke-5), Sangitaratnakara (tahun 1210-1247), dan Caturdandi Prakasika (tahun 1620).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, yang mendasari musik klasik India adalah empat tradisi kitab Veda: (1) Reg Veda, dengan tiga nada. (2) Yayur Veda, lima nada. (3) Sama Veda, tujuh nada, dan (4) Atharva Veda. Berdasarkan kitab-kitab inilah lahirlah apa yang dinamakan dengan Musik Vedik yang merupakan background sejarah musik klasik yang telah ada di India semenjak tahun 1500 Sebelum Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5wO8u5LlpI/AAAAAAAAAXs/dkyUDwgF9Gc/s1600-h/tabla.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5wO8u5LlpI/AAAAAAAAAXs/dkyUDwgF9Gc/s320/tabla.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160015709602551442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Dari turunan dari biangnya musik India itulah kemudian muncul musik gendang Tabelar, yang merupakan kepanjangan tangang India dalam menebar pengaruh di Indonesia, kali ini dalam ranah musik. Akulturasi dan kolaborasi musik India dengan musik Melayu melahirkan sebuah aliran musik baru, yaitu dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, dangdut tidak hanya berumpun Melayu saja, adat-budaya suku lain di Indonesia pun ikut mewarnai corak musik dangdut. Sebut saja campur sari ala Jawa, atau dangdut Parahiyangan versi Sunda, atau dangdut poco-poco asal Ambon, dan lainnya. (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ISWARA N RADITYA&lt;/span&gt;) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-994020722800523299?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/994020722800523299/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=994020722800523299&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/994020722800523299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/994020722800523299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/01/ternyata-dangdut-asalnya-dari-india.html' title='(TERNYATA) DANGDUT DARI INDIA!'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5wMge5LlnI/AAAAAAAAAXc/1ANf5-i_FPI/s72-c/india.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-7108965720483067125</id><published>2008-01-26T20:29:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.822+07:00</updated><title type='text'>PENGUSUNG LOYALITAS TRADISI JEPANG</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;Di saat pengaruh imperialisme Barat menghentak Asia, Jepang tetap pada pegangan aslinya. Meski Nippon tak kuasa lagi bertahan, Tokugawa Ieyasu menjadi sosok&lt;span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pemimpin yang teguh bersikukuh mengawal harga diri dan kepribadian bangsanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5s6yO5LljI/AAAAAAAAAW4/Nt7DDmqE_0g/s1600-h/tokugawa+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5s6yO5LljI/AAAAAAAAAW4/Nt7DDmqE_0g/s320/tokugawa+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159782432748836402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TOKUGAWA IEYASU&lt;/span&gt; lahir di Okazaki pada Januari 1541 dengan nama asli Tokugawa Takechiyo. Ia adalah generasi terakhir era shogun di Jepang, sebagai pimpinan Tokugawa Shogunate (1600-1867). Ieyasu besar dalam lingkungan yang sarat dengan kerasnya perang. Ayahnya adalah seorang prajurit lokal yang selalu terlibat di banyak peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Klan Tokugawa berkuasa setelah sukses menggulingkan kedaulatan dinasti Hideyoshi. Di tahun 1600 Ieyasu berhasil mengalahkan kekuatan Toyotomi Hideyoshi lewat sebuah perang seru yang dikenal dengan sebutan Perang Sekigahara. Kemenangan ini menciptakan citra Ieyasu sebagai sosok yang sempurna. Ia adalah arsitek dan politikus yang piawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ieyasu mendirikan pusat pemerintahannya di kota Edo (sekarang Tokyo). Di awal era pemerintahannya, rezim Tokugawa menjadikan Jepang sebagai kerajaan yang digdaya. Stabilitas keamanan cukup terkendali ditandai dengan sangat minimnya perselisihan di kalangan sipil. Demikian pula dengan kondusifitas politik, budaya, serta ekonomi. Bidang pendidikan pun cukup maju dengan didirikannya banyak sekolah dan akademi. Tidak ketinggalan pula di sektor perdagangan yang mengalami kesibukan yang teramat padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semakin memantapkan legitimasi kedaulatannya, Ieyasu membabat habis semua hal yang berhubungan dengan Hideyoshi. Adalah Hideyori, anak dari Toyomomi Hideyoshi, yang menjadi tulang punggung keluarga setelah meninggalnya sang ayah. Pada tahun 1614, pasukan Ieyasu melakukan penyerangan kepada sisa-sisa klan Hideyoshi. Dan di tahun 1615, seluruh anggota keluarga Hideyoshi yang tersisa, termasuk Hideyori, tewas dalam akhir pertempuran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokugawa Ieyasu sangat menjaga jarak dengan pengaruh Barat yang siap menerjang. Jepang dibawanya menuju ke periode isolasi sebagai bentuk proteksinya terhadap budaya asing. Rakyat Jepang dilarang pergi ke luar negeri dan berdagang dengan bangsa asing, sedangkan orang-orang asing diawasi dengan ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa dinasti Tokugawa ini ibarat ‘abad gelap’nya Eropa yang senantiasa menutup diri dari pengaruh luar. Terus hidup dengan berkudung kemiskinan memang harus ditanggung oleh Tokugawa bersama rakyat dan para samurainya. Semua ini sekali lagi dilakukan demi sebuah prinsip suci yang telah turun temurun mereka warisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5s_3u5LllI/AAAAAAAAAXI/BGQXOVgrWUM/s1600-h/samurai-sword-785224.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5s_3u5LllI/AAAAAAAAAXI/BGQXOVgrWUM/s320/samurai-sword-785224.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159788024796255826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Golongan samurai ditingkatkan strata sosialnya menjadi setara dengan golongan bangsawan. Namun, kebijakan Ieyasu ini malah membuat golongan  samurai lupa daratan. Mereka tak lagi sepenuh hati menjiwai arti dari seorang samurai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan pedang pendek dan panjang, katana dan wakizashi, yang seharusnya sebagai cirikhas samurai,  bergeser fungsinya sebagai lambang kekuasaan semata. Sejoli katana dan wakizashi senyatanya adalah senjata yang melambangkan jiwa samurai sejati. Banyaknya ronin (samurai tak bertuan) yang meresahkan, kian memerkeruh kondisi di era Ieyasu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem isolasi yang diterapkan  Ieyasu menyebabkan rakyat Jepang jatuh ke dalam kondisi yang memprihatinkan. Kemiskinan dan kemelaratan kian menjadi karena kurang cakapnya Ieyasu dalam memerintah, khususnya dalam hal perekonomian negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5s9B-5LlkI/AAAAAAAAAXA/zrT7yD-xaTk/s1600-h/tokugawa+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5s9B-5LlkI/AAAAAAAAAXA/zrT7yD-xaTk/s320/tokugawa+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159784902355031618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Keadaan semakin runyam akibat maraknya penyelewengan yang dilakukan pejabat istana. Shogunate Tokugawa kian rapuh akibat korupsi yang semakin akut. Rakyat berbalik menentangnya. Golongan anti asing, yang semula pro Ieyasu, mulai berseru agar kerja sama dengan pihak luar perlu dilakukan demi mengembalikan kestabilan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertikaian antar golongan pun pecah, mengakibatkan dinasti Tokugawa runtuh. Terjadilah Restorasi Meiji untuk mengembalikan peran kaisar dalam pemerintahan. Pengaruh Barat dengan leluasa memasuki Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ieyasu akhirnya meninggal dunia pada 1 Juni 1616 di Sumpu. Meski agak berlebihan, setidaknya Ieyasu menjadi orang besar yang tetap bersetia di bawah panji tradisi. Loyalitasnya terhadap tradisi asli Jepang, demi mempertahankan harkat, martabat, dan harga diri bangsanya, telah menjadi prestise tersendiri dalam khasanah sejarah Jepang. (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ISWARA N RADITYA&lt;/span&gt;) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-7108965720483067125?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/7108965720483067125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=7108965720483067125&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/7108965720483067125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/7108965720483067125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/01/pengusung-loyalitas-tradisi-jepang.html' title='PENGUSUNG LOYALITAS TRADISI JEPANG'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5s6yO5LljI/AAAAAAAAAW4/Nt7DDmqE_0g/s72-c/tokugawa+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-8541321583735179592</id><published>2008-01-20T13:23:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.823+07:00</updated><title type='text'>“MARADONA KASIHAN PADAKU”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5L7wFVDg0I/AAAAAAAAAWY/4tzguZocs7A/s1600-h/marsisdona+copy.jpg"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Profil Sumohadi Marsis, Pendiri Tabloid BOLA)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5L7wFVDg0I/AAAAAAAAAWY/4tzguZocs7A/s1600-h/marsisdona+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 157px; height: 233px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5L7wFVDg0I/AAAAAAAAAWY/4tzguZocs7A/s320/marsisdona+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157461326775419714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ASA MARSIS &lt;/span&gt; kian terkikis. Waktu nyaris habis. Upaya mewawancarai Maradona terancam gagal lagi. Sang bintang lapangan selalu dikawal ketat, maklum, ia adalah superstar sepakbola. Namun, Marsis bukannya tanpa hasil. Di Piala Dunia 1986 di Meksiko, ia berhasil berbincang dengan pemain belakang Italia, Antonio Carbini. Selesai dengan Carbini, melintaslah Maradona. Pesepakbola Argentina itu nyaris tak tersentuh kuli tinta. “Maradona saat itu adalah megabintang. Ia seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;untouchable &lt;/span&gt;dan selalu mendapat pengawalan ketat,” keluh Marsis. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemujuran Marsis ternyata bukan di Piala Dunia. Pada 1989, ia ke Italia untuk meliput pertandingan Serie-A antara Fiorentina melawan Napoli di kota Fi&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;renze. Masa itu Maradona adalah pujaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tifosi &lt;/span&gt;Napoli. Stadion Artemio Franchi, kandang Fiorentina, bergemuruh memberi penghormatan pada sang bintang. Usai pertandingan, diadakanlah konferensi pers. Marsis ikut berebut tempat dengan banyak wartawan lain. Saat jumpa pers selesai, Marsis berusaha mengejar sa&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ng pujaan. Namun, Maradona keburu menghilang. Marsis lari ke area parkir stadion, harapannya mengempis karena bus Napoli sudah siap berangkat, Maradona di dalamnya. Dengan pandangan pasrah Marsis pandangi sang maestro dari luar kaca bus. Akan tetapi, tiba-tiba:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;“... entah karena kasihan pada sosok saya, Maradona turun dari bus. Seperti mendapat durian runtuh, saya langsung menghujaninya dengan  pernyataan siapa dan darimana asal saya, keinginan saya bertemu dia menyerahkan cenderamata berupa kaos dari tempat saya bekerja. Di luar dugaan, Maradona melayani saya dengan ramah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sepenggal kisah berharga dari jurnalis krida paling ternama sepenjuru negeri, Sumohadi Marsis. Selain Maradona dan Carbini, Marsis banyak pula mewawancarai pesepakbola dunia lainnya, seperti Johan Cruyff (Belanda), Preben Elkjaer (Denmark), Pele (Brasil), serta sang kais&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ar Franz Beckenbauer (Jerman). Bahkan, saat meliput Timnas PSSI di Fiji, Marsis sempat ikut bermain sebagai salah satu pemain pengganti. Tak hanya dunia bola, gemerlap tinju internasional pun ia rambah, Marsis sukses mewawancarai Muhammad Ali, Mike Tyson, Sugar Ray Leonard, dan sederet bintang hantam lainnya. Marsis pun berkesempatan melakukan sparring dengan petinju nasional, Ronni Sarimolle, kendati tidak sampai satu ronde Marsis sudah angkat tangan. Selain itu, Marsis adalah salahseorang penggagas Kejuaraan Sarung Tinju Emas (STE) pada 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumohadi M&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;arsis cukup berperan besar dalam upay&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a membesarkan suratkabar Kompas. Bersama-sama Valens Doy, Th A Budi Susilo, Ignatius Sunito, dan lainnya, Marsis berupaya menaikkan reputasi KOMPAS. Maklum, di kurun 1970-an itu, media yang dianggap terbaik &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;adalah harian MERDEKA. Posisi Marsis di KOMPAS saat itu juga sebagai wartawan olahraga. Pada 1984, Marsis dan Ignatius Sunito berinisiatif untuk menerbitkan media khusus olahraga. Maka lahirlah tabloid BOLA ya&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ng merupakan kepanjangan tangan dari KOMPAS di bidang olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5MeTFVDg3I/AAAAAAAAAWw/-_H5A_2RgmY/s1600-h/BOLA.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5MeTFVDg3I/AAAAAAAAAWw/-_H5A_2RgmY/s400/BOLA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157499311466185586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bersama tabloid BOLA, Sumohadi Marsis mewujud sebagai pakar wartawan olahraga. Tak terhitung perhelatan berkelas dunia yang ia sambangi. Selain tiga kali Piala Dunia, yakni Meksiko (1986), Italia (1990), dan Prancis (1998), Marsis dua kali hadir di pagelaran krida terbesar sejagad, Oli&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;mpiade, yaitu tahun 1988 di Seoul-Korea Selatan dan tahun 1992 di Barcelona-Spanyol. Belum lagi turnamen-turnamen yang berlingkup &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;regional atau nasional serta daerah, semisal Asian Games, Sea Games, PON, dan semacamnya. Massifnya mobilisasi liputan ke pelbagai tempat itu semakin menambah pengalaman Marsis sebagai reporter olahraga yang handal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adapun negara-negara yang pernah dikunjunginya antara lain, Amerika Serikat, Australia, Austria, Belanda, Belgia, Brunei, Burma (Myanmar), Cekoslovakia, Cina, Denmark, Fiji, Filipina, Hong Kong, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Kuwait, India, Inggris, Italia, Monaco, Malaysia, Meksiko, Norwegia, Prancis, Rumania, Selandia Baru, Singapura, Spanyol, Swedia, Swiss, Teipei, Thailand, Uni Emirat Arab, Vietnam, dan Yunani. Berkat jam terbangny&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a yang luarbi&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;asa inilah, Marsis mendapat sebutan “haji” sebagai gelar kepada wartawan olahraga yang sudah banyak pengalaman meliput even nasional maupun internasional yang berpuncak pada Olimpiade, juga Piala Dunia. Pada 1992, Marsis beroleh kes&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;empatan mengikuti seminar pelatihan tenis di Hilton Head, South Carolina, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5MakVVDg1I/AAAAAAAAAWg/kKqq6DlfYiA/s1600-h/marsis+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5MakVVDg1I/AAAAAAAAAWg/kKqq6DlfYiA/s320/marsis+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157495209772417874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedigdayaan Marsis di dunia olahraga membuatnya didapuk untuk&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; masuk k&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;e dalam jajaran pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dengan menempati posisi Kepala Bidang Humas, dan lantas sebagai Wakil Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri KONI Pusat masa bakti 2007-2011. Sebagai pengurus KONI Pusat, Marsis lagi-lagi sering go internasional, terutama untuk menyertai Ketua KONI Pusat menghadiri pertemuan-pertemuan olahraga level dunia, apalagi dengan jabatan Wakil Kepala Hubungan Luar Negeri yang disandangnya. Marsis pun sering ditunjuk untuk mendampingi atlet-atlet nasional ketika bertanding di even-even internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyang sudah pengalaman Marsis di dunia olahraga, baik melalui lakonnya sebagai jurnalis ataupun selaku pejabat KONI Pusat. Hingga saat ini, Marsis masih rutin menulis artikel olahraganya di KOMPAS dan BOLA, juga di suratkabar lainnya. Selain itu, Sumohadi Marsis juga telah menghasilkan beberapa buah pikirannya dalam bentuk buku. Atas jasa dan kiprahnya, Marsis dipercaya duduk sebagai dewan juri pada bidang jurnalistik olahraga dalam Anugerah Adiwarta 2007, sebuah ajang penghargaan dan kompetisi bergengsi bagi jurnalis-jurnalis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat disangkal, olahraga lekat dengan Marsis, begitupun sebaliknya. Inilah luapan kecintaannya pada semesta raya krida yang ia ungkapkan di sebuah tulisan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;“Lapangan dan stadion seolah hadir,  masuk ke dalam ruang pribadi kita.  Kita dapat melihat bola yang bergulir ketika kick off atau pun tanah dan rumput yang terkelupas karena terkena injak sepatu bola dengan sangat jelas. Begitu hidup. Belum lagi kegembiraan apabila tim unggulan kita dapat mencetak gol. Sesuatu yang redundant, diulang-ulang.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Marsis di atas merujuk suasana pertandingan sepakbola, tetapi juga dapat mewakili olahraga pada umumnya. Khusus ihwal sepakbola nasional yang masih terpuruk, Marsis yakin sepakbola Indonesia akan terus hidup. “Sepakbola Indonesia tidak sedang mati, tidak sedang dalam proses menuju kematian, bahkan sekarat pun tidak, dan Insya Allah tidak akan pernah mati, sampai kapan pun!” serunya optimis. (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iswara NR/Indonesiaboekoe&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-8541321583735179592?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/8541321583735179592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=8541321583735179592&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8541321583735179592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8541321583735179592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/01/maradona-kasihan-pada-saya.html' title='“MARADONA KASIHAN PADAKU”'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R5L7wFVDg0I/AAAAAAAAAWY/4tzguZocs7A/s72-c/marsisdona+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-7790870412240607934</id><published>2008-01-17T23:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:03.441+07:00</updated><title type='text'>TIADA BAHASA, HILANGLAH BANGSA!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R4-NplVDgyI/AAAAAAAAAWI/cRAWsJwgUEk/s1600-h/JS+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 96px; height: 162px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R4-NplVDgyI/AAAAAAAAAWI/cRAWsJwgUEk/s200/JS+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156495843897082658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IA LAHIR&lt;/span&gt; dari kesadaran. Sadar bergerak, sadar berjuang, dan sadar mengejar ketertinggalan dari saudara tuanya yang lebih dulu bersadar diri: Jawa. Harap maklum, nasionalisme Jawa berlari lebih cepat sepuluh tahun daripada Sumatera. Meski sempat menuai komentar pesimis, kaum intelektual Sumatera tetap bersepakat mengikat hati dalam sebuah wadah perjuangan yang terbentuk pada 1916: Jong Sumatranen Bond atawa JSB.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soematra beloem mateng bagi seboeah politik dan oemeoem,” tukas Said Ali, redaktur suratkabar Tjaja Sumatra, dengan nada sinis. Tak hiraukan suara-suara miring itu, anak-anak Sumatera jalan terus, tancap gas menuju pencerahan. Dua warsa setelahnya, tahun 1918, JSB bergegas menerbitkan suratkabar Jong Sumatra. Sementara itu, kelahiran JSB ternyata masih memantik polemik. Kaum tua menganggap gerakan modern JSB sebagai ancaman bagi adat Minang. Beda persepsi antara dua generasi yang berbeda ini menjadi sorotan Bahder Johan, aktivis JSB, yang dimuat di edisi perdana Jong Sumatra, Januari 1918:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lahirnja J.S.B kedoenia tentoelah pikiran orang akan menambah lagi besarnja pertjeraian antara kedoea pihak itoe karena diwaktoe itulah pendoedoek Sumatera jang berhaloean kaoem muda, artinja jang berhaloean akan kemadjoean berjabat tangan tanda persaudaraan akan bekerdja bersama-sama mentjapai jang moeda itoe: jaitoe akan meninggikan deradjat poelau Sumatera dan memberikan tempat kepada bangsa Sumatera didalam doenia peradaban. Besar dan tinggi maksoed dan pengharapan Jong Sumatranen Bond, toeloes dan ichlas tjita-tjita pemoeda Sumatra akan mengharoemkan nama Sumatra dimoeka bumi ini akan memimpin bangsanja sepandjang tangga ketjerdasan menudju gedoeng kesempoernaan, dan terpikoellah kewadjiban diatas batoe kepala bangsa Sumatra besar dan ketjil, toea dan moeda akan memberi djiwa yang tegoeh dan koeat kepada Jong Sumatranen Bond!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suratkabar Jong Sumatra memainkan peranan penting sebagai media yang menjembatani segala bentuk reaksi atas konflik yang terjadi. Dalam Jong Sumatra edisi 12, th 1, Desember 1918, seseorang berinisial Lematang meneriakkan seruannya, dengan maksud memertanyakan kepentingan kaum adat. “Bagaimana Hindia akan madjoe, kalau kiranja masih banjak orang jang enggan melihat bangsakoe mendapat martabat jang lebih tinggi!”  Sambutan positif juga datang dari Mohamad Anas, sekretaris JSB. Anas berkata lantang di Jong Sumatra, “Bangsa Sumatra soedah moelai bangkit dari ketidoerannja, dan soedah moelai memandang keperloean oemoem.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jong Sumatra terbit pertamakali pada Januari 1918. Berkala tidak tetap: kadang bulanan, kadang triwulan, bahkan pernah terbit setahun sekali. Bahasa Belanda merupakan bahasa mayoritas yang digunakan kendati ada juga artikel yang memakai bahasa Melayu. Jong Sumatra dicetak di Weltervreden, Batavia-kota. Di situ pula kantor redaksi dan administrasi suratkabar yang berjargon “Organ van Den Jong Sumatranen Bond” ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya, redaksi Jong Sumatra adalah juga para pengurus alias Centraal Hoofbestuur JSB. Mereka itu adalah Tengkoe Mansyur (ketua), A Munir Nasution (wakil ketua), Mohamad Anas (sekretaris I), Amir (sekretaris II), dan Marzoeki (bendahara), serta dibantu beberapa nama lain. Keredaksian Jong Sumatra dipegang oleh Amir, sedangkan administrasi ditangani Roeslie. Mereka ini rata-rata adalah siswa atau alumni STOVIA serta sekolah pendidikan Belanda lainnya. Setelah beberapa edisi, keredaksian Jong Sumatra dipisahkan dari kepengurusan JSB meski tetap ada garis koordinasi. Pemimpin redaksi pertama adalah Amir dan pemimpin perusahaan dijabat Bahder Johan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumatera memang dikenal banyak menghasilkan jago-jago pergerakan, dan banyak di antaranya yang mengawali karir organisasinya melalui JSB, sebut saja Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin. Hatta adalah bendahara JSB di Padang 1916-1918. Kemudian ia menjadi pengurus JSB Batavia pada 1919 dan mulai mengurusi Jong Sumatra sejak 1920 hingga 1921. Selama di Jong Sumatra inilah Hatta banyak menuangkan segenap alam pikirannya, salah satunya lewat karangan berjudul “Hindiana” yang dimuat di Jong Sumatra no 5, th 3, 1920.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Mohammad Yamin adalah salahsatu putera Sumatera yang paling dibanggakan. Karya-karyanya yang berupa esai ataupun sajak sempat merajai Jong Sumatra. Ia memimpin JSB pada 1926-1928 dan dengan aktif mendorong pemikiran tentang perlunya bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan. Kepekaan Yamin meraba pentingnya bahasa identitas sudah mulai terlihat dalam tulisannya di Jong Sumatra no 4, th 3, 1920:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesoenggohnja tiadalah kami hendak melebih-lebihkan atau mempertinggi bahasa Melajoe itoe setara dengan bahasa Sangsekarta atau Joenani, tidak, haram sedemikian maksoed kami. Hanjalah kami memperingatkan bahwa bahasa kita makin lama, makin tidak dioesahakan dan dipeladjari, ja, sampai ada jang tiada hendak tahoe menahoe lagi. Nafsoe ini tersesat, tersalah dan berdosa. Kepada ia kami pekikkkan dengan soeara jang terang dan kami katakan dengan kalimat jang djelas: TIADA BAHASA, HILANGLAH BANGSA!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yamin inilah salahsatu aktor yang membawa JSB ke gelanggang nasional, Kongres Pemuda I pada 1923, di mana Yamin melontarkan pemikiran mengenai kemungkinan bahasa Melayu akan berkembang menjadi bahasa kebangsaan. Pada Kongres Pemuda ke II, 28 Oktober 1928, Yamin adalah salahseorang yang berperan penting dalam penyusunan teks Sumpah Pemuda, di mana konsepnya tentang bahasa persatuan akhirnya disepakati oleh para perintis embrio Indonesia. Majalah Jong Sumatra berperan penting dalam memerjuangkan pemakaian bahasa nasional ini dengan menjadi media yang pertamakali mempublikasikan gagasan Yamin, ide cemerlang tentang bahasa kebangsaan. (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iswara NR&lt;/span&gt;/Indonesiabuku) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-7790870412240607934?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/7790870412240607934/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=7790870412240607934&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/7790870412240607934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/7790870412240607934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/01/tiada-bahasa-hilanglah-bangsa.html' title='TIADA BAHASA, HILANGLAH BANGSA!'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R4-NplVDgyI/AAAAAAAAAWI/cRAWsJwgUEk/s72-c/JS+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-2028792460583616252</id><published>2008-01-16T22:25:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.823+07:00</updated><title type='text'>SONETA UNTUK BANGSA</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:lucida grande;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-WR Soepratman dan  Temuan  Indonesia Raya yang (ternyata tidak) Baru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44jyFVDgoI/AAAAAAAAAU4/tj5pPm7M9Xw/s1600-h/wr-supratman-grave-08.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44jyFVDgoI/AAAAAAAAAU4/tj5pPm7M9Xw/s400/wr-supratman-grave-08.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156097966716715650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Indonesia Raya, lagu kebangsaan yang agung namun gagah berani.&lt;/span&gt; Maestoso con bravura!”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jozef Cleber&lt;/span&gt;, Musisi Senior Belanda&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEMUA ORANG&lt;/span&gt; terdiam saat syahdu biola terdengar membelah kesunyian. Gesekan dawai yang menggetarkan nurani itu memainkan partitur pembuka sebelum setiap mulut di ruangan itu serempak membuka, mengumandangkan syair heroik dengan penuh perasaan. Ada yang menitikkan air mata haru, ada pula yang menyanyikan soneta itu dengan luapan semangat, juga ada yang cuma menggumam sembari memejamkan mata, menghayati bait demi bait yang dilantunkan. Aransemen lagu itu memang dahsyat, bak pantun berantai (seloka) yang dirangkai nyaris persis ketika&lt;a href="http://209.85.175.104/search?q=cache:arQ9TKOBi_MJ:perca.blogdrive.com/archive/258.html+EMPU,+WALMIKI,+ramayana&amp;amp;hl=id&amp;amp;ct=clnk&amp;amp;cd=10&amp;amp;gl=id"&gt; Empu Walmiki&lt;/a&gt; merajut epos legendaris &lt;a href="http://209.85.175.104/search?q=cache:16hGWdQLUnMJ:id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Ramayana+ramayana,+wikipedia+indonesia&amp;amp;hl=id&amp;amp;ct=clnk&amp;amp;cd=2&amp;amp;gl=id"&gt;Ramayana&lt;/a&gt;. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muda berkacamata dengan baju dan peci lurik berdiri di deretan paling depan, menghadap para hadirin yang terhanyut oleh syair-syair bernada patriotik itu. Tangan-tangan lihai lelaki duapuluhlima tahun itu memainkan biolanya dengan merdu. Itulah dia, Wage Roedolf &lt;a href="http://209.85.175.104/search?q=cache:Zr_j0OlLEK8J:id.wikipedia.org/wiki/Wage_Rudolf_Supratman+soepratman,+wikipedia+indonesia&amp;amp;hl=id&amp;amp;ct=clnk&amp;amp;cd=1&amp;amp;gl=id"&gt;Soepratman&lt;/a&gt;, pencipta lagu Indonesia Raya, suara kebangsaan yang untuk pertamakalinya diperdengarkan di hadapan publik pada malam penutupan &lt;a href="http://209.85.175.104/search?q=cache:kDMMGsLSfsYJ:id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda+kongres+pemuda,+1928&amp;amp;hl=id&amp;amp;ct=clnk&amp;amp;cd=1&amp;amp;gl=id"&gt;Kongres Pemuda ke-II 1928&lt;/a&gt; di Jakarta. Lagu Indonesia Raya menyempurnakan tiga ikrar para pemuda yang bermufakat untuk bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu: Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44lDlVDgqI/AAAAAAAAAVI/uerYijprF64/s1600-h/indonesiaraya-726143.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44lDlVDgqI/AAAAAAAAAVI/uerYijprF64/s320/indonesiaraya-726143.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156099366876054178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Beberapa hari kemudian, di halaman utama suratkabar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sin Po&lt;/span&gt;, koran Tionghoa yang pro terhadap pemikiran Indonesia, berita tentang Sumpah Pemuda telah tercetak dan beredar. Teks Indonesia Raya pun terpampang dengan jelas. Sebuah tindakan yang cukup berani yang dilakukan media massa pada masa itu. Bahkan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sin Po &lt;/span&gt;adalah satu-satunya koran pada kurun tersebut yang dengan gamblang dan terang-terangan memakai kata “Indonesia” di halaman pertama sebagai rubriknya. Tampaknya, bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sin Po&lt;/span&gt;, jauh lebih baik membantu Indonesia daripada bertekuk lutut di hadapan Belanda. Keberanian &lt;a href="http://209.85.175.104/search?q=cache:C28VakHTccQJ:www.indonesiamedia.com/lipsus/lipsus-2003-cinationghoa2.htm+sin+po,+koran&amp;amp;hl=id&amp;amp;ct=clnk&amp;amp;cd=10&amp;amp;gl=id"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sin Po &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;tentu saja berpengaruh terhadap pemuda-pemuda Indonesia yang saat itu sedang bergelora untuk meleburkan diri dalam persatuan, termasuk pada diri Soepratman yang bekerja untuk suratkabar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berhitung mundur sampai pada titik tahun 1903. Hari itu tepat pasaran Wage, pada bulan Maret di tahun ketiga pertama abad ke-20, Soepratman mulai menatap dunia. Bapaknya yang seorang mantan tentara KNIL berpangkat sersan, Jumeno Senen Sastrosuharjo, menambahkan nama anak ketujuhnya itu sesuai dengan hari pasaran lahirnya, inilah Wage Soepratman. Saudara sekandung Wage Soepratman ada enam orang: seorang kakaknya lelaki, yang lain adalah perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terjadi perdebatan mengenai tanggal dan tempat lahir Soepratman. Versi yang diyakini selama ini adalah ia lahir tanggal 9 Maret 1903 di Jatinegara Jakarta. Bahkan, sejak 2003 pada era pemerintahan Megawati Soekarnoputri, setiap tanggal 3 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional. Sementara itu, Dwi Rahardja, seorang peneliti dan pembuat film dokumenter tentang WR Soepratman, melakukan penelusuran sejarah untuk merekonstruksi fakta yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang peneliti itu berinisiatif mencari keterangan dari orang-orang terdekat Soepratman, antara lain kakak kandung dan adik tiri Soepratman, Roekijem Soepratijah dan Oerip Soepardjo. Alhasil, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya sepanjang 28 tahun, akhirnya disimpulkan bahwa WR Soepratman lahir pada 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kaligesing, Purworejo (Jawa Tengah). Dua bulan kemudian, pada Juni 1903, jabang Wage di dibawa ke Tangsi Meester Cornelis Jatinegara di Batavia, tempat bertugas sang bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menamatkan sekolah dasarnya di Batavia, pada 1914 Soepratman ikut kakak perempuannya, Roekijem, ke Makasar, Sulawesi Selatan. Di sana ia disekolahkan dan dibiayai oleh suami Roekijem yang bernama Willem van Eldik, seorang indo anggota tentara Belanda. Oleh kakak iparnya inilah, nama Wage Soepratman diberi tambahan Rudolf, menjadi Wage Rudolf Soepratman atau yang sering dikenal sebagai WR Soepratman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Makasar, Soepratman masuk ke sebuah sekolah malam untuk memelajari bahasa Belanda, di samping juga sekolah reguler di Europees Lagere School (ELS). Setelah lulus ELS, Soepratman melanjutkan studinya ke Normaal School. Pada usia 20 tahun, ia menjadi pengajar di sekolah untuk pribumi atau Sekolah Angka Dua. Dua tahun selanjutnya ia mendapat ijazah Klein Ambtenaar. Soepratman lantas menuju kota Singkang untuk bekerja di sebuah perusahaan dagang. Namun, tidak lama ia merasa tidak betah lalu minta berhenti dan kembali ke rumah kakaknya di Makasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44ms1VDgrI/AAAAAAAAAVQ/O6gwQuYYrxA/s1600-h/umum_supratman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44ms1VDgrI/AAAAAAAAAVQ/O6gwQuYYrxA/s320/umum_supratman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156101175057285810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Minat Soepratman pada dunia musik termotivasi dari Roekijem dan suaminya. Kakak perempuannya itu memang menggemari sandiwara dan musik, khususnya memainkan biola. Seringkali Roekijem dan Willem van Eldik serta beberapa teman tentaranya mengadakan pertunjukan teater alakadarnya di mes militer. Lingkungan seni inilah yang membuat Soepratman jadi menyukai musik. Ia mulai banyak membaca buku-buku tentang musik dan berlatih biola di bawah panduan Roekijam dan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1924, Soepratman kembali ke Jatinegara Batavia. Pada suatu hari, ia membaca sebuah artikel di majalah Timbul. Penulis karangan itu menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Soepratman yang sudah semakin kental jiwa nasionalismenya merasa tertantang. Menulis lirik Indonesia Raya dalam bahasa Melayu yang baik tentulah merupakan tantangan besar bagi Soepratman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44oT1VDgsI/AAAAAAAAAVY/QXK5_3NDmac/s1600-h/wr-supratman-grave-07.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44oT1VDgsI/AAAAAAAAAVY/QXK5_3NDmac/s320/wr-supratman-grave-07.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156102944583811778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekalipun pernah menjadi guru dan kemudian bekerja sebagai wartawan, Soepratman lebih lancar berbahasa Belanda daripada bahasa Melayu. Ini adalah kenyataan yang dihadapi semua tokoh pemuda Indonesia ketika itu. Pada Kongres Pemuda ke-II yang melahirkan Sumpah &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemuda pada 1928, ternyata tidak semua tokoh pemuda dapat berpidato dalam bahasa Melayu. Mereka terpaksa memakai bahasa Belanda yang secara sukarela diterjemahkan oleh Mohammad Yamin dari perkumpulan pemuda Jong-Sumatera ke dalam bahasa Melayu. Maklum, hanya pemuda Sumatera yang ketika itu fasih berbahasa Melayu. Pada masa itu, bahasa Melayu belum menjadi bahasa terpopuler di Hindia Belanda, karena memang dikondisikan demikian oleh pemerintah kolonial. Bahasa Belandalah yang utama. Tak heran, jika para pemuda Indonesia lebih menguasai bahasa Belanda ketimbang bahasa anak negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soepratman menjawab tantangan itu. Sejak itu, ia mulai belajar menggubah lagu. Dengan segenap pendalaman yang serius, akhirnya ia berhasil merangkai kata-kata yang penuh pujian dan kemuliaan. Dan jadilah lirik lagu Indonesia Raya. Hebatnya lagi, syair Indonesia Raya hanya sekali mengalami revisi pada tahun 1944 oleh sebuah panitia yang memersiapkan kemerdekaan Republik Indonesia (PPKI), dan hingga kini tidak pernah diubah lagi. Sedangkan aransemennya sempat dipercantik oleh musisi Eropa kenamaan, Jozef Cleber, atas permintaan Presiden Soekarno, pada akhir 1950.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44o91VDgtI/AAAAAAAAAVg/fGimE4tMSP0/s1600-h/wr-supratman06.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44o91VDgtI/AAAAAAAAAVg/fGimE4tMSP0/s320/wr-supratman06.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156103666138317522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Naluri kebangsaan Soepratman kian menumbuh tatkala ia pindah ke Bandung pada 1924 dan menjadi wartawan suratkabar Kaoem Moeda. Di koran itu, Soepratman ikut memerjuangkan cita-cita bangsa dalam bidang komunikasi massa lewat kemahirannya bermain biola dan mencipta lagu. Soepratman juga pernah bekerja untuk suratkabar Sin Po. Selama menjadi jurnalis, Soepratman juga belajar menulis. Selain lewat nada, rasa tidak senangnya terhadap kolonialisme dituangkannya dalam bukunya yang berjudul Perawan Desa. Buku yang mengandung nilai-nilai nasionalitas dan menyinggung pemerintahan kolonial Belanda itu akhirnya disita dan dilarang beredar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1924 itu pula, lahirlah lagu Indonesia Raya. Lagu inilah yang kelak setelah Indonesia merdeka ditahbiskan sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia. Pemerintah kolonial tentu saja terkaget-kaget mendengar lagu ciptaan Soepratman. Bagaimana mungkin bangsa yang belum merdeka sudah memunyai lagu kebangsaan? Belanda tidak suka melihat pribumi menjadi satu, mereka lebih senang dengan kaum bumiputera yang terpisah-pisah ke dalam beberapa golongan suku. Pemerintah kolonial lebih nyaman melihat adanya suku Jawa, Sunda, Madura, Batak, Ambon, ataupun Minahasa ketimbang mengetahui mereka ini sudah menjadi satu kesatuan bangsa yang utuh yang menamakan diri mereka sebagai bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya ikrar Sumpah Pemuda dan lagu Indonesia Raya dianggap sebagai biang keladi pemersatu kaum pribumi, apalagi dalam lirik lagu itu termuat kata-kata “merdeka”, dan pihak kolonialis sangat alergi dengan itu. Pemerintah semakin murka karena ternyata lagu Indonesia Raya dengan cepat menjadi sangat populer di kalangan kaum intelektual pribumi dan seolah menjadi mantra sakti yang wajib dinyanyikan setiap mereka mengadakan pertemuan. Belanda ketakutan apabila semangat nasionalisme bangsa yang dijajahnya kian mewabah. Oleh karena itu, pemerintah pun memberlakukan aturan yang cukup ketat terhadap lagu Indonesia Raya. Belanda lantas melarang kata “merdeka, merdeka!” yang terdapat dalam refrein lagu Indonesia Raya dan mengancam akan memberikan hukuman berat bila aturan ini dilanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda juga dilarang menyanyikan lagu itu dengan berdiri atau di tempat umum. Lagu itu juga ditolak sebagai lagu kebangsaan (volkslied) serta diturunkan derajatnya menjadi lagu perkumpulan (clublied). Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka menyiasatinya dengan kata pengganti, “mulia, mulia!", bukan "merdeka, merdeka!". Para  aktivis perjuangan itu tetap saja menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan. Dan mereka tetap menyanyikan lagu itu pada setiap rapat-rapat politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditelisik dari susunan liriknya, lagu Indonesia Raya adalah suatu bentuk soneta atau sajak empatbelas baris yang terikat dalam satu pikiran dan perasaan yang bulat. Soneta ini terdiri dari satu oktaf (kumpulan delapan nada berturut-turut dengan dua kuatren yang masing-masing bait terdapat empat larik (puisi empat seuntai). Dengan ciri ini, Indonesia Raya sangat pas dinyanyikan dan dimainkan oleh masing-masing enam penyanyi dan enam pemain musik alias satu sekstet. Penggunaan bentuk ini dilihat sebagai avabt grade alias "mendahului zaman", kendati soneta sendiri sudah populer di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia Raya lebih berirama mars (tempo di marcia). Pada partitur aslinya, WR Soepratman menuliskan tanda irama khusus pada ciptaannya itu. Soepratman menulis,” Oepatjara. Djangan terlaloe tjepat!”. Artinya, lagu ini tidak akan bermakna jika dimainkan dalam tempo yang terlalu cepat karena di sinilah letak kekuatan magis lagu Indonesia Raya. Karena pada waktu penciptaannya terkendala oleh keterbatasan teknologi, lagu Indonesia di masa awal, didengar dari kesan iramanya, terasa kurang greget. Hal itu wajar karena fasilitas alat musik untuk memainkannya pun masih sangat sederhana. Maka itu, kepada Josef Cleber, Bung Karno meminta agar aransemen Indonesia Raya dipoles menjadi lebih menggetarkan jiwa. "Harus ada bagian yang liefelijk, yaitu pada bagian sebelum refrain. Refrainnya sendiri harus meledak agar menciptakan klimaks," pinta Bung Karno. Namun, untuk menjaga makna asli dan orisinalitas Indonesia Raya, Bung Karno mewanti-wanti Josep, “"Indonesia Raya itu seperti Bendera Merah Putih. Tidak perlu diberi renda-renda lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44relVDgwI/AAAAAAAAAV4/P3JmZz9XqQw/s1600-h/naskah-lagu-indonesia-raya-small2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44relVDgwI/AAAAAAAAAV4/P3JmZz9XqQw/s400/naskah-lagu-indonesia-raya-small2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156106427802288898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Josep Cleber memahami apa yang diinginkan Bung Karno. Bagian liefelijk (mendayu-dayu), yaitu empat baris sebelum refrain, didekati dengan dominasi alat-alat gesek seperti biola dan cello. Sedangkan untuk menciptakan efek gelegar pada refrain, Cleber memasukkan unsur simbal, timpani, dan terompet yang sangat gagah. Alhasil, sempurnalah lagu Indonesia Raya sebagai layaknya lagu kebangsaan negara seperti yang sering diperdengarkan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan sehari-hari Soepratman jauh dari layak. Ia tidak cukup banyak memunyai pakaian yang pantas dikenakan untuk menghadiri rapat-rapat politik. Pantalonnya yang dibikin dari kain berwarna putih sudah menjadi agak hitam. Di sana-sini terlihat rombeng, kain itu sudah kian menipis karena saking seringnya dipakai. Soepratman tak kuat membeli baju di tempat yang pantas dan lebih memilih berbelanja pakaian bekas di Pasar Senen. Rumahnya pun cuma berupa gubug reyot. Upahnya sebagai wartawan nyaris tak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan yang primer, untuk makan sehari-hari. Ia wajib bekerja keras mencari berita hingga ke pelosok-pelosok Batavia. Tak ada berita berarti tak makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, di balik segala kemelaratan dan kenestapaannya, WR Soepratman dengan gemilang mampu menciptakan lagu-lagu andalan bagi bangsa. Selain mahakaryanya Indonesia Raya, Soepratman sukses pula membikin lagu-lagu legendaris lainnya, salah satunya adalah lagu Ibu Kita Kartini. Ia juga menjadi aktor utama terciptanya lagu-lagu mars partai-partai pergerakan, seperti Mars-PBI, Mars-KBI, serta Mars-Suryawirawan. Lagu-lagu Soepratman pada saat itu sangat populer di kalangan aktivis pergerakan karena sangat bernafaskan semangat perjuangan. WR Soepratman juga pernah tercatat sebagai anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia (Partindo), juga Partai Indonesia Raya (Parindra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jasa utama WR Soepratman bagi pembentukan negara Indonesia. Soepratman adalah satu dari sedikit orang Indonesia yang mampu menggelorakan semangat kebangsaan rakyat lewat musik. Jika lazimnya pejuang pergerakan memantik nasionalisme rakyat melalui pidato, tulisan, citra personal, ataupun aksi-aksi politik, Soepratman berhasil membuka mata dan hati rakyat dengan kejeniusannya mencipta lagu yang mampu menyadarkan bangsa Indonesia bahwa mereka harus bergerak menuju kemerdekaan atas nama satu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pendudukan Jepang yang mulai menjajah Indonesia sejak 1942, lagu Indonesia Raya juga dilarang dinyanyikan. Baru pada 18 Agustus 1945, tujuhbelas tahun setelah diciptakan, Undang-undang Dasar 1945 memutuskan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia. Sayang, Soepratman telah meninggal dunia tepat delapan tahun sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Akibat menciptakan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu kebangsaan yang menggelorakan itu, ia selalu diburu oleh polisi Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44qH1VDguI/AAAAAAAAAVo/67Zfxcg1jpQ/s1600-h/supratman_11.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44qH1VDguI/AAAAAAAAAVo/67Zfxcg1jpQ/s320/supratman_11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156104937448637154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44qYVVDgvI/AAAAAAAAAVw/qndMeIyAYes/s1600-h/supratman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44qYVVDgvI/AAAAAAAAAVw/qndMeIyAYes/s200/supratman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156105220916478706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Kondisi kesehatan Soepratman mulai melemah sehingga ia dibawa ke rumah orangtuanya di Cimahi untuk menjalani perawatan dan istirahat. Tak lama kemudian, Soepratman yang sudah kepayahan diboyong ke Surabaya ke rumah salah seorang kakak perempuannya. Kendati sudah teramat parah, semangat Soepratman untuk terus berjuang tiada pernah redup. Di Surabaya inilah ia bergabung dengan Parindra bersama Dr Soetomo. Maut semakin dekat mengintai Soepratman ketika ia baru saja selesai menciptakan lagu terakhirnya yang bertitel Matahari Terbit. Pada awal Agustus 1938, ia ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama bersama para pemuda di Jalan Embong Malang-Surabaya. Kemudian Soepratman dipenjarakan di rumah tahanan Kalisosok Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wage Rudolf Soepratman  meninggal dunia tanggal 17 Agustus 1938 pada umur tigapuluhlima tahun karena sakit, kemungkinan sakit syaraf atau paru-paru. Soepratman rela mengorbankan dirinya demi bangsa dengan wafat pada usia muda, mendahului para seniornya. Soepratmanlah musisi muda Indonesia yang utama. "Harus saya akui, saya menitikkan air mata ketika membaca bagian yang mengisahkan akhir hayat Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu kebangsaan kita. Saya terharu, betapa orang sebesar dia harus mengakhiri hidupnya dalam kesepian dan kesengsaraan. Hidupnya sungguh tidak seindah lagunya," kenang Bung Karno salut.(Iswara NR, baca juga di: &lt;a href="http://bataviase.wordpress.com/2007/08/16/soneta-untuk-bangsa/"&gt;bataviase.wordpress.com)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-2028792460583616252?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/2028792460583616252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=2028792460583616252&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2028792460583616252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2028792460583616252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/01/soneta-untuk-bangsa.html' title='SONETA UNTUK BANGSA'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R44jyFVDgoI/AAAAAAAAAU4/tj5pPm7M9Xw/s72-c/wr-supratman-grave-08.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-8947112756317791576</id><published>2008-01-13T08:38:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.823+07:00</updated><title type='text'>ABOUT A (BAD) BOY (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Diposting dari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;: &lt;a href="http://tetapbergema.blogspot.com/2008/01/about-bad-boy-1.html"&gt;tetapbergema.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku sangat menginginkan seorang bapak, tapi malah mendapatkan seorang ayah. Aku benci ayah, aku benci ibu!” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kurt Donald Cobain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43OhVVDgeI/AAAAAAAAATs/ie950p4554A/s1600-h/nirvanad.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 167px; height: 252px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43OhVVDgeI/AAAAAAAAATs/ie950p4554A/s320/nirvanad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156004220465545698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MULANYA HANYA&lt;/span&gt; seorang bocah pemimpi yang senang membual, sesosok pemuda tampan hasil cipta keluarga brokenhome. Sebelum perjalanan abad memasuki dekade 1990, iabukanlah apa atau siapa, bahkan nyaris tak dikenal sebagai sosok yang tak lama lagi akan membuat seisi semesta menoleh padanya. Kendati sudah mulai merambah dunia permusikan, kerja sehari-harinya cuma lontang-lantung, rutinitasnya liar, ngeband dan manggung sana-sini nir bayar, berbuat onar, hidup tak teratur, tiada berumah, serta gemar merepotkan orang lain! Tapi semua berubah ketika sebuah pembuktian yang dilakukannya berhasil membikin marcapada melongo, salut dengan populeritasnya –yang fenomenal sekaligus kontroversial– sekonyong-konyong menonjok langit, menghujam bumi, menggetarkan gempita musik Amerika sekalian internasional. Inilah kisah tentang seorang anak (nakal)!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mencipta Lagu Sedari Balita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;"&lt;br /&gt;Waktu masih kecil, Kurt begitu saja memainkan lagu yang didengarkan dari radio. Ia bisa menuangkan apa saja ke dalam pikirannya di atas kertas atau melalui musik"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;(Kimberly,&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Adik Perempuan Kurt Cobain&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kurt Donald Cobain dilahirkan pada 20 Februari 1967 di Aberdeen, Washington, AmerikaSerikat, dari pasangan Wendy dan Donald Cobain . Wendy adalah sosok ibu rumahtangga yang cukup ideal bagi Kurt dan adiknya yang lahir ketika Kurt berumur tiga tahun, Kimberly Cobain. Sedangkan Don, yang bekerja sebagai mekanik di sebuah bengkel, terkesan lebih kaku dengan tampilan kacamata klasik dan rambut klimisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43WN1VDggI/AAAAAAAAAT8/toqGo8muu6o/s1600-h/baby_kurt.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43WN1VDggI/AAAAAAAAAT8/toqGo8muu6o/s200/baby_kurt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156012681551118850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kehidupan Kurt sedari bayi berjalan sangat wajar, bahkan terhitung bahagia dengan limpahan kasih sayang yang diberikan segenap keluarga besarnya. Menginjak usia dua tahun, secara fantastis Kurt kecil sudah memperlihatkan minatnya terhadap musik. Keluarga ibunda Kurt memang keluarga musisi: Chuck, kakak Wendy, tergabung dalam band Beachcombers; Mari, adik Wendy atau bibi Kurt, adalah pemain gitar; dan Delbert, paman Wendy, pernah berkarir sebagai penyanyi tenor Irlandia, bahkan sempat ikut bermain dalam film The King of Jazz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga itu teramat takjub ketika Kurt kecil dengan lancar menyanyikan lagu Hey Jude milik The Beatles, Motorcycle Song dari Arlo Guthire, serta lagu tema film televisi The Monkees. Bahkan, sebelum umurnya genap 5 tahun, Kurt sudah mengarang lagu. “Aku begitu kagum, seharusnya kurekam dengan tape recorder. Mungkin itu akan menjadi lagu pertamanya,” kenang Mari saat mendengar keponakannya mencipta sepenggal lagu tentang perjalanan mereka seusai bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakat seni Kurt sepertinya didukung dengan daya imajinasinya yang kuat. Ketika berumur 3 tahun, ia memiliki seorang teman khayalan bernama Boddah. Kurt sangat menyayangi kawan imajinernya itu. Dalam suatu kejadian, kala itu Kurt sedang bermain-main dengan tape milik bibinya, terdengar efek bunyi menggema. Kurt terkejut seraya berseru, “Suara itu bicara padaku? Boddah? Boddah?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa waktu, orangtua Kurt menjadi cemas atas keterikatan puteranya terhadap sahabat yang tak berwujud itu. Sebagai tindakan antispasi, mereka mengatakan kepada Kurt bahwa Boddah sudah tidak ada bersamanya lagi, ia telah dibawa seorang pamannya yang bertugas ke Vietnam. Namun sesungguhnya Kurt tidak benar-benar memercayai kata-kata orangtuanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Naluri Liar sang Seniman Belia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Keahlian Kurt lainnya adalah menggambar setan, sosok yang selalu dia gambar dalam bukunya di setiap pelajaran." &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Bill Burghadt, &lt;/span&gt;Kawan Sekolah Kurt Cobain&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada September 1972, Kurt memulai usia sekolahnya dengan masuk Taman Kanak-kanak Robert Gray yang berjarak tiga blok dari rumahnya. Bidang yang paling digemari dan dikuasainya adalah kelas seni, kala itu kemampuan artistiknya sudah luarbiasa: apa yang digambar Kurt seperti benar-benar tampak nyata. Tony Hirschman, kawan sekelas Kurt, berkata, “Dia bisa menggambar apa saja. Pernah kami melihat foto-foto werewolf (manusia serigala), kemudian Kurt menggambar seekor werewolf yang sangat mirip dengan fotonya.” Pada hari-hari libur atau hari ulang tahunnya, Kurt sering dihadiahi peralatan menggambar. Tak heran jika kamar Kurt lebih mirip studio lukis daripada sebuah ruang tidur seorang bocah berumur lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43SpFVDgfI/AAAAAAAAAT0/Nej-qpo71IU/s1600-h/COBAIN+KECIL+%286%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43SpFVDgfI/AAAAAAAAAT0/Nej-qpo71IU/s400/COBAIN+KECIL+%286%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156008751656042994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Darah seni yang mengalir dari diri Kurt didapat dari neneknya, Iris Cobain. Iris sendiri adalah kolektor piringan hitam tentang memorabilia ilustrator/pelukis legendaris Norman Rockwell. Sang nenek sering mengajak Kurt melakukan kegiatan favoritnya, yakni mengukir sketsa gambar Rockwell dengan tusuk gigi pada jamur yang baru saja dipetik. Sedangkan sang kakek, Leland Cobain, tidak begitu berminat terhadap seni. Meskipun begitu, ia sering mengajari Kurt cara membuat kerajinan dari kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakat Kurt menjalar ke ranah musik. Kurt, misalnya, bisa memainkan piano, mengiramakan nada-nada sederhana yang baru saja masuk ke kupingnya. Ketika ibunya membelikan satu set drum mainan bergambar Mickey Mouse, Kurt kecil tak kenal lelah menabuh drum itu sekuat tenaga. Kurt juga senang menenteng gitar milik bibinya, Mari, dan akan memetiknya sambil mengarang-ngarang lagu. Kaset pertama yang dibeli Kurt adalah album Terry Jacks dengan singlenya yang terkenal, Seasons in The Sun. Selain itu, Kurt juga sangat senang melihat-lihat koleksi album musik milik bibi dan pamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan masa kecil Kurt terancam punah ketika mulai sering terjadi pertengkaran antara ayah dan ibunya, biasanya karena masalah finansial. Akhirnya, hal yang paling ditakuti Kurt datang juga. Pada 9 Juli 1976, pengadilan memutuskan perkara perceraian orangtuanya, dan hak asuh atas Kurt serta adiknya, Kim, jatuh kepada sang ibu, Wendy. Kelak, saat ayahnya, juga ibunya, masing-masing telah menikah lagi, Kurt benar-benar dalam kondisi limbung. “Aku benci ayah, aku benci ibu!” teriaknya. Kurt, yang berusia 11 tahun saat itu, mulai merasa bahwa orangtuanya yang pernah menjadi dewa-dewa bagi masa kecilnya, sekarang berubah menjadi tokoh-tokoh mati, pujaan palsu, dan tidak bisa dipercaya. Mereka meninggalkan trauma yang teramat dalam pada diri Kurt, bahkan hingga ia tumbuh dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke sejarah bermusik Kurt. Sejak SD kelas 5, Kurt sudah mengambil kelas musik di sekolahnya. Dan ketika memasuki SMP Montesano pada September 1979, ia pun segera bergabung dengan grup drum band di almamaternya, dan termasuk pemain inti meski permainannya tidak begitu istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43XMFVDghI/AAAAAAAAAUE/gvPqIm_mhco/s1600-h/kurtCobainJaguar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 399px; height: 376px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43XMFVDghI/AAAAAAAAAUE/gvPqIm_mhco/s320/kurtCobainJaguar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156013750997975570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kurt juga masih mempertahankan gairah melukisnya yang sudah ia punyai semenjak kecil, dan ia menjadi jagoan di kelas seni di sekolahnya. Dalam suatu kesempatan, Kurt diberi mandat untuk menggambar sampul depan majalah sekolahnya, Puppy Press, edisi hari Halloween. Kurt sangat bersemangat, ia melukis seekor anjing bulldog, lambang sekolahnya, sedang menguras isi sebuah kantong permen di kandangnya. Naluri liarnya sudah kentara kala itu dengan menyisipkan sekaleng bir yang agak tersembunyi di tumpukan permen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Kurt juga lagi berhasrat mencipta gambar-gambar porno. Pernah suatu kali Kurt menggambar vagina, kendati ketika itu Kurt belum pernah berhubungan –bahkan hanya sekadar berpacaran– dengan perempuan secara intim. “Waktu itu, Kurt belum pernah melihat vagina secara langsung,” cerita Bill Burghadt, kawan sekelas Kurt. Keahlian Kurt lainnya, lanjut Bill, adalah menggambar setan, sosok yang selalu dia gambar dalam bukunya di setiap pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalurinya semakin berkembang ketika usianya menginjak angka 14 tahun. Kala itu tahun 1981, Kurt mulai mencoba-coba membuat film-film pendek sendiri dengan kamera milik ayahnya. Suatu kali, ia pernah membikin film yang mengisahkan adanya sekelompok alien yang mendaratkan pesawatnya di halaman depan rumah kelurga Cobain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain waktu, Kurt membuat film lagi, kali ini lebih sadis. Dalam film yang diberinya judul Kurt Commits Bloody Suicide itu, Kurt berakting memotong nadi pergelangan tangannya sendiridengan potongan kaleng minuman. Bersama seorang temannya yang bertugas mengambilgambar, film itu dilengkapi efek khusus, kendati alakadarnya, yakni darah buatan, dan Kurt memainkan sendiri adegan kematiannya secara dramatis! &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(Iswara NR-Bersambung)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43aqFVDgiI/AAAAAAAAAUM/nxerki7Iv7I/s1600-h/cobainLLL.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 305px; height: 165px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43aqFVDgiI/AAAAAAAAAUM/nxerki7Iv7I/s320/cobainLLL.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156017564928934434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-8947112756317791576?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='text/html' href='http://tetapbergema.blogspot.com/2008/01/about-bad-boy-1.html' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/8947112756317791576/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=8947112756317791576&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8947112756317791576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8947112756317791576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/01/about-bad-boy.html' title='ABOUT A (BAD) BOY (1)'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R43OhVVDgeI/AAAAAAAAATs/ie950p4554A/s72-c/nirvanad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-590977368592801146</id><published>2008-01-08T01:26:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:03.442+07:00</updated><title type='text'>KILAS KRONIK DESEMBER 2007</title><content type='html'>DESEMBER adalah bulan ke-12 dalam Kalender Gregorian. Kata ini diambil dari Bahasa Belanda, "December" yang mengambil dari bahasa Latin; decem yang berarti "sepuluh" karena dahulu tahun bermula pada bulan Maret.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Desember 1956. Mohammad Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden. Dan &lt;br /&gt;setiap1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 3 Desember 1937, tujuh karyawan gugur, berjuang mempertahankan markas Departemen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PU di Bandung (Gedung Sate). Peristiwa ini diabadikan sebagai Hari Kebaktian Pekerjaan Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joop Ave, politikus Indonesia, mantan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi dilahirkan pada 5 Desember 1934. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Desember 1959, Aceh ditetapkan sebagai Daerah Istimewa.&lt;br /&gt;Pada 8 Desember 1937 Sam Ratulangi menerbitkan edisi perkenalan Nationale Commentaren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permina (kelak bernama Pertamina), perusahaan minyak milik negara, didirikan pada 10 Desember 1957.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 Desember 1749, Kabupaten Blora didirikan. Sementara itu, jurnalis Indonesia, Desi Anwar, dilahirkan pada 11 Desember 1962.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 12 Desember 1992, bencana tsunami melanda pulau Flores, menewaskan kurang lebih 3.000 orang. Tanggal ini juga diperingati sebagai Hari Transmigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naamloze Vennootschap (NV) Kantor Berita ANTARA resmi berdiri pada 13 Desember 1937. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Desember 1913, pelukis Sindoedarsono Soedjojono dilahirkan.&lt;br /&gt;Baron van der Capellen, Gubernur-Jendral Hindia-Belanda (memerintah 1816-1826) lahir di Utrecht, Belanda, pada 15 Desember 1778.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjib Ermadi, jurnalis majalah Djajabaja, lahir di Kediri pada 17 Desember 1916. Sedangkan pada hari dan bulan yang sama tahun 1942, Soe Hok Gie, aktivis Indonesia, dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 Desember 1930, Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta meletus. Lebih dari 1500 orang tewas, 2500 hewan mati, berhektar sawah ladang hancur, dan ratusan rumah musnah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universitas Gadjah Mada (UGM) didirikan di Bulaksumur, Yogyakarta, pada 19 Desember 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah meninggal dunia pada 20 Desember 1945 Otto Iskandardinata, pejuang pergerakan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Desember 1930. Pengadilan Tinggi Bandung menjatuhkan hukuman terhadap pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI): Soekarno 4 tahun penjara, Gatot Mangkoepradja 2 tahun, Maskoen 1 tahun 8 bulan, dan Soeprijadinata 1 tahun 3 bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H.O.S. Tjokroaminoto, Ketua Central Sarekat Islam, pada 23 Desember 1915 menghadap Gubernur Jenderal Indenburg di Bogor, atas pengakuan Sarekat Islam dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 Desember 1924 diadakan Kongres Islam Luar biasa yang dihadiri lebih dari 1000 orang Islam, terdiri dari kalangan Sarekat Islam, Muhamadiyah, dan organ-organ Islam lainnya. Menghasilkan keputusan berdirinya Centraal Comite Chilafat di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa bumi besar terjadi di Samudra Hindia, lepas pantai Aceh, pada 26 Desember 2004, yang menyebabkan gelombang tsunami dan menewaskan sedikitnya 250.000 jiwa di belasan negara di Asia hingga Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 27 Desember 1926, diadakan Kongres Jong Java di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berdiri pada 1908, Boedi Oetomo baru memperoleh status badan hukum dari pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 28 Desember 1909.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Desember 2003. Wartawan RCTI yang ditawan oleh GAM, Ersa Siregar, tewas tertembak dalam kontak senjata antara pasukan GAM dan TNI di Desa Alue Matang Aron, Kabupaten Aceh Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dibubarkan karena bangkrut. Aset-aset milik perusahaan ini disita pemerintahan Belanda, termasuk daerah-daerahnya di Hindia-Belanda. Terjadi pada 31 Desember 1799.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-590977368592801146?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/590977368592801146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=590977368592801146&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/590977368592801146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/590977368592801146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2008/01/kilas-kronik-desember-2007.html' title='KILAS KRONIK DESEMBER 2007'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-5106696242787911089</id><published>2007-12-16T00:21:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.823+07:00</updated><title type='text'>RAJA FILOSOF IBNU KHALDUN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;“Ilmu sejarah menjelaskan tingkahlaku manusia yang membabitkan hal-hal kerajaan-kerajaan, kemahiran, dan ilmu pengetahuan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibnu Khaldun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2QOxpFEeyI/AAAAAAAAARM/RGGaaUfTrGg/s1600-h/khaldun+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2QOxpFEeyI/AAAAAAAAARM/RGGaaUfTrGg/s200/khaldun+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5144252920367446818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; ABDURRAHMAN Ibn Khaldun (1332 M-1406 M), lahir di Tunisia, adalah sosok pemikir muslim legendaris. Khaldun membuat karya tentang pola sejarah dalam bukunya yang terkenal: Muqaddimah, yang dilengkapi dengan kitab Al-I'bar yang berisi hasil penelitian mengenai sejarah bangsa Berber di Afrika Utara. Dalam Muqaddimah itulah Ibnu Khaldun membahas tentang filsafat sejarah dan soal-soal prinsip mengenai timbul dan runtuhnya negara dan bangsa-bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ibnu Khaldun menempuh pendidikan di Tunis untuk mempelajari Al-Qur’an, Hadist, serta beberapa cabang studi Islam. Ia juga belajar kesusastraan Arab, filsafat, matematika, dan ilmu falak. Ketika remaja, ia mengabdi kepada penguasa Mesir, Sultan Barquq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arnold Toynbee, sejarawan asal Inggris, menilai kemampuan pemikiran dan karya-karya Ibnu Khaldun dapat disejajarkan dengan Thusydides dan Machiavelli. Bahkan, kini semakin banyak ilmuwan dunia yang memandang Ibnu Khaldun sebagai peletak dasar-dasar falsafah sejarah dan sosiologi. Tentang ihwal keruntuhan sebuah negara, simak sepenggal isi Muqaddimah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia berlaku disebabkan beberapa faktor utama seperti berlakunya kedzaliman, penindasan dan kehilangan akhlak di kalangan pemerintah serta kesatuan yang baik antara komuniti masyarakat ke arah mengislahkan kerusakan serta kerja menegakkan makruf dan mencegah kemungkaran yang berlaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud Ibnu Khaldun dalam pernyataan ini adalah bahwa jatuhnya sebuah negara atau pemerintahan semata-mata disebabkan oleh ulah kaum di dalam negara itu sendiri,  bahwa negara-negara mempunyai usia alami sebagaimana manusia. Jatuh bangunnya sebuah negara ditentukan oleh sikap manusia yang ada di dalamnya. Ketidakadilan, kekecewaan rakyat, serta tirani adalah langkah awal kehancuran sebuah negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun berharap agar penguasa-penguasa muslim menjadi bijak, arif, dan tidak tenggelam dalam keserakahan. Asa Ibnu Khaldun tersebut dipengaruhi oleh ajaran Plato tentang konsep “Raja-Filosof”. Namun, harapan seperti ini tampaknya tidak kunjung menjadi kenyataan, baik pada masa hidup Ibnu Khaldun ataupun sesudahnya. Penguasa-penguasa ideal yang tampil dalam panggung sejarah Islam sudah menjadi sebuah kelangkaan. Kemungkinan, harapan dari pemikiran Ibnu Khaldun yang menjadi salah satu faktor mengapa Ibnu Khaldun kerap disebut sebagai sejarawan pesimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2QVcZFEe1I/AAAAAAAAARk/l3fqsla92aw/s1600-h/khaldun+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2QVcZFEe1I/AAAAAAAAARk/l3fqsla92aw/s320/khaldun+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5144260251876621138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun juga kesohor sebagai seorang sejarawan handal. Banyak diantara pemikirannya yang menjangkit soal sejarah. Tujuan umum penulisan sejarah bagi Ibnu Khaldun adalah agar generasi berikutnya dapat mengetahui dan menyikapi keadaan masa lalu, serta dapat mengambil ibrah dalam upaya membangun masa depan (masa depan tegak di atas masa lalu). Sejarahlah yang menjadi jembatan pertemuan masa lalu dan masa yang akan datang.  Ibnu Khaldun sangat menonjol di antara sejarawan lainnya, karena memperlakukan sejarah sebagai ilmu, tidak hanya sebagai dongeng. Dia menulis sejarah dengan metode baru untuk menerangkan, memberi alasan, dan mengembangkannya sebagai sebuah filsafat sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Khaldun, sejarah adalah salah satu disiplin ilmu yang dipelajari secara luas oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi. Dalam hakekat sejarah, terkandung pengertian observasi dan usaha mencari kebenaran, keterangan mendalam tentang sebab dan asal muasal benda., serta pengetahuan tentang substansi, esensi, serta musabab terjadinya suatu peristiwa. Dengan demikian, sejarah benar-benar terhujam berakar dalam filsafat, dan patut dianggap sebagai salah satu cabang filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah memiliki metode yang sangat mantap, dengan tafsir penggunaan yang teramat banyak, serta bertujuan mulia. Sejarah membikin manusia paham akan bangsa-bangsa terdahulu, sebagai refleksi tingkah laku bangsa mereka terkini. Intinya, sejarah adalah refleksi roda kehidupan manusia: sejarah akan selalu berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2QU05FEe0I/AAAAAAAAARc/i7BoTH4Y9EU/s1600-h/ibn_khadun_autografo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2QU05FEe0I/AAAAAAAAARc/i7BoTH4Y9EU/s200/ibn_khadun_autografo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5144259573271788354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Dengan mempertautkan sejarah dengan filsafat, Ibnu Khaldun tampaknya ingin mengatakan bahwa sejarah memberikan kekuatan intuisi dan inspirasi kepada filsafat, sedangkan filsafat menawarkan kekuatan logika kepada sejarah. Dengan begitu, seorang sejarawan akan mampu memperoleh hasil yang relatif valid dari proses penelitian sejarahnya, dengan dasar logika kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal kebenaran sejarah, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa hukum sejarah berlaku secara universal sehingga kebenarannya dapat terungkap. Untuk mengetahui benar atau salah suatu sejarah, didasarkan atas kemungkinan dan ketidakmungkinan. Kita harus mempelajari kehidupan manusia untuk mengetahui perbedaan karateristik pokok dengan karateristik umum. Pedoman untuk menyatakan kebenaran suatu sejarah adalah dengan menggunakan metode yang dapat ditunjukkan dan diakui masyarakat hingga bersih dari kesalahan. Hal tersebut merupakan alat penguji bagi para ahli sejarah yang ingin mendapat penjelasan tentang kebenaran suatu sejarah. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Iswara N Raditya)&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-5106696242787911089?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/5106696242787911089/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=5106696242787911089&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5106696242787911089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/5106696242787911089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/12/raja-filosof-khaldun.html' title='RAJA FILOSOF IBNU KHALDUN'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2QOxpFEeyI/AAAAAAAAARM/RGGaaUfTrGg/s72-c/khaldun+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-287007390160948243</id><published>2007-12-15T04:35:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:03.442+07:00</updated><title type='text'>INDONESIA (SUDAH) MERDEKA(?)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2L5JJFEetI/AAAAAAAAAQg/Ief8lDePA94/s1600-h/merdeka+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2L5JJFEetI/AAAAAAAAAQg/Ief8lDePA94/s200/merdeka+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143947659861850834" /&gt;&lt;/a&gt; RAKYAT MALAYSIA mungkin (dan pasti) masih memendam rasa iri lagi dengki ketika dunia membincangkan kemerdekaan, apalagi soal nasionalisme Indonesia. Ya, mereka nyaris tak pernah merasakan kepuasan sejati dalam menikmati nikmatnya merdeka, karena Negeri Jiran beroleh kebebasannya bukan melalui perjuangan fisik: kemerdekaan Malayasia adalah bagian rencana matang yang disusun oleh imperialis Inggris. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itulah yang tersisa dari kebanggaan bangsa Indonesia, bahwa kita pernah berpeluh darah memperjuangkan kemerdekaan. Di tengah peliknya kondisi negara dan terlampauinya kemajuan kita oleh negera tetangga itu, setidaknya bangsa Indonesia masih bisa membusungkan dada untuk menunjukkan harga diri, bahwa kemerdekaan yang kita raih bukan merupakan “hadiah” dari penjajah, namun dihasilkan dari sebuah proses perjuangan panjang yang melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah benar-benar meredeka? Jika dirunut kembali, sebenarnya ada yang salah dengan maklumat Proklamasi Kemerdekaan RI yang dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu. Apa pasal? Bila memang hari kemerdekaan Indonesia ditetapkan jatuh pada tanggal diumumkannya Proklamasi, seharusnya setelah hari itu Indonesia harus benar-benar menjadi negara yang merdeka dan berdaulat penuh, tanpa harus mendapat (lagi) intervensi dari bangsa lain. Kenyataannya, paska proklamasi, tepatnya sebulan kemudian, Belanda masuk kembali ke wilayah Indonesia dan berusaha untuk menguasai kembali Indonesia sebagai daerah jajahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2L5-5FEevI/AAAAAAAAAQw/qf5pDBjhDN0/s1600-h/merdeka-2005.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2L5-5FEevI/AAAAAAAAAQw/qf5pDBjhDN0/s200/merdeka-2005.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143948583279819506" /&gt;&lt;/a&gt; Masuknya Belanda, yang beralih rupa menjadi NICA, ke wilayah Indonesia adalah satu pertanda bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI yang dibacakan Ir. Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1945 menjadi gugur alias tidak berlaku lagi. Penyebannya adalah, karena kemerdekaan itu tidak diakui oleh bangsa lain, yaitu Belanda dan sekutu-sekutunya. Dari pihak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagai lembaga internasional tertinggi, pun tidak memberikan tindakan yang tegas atas percobaan penjajahan jilid dua yang dilakukan Belanda. Bahkan, bangsa Indonesia harus bergerak sekali lagi, baik perjuangan fisik maupun diplomasi, untuk menunjukkan pada dunia bahwa di bumi ini masih ada bangsa yang sedang berjuang menuju kemerdekaan sejati: Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan bangsa Indonesia di masa setelah kemerdekaan, menurut saya, malah menyimpulkan adanya dua gejala yang dilematis. Pertama, perjuangan sebenarnya yang dilakukan bangsa ini adalah di masa-masa mempertahankan kemerdekaan, karena selain harus terus-menerus mengobarkan perlawanan fisik yang menelan begitu banyak korban, Indonesia juga harus berjuang mati-matian secara diplomatik di tingkatan elit internasional, untuk memberikan citra bahwa Indonesia masih dan akan terus ada sebagai negara merdeka serta berdaulat penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, jika mau jujur, sebenarnya dengan adanya perjuangan ini malah menunjukkan bahwa Indonesia belum merdeka. Kalau sudah merdeka, mengapa Belanda ingin kembali menjajah? Dan mengapa PBB tidak menindak tegas Belanda karena memasuki negara merdeka? Itu karena Indonesia memang belum merdeka; tidak diakui dunia secara keseluruhan. Faktor belum stabilnya kondisi global akibat perang mungkin bisa menjadi alasan yang cukup rasional. Jika demikian adanya, apakah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dapat dijadikan Hari Kemerdekaan Indonesia? Saya kira perlu dikaji ulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2L5rZFEeuI/AAAAAAAAAQo/ls9FQ79_WNU/s1600-h/subang+mer.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2L5rZFEeuI/AAAAAAAAAQo/ls9FQ79_WNU/s200/subang+mer.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143948248272370402" /&gt;&lt;/a&gt; Yang pantas disebut sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia adalah hari di mana Indonesia benar-benar terlepas dari masalah-masalah politik yang melibatkan pihak luar. Hari di mana tidak ada intervensi asing yang mengancam rakyat dan negeri ini. Hari di mana seluruh dunia bersepakat mengangukkan kepala untuk mengamini berdirinya sebuah negara baru yang berdaulat. Hari di mana seluruh rakyat bergegap gempita menyambut kebebasan tanpa adanya kecemasan yang tertinggal di kalbu mereka akan ironi penjajahan. Namun, kapan kira-kira hari itu tiba? Apakah saat ini kita sudah merasakan kemerdekaan itu? Apakah saat ini kita sudah hidup di negara yang katanya berdaulat itu? Mungkin hanya masing-masing dari kita yang tahu, karena kitalah yang merasakan. Sudah merdekakah kita? (Iswara N Raditya) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-287007390160948243?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/287007390160948243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=287007390160948243&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/287007390160948243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/287007390160948243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/12/indonesia-sudah-merdeka.html' title='INDONESIA (SUDAH) MERDEKA(?)'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2L5JJFEetI/AAAAAAAAAQg/Ief8lDePA94/s72-c/merdeka+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-1824633195070989170</id><published>2007-12-14T02:58:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.824+07:00</updated><title type='text'>KANT: MORAL ITU ABSOLUT!</title><content type='html'>"Bila sains dan akal tidak dapat diandalkan dalam mempelajari agama, maka apa selanjutnya? Moral!" &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Immanuel Kant)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GQwmNGRXI/AAAAAAAAAQA/I6vL6mkIU1w/s1600-h/moralfervor.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GQwmNGRXI/AAAAAAAAAQA/I6vL6mkIU1w/s200/moralfervor.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143551413997421938" /&gt;&lt;/a&gt; “MEMAHAMI dunia berarti mengubahnya,” kata Immanuel Kant (1724-1804), filsuf legendaris asal Jerman. Kant adalah seorang penganut Lutheran yang menekankan hidup sederhana di bawah hukum-hukum moral. Kant menjadi siswa teologi di Universitas Konigsberg, di mana ia menyelesaikan gelar sarjananya pada tahun 1755. Karya paling besar Kant adalah Critique of Pure Reason yang dipublikasikan pada 1781, delapan tahun sebelum Revolusi Prancis. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad ke-18 merupakan era di mana pergolakan dua aliran besar filsafat sedang menemui titik puncak, dan Kant berharap dapat meretas terobosan baru untuk mendamaikan dua aliran besar yang sedang berseteru tersebut. Para penganut aliran rasionalis berpendapat bahwa hanya rasio saja yang dapat memahami dunia tanpa perlu dibantu oleh indra.  Sementara kaum empiris mempertahankan keyakinan bahwa semua pengetahuan harus didasarkan dengan teguh di dalam pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua belah kubu yang bertikai ini ternyata memiliki kelemahan: pengetahuan yang diperoleh lewat rasio murni mungkin memang pasti, namun hanya dapat menjelaskan sedikit saja bagaimana dunia bisa tetap eksis keberadaannya. Di sisi lain, pengetahuan empiris memang dapat menyajikan banyak hal tentang dunia, namun ia harus mengorbankan kadar pasti akan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GRF2NGRYI/AAAAAAAAAQI/KY6UYY0iArw/s1600-h/immanuel-kant.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GRF2NGRYI/AAAAAAAAAQI/KY6UYY0iArw/s200/immanuel-kant.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143551779069642114" /&gt;&lt;/a&gt;Usaha Kant untuk merukunkan kedua aliran akbar ini bukanlah merupakan jalan pintas di dalam filsafat. Bagi Kant, rasionalitas itu melengkapi  hubungan sistematis. Sedangkan pensistematisan pengetahuan adalah koherensinya sesuai dengan satu prinsip.  Kant bertegas bahwa metafisika, usaha untuk memfilsafatkan hakikat realitas, telah bergerak maju. Kant melontarkan sanggahan terhadap pendapat David Hume (1711-1776), pakar empirisme asal Skotlandia. Hume berpendapat bahwa pengetahuan mengenai dunia yang dapat diindra ini tidak akan pernah dapat diraih kecuali hanya dengan indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kant mencoba menyanggah apa kata Hume tadi. Ia memperkenalkan sebuah metafisika baru sebagai gantinya. Kant berdalil: kita memang mencerap objek-objek lewat indra, namun kita akan keliru jika berpikir bahwa indra kita-lah yang membuat semuanya itu menjadi sebuah kebenaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Meski saya dapat membayangkan ruang yang tidak ada apa-apa di dalamnya, namun saya tidak dapat membayangkan apa-apa di dalamnya tanpa membayangkan ruang terlebih dahulu,” ungkap Kant. Menurutnya, bentuk-bentuk pengalaman seperti ini, yang Kant contohkan dengan konsep mengenai ruang, mestinya telah terbangun dalam intuisi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kant menawarkan beberapa cara bagaimana pikiran menata pengalaman, rasio mengatur empiris. Cara yang paling penting adalah asumsi sebab-akibat, yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah hasil dari sebuah peristiwa sebelumnya, di mana yang pertama menentukan karakter peristiwa yang kedua. Cara tersebut, menurut Kant, adalah usaha untuk mengaplikasikan bentuk-bentuk umum tadi kepada objek-objek di luar pengalaman kita yang dapat memimpin pada kesia-siaan metafisika tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GRfGNGRZI/AAAAAAAAAQQ/n8mH0KZBCRQ/s1600-h/01sabine.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GRfGNGRZI/AAAAAAAAAQQ/n8mH0KZBCRQ/s200/01sabine.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143552212861339026" /&gt;&lt;/a&gt; Kant bertanya: Bila sains dan akal tidak dapat diandalkan dalam mempelajari agama, maka apa selanjutnya? Kata Kant: Moral. Moral adalah kata hati, suara hati, perasaan, suatu prinsip yang apriori, absolut. Moral merupakan suatu realitas yang mengherankan dalam diri manusia, perasaan yang tidak bisa dielakkan, menentukan ini benar atau ini salah.  Kata hati itu memberi perintah. Ia adalah suatu categorial imperirative, perintah tanpa syarat yang ada di dalam kesadaran kita. Perintah itu ialah perintah untuk berbuat sesuai dengan keinginan universal, yaitu suatu hukum kewajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengetahui hukum kewajaran bukan karena memikirkannya, melainkan dengan perasaan tiba-tiba. Kita merasakan bahwa kita harus menghindari perbuatan yang bila dilakukan oleh semua orang akan mengakibatkan kehidupan masyarakat menjadi tidak mungkin. Misalnya, apakah saya akan menghindarkan diri dari hukuman karena berbohong? Padahal, tatkala saya akan berbohong, bahkan sebelumnya, saya tahu bahwa hukum universal mengatakan berbohong itu jahat. Ada kesadaran dalam diri saya, saya tidak boleh berbohong, sekalipun menghasilkan keuntungan bagi saya, atau bagi orang lain. Moral yang kita miliki itu absolut! (Iswara N Raditya, 2006)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-1824633195070989170?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/1824633195070989170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=1824633195070989170&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1824633195070989170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1824633195070989170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/12/kant-moral-itu-absolut.html' title='KANT: MORAL ITU ABSOLUT!'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GQwmNGRXI/AAAAAAAAAQA/I6vL6mkIU1w/s72-c/moralfervor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-8288627636110105380</id><published>2007-12-14T02:15:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:49.611+07:00</updated><title type='text'>IMAJINASI DI BALIK (PENULISAN) SEJARAH</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;"Tak selamanya imajinasi itu sebuah fiksi. Meski remang, ia adalah hasil pikir nyata yang bermuasal dari suatu penggambaran dari sesuatu yang benar-benar ada."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GG1WNGRUI/AAAAAAAAAPo/tPwGR9UXKvg/s1600-h/imagine.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GG1WNGRUI/AAAAAAAAAPo/tPwGR9UXKvg/s200/imagine.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143540500485522754" /&gt;&lt;/a&gt; IMAJINASI identik dengan khayalan, juga sering dihubungkan dengan pikiran bawah sadar. Seseorang yang sedang tidur, misalnya, nalarnya masih bekerja namun di luar kesadaran. Gagasan imajiner dapat bermula dari pikiran berandai- andai. Pendek kata, imajinasi ialah pemikiran manusia yang samar. Imajinasi merupakan sebuah pemikiran yang terbentuk atas bayangan-bayangan tentang sesuatu di benak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah kesejarahan, imajinasi berperan cukup penting. Setiap rekonstruksi sejarah akan menghasilkan suatu bentuk. Setiap bentuk memuat unsur-unsur yang mewujud konstruk. Sebuah konstruk adalah abstrak, maka ia tidak mungkin sama dengan gambaran lengkap dari apa yang sesungguhnya terjadi. Dalam melakukan suatu penelitian, seorang sejarawan tentu saja harus mendasarkan penelitiannya kepada fakta-fakta yang diperoleh. Namun, seseorang tidak bisa serta merta memahami fakta-fakta sejarah itu, yang terjadi di masa lampau. Di sinilah imajinasi seorang sejarawan berperan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berimajinasi, seseorang akan dapat menggambarkan tentang kejadian yang berlangsung pada suatu waktu., dengan berdasarkan pada fakta. Fakta menjadi landasan sejarawan untuk berimajinasi. Menurut Sartono Kartodirjo dalam Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, konstruk dari sebuah kejadian sejarah dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang utuh dan bulat. Maka, bagi penyusunan fakta-fakta menjadi sebuah kebulatan diperlukan tambahan unsur-unsur lain. Itulah unsur imajinasi sejarawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GMY2NGRVI/AAAAAAAAAPw/9yPSfOQAQhY/s1600-h/imagine+PPP.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GMY2NGRVI/AAAAAAAAAPw/9yPSfOQAQhY/s200/imagine+PPP.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143546607929017682" /&gt;&lt;/a&gt; Setiap narasi pastinya memuat fakta-fakta mengenai apa, siapa, bagaimana, di mana, dan kapan (5W + 1H), tentang suatu kejadian tertentu. Mengenai bagaimana sesuatu itu bisa terjadi, tentu saja seorang sejarawan tidak bisa mengetahui dengan pasti, karena ia tidak hidup pada zaman itu. Namun, itu tidak berarti narasi tidak bisa disusun. Di sini, imajinasi berperan dalam melengkapi kekosongan di alam pikiran sejarawan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, sejarawan sangat memerlukan imajinasi sebagai unsur pelengkap dari pelbagai fakta yang diperoleh. Tanpa memiliki daya imajiner yang kuat, karya yang dihasilkan seorang sejarawan dapat dipastikan tidaklah menarik, membosankan dan membuat orang lain, utamanya orang awam, enggan untuk membacanya. Apa pasal? Tanpa imajinasi yang kuat, seseorang tidak akan dapat menggambarkan kejadian yang terjadi di masa silam itu. Dan tanpa penggambaran yang mudah dicerna, pembaca tidak akan dapat menemukan dirinya di alam sejarah yang sedang diangkat oleh sang sejarawan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahseorang sejarawan Indonesia yang kuat daya imajinasinya adalah Pramoedya Ananta Toer. Meski masih menjadi perdebatan, apakah Pram adalah seorang sejarawan atau sastrawan, namun karya-karyanya yang monumental hampir seluruhnya berbicara mengenai sejarah tentang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak novel sejarah yang ia hasilkan dari perpaduan kajian fakta dan daya imajinasi. Sebut saja Arok Dedes, yang mengisahkan tentang jatuhnya pemerintahan Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung, serta Kerajaan Kediri, Arus Balik yang berkisah tentang runtuhnya Majapahit dan awal masuknya Islam ke Nusantara,  atau Tetralogi Pulau Buru yang sangat mengemuka seantero jagad: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, yang merupakan gambaran sepak-terjang pemula pergerakan nasional pada awal abad ke-20, Minke alias Tirto Adhi Soerjo. Belum lagi karya-karya Pram yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GM4WNGRWI/AAAAAAAAAP4/g_Wmtiut6l8/s1600-h/pram-recorders.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GM4WNGRWI/AAAAAAAAAP4/g_Wmtiut6l8/s200/pram-recorders.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143547149094896994" /&gt;&lt;/a&gt; Pram adalah seorang yang sangat piawai dalam menggambarkan suatu kejadian sejarah, hingga pembaca dapat merasakan seolah-olah hidup di alam itu dan seakan-akan mengalami kejadian yang dibentangkan dalam karya-karya Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Pramoedya Ananta Toer, yang lama terseok ke dalam penderitaan akibat arogansi pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, adalah salah seorang yang bisa dijadikan panutan dalam mengembangkan imajinasi sejarah. Meski karya Pram “hanyalah” sebuah novel, namun hasilnya tetap saja bermutu, karena ia juga menggunakan sumber-sumber sejarah yang memaparkan fakta-fakta, selain juga karena daya imajinasinya yang dahsyat. (Iswara N Raditya, 2005) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-8288627636110105380?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/8288627636110105380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=8288627636110105380&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8288627636110105380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8288627636110105380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/12/ada-imajinasi-di-balik-penulisan.html' title='IMAJINASI DI BALIK (PENULISAN) SEJARAH'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R2GG1WNGRUI/AAAAAAAAAPo/tPwGR9UXKvg/s72-c/imagine.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-4813014017576367572</id><published>2007-12-12T01:19:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:03.443+07:00</updated><title type='text'>KILAS KRONIK BULAN NOVEMBER</title><content type='html'>NOVEMBER adalah bulan kesebelas Kalender Gregorian. Diambil dari bahasa Latin "novem" , berarti "sembilan", karena dahulu tahun bermula pada bulan Maret. Di Indonesia, bulan ini kadang dieja sebagai NOPEMBER. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Gustaaf Willem Baron van Imhoff (memerintah 1743-1750), wafat pada 1 November 1750. Van Imhoff dikenal sebagai pemicu perpecahan kerajaan Mataram Baru menjadi Surakarta dan Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Grand Old Man Agus Salim meninggal dunia pada 4 November 1954. Agus Salim adalah pejuang pergerakan (petinggi Sarekat Islam, penggagas Jong Islamieten Bond, anggota Volksraad), aktivis pers nasional (Neratja, Hindia Baroe, Bendera Islam, Fadjar Asia , Moestika), juga pelopor tradisi diplomasi (menteri luar negeri 1946-1949).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 6 November 1157, kakawin Bharatayuddha selesai ditulis oleh mpu Panuluh dan mpu Sedah atas perintah Prabu Jayabaya, Raja Kerajaan Kadiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 7 November 1935, penyair kenamaan Indonesia WS Rendra dilahirkan. Sementara Aming Sugandhi alias Aming, komedian dan entertainer kenamaan Indonesia, lahir pada 7 November 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeklerasian Masyumi sebagai partai politik terjadi pada 8 November 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 November 1945. Batas akhir yang diultimatumkan pasukan Sekutu agar Surabaya menyerah. Terjadi pertempuran besar hingga sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris. Kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 November 1743 adalah tanggal ditandatanganinya Perjanjian Paku Buwono II antara Kesultanan Mataram dengan VOC: Surabaya dikuasai VOC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentrokan dengan aparat keamanan di Jalan Sudirman Jakarta dalam demonstrasi menentang Sidang Istimewa MPR terjadi pada 12 November 1998. Seorang pelajar, Lukman Firdaus, tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Try Sutrisno, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, lahir pada 15 November 1935. Sedangkan pada 15 November 1945, Perundingan Linggarjati ditandatangani: Belanda mengakui kekuasaan Republik Indonesia di wilayah Jawa, Sumatera, dan Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada 18 November 1912.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artis seksi kebanggaan Indonesia, Ayu Azhari, dilahirkan pada 19 November 1969.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arswendo Atmowiloto, seorang penulis, seniman, juga jurnalis kenamaan Indonesia dilahirkan pada 26 November 1948. Dan pada 26 November 2004 terjadi gempa bumi berkekuatan 7,2 skala Richter di Nabire, Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 November 1965, Universitas Trisakti didirikan. Sepuluh tahun kemudian, 29 November 1975, kelompok militan pro-Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih di wilayah konflik Timor Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memproklamasikan kemerdekaan dari Portugal, Timor-Timur menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 30 November 1975.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-4813014017576367572?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/4813014017576367572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=4813014017576367572&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/4813014017576367572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/4813014017576367572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/12/november.html' title='KILAS KRONIK BULAN NOVEMBER'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-3974486321733046518</id><published>2007-12-11T00:42:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.824+07:00</updated><title type='text'>NEGARA DALAM IMAGINE JOHN LENNON</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Napaktilas kaul 27 tahun kematian John Lennon, musisi legendaris The Beatles, berikut sumbangan tulisan dari Patrik Matanasi, penulis buku Westerling: Kudeta yang Gagal, seorang kawan sekaligus "musuh" yang harus dibasmi dari bumi Jawa.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"imagine there no country"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1-o5WNGRTI/AAAAAAAAAPg/EtYpLTzGZNM/s1600-h/john.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1-o5WNGRTI/AAAAAAAAAPg/EtYpLTzGZNM/s200/john.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143015002646922546" /&gt;&lt;/a&gt;ENTAH APA yang terlintas dalam kepala John Lennon. Mungkin Lennon enggan membayar pajak, rasanya uang John Lennon tidak akan habis bila dia membayar pajak.  Bayar  pajak memang mengesalkan. Negara lahir untuk menghindari kekacauan. Nyatanya, kekacauan yang dilenyapkan negara hanya lahirkan pembungkaman yang menusuk sisi-sisi kemanusiaan, kemanusiaan yang dinjak atas nama negara, mungkin itu yang dibenci John Lennon dari negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Benar adanya bila banyak orang yang mati negara--namun tidak semuanya dilabeli pahlawan, karena banyak juga yang dilebeli sebagai pengkhianat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1199mNGROI/AAAAAAAAAO4/8UkctIUow4Y/s1600-h/LENNON.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1199mNGROI/AAAAAAAAAO4/8UkctIUow4Y/s200/LENNON.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142404846707950818" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti halnya sejarah, negara juga dibangun dengan lumuran darah. Ketika Republik ini dibangun pun bergalon darah tercecer oleh Revolusi--tidak heran bila Soekarno bilang, bahwa Revolusi pasti akan mengorbankan anaknya--pada awal kemerdekaan Republik mimpi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bila negara terbangun apakah akan selesai tetesan darah itu? Rasanya belum darah masih akan menetes entah untuk siapa? Katanya untuk negara. Lantas orang miskin akan bertanya, siapa itu negara? Apakah negara itu orang-orang kaya? Orang kulit hitam di Afrika Selatan zaman Apartheid bertanya, apakah negara itu orang-orang kulit putih. Di Burma orang juga pasti bertanya, apakah negara itu milik kaum mayoritas?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara nyatanya tidaklah milik rakyat--padahal negara disetting untuk melayani kebutuhan manusia yang bernafas naungan wilayah yang diklaim negara itu. Apa yang banyak terjadi, Negara tidak lebih dari institusi yang didominasi orang-orang kolot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R12A7mNGRSI/AAAAAAAAAPY/zUSgsgAwZXM/s1600-h/JohnLennon+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R12A7mNGRSI/AAAAAAAAAPY/zUSgsgAwZXM/s320/JohnLennon+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142408110883095842" /&gt;&lt;/a&gt; John Lennon bukan negarawan--walau nama tengahnya Winston yang dicomot dari nama Winston Churchild. Imagine there no country, seperti dalam lirik lagu Imagine rasanya kurang dipedulikan orang. Lagu anti perang dan penindasan itu kerap dinyanyikan ketika terjadi bencana alam. Lagu ini sebenarnya bukan menggugat alam kejam buah tangan Tuhan ini. Imagine lebih bicara tentang kebodohan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lennon memang bukan sejarawan, namun Lennon merasa Negara juga penindas. Lihat saja zaman raja Louise di Perancis. Zaman sekarang, dimana manusia merasa merasa paling beradab dari masa sebelumnya, Negara masih tetap dengan jiwa yang sama--hanya dengan wajah berbeda saja. Ini zaman dimana demokrasi adalah wajah negara di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R11_62NGRRI/AAAAAAAAAPQ/AoiNgTbFgK0/s1600-h/LENNON+JADI+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R11_62NGRRI/AAAAAAAAAPQ/AoiNgTbFgK0/s400/LENNON+JADI+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142406998486566162" /&gt;&lt;/a&gt; Negara kerap merasa menjadi penguasa dunia. Seperti kata Marx, Negara adalah institusi yang berhak menggunakan tindak kekerasan kepada rakyatnya. Dengan kata Marx itu, betapa kaum komunis juga komunis, tidak memiliki konsep negara ideal ala Marxis. Mengapa harus ada Uni Sovyet pasca Revolusi Rusia Oktober 1917. Pastinya, negara hanya kebutuhan terpaksa yang harus ada, seperti terngiang dalam benak Lenin. Marx sendiri tidak berkoar soal negara kecuali menggugat sistem kapitalis--dimana negara-negara besar di barat bersekutu dengan pemilik modal. Dimana rakyat sebagai manusia tidak dilayani namuan diperbudak. Negara bisu ditengah derita sebagian besar manusia oleh injakan sejarah. Negara bahkan menjadi kaki yang menginjaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imagine, tanpa Lennon sadari, berusaha menghentikan penginjakan kaki sejarah atas manusia—“menghapuskan penghisapan manusia atas manusia" kata Marx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lennon bukan Marxis yang inginkan Negara tidak ada—kecuali  masyarakat Sosialis bagi kaum marxis tapi entahlah masyarakat macam apa yang diinginkan John Lennon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan bila tidak ada negara. Tidak akan ada orang yang mati untuk negara juga tidak ada kekerasan. Itu yang terngiang pada pertengahan lagu Imagine yang ditulis John Lennon. Sayang lagu itu lebih banyak dianggap bualan Lennon saja—padahal tidak sulit membayangkannya kecuali mewujudkannya. Dunia, bagi banyak manusia, butuh Tuhannya sendiri. Negara, Tuhan manusia di dunia itu, akan murka bila meresapi lagu Imagine-nya John Lennon itu—juga bila membaca tulisan ini, sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Tulisan ini didedikasikan untuk John Lennon yang ditembak mati Mark David Chapman 27 tahun lalu di New York, Amerika Serikat. (Batavia, 10 Desember 2007; Patrik Matanasi)&lt;/blockquote&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-3974486321733046518?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/3974486321733046518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=3974486321733046518&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/3974486321733046518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/3974486321733046518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/12/negara-dalam-imagine-john-lennon_10.html' title='NEGARA DALAM IMAGINE JOHN LENNON'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1-o5WNGRTI/AAAAAAAAAPg/EtYpLTzGZNM/s72-c/john.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-871460853286854473</id><published>2007-12-05T04:01:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:07:59.478+07:00</updated><title type='text'>ANAK MEULABOH</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cerpen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1XCJx5Dl5I/AAAAAAAAAOg/vslX5k4QnME/s1600-h/baiturahman+(ACEH).jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1XCJx5Dl5I/AAAAAAAAAOg/vslX5k4QnME/s200/baiturahman+(ACEH).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140228022980548498" /&gt;&lt;/a&gt; SIMUH ANAK dari keluarga sederhana, seperti kebanyakan anak-anak lain di Meulaboh, tanah airnya. Konon katanya, ia masih ada keturunan darah dengan Teuku Umar, pahlawan Serambi Mekah yang terkenal itu. Kakek pun dulu seorang pejuang, ikut berperang mengusir penjajah dari Tanah Rencong. Namun, tidak demikian dengan bapaknya. Bapaknya adalah seorang pencari ikan paling tersohor di kampung nelayan yang ia tinggali. Hampir tiap hari hasil tangkapan bapaknyalah yang paling meruah diantara nelayan lain... &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simuh pun kerap ikut melaut. Tak hanya sekadar temani bapaknya bekerja, lebih dari itu. Simuh sangat suka menikmati keindahan samudera: bentangan biru yang luas, gelombang ombak yang landai, semilir angin yang menyejukkan, aneka ragam satwa air, pokoknya Simuh sangat mencintai laut. Laut adalah rumah keduanya. Di sana, ia rasai kedamaian, ketenangan, juga kesenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang laut sesekali muram. Ombak besar bergulung menyapu bibir pantai, angin kencang membuat nyiur kalang kabut, bahkan sering pula badai kecil menjungkir balikkan kapal nelayan, namun Simuh tetap cinta laut. Mungkin laut sedang kesal karena kami mengambil hartanya tiap hari, pikir Simuh kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, setelah badai reda, Simuh langsung lari ke pantai. Ia ikut membaur  bersama riaknya ombak. Ia bercengkrama dengan angin dan gelombang. Supaya tidak marah lagi, Simuh berusaha menghibur laut. Orang tua dan teman-temannya sudah berulang kali melarangnya melakukan kebiasaan itu, tapi Simuh selalu saja tak menggubris. Aku cinta laut, teriaknya tiap kali diperingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Simuh menggigil kedinginan. Tubuhnya serasa membeku di dalam gua yang pengap ini. Kantong plastik berisi tiga ekor kepiting hasil tangkapannya tergeletak begitu saja di sela dua batu besar. Ia kaget sekaligus takjub. Baru sekali ini ia rasakan badai yang amat besar, juga gempa maha dahsyat. Namun, dirinya cukup baik-baik saja karena saat itu ia berada di di dalam gua di ujung pesisir. Ia bermaksud mencari kepiting, tapi teman-temannya tak ada yang mau diajak. Akhirnya, ia berangkat sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru mendapat tiga ekor kepiting, terdengar gemuruh dari luar disertai guncangan hebat. Simuh tak berani keluar, ia meringkuk di cekungan sudut gua untuk berlindung. Cukup lama badai gempa itu berlangsung. Simuh masih tersudut dengan aman. Ternyata, dinding gua cukup kokoh menahan terjangan badai. Ia tetap bertahan sampai badai berhenti mengamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Simuh terhenyak ketika mendapati kampung halamannya lebur, rata dengan tanah. Nyaris semua bangunan hancur. Rumah-rumah, pasar, masjid, toko, semua porak-poranda. Meulaboh roboh, tak bersisa. Mayat-mayat bergelimpangan di pinggir pantai, juga di puing-puing bangunan, dan di mana-mana. Kampung nelayan tak berbentuk lagi. Di mana ayah, ibu, dan teman-teman? Simuh mencari-cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupingnya berdesir ketika lamat-lamat terdengar isak tangis. Satu, dua, tiga, dan banyak lagi yang terus menangis. Simuh berlari di antara reruntuhan kampung nelayannya. Bola matanya mencari-cari di mana kira-kira letak rumahnya berdiri. Akhirnya, pandangannya tertuju pada sebuah perahu yang tak lagi utuh, perahu milik ayahnya. Di samping perahu itu, terlihat olehnya sisa-sisa tempat tinggalnya, juga hampir rata dengan tanah. Di manakah ayah dan ibu? Ia terus mencari dan mencari. Tak jua ia temukan kedua orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urai air mata setia temani kakinya berlari menuju pantai. Dengan lesu ia terduduk di pasir, bersujud di hadapan samudera raya. Mengapa kau sampai murka begini?! Simuh meratap. Aku cinta kau, laut. Aku pun tahu kau juga mencintaiku. Kau tidak tega melukaiku sehingga mengirimku ke gua untuk berlindung. Kembali Simuh meratap, tersedan bersama ombak yang mulai tenang. Aku cinta kau, kau cinta aku. Tapi mengapa kau tidak cinta ayah, ibu, dan teman-temanku? Juga rumah dan kampung halamanku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Simuh melangkah maju, maksud hati melabuhkan cintanya. Debur ombak mengiring dan menyambut kedatangannya. Simuh terus melangkah dan melangkah sampai akhirnya tubuh mungil itu lenyap bersama pelukan ombak. &lt;br /&gt;Dan riak pun masih tetap tenang, angin juga senantiasa bersemilir sepoi-sepoi, menyejukkan... ( Iswara N Raditya/Jogja Barat, 6 Januari 2005)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-871460853286854473?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/871460853286854473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=871460853286854473&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/871460853286854473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/871460853286854473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/12/cerpen-simuh-anak-dari-keluarga.html' title='ANAK MEULABOH'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1XCJx5Dl5I/AAAAAAAAAOg/vslX5k4QnME/s72-c/baiturahman+(ACEH).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-6465992770081354901</id><published>2007-12-05T00:35:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:03.443+07:00</updated><title type='text'>MANUSIA DUA DUNIA</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;“Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, tetapi pertama-tama saya adalah dan akan tetap menjadi orang Jawa.” (Sri Sultan Hamengku Buwono IX) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;SUATU MALAM di Kampung Sompilan (sekarang Pakuningratan, Yogyakarta) pada 2 April 1912, lahirlah seorang bayi laki-laki. Putra dari Pangeran Haryo Purboyo, kelak adalah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, dan R.A Kustilah ini diberi nama Dorodjatun. Dialah yang pada gilirannya nanti merupakan penerus tahta Mataram (Yogyakarta) dan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono IX.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sejak kecil, Dorodjatun mengenyam pendidikan Belanda, laiknya anak-anak bangsawan Jawa pada umumnya. Sejak itu pula, ia selalu dititipkan kepada keluarga orang Belanda supaya lebih mudah dalam berproses. Titah sang ayah waktu itu cukup jelas: agar putra-putranya dididik sebagaimana orang biasa saja. Hendaknya anak-anak itu menyerap kebiasaan hidup sederhana dan penuh disiplin sebagaimana yang ada dalam kalangan orang-orang Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa-masa inilah sang pangeran merasakan bagaimana hidup di dua dunia. Di fana asalnya, ia adalah seorang pewaris tahta Mataram, harus mengikuti tata cara yang berlaku di lingkungan kerajaan. Ia pun harus bisa memposisikan dirinya sebagai seorang pangeran. Sedangkan di dunia yang lain, ia adalah manusia biasa. Seorang manusia modern yang harus bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Di luar lingkup kraton, tak ada yang mengenalnya sebagai anak raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1WUrB5Dl0I/AAAAAAAAAN0/NaWM7B37SV4/s1600-h/sultan_hb_IX.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1WUrB5Dl0I/AAAAAAAAAN0/NaWM7B37SV4/s200/sultan_hb_IX.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140178016676321090" /&gt;&lt;/a&gt; Maret 1930, Dorodjatun berangkat ke Belanda untuk sekolah. Di sana ia masuk ke sekolah Gymnasium di Haarlem. Ia menyelesaikan studinya 4 tahun kemudian (1934). Lulus sekolah, ia melanjutkan kuliah di Rijksuniversiteit di Leiden, sebuah universitas tertua dan terkemuka, mengambil jurusan Indologi, jurusan bagi orang-orang yang nantinya terjun ke pemerintahan di Hindia Belanda. Jurusan Indologi merupakan gabungan dari bidang hukum dan ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menjadi mahasiswa, Dorodjatun sering masuk organisasi kemahasiswaan, di antaranya anggota Leidse Student Corps, Ketua Verenigde Faculteiten (ketua), serta sebagai komisaris perkumpulan mahasiswa Minerva. Di sinilah kepribadiannya digojlok untuk menjadi seorang yang cakap dalam banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 1939, Perang Dunia II pecah di Eropa, Belanda terkena imbasnya. Karena situasi yang kian gawat, Sultan HB VIII, ayah Dorodjatun, menyuruhnya kembali ke Jawa. Dengan naik kapal “Dempo”, kapal pengangkut barang, ia berlayar pulang. Dorodjatun tiba di dermaga Tanjung Priok pada 18 Oktober 1939, di mana telah menunggu ayah dan keluarganya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Oktober 1939, Sultan HB VIII meninggal dunia akibat sakit keras. Sebelum sang ayah wafat, Dorodjatun menerima sebuah pusaka berupa keris “Kyai Jaka Piturun”. Ini mengandung makna bahwa ia telah ditunjuk sebagai pewaris tahta untuk meneruskan kekuasaan ayahnya sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sesuai wasiat dan kesepakatan keluarga kraton, Dorodjatun pun akhirnya dinobatkan pada tanggal 18 Maret 1940 dengan menyandang gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah IX.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana biasanya, sebelum dinobatkan, calon raja baru harus bernegoisasi dahulu dengan pemerintah kolonial karena wilayah kerajaan masih dianggap sebagai bagian dari kekuasaan kolonial. Pihak kraton mesti menyepakati sebuah kontrak politik. Dorodjatun pun harus melaksanakan “kewajiban” ini. Namun, tak seperti raja-raja sebelumnya, ia enggan menelan mentah-mentah kontrak politik yang disodorkan kepadanya. Proses negoisasi pun dilangsungkan. Pemerintah Hindia Belanda diwakili oleh Dr. Lucien Adam, sedang Dorodjatun berdiri di pihak kraton sebagai calon raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang yang lama mengecap pendidikan Belanda, ia mencermati secara teliti bab per bab yang diajukan. Dr. Adam tak menyangka seorang pribumi bisa begitu rumit dalam memutuskan kontrak politik yang ia sodorkan itu. Proses nego berjalan alot, karena masing-masing pihak tetap bersikukuh atas pendapatnya masing-masing. Ini adalah sebuah perundingan kontrak politik paling lama yang pernah dihadapi pemerintah kolonial karena memakan waktu hingga 4 bulan lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1WU7B5Dl1I/AAAAAAAAAN8/-tocHHVtHOg/s1600-h/keraton_yogya.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1WU7B5Dl1I/AAAAAAAAAN8/-tocHHVtHOg/s400/keraton_yogya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140178291554228050" /&gt;&lt;/a&gt; Kota Yogyakarta diduduki tentara Jepang pada tanggal 5 Maret 1942, atau 3 hari sebelum Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 di Jawa Barat. Akibatnya, kekuasaan Belanda di Indonesia pun berakhir. Pada 1 Agustus 1942, Sultan HB IX dinobatkan untuk yang kedua kalinya, kali ini oleh Panglima Besar Pendudukan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Agustus 1945, Sukarno-Hatta menyatakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Keesokan harinya, 18 Agustus 1945, Sultan HB IX langsung mengirimkan ucapan selamat atas terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selang dua hari kemudian, Sultan HB IX kembali berkirim kabar kepada Sukarno-Hatta. Ia menyatakan: “sanggup berdiri di belakang pimpinan mereka”. Tindakannya ini lantas diikuti oleh Paku Alam dengan jalan dan pernyataan yang sama. Dan pada 5 September 1945 Sultan HB IX secara resmi beramanat bahwa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan bagian dari wilayah NKRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1WSBB5DlxI/AAAAAAAAANc/WY1XOvWHYU8/s1600-h/Hb-ix.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1WSBB5DlxI/AAAAAAAAANc/WY1XOvWHYU8/s200/Hb-ix.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140175096098559762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sidang kabinet pada tanggal 3 Januari 1946 memutuskan bahwa ibukota negara dipindah ke Yogyakarta karena keadaan Jakarta telah semakin gawat akibat serangan tentara NICA (Belanda). Pada tahun 1946 ini, Sultan HB IX untuk pertama kalinya masuk dalam jajaran kabinet Syahrir III sebagai Menteri Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era-era selanjutnya, peran Sultan HB IX dalam pemerintahan menjadi sangat vital karena ia menjabat posisi-posisi penting dalam kabinet pada rentang tahun 1946-1978, antara lain: Menteri Negara, Menteri Pertahanan, Wakil Perdana Menteri, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Menteri Koordinator, serta Wakil Presiden. (Iswara N Raditya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-6465992770081354901?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/6465992770081354901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=6465992770081354901&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/6465992770081354901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/6465992770081354901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/12/manusia-dua-dunia.html' title='MANUSIA DUA DUNIA'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1WUrB5Dl0I/AAAAAAAAAN0/NaWM7B37SV4/s72-c/sultan_hb_IX.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-8427998334026036157</id><published>2007-12-05T00:02:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:07:59.479+07:00</updated><title type='text'>SIMBOLISME JAWA DAN PUJANGGA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1WMBh5DlwI/AAAAAAAAANU/r3q0yr5p1Ls/s1600-h/gunung+jawa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1WMBh5DlwI/AAAAAAAAANU/r3q0yr5p1Ls/s200/gunung+jawa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140168507618727682" /&gt;&lt;/a&gt; BUDAYA JAWA tak bisa lepas dari simbolisme. Ia akan bermuara pada mitos/folklor. James Danandjaja mengartikan folklor sebagai bagian dari budaya turun temurun, baik lisan maupun dengan gerak isyarat atau alat bantu. Di sinilah simbolisme berperan. Ajaran konsep Jawa sebagian besar terdiri atas simbol-simbol yang meliputi pelbagai kajian, seperti agama, pengetahuan, kemasyarakatan, bahasa, kesenian, teknologi, dan sebagainya. Intinya, simbolisme merupakan unsur yang mempengaruhi alam pikiran orang Jawa. Budiono Herusatoto mengamsusikan, simbol dalam budaya Jawa sebagai keadaan pengantara pemahaman terhadap obyek.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu beragamnya simbolisme dalam budaya Jawa membuat kita harus lebih jeli dalam menafsirkannya. Gejala simbolisme dalam sejarah kebudayaan Jawa sudah ada sejak masa Hindu-Buddha hingga masa Islam. Di masa Hindu-Buddha misalnya, kaum pujangga merupakan golongan yang cukup berperan penting dalam menghasilkan karya-karya yang monumental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sartono Kartodirjo dalam bukunya Pemikiran dan Perkembangan Historiografi di Indonesia menyebutkan bahwa kaum pujangga bertugas merambah nilai simbolis dari historiografi dan mendukung kekuasaan raja. Meski begitu, aturan tak tertulis ini tidak mengurangi keinginan pujangga untuk memberikan kritikan kepada penguasa lewat karya-karyanya. Banyak pujangga di masa Hindu-Buddha yang menyisipkan kritikannya lewat simbolisasi dalam karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal, orang Jawa membenci sesuatu yang langsung mengenai persoalannya. Orang Jawa biasannya menyampaikan sesuatu dalam bentuk kiasan, ibarat, atau sindiran. Bentuk-bentuk semacam itu juga biasa dikenal dengan sebutan “bentuk-bentuk yang diselubungi”. Adapun “bentuk-bentuk yang diselubungi” tersebut bisa berwujud benda, kata atau kalimat, bahkan pula cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep simbolisasi pada masa Islam juga merupakan metode yang cukup ampuh sebagai cara alternatif dalam proses islamisasi di Jawa. Di masa lampau, tradisi besar Islam yang rasional dan historis ternyata tidak mampu membendung pembentukan mitologi Islam. Yang terjadi, budaya mistik simbolik tetap dipertahankan demi menjamin lancarnya doktrinasi Islam ke Jawa.  Contoh yang paling umum adalah pemanfaatan kesenian wayang sebagai media dakwah Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicetuskan oleh Sunan Kalijaga, satu di antara sembilan wali yang berperan besar dalam upaya mengislamkan Jawa, wayang kulit menjadi media yang sangat familiar untuk memengaruhi keimanan orang Jawa. Di dalam cerita-cerita wayang, yang merupakan gubahan dari cerita aslinya, juga pencitraan tokoh-tokohnya, banyak sekali terkandung makna-makna simbolis yang menyimpan ajaran Islam. Misalnya adalah pencitraan tokoh-tokoh Punakawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh lain adalah tradisi sekaten, yang hingga kini masih lestari di lingkungan Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Dalam sekaten,  menurut Kuntowijoyo, kita menemukan simbol dari sangsi-sangsi agama terhadap sistem kekuasaan dengan adanya legitimasi secara simbolis dari masjid terhadap kraton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dahsyatnya pengaruh simbolisme ini dalam mewarnai perjalanan sejarah budaya Jawa akhirnya lekang juga oleh perkembangan jaman. Dunia yang semakin modern, sekuler, dan rasional membuat kedudukan simbolisme dalam perikehidupan manusia mulai tergeser, bahkan merangsek menuju kehancuran. Dan ini berimbas fatal pada kadar moral generasi penerus bangsa. (Iswara N Raditya) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-8427998334026036157?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/8427998334026036157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=8427998334026036157&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8427998334026036157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8427998334026036157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/12/simbolisme-jawa-dan-kritik-pujangga.html' title='SIMBOLISME JAWA DAN PUJANGGA'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1WMBh5DlwI/AAAAAAAAANU/r3q0yr5p1Ls/s72-c/gunung+jawa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-330540954138919413</id><published>2007-11-30T21:11:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T23:08:39.200+07:00</updated><title type='text'>(BUKAN) PENGKULTUS!</title><content type='html'>SEMUA berawal dari entah. Dengan penuh kesadaran dan kepercayaan diri yang tinggi menjulang, mulut dan hatiku mantap berucap:  saya bukan seorang pengkultus! Tiada seorang pun, bahkan bapakku atau nabi sekalipun, yang mendapat tempat khusus dalam jiwa maupun otakku. Tidak ada! Aku sendiri tak mengerti mengapa bisa demikian. Tetapi ya itulah, semua berawal dari entah…&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sewajarnya masing-masing orang memiliki sosok yang diidolakan, sepantasnya tiap insan memiliki teladan, dan sepatutnya pula manusia memiliki manusia lain yang patut dianut. Tetapi aku tidak. Tetapi mungkin pula iya. Entahlah! Seingatku, terakhir kali aku mengidolakan sosok adalah ketika masa kanak-kanak. Dan sewajarnya anak-anak, aku sangat menggemari tokoh-tokoh pahlawan pembela kebenaran, seperti yang kerap kutelan lewat televisi, video, ataupun komik. Namun, aku agak beda. Sering, ini kerap terjadi ketika menjelang tidur atau saat aku mahsyuk berjongkok di atas jamban, khayalanku melayang. Aku membayangkan diriku sebagai sosok pembela kebenaran itu, tentu saja dengan versi dan settingku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang remaja, paradigmaku tentang pengkultusan mulai tergeser, meski tak sepenuhnya punah. Aku, misalnya, pernah sangat nge-fans terhadap sebuah klub sepakbola Liga Italia Seri-A, AC PARMA (sekarang jadi FC PARMA) namanya. Sebuah pilihan yang aneh memang untuk anak muda sepertiku. Aku bisa saja mengidolai klub-klub yang jauh lebih besar, semisal AC Milan, Inter Milan, Juventus, Manchester United, Arsenal, Liverpool, Real Madrid, Barcelona, dan Ajax Amsterdam atau Bayern Munich. Tapi, lagi-lagi, entah. Mengapa aku malah ngebet  kepada tim yang bercitra tanggung. Resikonya, banyak teman mencemooh aku dan tim kesayanganku itu sekalian.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1TPmh5DluI/AAAAAAAAANE/KSgtMJN_5AA/s1600-R/Logo+3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1TPmh5DluI/AAAAAAAAANE/oq1ngg6AwNc/s200/Logo+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139961335576237794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, aku tetap jalan terus sampai-sampai semua pernik yang kupunya waktu itu sangat berbau biru-kuning, warna khas PARMA atawa dalam bahasa Italinya disebut Gialloblu. Mulai dari karpet kamarku, stiker pada motorku, gantungan kunci, corat-coret formasi, buku tulis, tas sekolah, serta banyak lagi lainnya, semua berwarna biru dan kuning. Kaos-kaos seragam tim PARMA, nyaris aku punya semua. Seragam kandang maupun tandang, bahkan seragam latihan. Dari model pertengahan 90’an hingga model terbaru, aku punya. Cukup sukar memang mencari pernak-pernik itu, karena PARMA bukanlah tim yang begitu populer. Bahkan, pikiranku saat itu sempat berencana:  jika kelak aku punya rumah, catnya harus merupakan paduan dari dua warna sakral tersebut. Gila tidak tuh?!! Dan lucunya, awal mulanya aku menggilai PARMA adalah (hanya) karena ada seorang kerabat yang memberi kado berupa kaos PARMA ketika aku sunatan, opo tumon?! hahaha… !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi, masih semasa puber. Aku pernah pula menggilai sesosok, tepatnya beberapa sosok, band: Kurt Cobain dan Nirvana-nya. Bisa jadi, kefanatikanku kali ini bukan berasal dari lubuk hati yang terdalam, lebih karena “pengaruh” kawan-kawan sepermainanku. Begini ceritanya, kala itu kami, selayaknya anak-anak muda lainnya, berencana membikin sebuah band. Tetapi kami tak mau membuat band yang aliran musiknya terlalu biasa alias terlalu populer. Hingga kemudian salahseorang dari kami menyodorkan sekeping VCD, yang berisikan rekaman konser Nirvana.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1TOYB5DlsI/AAAAAAAAAM0/t7JNNUTpF8A/s1600-R/Inuteropromo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1TOYB5DlsI/AAAAAAAAAM0/wS7c7kYpR5E/s200/Inuteropromo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139959986956506818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah, lagi-lagi, kenapa. Sekali menonton rekaman itu, aku langsung jatuh hati. Mungkin karena tampilan Nirvana dan Cobain yang sangat sederhana dan alakadarnya, tak selazimnya musisi rock kala itu yang  rata-rata sangat menonjolkan pelbagai asesoris yang menurutku malah membikin ribet: kostum panggung, make up, kalung, rantai, cincin, topi, syal, dan lain sebagainya. Sedangkan Nirvana, menurutku lagi, adalah band yang sangat sederhana, baik penampilan fisiknya maupun garapan musiknya. Padahal  kala itu,  Kurt Cobain, Christ Novoselic, dan Dave Grohl, adalah superstar yang paling kondang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga sangat menggemari band lokal GIGI.  Mungkin seperti pandemen-pandemen GIGI yang lain, kesukaanku dikarenakan karena GIGI, menurutku, adalah band lokal yang kualitas teknik para personelnya paling wahid ketimbang band-band lainnya. Selain sudah menorehkan sejarah panjang di belantika musik nasional (berdiri pada 1994), siapa yang meragukan mutu vokal dan aksi panggung seorang Armand Maulana? atau petikan gitar kelas tinggi ala Dewa Budjana? Sedangkan Thomas Ramdhan sudah banyak diakui sebagai pembetot bass paling atraktif dan terbaik se-Indonesia, tentu saja ini subjektivitasku, tanpa menafikkan para bassis yang lain. Gusti Hendy? Aku memang belum banyak tahu tentang personel termuda GIGI ini, namun setelah mendengar gebukan drum-nya di beberapa album GIGI, mau tak mau aku harus mengakui bahwa kualitas anak Makasar ini memang mantap..trap..trap!!! Dan asal tahu saja,  Hendy adalah anak didik drumer kenamaan Gilang Ramadhan dan sempat bermain dalam konser Kantata Takwa.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1TRXB5DlvI/AAAAAAAAANM/jfQuS4v-xZU/s1600-R/gigi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1TRXB5DlvI/AAAAAAAAANM/jjWdQ-5gO5U/s200/gigi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139963268311521010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Para mantan personel GIGI pun bukan orang sembarangan. Ingat Aria Baron Arafat? Salahsatu pendiri GIGI ini sudah memiliki nama besar di dunia permusikan Indonesia sebagai salahseorang gitatis paling berkarakter. Terbukti, Made in Indonesia, sebuah acara anugerah musik di salahsatu televisi swasta, tak ragu menunjuk Baron sebagai juri tetapnya. Selain di GIGI, Baron pernah pula bermain untuk /Rif, band yang masih eksis hingga kini. Selain Baron, catat pula nama Ronald Fristianto. Drumer perdana GIGI ini juga mempunyai kualitas yang sangat mumpuni. Saking matangnya, beberapa musisi kondang semacam Ahmad Dani (DEWA19) dan Katon Bagaskara (KLA PROJECT), tak segan menggaet Ronald untuk menjadi additional drum pada beberapa album mereka. Sekarang, setelah sempat mendirikan Dr PM setelah beberapa lama keluar dari GIGI, Ronald membentuk band progresif bersama beberapa mantan awak band besar nasional lainnya, dengan nama EVO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budhy Haryono, pengganti Ronald di GIGI, juga seorang musisi bertalenta tinggi. Budhy adalah mantan pemukul drum band legendaris Krakatau, yang pada 1980-1990’an sempat ngetop bersama Trie Utami, Dwiki Darmawan, serta Pra B Dharma. Budhy sempat pula membantu band-band besar lainnya, salahsatunya adalah Kantata Takwa yang digawangi oleh Iwan Fals, Sawung Jabo, Setiawan Jodi, dan lain-lainnya. Satu nama lagi, Opet Alatas, pemain bass yang menggantikan posisi Thomas Ramdhan di GIGI dan kemudian digantikan Thomas lagi, adalah seorang pemain bass yang cukup bisa diandalkan. Terbukti Opet sempat intim ber-GIGI ria selama dua album, sebelum ia memutuskan keluar karena merasa pekewuh atas indikasi Thomas akan bergabung ke GIGI. Sekeluarnya dari GIGI, Opet tetap eksis di dunia musik bersama band barunya, Tiket, yang juga masih beredar hingga detik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang kontradiktif jika aku bersikukuh menolak label pengkultus namun malah menjabarkan beberapa hal yang pernah dan masih kukagumi. Kini, kekagumanku pada PARMA dan Nirvana juga GIGI memang belum memudar, terlebih GIGI:  aku punya semua albumnya lengkap, dari album pertama hingga terbaru, bahkan konser-konsernya, album solo para personelnya, lagu-lagu featuring, dan lain-lain. Namun, dengan penuh kesadaran dan kepercayaan diri yang tetap tinggi menjulang, mulut dan hatiku tetap mantap berucap:  saya bukan seorang pengkultus! Persetan orang mau bilang apa, karena semua memang berawal dari setan, eh, entah ding!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya memang bukan seorang pengkultus. Seorang senior pernah bilang bahwa aku terlampau gengsian (dan aku sangat paham maksudnya). Mmm.. memang, karena aku bukan seorang pengkultus. Memang lagi, Aku tidak pernah memunafiki peran orang-orang lain dalam membentuk karakter dan kemampuan seperti yang kurasakan sekarang. Namun, sekali lagi, saya bukan seorang pengkultus! Mungkin, saya hanya seorang pengagum.  “Saya berpikir, maka saya ada.” (Iswara N Raditya) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-330540954138919413?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/330540954138919413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=330540954138919413&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/330540954138919413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/330540954138919413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/11/bukan-pengkultus.html' title='(BUKAN) PENGKULTUS!'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R1TPmh5DluI/AAAAAAAAANE/oq1ngg6AwNc/s72-c/Logo+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-1149093683084332479</id><published>2007-11-23T22:05:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.824+07:00</updated><title type='text'>SESATKU DI TEUKU UMAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0h96w6NsoI/AAAAAAAAALc/aKm7BD64l9Y/s1600-h/i-1005Rencong.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0h96w6NsoI/AAAAAAAAALc/aKm7BD64l9Y/s320/i-1005Rencong.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5136493823531004546" /&gt;&lt;/a&gt; KAMIS, 22 November 2007, aku seolah menjalani suatu prosesi napak tilas: “mengunjungi” para pahlawan bangsa. Dengan mediasi motor butut pinjaman seorang kawan yang sedang pulang kampung, dengan begitu pede-nya aku menantang ibukota. Inilah perjalanan pertama yang kujalani sendiri tanpa menganut jalur resmi. Dari Salemba –biasanya aku mengkuti rute reguler yang biasa dilalui angkutan umum– kupacu motor dengan kecepatan sedang. Hampir tiba di jembatan layang Senen, kubanting setir ke kiri, kumasuki area yang tak kukenal sebelumnya, bermaksud mencari jalan baru yang bebas macet (maklum, ruwetnya Jakarta memang membikinku uring-uringan, tak seperti di kota asalku, Jogjakarta, yang jalanannya senantiasa ramah karena Si Komo jarang lewat). &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Awalnya sih baik-baik saja. Aku mengikuti protokoler yang semestinya. Mataku selalu mencari-cari papan hijau penunjuk jalan menuju tempat tujuanku: Tugu Tani, Gambir, Monas, dan (akhirnya), Jalan Veteran 1 Jakarta Pusat. Tapi sekonyong-konyong, aku kehilangan arah. Konsep jalan di Jakarta yang kebanyakan berlajur satu arah membuat konsentrasiku limbung. Sampai akhirnya aku tiba di sebuah tempat dengan banyak gang, Menteng namanya. Aku tetap tenang, karena aku pernah mendengar bahwa Menteng tak begitu jauh dari basecamp kami di Veteran, atau setidaknya aku pernah ke Menteng meski hanya sekejap dan itu pun atas hantaran seorang kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Menteng, banyak jalan bernama pahlawan. Aku menyusuri Jalan Teuku Umar, terkadang pandanganku tertuju pada papan kecil penanda nama jalan bertuliskan Syahrir, M Yamin, Suwiryo, Cut Nyak Dien, dan semacamnya. Cukup lama berputar-putar, ternyata nyali agak ciut juga. Kuputuskan mampir ke sebuah pom bensin di tepi Jalan Sam Ratulangi. Sambil memberi minum motor tungganganku, basa-basi kuberanikan diri bertanya kepada sang petugas pom bensin. “Kalau mau ke Monas, jalannya ke arah mana ya, Pak?” tanyaku. Yang ditanya menjawab kalau aku salah jalan, dan diberitahunya aku petunjuk kendati aku tak begitu paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mengisi bensin, aku kembali melaju. Berputar-putar lagi dan masih di seputaran Menteng belaka. Bodohnya, lagi-lagi aku menjalani jalan Teuku Umar. Duh Gusti, kok Teuku Umar lagi? Aku tersesat di Teuku Umar! Dengan pengetahuan dan naluri seadanya, kuhabiskan separuh rute jalan Teuku Umar yang ternyata panjang itu. Sambil terus berharap menemukan jalan yang benar, pikiranku malah tertuju pada pemimpin Aceh sekaligus suami Cut Nyak Dien itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teuku Umar lahir di Meulaboh, ibukota Aceh Barat, pada 1854. Di wilayah terparah akibat bencana tsunami tahun 2004 itu pula Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899 karena serangan licik tentara Belanda yang mendadak menyerbu. Umar semasa kecilnya tidak pernah mendapatkan lingkungan pendidikan yang baik, hidupnya bebas, suka berkelahi, dan memiliki kemauan yang keras serta sukar ditundukan. Pada usia muda, ia sudah diangkat menjadi kepala kampung di daerah Daya Meulaboh. Semua temannya mengenalnya sebagai seorang pemberani. Umar juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0b_pg6NsbI/AAAAAAAAAJw/L1d9XgpheAw/s1600-h/Teuku_Umar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0b_pg6NsbI/AAAAAAAAAJw/L1d9XgpheAw/s200/Teuku_Umar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5136073513736450482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kakek Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putra, yaitu Nantan Setia dan Achmad Mahmud. Teuku Achmad Mahmud merupakan bapak Teuku Umar. Sebelum menikahi Cut Nyak Dien, pada usia duapuluh tahun, Umar kawin dengan Nyak Sofiah, puteri hulubalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat terjadi Perang Aceh pada 1873, Umar masih berusia sembilanbelas tahun. Kendati masih cukup belia. Umar pun ia turut dalam peperangan itu bersama pejuang-pejuang Tanah Rencong lainnya. Pada 1880, Teuku Umar melamar Cut Nyak Dien, seorang perempuan pejuang, janda salahseorang pemimpin Aceh, Ibrahim Lamnga, yang tewas di dalam suatu peperangan dengan Belanda di Gle Tarum pada 29 Juni 1878.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi dengan Teuku Umar memperbolehkannya ikut serta dalam medan perang, Dien akhirnya setuju untuk menikah dengannya. Pernikahan antara dua orang yang paling dikagumi rakyat Aceh ini menyebabkan meningkatnya moral pasukan bumi Serambi Mekah. Nantinya mereka memiliki anak yang bernama Cut Gambang. Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, Dien bersama mendampingi suaminya bertempur melawan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0cATA6NscI/AAAAAAAAAJ4/u-Yc5GD3AMw/s1600-h/teukuumarknil3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0cATA6NscI/AAAAAAAAAJ4/u-Yc5GD3AMw/s320/teukuumarknil3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5136074226701021634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perang dilanjutkan secara gerilya dan fisabilillah. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan mendekati Belanda dan membuat hubungannya dengan pihak Belanda semakin kuat. Pada 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan “menyerahkan diri” kepada Belanda. Awalnya Umar dicap sebagai pengkhianat, tapi rupa-rupanya tindakan Umar itu adalah salahsatu taktik untuk menipu Belanda demi mendapatkan tambahan perlengkapan tempur dan mengetahui strategi perang Belanda selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda sangat senang karena musuh yang berbahaya mau membantu mereka, sehingga mereka memberikan Teuku Umar gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan menjadikannya komander unit pasukan Belanda dan kekuasaan penuh. Ia menyimpan rencana ini sebagai rahasia, walaupun dituduh sebagai penghianat oleh orang Aceh, bahkan, Cut Nyak Meutia datang menemui Cut Nyak Dien dan memakinya. Mungkin karena malu, Dien berusaha menasehati suaminya untuk kembali melawan Belanda, namun, Umar terus saja intim dengan Belanda. Sebagai kompensasi atas kesetiaannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur Deykerhorf yang menggantikan Gubernur Ban Teijn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teuku Umar mencoba untuk mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai menjadi unit Belanda yang merupakan gerilyawan Aceh. Ketika jumlah orang Aceh pada pasukan tersebut cukup, Teuku Umar melakukan rencana palsu terhadap Belanda dan mengklaim bahwa ia ingin menyerang basis Aceh. Pada 30 Maret 1896, Teuku Umar pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata, serta amunisi milik Belanda, dan tidak pernah kembali. 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar, berhasil digondol Umar untuk kepentinga perjuangan rakyat Aceh. Penghianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar (penghianatan Teuku Umar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan “khianat” Umar menyebabkan Belanda marah dan meluncurkan operasi besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar beserta Dien dan pasukannya. Belanda mencabut gelar Teuku Umar dan membakar rumahnya, juga mengejar keberadaannya. Namun, gerilyawan Aceh yang kini dilengkapi perlengkapan terbaik dari Belanda melayani tantangan kaum penjajah dan sukses mempermalukan Jenderal Van Swieten. Penggantinya, Jenderal Pel, dengan cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan pada pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Aceh di bawah komando Umar menekan Belanda dan menduduki Banda Aceh (Kutaraja) serta Meulaboh. Sementara itu, Belanda terus-terusan mengganti jenderalnya. Pasukan gerilyawan bertambah kuat. Sejarah mengerikan bagi tentara Belanda terus terjadi. Jenderal Van der Heyden ditugaskan, murka dan melakukan pembantaian berdarah terhadap laki-laki, wanita dan anak-anak di desa-desa.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0cBKQ6NsdI/AAAAAAAAAKA/_TipjqTWsYk/s1600-h/marechausseeegel2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0cBKQ6NsdI/AAAAAAAAAKA/_TipjqTWsYk/s320/marechausseeegel2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5136075175888794066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jenderal Van Heutz, penerus Van der Heyden, melanjutkan aksi teror dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan Teuku Umar. Atas informasi yang diberikan seorang Aceh bernama Teuku Leubeh, Belanda mengetahui rencana perang pasukan Teuku Umar. Dan akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru. Dien meneruskan perjungan Umar, sendirian berjuang memimpin sisa-sisa pasukan Aceh di pedalaman Meulaboh bersama laskar kecilnya. Cut Nyak Dien sendiri meninggal dunia pada l6 November 1908 di tempat pembuangannya di Sumedang, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke KAMIS, 22 November 2007. Akhirnya, aku menemukan jalan pulang. Berkat papan jalan bertuliskan Cut Meutia, aku berhasil menuju Tugu Tani, terus ke Gambir, Monas, dan akhirnya Veteran 1, tempatku bersemayam sementara. Melewati patung Panglima Besar Jenderal Soedirman yang berdiri gagah di depan Pentagon Republik Indonesia, gambaran perjuangan Teuku Umar kembali terngiang. Veteran, aku pulang! (Dari Perlbagai Sumber, Iswara N Raditya) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-1149093683084332479?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/1149093683084332479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=1149093683084332479&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1149093683084332479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/1149093683084332479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/11/sesatku-di-teuku-umar_23.html' title='SESATKU DI TEUKU UMAR'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0h96w6NsoI/AAAAAAAAALc/aKm7BD64l9Y/s72-c/i-1005Rencong.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-8227281618487249288</id><published>2007-10-31T02:22:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.825+07:00</updated><title type='text'>SEJOLI ABADI SULTAN</title><content type='html'>HARIO SOERJO Soelarso menatap lurus. Pandangannya menembus jendela kelas yang berukuran cukup lebar itu, maklum bangunan ala Belanda memang menyediakan pintu serta jendela dalam skala besar. Ia memerhatikan bocah lelaki yang sedang duduk sembari membaca buku di pelataran sekolah. Sekolah mereka, Neutrale Europeesche Lagere School, adalah sekolah dasar untuk anak-anak Eropa, Belanda, dan bangsawan bumiputera. Sekolah kelas wahid ini berada agak jauh dari kota, tepatnya di Pakemweg (sekarang Pakem, Sleman), terletak di sebelah utara kota, menuju Gunung Merapi. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu lebih muda darinya, Soelarso tahu karena si bocah adalah adik kelasnya. Meski demikian, ia tak begitu akrab dengan anak itu, yang ia tahu bocah itu bernama Dorodjatun. Soelarso malah lebih sering bergaul dengan kedua kakaknya, Kartolo dan Tinggarto. Mereka sama-sama anak bangsawan. Djorodjatun dan kedua kakaknya adalah putera Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, sedangkan Soelarso sendiri merupakan putera mahkota Sri Pakualam VII yang bertahta di Kraton Pakualaman Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah berlanjut hingga ke negeri Tulip. Pada 1937, Soelarso, yang pada saat itu berusia duapuluhtujuh tahun, berkunjung ke Belanda mewakili ayahandanya, Sri Pakualam VII, untuk menghadiri pernikahan Prinses Juliana dengan Prins Bernhard. Di pesta perkawinan itulah, Soelarso bersua kembali dengan Dorodjatun, yang juga mewakili Sultan Yogyakarta. Kebetulan, Dorodjatun waktu itu sedang menempuh studinya di Leiden, Belanda. Itulah, ketika dua putera mahkota bertemu, terjadilah muasal keintiman antara dua calon pemimpin Yogya itu. Semenjak itu, persahabatan keduanya kian erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati masa kecil Soelarso dan Dorodjatun tidak begitu intim, di luar pertemuan mereka di Belanda itu, tapi siapa sangka di masa depan mereka adalah dua sejoli yang tak terpisahkan, dwitunggal raja yang memimpin Yogyakarta. Dorodjatun mewarisi tahta sang ayah dan bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Kasultanan Ngayogyakarta, dan Soelarso memimpin Kraton Pakualaman dengan gelar Sri Pakualam VIII. Dua penguasa ini sangat serasi di masa-masa perjuangan, kemerdekaan, hingga tempo-tempo selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tiada pernah ada perselisihan berarti antara Kasultanan dan Pakualaman seperti yang sempat terjadi pada leluhur-leluhur mereka. Ya, Kasultanan dan Pakualaman adalah buah dari perang saudara yang terjadi di antara keturunan Mataram sehingga kerajaan besar itu terpecah menjadi empat pemerintahan. Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta, serta Kasunanan dan Mangkunegaran di Surakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadipaten Pakualaman merupakan yang termuda dari keempat kraton yang berada di Jawa Tengah. Pakualaman adalah kerajaan terpisah di dalam Kerajaan Yogyakarta. Walaupun terpisah dan merdeka, Pakualaman tetap mengakui kesenioran Kraton Yogyakarta. Pemerintah kolonial Inggris banyak berperan dalam membangun Puro Pakualaman ini. Masa pemerintahan Inggris yang singkat di Hindia Belanda (1811-1815) terjadi pada saat anti kedatangan penjajah di Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Dengan harapan akan kekuatan Kraton Surakarta melemah, Thomas Stamford Raffles, gubernur utusan Inggris, menggunakan kesempatan untuk turut campur dalam pertikaian yang berkepanjangan antara Hamengkubuwono II, pimpinan gerakan anti kolonial dan anaknya Hamengkubuwono III. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raffles kemudian menyerang Kraton Yogyakarta, dan atas bantuan paman Sultan, Pangeran Notokusumo, menyingkirkan Hamengkubuwono II dan mengangkat Hamengkubuwono III yang lemah sebagai penggantinya. Didukung Pangeran Notokusumo serta untuk mengurangi kekuatan Yogyakarta maka pada 1813, Raffles membuat pemerintahan kedua di Yogyakarta dengan mengangkat Pangeran Notokusumo sebagai kepala pemerintahan dan bergelar Sri Paduka Pakualam I. Pakualam I membangun pusat pemerintahan di sebelah timur kraton. Kraton Pakualaman menghadap ke arah selatan yang melambangkan penghormatannya terhadap Kasultanan Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati merupakan hasil dari perseteruan sejarah namun hubungan Kasultanan dan Pakualaman tetap terjalin harmonis. Bahkan, Pakualam VIII sangat menghormati Sri Sultan HB IX meski Pakualam berumur lebih tua dua tahun dari Sultan. Mereka adalah pemimpin yang satu. Hingga pascakemerdekaan, dua raja itu saling bahu-membahu memimpin rakyat Yogya, Sultan HB IX sebagai gubernur, sedangkan Pakualam VIII adalah wakilnya. Ketika Sri Sultan HB IX wafat, tidak ada yang berkeberatan Pakualam VIII berperan sebagai penggantinya di kursi Gubernur Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekompakan keduanya kembali diuji ketika kolonialis Belanda berusaha mengadu-domba dua orang yang paling berpengaruh di Yogyakarta itu. Seperti tak goyah, Pakualam VIII berupaya untuk sering mengadakan kontak dan kerjasama dengan Sultan, dan ini terbukti cukup sukar. Terkendala oleh tatacara dan protokoler kerajaan masing-masing serta halangan dari pemerintah kolonial, menyebabkan Pakualam VIII tidak bisa dengan mudahnya berhubungan dengan Sultan. Maka dicarilah cara. Pada saat-saat senggang, waktu di mana Sultan mengadakan perjalanan keliling mengendarai kuda ke pelosok-pelososk daerah, Pakualam sering meminta dan diminta untuk menyertai. Di waktu-waktu inilah kedua raja itu dengan leluasa bisa saling akrab tanpa terbebani oleh aturan-aturan formal. Itulah saat-saat konsolidasi dengan tekad: kekuatan Yogyakarta tidak akan bisa dipecah-belah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakualam VIII lahir dengan nama BRM Hario Soerjo Soelarso pada 10 April 1910. Ia adalah putera dari Raja Kraton Pakualaman, Sri Pakualam VII. Sesuai dengan tradisi kerajaan dan pengubahan gelar kebangsawanan, pada usia dewasa nama BRM Hario Soerjo Soelarso diganti dengan KPH Soerjo Dilogo. Ketika Pakualam VII mangkat pada 1937, Soerjo Dilogo naik tahta menggantikan ayahandanya dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Pakualam VIII. Pakualam VIII memiliki dua orang istri. KRAy Purnomoningrum dinikahinya pada 25 Oktober 1937. Setahun kemudian, pada 16 Oktober 1938, ia menikahi KRAy Retnoningrum. Dari kedua istrinya itu, Pakualam VIII dianugerahi enambelas orang putera-puteri.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/RyeG6v-RNMI/AAAAAAAAAGc/Pgfeet0x4Mo/s1600-h/Lambang_Pakualaman.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/RyeG6v-RNMI/AAAAAAAAAGc/Pgfeet0x4Mo/s200/Lambang_Pakualaman.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127215044652774594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peran Pakualam VIII dalam perjuangan nasional di era pergerakan maupun di masa kemerdekaan dan waktu sesudahnya tak terlepas dari peran sentral Sultan Hamengkubuwono IX. Meski Pakualam VIII sendiri berkedudukan sebagai raja, akan tetapi ia tetap menghormati Hamengkubuwono IX sebagai saudara sekaligus junjungannya. Oleh almarhum ayahandanya, ia memang senantiasa diajarkan untuk menghormati pemimpinnya, dan Pakualam VIII telah menganggap Sultan HB IX sebagai pemimpin diri dan kerajaannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pribadi pernah mendapat pesan dari orangtua saya bahwa siapapun yang menjadi pemimpin saya, saya lahir dan batin harus taat dan sekali-kali tidak diperbolehkan mengadakan penilaian terhadap pemimpin saya itu. Sri Sultan adalah pemimpin saya dan saya dengan lahir-batin patuh, tunduk, serta taat kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pribadi Pakualam VIII sendiri sangat merakyat. Ia adalah seorang pemimpin yang sederhana, sopan, bersahaja, penuh tatakrama, dan tidak angkuh. Sejak masa kolonial, kerjasama antara Kasultanan dan Pakualaman sudah sering dilakukan. Kegiatan dalam bidang pekerjaan umum, kesehatan, dan pengajaran merupakan pekerjaan bersama dua pemerintahan lokal itu. Setiap tahun diadakan pula pertemuan antara Kasultanan dan Pakualaman untuk membicarakan anggaran mengenai kerja-kerja dinas tersebut. Untuk mengenal lebih dekat rakyat Yogyakarta, Pakualam VIII tak jarang melakukan ekspedisi seorang diri, keluar masuk desa-desa di segala penjuru wilayah Pakualaman ataupun Kasultanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi kerjasama antara Kasultanan dan Pakualaman semakin erat pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Pada era itu, seringkali diadakan konferensi pamong praja bersama. Ketika Sultan HB IX mengadakan kunjungan keliling, Pakualam VIII pasti ikut serta. Juga pada waktu dibentuk Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dan Hokokai (Badan Kebaktian Rakyat) oleh Jepang, di wilayah Yogyakarta hanya dibentuk satu Putera dan satu Hokokai yang melingkupi seluruh wilayah Kasultanan dan Pakualaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan HB IX pun seorang yang pengertian. Setiap ada kegiatan atau rencana yang menyangkut kepentingan rakyat, Sultan pasti selalu mengikutsertakan Pakualam VIII. Misalnya, ketika Kasultanan berencana membentuk paniradya-paniradya atau jawatan-jawatan, Sultan mengajak Pakualam VIII untuk berembug terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga saat menjelang kejatuhan Jepang, pada 1945, muncul pemikiran perlu dibentuknya sebuah wadah persatuan rakyat Yogyakarta untuk berjaga-jaga ketika menghadapi situasi darurat. Maka kemudian Sultan HB IX bersama-sama Pakualam VIII merencanakan realisasi gagasan itu. Dibentuklah Panitia Pembantu Pamong Praja (P4) di seluruh kapanewon yang ada di Yogyakarta. Kapanewon adalah pembagian wilayah-wilayah kecil bagi daerah di luar pusat kota atau kotaraja. Pada waktu Sultan mengadakan tur keliling ke seluruh pelosok Yogyakarta, Pakualam VIII pun selalu menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak yang paling heroik bagi Pakualam VIII adalah masa kemerdekaan. Hanya sehari setelah Soekarno-Hatta menyatakan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Sultan HB IX langsung mengirim ucapan selamat atas terbentuknya negara Republik Indonesia. Langkah Sultan tersebut segera diikuti Pakualam VIII. Dua hari kemudian, pada 20 Agustus 1945, Sultan HB IX dan Pakualam VIII bersama-sama kembali mengirim telegram kepada Soekarno-Hatta yang isinya bahwa “Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman sanggup berdiri di belakang kepemimpinan mereka sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak dari sikap heroik Yogyakarta itu adalah pada 5 September 1945 ketika Sultan HB IX mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kasultanan Yogyakarta adalah Daerah Istimewa Republik Indonesia. Amanat Sultan itu langsung diikuti Pakualam VIII:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari itu juga saya mengikuti politik Sri Sultan dengan mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kadipaten Pakualaman adalah Daerah Istimewa dari Republik Indonesia. Dengan demikian, kerjasama antara saya dengan Sri Sultan semakin bertambah erat. Demikian pula hubungan kami berdua dengan rakyat...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmonisasi Kasultanan dan Pakualaman kembali terbukti dengan dikeluarkannya amanat bersama yang ditandangani oleh Sultan HB IX dan Pakualam VIII pada 30 Oktober 1945. Isinya kurang lebih kembali menegaskan bahwa Yogyakarta adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai daerah istimewa. Yang dimaksud daerah istimewa adalah perlu dibentuknya suatu badan legislatif, sebagai wakil pemerintah pusat, yang bertugas membuat undang-undang untuk mengatur jalannya pemerintahan daerah Yogyakarta sesuai kehendak rakyat. Maklumat kedua itu kembali ditegaskan Pakualam VIII: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itu dapat dipahami isi amanat kedua tanggal 30 Oktober 1945, yang menyatakan bahwa Badan Pekerja yang dibentuk KNI DIY (Komite Nasional Indonesia) adalah wakil rakyat yang diberi kekuasaan sebagai badan legislatif dan yang berhak ikut menentukan haluan pemerintahan di Kasultanan dan Pakualaman. Tidak mengherankan jika amanat kedua itu ditandatangani bersama Sri Sultan dan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pembedaan yang membuat amanat 30 Oktober 1945 lebih fenomenal dan spektakuler dibanding maklumat-maklumat sebelumnya. Seperti diketahui, wilayah Yogyakarta dipimpin oleh dua kerajaan, Kasultanan dan Pakualaman, yang masing-masing memiliki hak, wewenang, dan aturan sendiri. Namun, amanat yang dibuat kali ini cuma satu, bukan dua seperti yang terdahulu, dan mengatasnamakan bersama, bukan masing-masing Sultan HB IX dan Pakualam VIII. Kedua pemimpin Yogya itu membubuhkan tandatangan dalam satu ruang dan waktu. Inilah untuk pertamakalinya Yogya kembali “bersatu”. Reunifikasi ini bukan persoalan yang mudah, apalagi jika dilihat dari konteks sejarah dan harga diri, seperti yang diakui Pakualam VIII:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekalipun sebenarnya ada juga yang tidak setuju terhadap gabungan antara Kasultanan dan Pakualaman akan tetapi saya pribadi sejak semula tetap berpendapat bahwa penggabungan menjadi satu Daerah Istimewa Yogyakarta menguntungkan bagi masyarakat. Saya memberanikan diri untuk mengambil keputusan itu sebagai kepala trah Pakualaman, dan saya berani memertanggung jawabkan hal itu. Sebab menurut sejarahnya, Pakualaman dan Kasultanan adalah satu. Dengan demikian adalah logis jika akhirnya menjadi satu kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diputuskan bahwa ibukota RI dipindahkan ke Yogyakarta karena kondisi keamanan Jakarta sudah semakin gawat, pada awal 1946, kedua pemilik Yogyakarta itu pun memersilahkan. Bahkan, Sultan HB IX dan Pakualam VIII sendiri yang menjemput kedatangan Soekarno-Hatta beserta rombongan di Stasiun Tugu Yogyakarta pada 5 Januari 1946 pagi. Pakualam VIII pun dengan sangat gembira berbesar hati menawarkan Kraton Pakualaman sebagai tempat persinggahan sementara bagi rombongan negara selama Gedung Kepresidenan Yogyakarta diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali kejadian yang dialami Sultan HB IX juga dirasakan Pakualam VIII, mungkin karena keduanya sama-sama pemimpin kerajaan di satu wilayah sehingga peran dan perlakuan terhadap keduanya patut diperhitungkan karena menyangkut kepentingan masyarakat Yogyakarta secara keseluruhan. Misalnya yang terjadi saat Agresi Militer Belanda II, pada akhir Desember 1948. Pada suatu pagi, Belanda mendadak menyerang lapangan terbang Maguwoharjo di sebelah timur Yogyakarta, dan segera bergerak memasuki kota. Yogya dikepung! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, beberapa pejabat dan petinggi militer Belanda mendatangi Kraton Pakualaman. Sembari menunjukkan peta Yogyakarta, mereka berkata bahwa Pakualam VIII diperbolehkan bergerak leluasa, tetapi dalam batas-batas yang telah diberi warna merah pada peta. Ternyata ruang gerak Pakualam VIII sangat terbatas, yaitu di dalam wilayah Puri Pakualaman saja. Artinya, Pakualam VIII harus menjalani tahanan rumah. Kejadian serupa juga diberlakukan pada Sultan HB IX di Kraton Kasultanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kemudian baik Sultan HB IX maupun Pakualam VIII berpikir untuk mencari siasat atas keadaan yang tidak menguntungkan ini. Sultan HB IX lantas memunculkan ide unik namun jitu dengan menyebarkan berita dari mulut ke mulut bahwa Sultan HB IX meletakkan jabatannya sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, begitu pula Pakualam VIII sebagai wakilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat, isu ini segera menyebar sampai pelosok-pelosok Yogyakarta dan sekitarnya, semua rakyat mendengarnya. Tujuan disebarkannya berita ini adalah agar masalah keamanan rakyat menjadi tanggungjawab tentara Belanda karena baik Sultan HB IX maupun Pakualam VIII sudah tidak memiliki kewenangan. Lagipula, dengan demikian Sultan HB IX atau Pakualam VIII tidak akan diperalat atau disuruh melakukan tindakan-tindakan untuk kepentingan Belanda. Melalui media mulut ke mulut itu pula komunikasi antara Sultan HB IX dengan Pakualam VIII atau dengan rakyat banyak bisa berjalan. Intruksi-intruksi penting, semisal rakyat diharap tenang dan tidak panik, dapat dengan cepat diterima publik dengan aman dan tanpa kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersatunya kembali kedua sayap Yogyakarta setelah 132 tahun tercerai akibat kelicikan kaum penjajah semakin memertegas kekompakan dua penguasa tanah Yogyakarta. Dan ketika Sultan HB IX go nasional dengan menjabat sebagai menteri, dan kemudian wakil presiden, kunci kendali rakyat Yogyakarta diserahkan pada Pakualam VIII. Pakualam VIII rela bertahan di lingkup lokal karena saking hormatnya pada Sultan yang ia anggap lebih pantas mewakili Yogyakarta di pentas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap legowo yang ditunjukkan Pakualam VIII bukan lantas mencitrakan dirinya tidak pantas melaju ke level nasional, tetapi itu dilakukannya semata-mata demi kepentingan rakyat Yogyakarta dan rasa hormatnya pada Sultan HB IX. Pakualam VIII merasa memunyai tanggungjawab yang besar terhadap rakyat ketika Sultan HB IX tidak bisa lagi berkonsentrasi penuh untuk rakyat Yogyakarta. Menurut Pakualam VIII, Sultan HB IX sekarang bukan hanya milik Yogyakarta saja, tetapi juga milik seluruh rakyat Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakualam VIII bukan tidak pernah menyumbangkan perannya untuk kepentingan negara. Pemerintah pusat pun tidak begitu saja mengabaikannya. Bahkan, pada 1953, Pakualam VIII dipercaya mewakili Indonesia, dan Yogyakarta khususnya, untuk menghadiri penobatan Ratu Elisabeth II di Inggris bersama salah satu bapak bangsa, Haji Agus Salim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakualam VIII juga salah satu aktor utama berdirinya Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI), yang merupakan cikalbakal dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Gagasan pembentukan PORI pertama kali dicetuskan pada 1946 dengan kantor pusat di Yogyakarta. Dalam struktur pengurus PORI angkatan pertama ini Pakualam VIII duduk sebagai Ketua Seksi Cabang Olahraga Panahan. Sedari muda, Pakualam VIII memang sangat lihai mengunakan panah karena ia terbiasa berburu, seperti layaknya kegemaran raja-raja dan pangeran pada jaman dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PORI pada masa-masa selanjutnya masih mencari jati diri dengan beberapa kali berganti nama. Hingga pada akhirnya lahirlah Komite Olahraga Indonesia (KOI) yang diresmikan dalam sebuah kongres nasional di Jakarta pada 25-26 Oktober 1961. Pada 1966, Pakualam VIII dipercaya sebagai Ketua Umum KOI. Setahun kemudian, Komite Olaharaga Nasional Indonesia (KONI) dikukuhkan pemerintah setelah sebelumnya, sejak berdiri pada 1964 , berperan sebagai organisasi mandiri dan non politik untuk mendampingi KOI sebagai komite olahraga nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1967 itu pula, Pakualam VIII meletakkan jabatannya sebagai Ketua Umum KOI karena kerja-kerja organisasi yang tidak efisien. Kursi Ketua KOI yang kosong kemudian dirangkap oleh Sri Sultan HB IX yang juga adalah Ketua KONI. Setelah tidak lagi menjabat sebagai Ketua KOI, Pakualam VIII tidak meninggalkan pengabdiannya terhadap keolahragaan nasional. Ia masih sangat aktif membantu setiap penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON). Di samping itu, Pakualam VIII juga sering memimpin pertandingan panahan tingkat nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemerintahan, selain menjabat sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, Pakualam VIII juga pernah menjadi anggota Konstituante, Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Ketua Kurator Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, serta memeroleh pangkat Mayjen TNI Kehormatan pada 1969. Selain itu, Pakualam VIII juga dianugerahi Piagam Kedudukan dari pemerintah RI sebagai Sri Paduka Pakualam VIII, diangkat sebagai Kolonel Kehormatan, Wakil Kepala Daerah dan Wakil Ketua Dewan Pemerintah DIY, Wakil Ketua Dewan Pemerintah Daerah DIY, Wakil Ketua Dewan Pertahanan Daerah DIY, serta Gubernur Militer DIY. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakualam VIII meninggal dunia pada 11 September 1998 dalam usia 88 tahun. Selama hidupnya, Pakualam VIII sangat mencintai dunia kesenian, khususnya seni tradisional Jawa. Salah satu pengabdiannya di bidang seni adalah dengan menjadi Ketua Yayasan Rara Jonggrang yang rutin menyelenggarakan sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Kecintaannya terhadap kesenian daerah semakin menebal, tak tergerus arus budaya Barat yang semakin merasuk. Coba simak pesan pemimpin separuh nafas Yogyakarta ini: “Break dance (tari modern dari Barat) itu usianya cuma tiga bulan, pada akhirnya nanti akan bubar sendiri. Tapi, Kutut Manggung (tembang tradisional Jawa), akan bertahan sepanjang jaman karena memiliki akar budaya yang sedemikian kuat.” (ISNR) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-8227281618487249288?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/8227281618487249288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=8227281618487249288&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8227281618487249288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/8227281618487249288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/10/pakualam-viii-sejoli-abadi-sultan.html' title='SEJOLI ABADI SULTAN'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/RyeG6v-RNMI/AAAAAAAAAGc/Pgfeet0x4Mo/s72-c/Lambang_Pakualaman.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-2544895287515205985</id><published>2007-10-31T02:06:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.825+07:00</updated><title type='text'>NINGRAT MENGAKU RAKYAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0iH8g6NsvI/AAAAAAAAAMU/k-ph3pxUq24/s1600-h/tjiptomangunkusumo+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0iH8g6NsvI/AAAAAAAAAMU/k-ph3pxUq24/s200/tjiptomangunkusumo+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5136504848712053490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;TJIPTO MENGGUGAT, menikam kemapanan penguasa Surakarta. Serangan pertama Tjipto dilancarkan lewat Panggoegah, media berbahasa Jawa yang dipimpinnya. Pada edisi 9 Juni 1919, Tjipto mengatakan, masyarakat sangat terbebani oleh kewajiban memelihara dua kraton, Kasunanan dan Mangkunegaran. Tjipto lantas mengusulkan supaya Sunan, juga Mangkunegara, dipensiun saja dan diberi gaji bulanan 2000 gulden. Dalam Panggoegah 16 Juni 1919, Tjipto menulis bahwa Amangkurat II beserta keturunannya adalah budak-budak feodal kolonialis Belanda. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjipto melanjutkan kampanye anti-raja melalui rapat-rapat Insulinde, Volksraad, dan tentu saja via Panggoegah hingga edisi Oktober 1919:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak bisa disangkal lagi, doea keradjaan itoe memangsa pendoedoeknja, bahwa mereka tak bisa bertahan hidoep tanpa mengisap rakjat sampai ke soemsoemnja, tanpa melonggarkan pajak jang begitoe mentjekik... Saja merasa bahwa segala kemewahan itoe biajanja haroes dibajar dari kantong orang kromo... pada achirnja orang kromo itulah jang haroes ‘menghidoepi’ radja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi Tjipto tersebut memantik murka kubu pro-kerajaan, yang dilakonkan para priyayi Boedi Oetoemo (BO) serta kalangan abdi dalem lainnya, termasuk Samanhoedi, pendiri Sarekat Islam, juga Martodharsono melalui suratkabar Darma Kandha dan Djawi Hiswara. Bersepakatlah bumi feodalisme Jawa untuk membentuk Komite Anti-Tjipto. Tapi Tjipto semakin “menggila”, mengkritisi raja dengan pelbagai cara. Ia memang sangat membenci gaya hidup feodal. Bahkan, jauh di masa sebelumnya, pada 1909, Tjipto dengan sengaja naik kendaraan di depan kraton Sunan di Surakarta untuk menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kalangan aristokrat kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjipto adalah salahsatu pribumi terpelajar pertama yang dengan sadar berpikir tentang kemajuan bumiputera dalam kerangka politik. Kepentingan kaum kromo alias kalangan rakyat jelata adalah target utama pejuang berjuluk ksatria sejati ini. “Akoe adalah anak dari rakjat, anak si kromo,” begitu yang sering ditegaskannya semasa studi di sekolah berpendidikan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula lewat kalam, Tjipto mulai menajamkan gagasannya pada 1907 melalui suratkabar liberal yang terbit di Semarang, De Locomotief. Tjipto semakin terlibat dalam arus pergerakan nasional dengan ikut menggagas BO pada 1908 dan menjadi komisarisnya. Karir Tjipto di BO tak lama karena ketidakcocokannya dengan Radjiman Wedyodiningrat beserta kelompok konservatifnya yang kukuh memertahankan BO sebagai gerakan tulen Jawa. Sedangkan Tjipto menginginkan BO menjadi organisasi politik terbuka dan demokratis dengan beranggotakan rakyat banyak, bukan hanya priyayi, dan mencakup seluruh wilayah Hindia. “Boekanlah toedjoeankoe menghilangkan bangsa ini dari sifat-sifat jang choesoes dan dari kebudajaannja, tetapi tjoema sekedar membela dan menoendjoekkan hak-hidoep bagi bangsa Hindia,” ucap Tjipto kala itu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/RyeDcP-RNKI/AAAAAAAAAGM/3TmhrFEg0pc/s1600-h/Cipto_mangunkusumo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/RyeDcP-RNKI/AAAAAAAAAGM/3TmhrFEg0pc/s200/Cipto_mangunkusumo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127211222131881122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mangkir dari BO, Tjipto menyatu dalam Tiga Serangkai bersama Douwes Dekker -yang menjadi guru jurnalistiknya- dan Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara. Mereka kemudian menerbitkan suratkabar berbahasa Belanda De Expres pada 1 Maret 1912. Tjipto menjabat anggota Dewan Redaksi. Ranah perjuangan Tjipto meluas dengan mendirikan Indische Partij (IP) pada 5 Oktober 1912 di Semarang. De Expres segera mewujud sebagai kompor nasionalisme yang dipupuk Tjipto seperkawanan. Dalam De Expres edisi 19 Nopember 1912, Tjipto menulis, “Tidak boleh diloepakan, bahwa kata-kata jang berapi itoe boeat djiwa kita sama akibatnja dengan barang-barang jang mengenakkan bagi badan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, suratkabar radikal itu terancam maut. Akibat artikel keras Soewardi Soerjaningrat dengan tajuk Als ik Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda), De Expres diberangus pada pertengahan 1913. Tiga Serangkai, yang membentuk Comite Boemipoetera untuk memprotes peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis, dibuang ke Belanda. Indische Partij dinyatakan terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kembali ke tanahair pada pertengahan 1914, Tjipto masuk Insulinde, organisasi pengganti IP, dan mendirikan suratkabar Goentoer Bergerak di Bandung bersama Mas Marco Kartodikromo. Tjipto aktif memimpin media-media propaganda Insulinde dengan menerbitkan Modjopahit, De Voorpost, dan De Indier sebagai hoofredacteur. Tjipto terpaksa keluar dari Insulinde pada 1916 karena ancaman pembuangan akibat propagandanya yang keras dan terbuka. Tjipto kembali ke Solo dan bekerja sebagai dokter swasta sembari membuka kelompok diskusi, Kartini Club.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjipto Mangoenkoesoemo lahir di Ambarawa-Jawa Tengah pada 1886. Setelah lulus sekolah menengah ELS pada 1899, Tjipto melanjutkan ke sekolah dokter Jawa, STOVIA, dan tamat tahun 1905. Sempat bekerja sebagai dokter pribumi pada dinas pemerintah di Banjarmasin (1905) dan di Demak (1906), Tjipto pernah dianugerahi tanda jasa Ridderkruis (lencana kehormatan Belanda) sebagai sukarelawan dalam pembasmian wabah pes di Malang pada 1910.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1918, Tjipto bergabung lagi ke Insulinde yang saat itu digawangi ulama radikal, Hadji Misbach. Tjipto segera menerbitkan media propaganda lagi, antara lain Panggoegah dan majalah bulanan Indische Beweging. Pada Februari 1918, Tjipto diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat bentukan kolonial) mewakili Insulinde, bersama tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Tjipto berkomentar dalam Indische Beweging edisi 1 April 1918, “Soesoenan Volksraad jang pertama ini tidaklah memenuhi kehendak kita tetapi berguna djuga bagi tanahair.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecaman-kecaman Tjipto yang keras terhadap kolonialis Belanda, feodalis Jawa, juga sepak-terjang membeberkan penderitaan petani dengan menggalang boikot dan mogok kerja, membuat pemerintah Hindia kembali naik pitam. Dampaknya, Tjipto diusir ke Bandung dan menjadi tahanan kota. Lalu, pada 19 Desember 1927 diputuskan, Tjipto akan diasingkan, kali ini ke Banda Neira di Kepulauan Banda. Selama 14 tahun di pembuangan, Tjipto terserang asma akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Banda, Tjipto dipindahkan ke Bali terus ke Makasar, dan tak lama kemudian diungsikan lagi ke Sukabumi-Jawa Barat. Karena penyakitnya kian parah, Tjipto dibawa ke Jakarta untuk dirawat di rumah sakit Jang Seng Ie. Namun, jiwanya tiada tertolong. Pada 8 Maret 1943, sekitar jam 6 pagi, Tjipto menghembuskan nafas penghabisan. Jenasahnya dimakamkan di kampung halamannya di Ambarawa. (ISNR) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-2544895287515205985?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/2544895287515205985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=2544895287515205985&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2544895287515205985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/2544895287515205985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/10/tjipto-mangoenkoesoemo-ningrat-mengaku.html' title='NINGRAT MENGAKU RAKYAT'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0iH8g6NsvI/AAAAAAAAAMU/k-ph3pxUq24/s72-c/tjiptomangunkusumo+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-4030882321236215634</id><published>2007-10-30T22:48:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.825+07:00</updated><title type='text'>AKTOR OBROLAN “KAFIR”</title><content type='html'>PERCAKAPAN YANG terjadi antara Marto dan Djojo menuai gejolak. Percakapan? Hanya sebuah percakapan? Ya, geger besar terjadi di Surakarta hanya gara-gara sebuah obrolan dari dua orang yang telah melewati masa-masa keemasannya. Martodharsono dan Djojosoediro nama kedua orang yang bercakap itu. Apakah Mas Marto dan Kang Djojo ingin mencari sensasi? Mencoba membikin dunia pergerakan kembali berpaling kepada mereka yang kini telah beranjak terbenam? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel kontroversial itu memang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo” yang dimuat dalam Djawi Hisworo, suratkabar terbitan 1909 yang dipimpin langsung oleh Martodharsono. Sedangkan Djojosoediro adalah salah satu awak redaksi suratkabar yang berkantor di Surakarta itu. Setelah Sarekat Islam (SI) resmi terbentuk pada 1912, Djawi Hisworo menjadi salah satu pilar komunikasi yang berdiri gagah di belakang panji-panji kebesaran SI hingga akhir 1917, saat di mana perselisihan antara Martodharsono dan Tjokroaminoto terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Djawi Hisworo bulan Januari 1918, terpampanglah artikel tentang percakapan yang meresahkan itu. Martodharsono menerbitkan tulisan Djojodikoro yang menulis: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah seperti pegoeron (tempat beladjar ilmoe). Saja boekan goeroe, tjoemah bertjeritera atau memberi nasehat, keboetoelan sekarang ada waktoenja. Maka baiklah sekarang sadja. Adapon fatsal (selamatan) hoendjoek makanan itoe tidak perloe pakai nasi woedoek dengan ajam tjengoek brendel. SEBAB GOESTI KANDJENG NABI RASOEL ITOE MINOEM TJIOE A.V.H. DAN MINOEM MADAT, KADANG KLE’LE’T DJOEGA SOEKA. Perloe apakah mentjari barang jang tidak ada. Maskipon ada banjak nasi woedoek, kalau tidak ada tjioe dan tjandoe tentoelah pajah sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tulisan Djojodikoro itu, Martodharsono membubuhkan catatan kaki: “toelisan ini tidak pantas diterbitkan dalam soerat kabar, sebab akan memboeat sakit hati kepada jang tak bisa menerima.” Namun, tersiar kabar yang menyebutkan bahwa tulisan fenomenal tersebut sebenarnya bukan hasil karya Djojodikoro seorang, peran Martodharsono sebagai pemimpin redaksi Djawi Hisworo juga sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjokroaminotolah yang memiliki andil besar dan membuat tulisan di Djawi Hisworo itu menjadi perhatian publik. Pada kurun itu, posisi Tjokroaminoto sebagai pemimpin besar Central Sarekat Islam (CSI) sedang guncang. CSI terancam kehilangan pamor. Semakin gencarnya serangan politik dari SI Semarang pimpinan Semaoen membuat tahta Tjokroaminoto goyah. Maka itulah, Tjokro kemudian mencari akal untuk mengangkat kembali citra SI, dan salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan kekuatan Islam. Tjokroaminoto berharap, dengan menggunakan romantisme Islam, SI akan kembali menjadi banjir besar seperti yang terjadi pada masa-masa awal berdirinya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/Rydjbf-RNII/AAAAAAAAAF8/5ju_LsrQ9xs/s1600-h/Djawi+Hiswara.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/Rydjbf-RNII/AAAAAAAAAF8/5ju_LsrQ9xs/s200/Djawi+Hiswara.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127176024874890370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah kemunculan tulisan itu, Tjokroaminoto beserta pendukungnya melontarkan reaksi keras. Adik Tjokroaminoto sekaligus sekretaris SI Surabaya, Abikoesno Tjokrosoeroso, berseru di suratkabar Oetoesan Hindia, agar rakyat segera bergerak membela Islam serta menuntut kepada Sunan Surakarta dan pemerintah Hindia Belanda agar menghukum Martodharsono dan Djojodikoro karena telah melecehkan Islam. Tak hanya itu, awal Februari 1918, Tjokroaminoto mengetuai dibentuknya komite Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) di Surabaya untuk “memertahankan kehormatan Islam, Nabi, dan Kaum Muslimin”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taktik ini terbukti ampuh. Rapat besar TKNM di Surabaya pada 6 Februari 1918 berhasil mengumpulkan dana lebih dari 3.000 gulden. Sedangkan reli yang dilaksanakan serentak di 42 tempat di Jawa dan sebagian Sumatera pada 24 Februari 1918 sukses besar dengan diikuti 150.000 orang serta terkumpulnya dana lebih dari sepuluhribu gulden. Sub-sub komite TKNM segera didirikan di nyaris seluruh Jawa, kecuali di Semarang. SI-SI lokal yang terlantar dibangkitkan kembali di bawah sub-sub komite TKNM itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martodharsono sempat memberikan klarifikasi atas tulisannya yang membikin geger umat Islam tersebut. Dalam Djawi Hiswara edisi 4 Februari 1918, Martodharsono menulis pledoi apologinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam pertjakapan itoe, boekan nabi kita s.a.w, Kandjeng Nabi Moehammad Rasoel Allah, tetapi rasoelnya orang masing-masing. Djadi, siapa jang bertjakap, ialah jang mempertjajainja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, semesta Islam terlanjur berang. Antipati terhadap Martodharsono juga datang dari Haji Misbach, ulama radikal asli Solo, yang menyebarkan pamflet perlawanan sebagai tanggapan atas artikel yang menghina Islam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengiringi TKNM, lahir laskar baru bernama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV). Haji Misbach menyebar seruan tertulis menyerang Martodharsono serta mendorong terlaksananya rapat umum dan membentuk subkomite TKNM. Segeralah beredar cerita, Misbach akan berhadapan dengan Martodharsono di podium. Kaum muslimin Surakarta berbondong-bondong menghadiri rapat umum di Lapangan Sriwedari Surakarta pada 24 Februari 1918, yang konon dihadiri lebih dari 20.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, gejolak anti-Martodharsono itu perlahan-lahan menguap. Meredupnya kasus itu rupanya berasal dari ketidakharmonisan TKNM dan CSI sendiri. TKNM yang seharusnya berani menyuarakan kebenaran Islam, malah dipelintir dan diam-diam propaganda itu tak berbuah apapun. Carut-marut itu diperparah lagi dengan isu penyelewengan dana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadilah perpecahan itu dengan keluarnya beberapa saudagar Arab dari TKNM serta CSI. Hubungan Tjokroaminoto dan Misbach pun memburuk. Geger Surakarta mereda, dan masyarakat dengan cepat pula melupakan insiden itu seiring semakin serunya heboh yang terjadi di kalangan politisi SI. Martodharsono kini bisa sejenak menghela nafas lega. Goresan pena dan jalan pikirannya yang ekstrim ternyata membuahkan marabahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Martodharsono, si kontroversial yang sarat misteri. Sejauh ini belum ada kisaran waktu yang pasti tentang hari lahirnya, pun juga tahun kematiannya. Ia datang tak diundang, pulang pun tak diantar. Namun dapat diperkirakan Martodharsono sepantaran dengan Mas Marco Kartodikromo yang lahir pada 1890. Keduanya merupakan murid sang pemula, Tirto Adhi Soerjo, di Medan Prijaji dan Sarotomo. Martodharsono juga murid Raden Pandji Natarata alias Raden Sastrawidjaja, ahli sastra dari Yogyakarta,  seorang aristokrat kraton. Guru Marto ini bahkan disebut-sebut sebagai Ranggawarsita baru. Salah satu karya terbesar Raden Sastrawidjaja adalah Serat Siti Djenar yang terkenal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Martodharsono berasal dari kalangan ningrat rendahan Surakarta. Ia adalah anak dari keluarga abdi dalem Kraton Solo. Itu pula pekerjaan Martodharsono sebelum terjun ke dunia pers dan pergerakan. Pada 1894, Marto dibuang ke Lombok atas tuduhan pemalsuan. Ia berhasil lolos dari pembuangan berkat bantuan bekas murid-muridnya di Solo. Tetapi tidak lama kemudian Marto tertangkap lagi dan kembali diasingkan, kali ini ke Sumatera. Setelah beberapa waktu menjalani hukumannya di Sumatera itu, Martodharsono diijinkan pulang ke Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya di Jawa, Martodharsono pergi ke Bandung. Di sana, ia belajar jurnalistik pada perintis pers bumiputera, Tirto Adhi Soerjo, di mana Marto kemudian ikut bekerja di keredaksian Medan Prijaji milik Tirto. Pada 1909, Martodharsono kembali ke Solo untuk memimpin suratkabar berbahasa Jawa serta Melayu, Djawi Hisworo dan Djawi Kondo. Martodharsono merupakan perpanjangan tangan Tirto Adhi Soerjo di Surakarta. Djawi Hisworo dan Djawi Kondo di tangan Martodharsono segera berperan selayaknya biro daerah Medan Prijaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirto Adhi Soerjo adalah pendiri Sarekat Dagang Islamijah (SDI), sebelum berubah menjadi Sarekat Islam, di Batavia dan Bogor pada 1909 dan 1911. Tirto pulalah salah satu perintis berdirinya SDI di Surakarta. SDI di Solo tersebut berawal dari Rekso Roemekso, sebuah laskar keamanan yang didirikan Samanhoedi, seorang saudagar batik sekaligus kawan dekat Martodharsono. Rekso Roemekso kebingungan karena tidak berstatus hukum. Martodharsono ditugaskan membawa Tirto ke Solo. Anggaran dasar Rekso Roemekso (yang kemudian menjadi SDI Solo) dirumuskan dan ditandangani Tirto pada 9 Nopember 1911. Saat kasus itu disidik polisi pemerintah, Martodharsono mencoba menghindar dari masalah-masalah hukum dengan mengatakan bahwa Rekso Roemekso adalah cabang dari SDI Bogor yang dipimpin Tirto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika SDI resmi berganti nama menjadi SI pada 10 September 1912, Martodharsono mengelola suratkabar Sarotomo sebagai redaktur pembantu. Sarotomo adalah organ SI Surakarta yang pada mulanya dipimpin oleh Tirto. &lt;br /&gt;Martodharsono adalah salah satu tokoh SI yang paling senior. Ia sangat pro Samanhoedi, yang kemudian menjadi pemimpin SI pertama, karena sama-sama berasal dari Solo. Ketika hubungan Tirto dan Samanhoedi retak, dan akhirnya SI Solo dikuasai oleh Samanhoedi, Martodharsonolah yang menjalankan kantor SI Surakarta di Purwosari, Lawean, Solo. Martodharsono adalah tokoh penting SI yang pertamakali memerkenalkan gerakan dalam bentuk baru: boikot. Sarekat Islam merupakan organisasi pertama di Indonesia yang melancarkan boikot dengan metode kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan 1912, di Solo terjadi pertikaian besar antara para pedagang Rekso Roemekso dengan para pedagang Tionghoa. Semakin kuatnya kuantitas pedagang Tionghoa membuat para pemuda militan SDI Solo semakin peka terhadap isu-isu rasial. Hubungan antara golongan Tionghoa dan orang Indonesia menjadi begitu tegang, sehingga antara kedua belah pihak terjadi perkelahian dan kerusuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangkaian kejadian ini, Martodharsono berperan sangat sentral. Ia tidak hanya dipercaya untuk menjalankan kantor SI dan mengelola Sarotomo, tetapi juga memimpin aksi-aksi boikot. Martodharsono juga bertindak sebagai wakil SI di hadapan polisi jika terjadi perkelahian. Martodharsono memang sangat tepat untuk pekerjaan ini. Sebagai seorang jurnalis, ia sangat mengenal dunia modern, tetapi Martodharsono juga seorang guru kultural yang ahli dan seorang pengajar ilmu kebal, lengkap dengan segala perabotan mantranya. Martodharsono memiliki ratusan murid dan berhubungan secara personal dengan dunia hitam di Surakarta dan juga dengan para pangeran serta para pegawai dan bangsawan Kasunanan Surakarta juga Mangkunegaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 19-20 April 1914, Kongres SI ke-II di Yogyakarta memutuskan Tjokroaminoto terpilih sebagai pemimpin SI menggantikan Samanhoedi. Dominasi kubu Tjokroaminoto tak pelak membuat Samanhoedi beserta grup Surakarta, termasuk Martodharsono, tersingkir. Kantor pusat SI pun dipindahkan dari Surakarta ke Surabaya, kota asal Tjokroaminoto dan pendukungnya. Sepindahnya SI Pusat ke Surabaya, pada pertengahan 1914 Sarotomo bangkrut. Martodharsono pun kembali ke pekerjaan lamanya yaitu memimpin suratkabar lokal, Djawi Kondo dan Djawi Hiswara, di mana Marco Kartodikromo dan Sosrokoernio juga ikut di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pascainsiden “Pertjakapan antara Marto dan Djojo”, Martodharsono dan Djawi Hisworo mesti menghadapi geger yang keduakalinya. Kali ini sebab ulah Tjipto Mangoenkoesoemo, aktivis pergerakan pendiri Indische Partij (IP) dan Insulinde, yang mengecam Raja Surakarta. Tjipto memulai kampanye anti-raja pada Juni 1919, dan ini tidak mengejutkan mengingat karakter Tjipto yang sangat antifeodalisme. Gerakan Tjipto ini juga berimplikasi ke Mangkunegaran serta Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta. Jelas saja aksi Tjipto ini dikecam keras oleh kalangan pro-kraton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjipto pertamakali menyerang Sunan lewat suratkabar Panggoegah pada 9 Juni 1919 dengan mengatakan bahwa masyarakat Surakarta sangat terbebani oleh kewajiban memelihara dua kraton, Kasunanan dan Mangkunegaran. Ia juga mengusulkan supaya Sunan, juga Mangkunegaran, dipensiun saja dengan diberi gaji bulanan sebesar duaribu gulden, atau kalau tidak, Madiun sebaiknya dikembalikan lagi pada Kasunanan. Dalam Panggoegah berikutnya, tertanggal 16 Juni 1919, Tjipto membuat pernyataan bahwa Amangkurat II beserta keturunannya adalah budak-budak feodal VOC dan kolonialis Hindia Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjipto kembali mengkritik Sunan dalam rapat Volksraad (Dewan Rakyat) pada 26 Juni 1919. Tjipto berpidato bahwa pemogokan petani yang terjadi di Nglungge dan Tegalgondo disebabkan karena sangat rendahnya standar hidup petani di Surakarta. Kesimpulan dari gerakan Tjipto ini adalah bahwa untuk memelihara Sunan dengan seluruh upacara dan kemegahan orientalnya hanyalah perbuatan yang menghambur-hamburkan uang rakyat saja. Lagipula, tambah Tjipto, pengorbanan rakyat itu tidak sepadan dengan kinerja Kasunanan yang mandul dan selalu mengekor pada pemerintah kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan Tjipto ini tentu saja menerbitkan kemurkaan yang sangat besar dari para pendukung Sunan. Barisan terdepan dari golongan ini adalah Djawi Hisworo dan Djawi Kondo yang dipimpin Martodharsono, yang juga berasal dari keluarga abdi dalem Kasunanan. Martodharsono menjawab tantangan Tjipto dengan berkata bahwa pemerintahlah yang seharusnya bertanggungjawab atas semua kejadian yang dituduhkan Tjipto, bukan Sunan. Serangan Tjipto oleh Martodharsono dianggap salah alamat, bahkan Martodharsono mensinyalir ada kepentingan tersembunyi dari Tjipto untuk menyingkirkan Sunan dari tahta kerajaan. Namun, Tjipto tetap saja bertahan dengan argumennya. Inilah yang membuat Martodharsono kalap dan menyerang Tjipto dengan ngawur: Martodharsono menyebut Tjipto sebagai orang gila, memeringatkan masyarakat agar jangan sampai tercemar kegilaan Tjipto, serta meminta pemerintah untuk segera membungkam Tjipto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tindakan selanjutnya, Martodharsono lantas mengadakan pertemuan di Lawean untuk membahas kasus ini. Hasilnya, terbentuklah Comite Keslametan Rahajat Vorstenlanden alias Komite Anti-Tjipto. Pelopornya adalah kekuatan kultural Solo, yakni Martodharsono, Samanhoedi, dan lainnya, juga orang-orang Boedi Oetomo (BO) yang memang terdiri dari para priyayi. Bahkan, kelompok yang sebelumnya membenci Martodharsono, SI dan TKNM, ikut pula bergabung dalam Komite Anti-Tjipto, juga Kasunanan dan Pemerintah Hindia Belanda. Namun, Tjipto tetap saja kokoh. Martodharsono hilang akal, menyerah, dan lantas menghilang. Namanya setelah itu nyaris tak terdengar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martodharsono memang seorang yang mahaunik. Ia adalah seorang yang modern, namun menguasai juga medan tradisional. Pejuang yang militan, ekstrim dan eksentrik hingga dicap “kafir” karena menghina nabi, tetapi juga seorang pahlawan yang pernah berjuang di bawah naungan Islam dan SI. Martodharsono tenyata juga seorang yang feodalis dan kompromis, yang rela menerima kaum kolonial demi menjaga martabat dan harga dirinya sebagai abdi raja. Paradoks lagi ironis.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5186944641366070064-4030882321236215634?l=www.radityaiswara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.radityaiswara.co.cc/feeds/4030882321236215634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5186944641366070064&amp;postID=4030882321236215634&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/4030882321236215634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5186944641366070064/posts/default/4030882321236215634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.radityaiswara.co.cc/2007/10/martodharsono-aktor-obrolan-kafir.html' title='AKTOR OBROLAN “KAFIR”'/><author><name>Iswara NR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17904831155129405085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/ST1GyJFyTiI/AAAAAAAAAnY/6xBISacDIAE/S220/gon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/Rydjbf-RNII/AAAAAAAAAF8/5ju_LsrQ9xs/s72-c/Djawi+Hiswara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5186944641366070064.post-555267513967028823</id><published>2007-10-30T22:30:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T23:14:54.825+07:00</updated><title type='text'>ADA TJOKRO DI BETAWI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0iC6A6NspI/AAAAAAAAALk/tbM913n43Pw/s1600-h/KEMBAR.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SREvCJCD40o/R0iC6A6NspI/AAAAAAAAALk/tbM913n43Pw/s320/KEMBAR.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5136499308204241554" /&gt;&lt;/a&gt;“AWAS! ANAK Hindia sudah berapi!” tulis Mas Marco Kartodikromo di suratkabar Pantjaran Warta pada 1914. Pemerintah Hindia Belanda berang. Akibatnya, wartawan pemberani itu diciduk, diinterogasi, dan dibui dengan tuduhan delik pers: menyebarkan kebencian kepada pemerintah. Pantjaran Warta kehilangan salah satu jurnalisnya yang paling mumpuni. Sekeluarnya dari hotel prodeo, Marco kembali berulah. Kali ini Marco menyerang pejabat pemerintah, Dr Rinkes. Aparat kembali meradang. Untuk kedua kalinya, Marco jadi pesakitan. Kasus ini terjadi pada 1915 dan baru disidangkan pada akhir 1916... &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Goenawan datang membantu. Digalangnya dana untuk menghidupi anak-istri Marco dengan memasang pengumuman di Pantjaran Warta. Bahkan secara kontinyu, suratkabar ini menurunkan berita pengadilan untuk menghormati Marco. Setelah sembilan bulan meringkuk di penjara, Marco bebas. Oleh Goenawan, ia langsung dikirim ke Belanda sebagai koresponden khusus. Goenawan adalah pemimpin Sarekat Islam (SI) Batavia yang didirikannya pada Maret 1913, juga pemimpin redaksi Pantjaran Warta, Marco redakturnya. Koran ini cukup garang menyikapi situasi politik di Hindia Belanda, terutama berkat andil Marco dan Goenawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan dan Marco adalah anak didik Tirto Adhi Soerjo, pendiri Sarekat Dagang Islamijah dan pelopor pers bumiputera. Di bawah asuhan Tirto, Goenawan dan Marco bekerja di Medan Prijaji. Goenawan juga mengelola perusahaan periklanan Medan Prijaji. Selain itu, ia pernah pula bekerja di NV Soesman's Batavia yang mengiklankan penyediaan tenaga kerja dari Jawa ke Sumatera Timur. Setelah Medan Prijaji pailit, Goenawan dan Marco bergabung ke Pantjaran Warta, kepunyaan Tirto juga. Awal Juni 1913, Goenawan memiliki usaha percetakan sendiri yang dinamakannya NV Java Boekhandel en Drukkerij Sedio Leksono. Pada 21 Juni 1913, perusahaan ini berhasil membeli kepemilikan Pantjaran Warta seharga 9000 gulden. Sementara itu, Goenawan juga sukses mengambil-alih Hotel Medan Prijaji yang dimiliki Tirto. Jadilah sebagian ruang di penginapan itu digubah sebagai kantor redaksi Pantjaran Warta sekaligus markas SI Batavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Madiun pada 1880, Raden Goenawan adalah anak asisten wedana di Ngawi. Ia menamatkan studinya di Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Probolinggo, sekolah Belanda yang mencetak pegawai pemerintahan. Usai wisuda, Goenawan bekerja sebagai
